Friday, April 29, 2016

Royal Guards - Page 9-10



Chapter 1
Si Pemburu
Debu, pasir dan keringat
Darah menetes, darah habis
Mati, hidup, sebuah permainan
Demi satu tujuan
Emas, emas dan emas
Debu, pasir dan keringat
Tinju, tendang, hantam, serang
Denting logam pedang panjang
Demi satu tujuan
Emas, emas dan emas
Debu, pasir dan keringat
Gesit dan kuat
Buru dan diburu
Demi satu tujuan
Emas, emas dan emas
Lagu tentang Ranvel, Grajham si Pemalu
“Maaf, tapi kau tidak terlihat seperti seorang ranvel,”
Pria di hadapannya jelas bukan orang yang ramah. Pria itu meliriknya sekilas, mendengus dan kembali membaca tumpukan perkamen di meja hadapannya. Tentu saja Sven sudah mengenali gelagat ini. Dia sudah terbiasa mendengar kalimat ‘kau tidak terlihat seperti ranvel’ nyaris sama banyaknya dengan kalimat ‘kau berbeda dari ranvel yang selama ini kulihat’.
“Maaf,” Pria itu berkata lagi. “Maksudku, kau berbeda dari ranvel yang selama ini kulihat.”
Sven mendengus mendengar dua kalimat itu dari orang yang sama.
Pria di hadapannya itu adalah seorang agen. Dia menyebut dirinya Bradley beberapa saat yang lalu. Dia seperti agen pada umumnya: gendut, tidak ramah, dan malas. Di luar itu, Bradley memiliki kumis seperti sikat sepatu yang mencolok.
“Tentu,” kata Sven akhirnya.“berbeda itu bagus.”
“Begitu?” Bradley mendengus lagi. “Tidak pernah selama menjadi agen aku menemui ranvel yang mau repot memerkenalkan diri. Mereka adalah tipe orang yang langsung ke bisnis!”
“Tentu saja,” ujar Sven setuju. “Begitu juga denganku, langsung ke bisnis.”
Bradley mengangkat alisnya.
“Benarkah? Kau bahkan nyaris tidak melirik barisan pekerjaan yang sudah kutempel di dinding!”
Dia menegaskan maksudnya dengan melambaikan tangannya ke sekeliling, seolah mengingatkan Sven akan keberadaan kertas-kertas yang memenuhi dinding. Dinding di ruangan itu memang nyaris tidak menyisakan ruang untuk menempelkan yang lain, sesak dipenuhi kertas, selebaran, poster dan macam-macam lagi.
“Silakan cari pekerjaan yang kau rasa cocok dan beritahu aku jika kau sudah selesai!”
Seusai mengucapkan itu, Bradley kembali membenamkan hidungnya ke tumpukan perkamen di hadapannya.
Namun, Sven bergeming.
“Tidak perlu,” katanya. “Aku sudah tahu pekerjaan yang kuinginkan.”
Bradley mendongak lagi, tampak heran.
“Sudah?” ulang Bradley. “Pekerjaan seperti apa?”
“Yang membayar paling mahal,” jawab Sven.
Bradley melongo. Sven mengingatkan dirinya agar menahan keinginan isengnya untuk melemparkan sesuatu ke dalam mulut yang terbuka itu. Sebenarnya malah, dia pernah melakukan itu ke agen yang lain dan hasilnya tidak pernah bagus.
“Maaf, apa katamu tadi?”
Ini sudah ketiga kalinya Bradley mengucapkan kata maaf. Barangkali Bradley ini adalah pria yang sangat sopan, atau kurang ajar. Agak sulit dibedakan sebetulnya.
“Yang membayar paling mahal,”
“Aku mendengar yang pertama kali sebenarnya,” kata Bradley, menegakkan posisi duduknya.
“Kau sadar kan,” katanya lagi, menekankan kata per kata, seakan berbicara dengan anak umur lima tahun. “Kalau paling mahal berarti paling berbahaya?”
Mungkin seharusnya Sven tersinggung dengan nada suara merendahkan itu, tetapi sekali lagi, dia sudah sangat terbiasa dengan perlakuan semacam ini.
“Tentu saja aku tahu,” jawab Sven tenang. “Tidak masalah bagiku.”
Bradley memberinya tatapan menilai selama beberapa saat. Sven setengah berharap Bradley akan menyuruhnya pergi ketika dia akhirnya membuka laci mejanya dan mencari-cari. Setelah bergumam pelan sambil menelisir tumpukan kertas, akhirnya dia menarik selembar perkamen.

No comments: