Monday, May 2, 2016

Royal Guards - Page 11-12



“Ini dia!” katanya, menjulurkan lembaran itu. “Pekerjaan dari asosiasi penyihir di Guffran, 350 keping emas magron! Tak ada yang lebih mahal!”
*
            Sudah tiga minggu sejak Sven meninggalkan kota Ilia dan mengambil pekerjaannya yang terakhir dari agen Bradley. Kota itu masih tetap sama. Rumah-rumah yang terbuat dari batu berjajar dengan apik dan rapi. Pedagang kain, makanan dan lain-lain berlalu lalang dan memenuhi selasar kota, masing-masing meneriakkan keunggulan barang dagangannya.
            “Kain sutra ulat ravina, kualitas tertinggi di dataran Vierr!”
            “Buah-buahan segar, daging olahan, aneka bumbu!”
            “Barang antik buatan kaum Fluffen! Emas, tembaga dan perak dengan harga murah!”
            “Ikan padang pasir dari gurun Travia! Lezat dan tiada banding!”
            Sebagian dari rumah-rumah itu adalah penginapan, karena Ilia adalah pusat perdagangan dan terletak sangat strategis—sungai tiga penjuru bermuara di sana—sehingga sangat banyak pendatang. Anak-anak berlalu lalang menawarkan dirinya untuk membawakan barang para pria dan wanita yang belanjaannya kelewat banyak. Namun, tak satu pun dari anak-anak itu mendekati Sven. Sebenarnya malah, semua orang berjalan menghindar ketika dia lewat.
            Sebenarnya mereka bukannya menjauhi Sven, tetapi menjauhi apa yang dia bawa di pundaknya.
Dia membawa seekor singa bertutul-tutul ungu ganjil—mati tentu saja—dan tidak perlu bersusah payah untuk membuat orang-orang mengosongkan jalan untuknya. Pemandangan semacam ini rupanya bukan hal yang baru. Ranvel terkenal dengan bawaannya yang tidak lazim. Di bagian barat kota, suasana berubah. Kali ini jalan dipenuhi laki-laki dengan penampilan yang garang. Mereka besar dan berotot, dengan baju yang kumal dan tercabik. Kontras dengan Sven yang—kendati bertubuh atletis—nampak sangat kecil di antara mereka. Beberapa membawa buruan seperti Sven. Hewan di punggung, atau di sangkar, kebanyakan mati.
“20 kepingan royn untuk seekor katak rawa putih? Dia pasti bercanda!”
“Yah, itu tidak terlalu sulit ditangkap.”
Tidak sedikit dari mereka yang melihat Sven dan menatapnya kagum.
“Bukankah itu singa gurun?”
“Gila! Dan penangkapnya tampak sangat kecil!”
“Bagaimana dia bisa menangkapnya?”
 Beberapa orang bersiul.
“Tangkapan yang hebat!” puji salah seorang.
Sven mengangguk dan tersenyum menerima pujian tersebut.
Reaksi Bradley tidak seantusias itu. Dia menatap singa mati yang tergeletak di pintu kantornya. Awalnya tentu saja dia sangat kagum, kelihatan sekali tidak menduga kalau Sven akan berhasil membawa buruannya tersebut.
“Permintaannya adalah kulit singa gurun bertotol ungu,” katanya. “Bukan singa utuh.”
“Bonus,” kata Sven riang. Ketika Bradley hanya menatapnya dia menambahkan. “Baiklah, jujur aku tidak begitu pandai menguliti binatang.”
Bradley menggeleng.
“Kau menipuku anak muda,” katanya. “Penampilanmu menipuku.”
Sven tersenyum. Kata-kata itu juga sudah sangat sering ia dengar.
“100 kepingan nayn,” kata Bradley, melempar sebungkus koin yang ditangkap Sven dengan cekatan. “Silakan hitung kembali.”
“Bukankah seharusnya 80?”
“Bonus,” gerutu Bradley. “Daging dan macam-macam dari singa ini tidak begitu murah, kau tahu?”
Selewat beberapa saat akhirnya Bradley meletakkan pena nya.
“Kerja bagus,” ucapnya, nampak seperti tersedak. Dia mengucapkan pujian itu dengan susah payah. Nampaknya dia tidak terbiasa memuji orang lain.
Sven duduk di hadapannya dan mulai menghitung kepingan-kepingan uang di tangannya. “Bagaimana dengan pekerjaan emas itu?” tanyanya.
Terakhir kali dia duduk di sana, Sven dibuat tertegun dengan jumlah hadiah pekerjaan yang disebutkan Bradley.
“350 keping emas magron?” tanyanya waktu itu.
Nada suaranya sebanding dengan gairahnya yang meletup.
Wajar, magron adalah kepingan uang bangsa Fluffen yang dibuat dari emas murni olahan mereka. 1 keping saja sudah cukup untuk membuat hidup berkecukupan selama 2 minggu. Ini pertama kalinya Sven mendengar imbalan sebanyak itu. Namun, semangatnya menguap begitu dia menyadari bahwa dia tidak bisa membaca lembaran di hadapannya satu huruf pun.
“Apa ini?”
Bradley menghela nafas.
“Kau juga tidak bisa membacanya?”
“Juga?”

No comments: