“Ini dia!”
katanya, menjulurkan lembaran itu. “Pekerjaan dari asosiasi penyihir di
Guffran, 350 keping emas magron! Tak ada yang lebih mahal!”
*
Sudah
tiga minggu sejak Sven meninggalkan kota Ilia dan mengambil pekerjaannya yang
terakhir dari agen Bradley. Kota itu masih tetap sama. Rumah-rumah yang terbuat
dari batu berjajar dengan apik dan rapi. Pedagang kain, makanan dan lain-lain
berlalu lalang dan memenuhi selasar kota, masing-masing meneriakkan keunggulan
barang dagangannya.
“Kain
sutra ulat ravina, kualitas tertinggi di dataran Vierr!”
“Buah-buahan
segar, daging olahan, aneka bumbu!”
“Barang
antik buatan kaum Fluffen! Emas, tembaga dan perak dengan harga murah!”
“Ikan
padang pasir dari gurun Travia! Lezat dan tiada banding!”
Sebagian
dari rumah-rumah itu adalah penginapan, karena Ilia adalah pusat perdagangan
dan terletak sangat strategis—sungai tiga penjuru bermuara di sana—sehingga
sangat banyak pendatang. Anak-anak berlalu lalang menawarkan dirinya untuk
membawakan barang para pria dan wanita yang belanjaannya kelewat banyak. Namun,
tak satu pun dari anak-anak itu mendekati Sven. Sebenarnya malah, semua orang
berjalan menghindar ketika dia lewat.
Sebenarnya
mereka bukannya menjauhi Sven, tetapi menjauhi apa yang dia bawa di pundaknya.
Dia membawa seekor
singa bertutul-tutul ungu ganjil—mati tentu saja—dan tidak perlu bersusah payah
untuk membuat orang-orang mengosongkan jalan untuknya. Pemandangan semacam ini
rupanya bukan hal yang baru. Ranvel terkenal dengan bawaannya yang tidak lazim.
Di bagian barat kota, suasana berubah. Kali ini jalan dipenuhi laki-laki dengan
penampilan yang garang. Mereka besar dan berotot, dengan baju yang kumal dan
tercabik. Kontras dengan Sven yang—kendati bertubuh atletis—nampak sangat kecil
di antara mereka. Beberapa membawa buruan seperti Sven. Hewan di punggung, atau
di sangkar, kebanyakan mati.
“20 kepingan royn
untuk seekor katak rawa putih? Dia pasti bercanda!”
“Yah, itu tidak
terlalu sulit ditangkap.”
Tidak sedikit dari
mereka yang melihat Sven dan menatapnya kagum.
“Bukankah itu
singa gurun?”
“Gila! Dan
penangkapnya tampak sangat kecil!”
“Bagaimana dia
bisa menangkapnya?”
Beberapa orang bersiul.
“Tangkapan yang
hebat!” puji salah seorang.
Sven mengangguk
dan tersenyum menerima pujian tersebut.
Reaksi Bradley
tidak seantusias itu. Dia menatap singa mati yang tergeletak di pintu
kantornya. Awalnya tentu saja dia sangat kagum, kelihatan sekali tidak menduga
kalau Sven akan berhasil membawa buruannya tersebut.
“Permintaannya
adalah kulit singa gurun bertotol
ungu,” katanya. “Bukan singa utuh.”
“Bonus,” kata Sven
riang. Ketika Bradley hanya menatapnya dia menambahkan. “Baiklah, jujur aku
tidak begitu pandai menguliti binatang.”
Bradley
menggeleng.
“Kau menipuku anak
muda,” katanya. “Penampilanmu menipuku.”
Sven tersenyum. Kata-kata
itu juga sudah sangat sering ia dengar.
“100 kepingan
nayn,” kata Bradley, melempar sebungkus koin yang ditangkap Sven dengan
cekatan. “Silakan hitung kembali.”
“Bukankah
seharusnya 80?”
“Bonus,” gerutu
Bradley. “Daging dan macam-macam dari singa ini tidak begitu murah, kau tahu?”
Selewat beberapa
saat akhirnya Bradley meletakkan pena nya.
“Kerja bagus,”
ucapnya, nampak seperti tersedak. Dia mengucapkan pujian itu dengan susah
payah. Nampaknya dia tidak terbiasa memuji orang lain.
Sven duduk di
hadapannya dan mulai menghitung kepingan-kepingan uang di tangannya. “Bagaimana
dengan pekerjaan emas itu?” tanyanya.
Terakhir kali dia duduk
di sana, Sven dibuat tertegun dengan jumlah hadiah pekerjaan yang disebutkan
Bradley.
“350 keping emas
magron?” tanyanya waktu itu.
Nada suaranya
sebanding dengan gairahnya yang meletup.
Wajar, magron
adalah kepingan uang bangsa Fluffen yang dibuat dari emas murni olahan mereka.
1 keping saja sudah cukup untuk membuat hidup berkecukupan selama 2 minggu. Ini
pertama kalinya Sven mendengar imbalan sebanyak itu. Namun, semangatnya menguap
begitu dia menyadari bahwa dia tidak bisa membaca lembaran di hadapannya satu
huruf pun.
“Apa ini?”
Bradley menghela
nafas.
“Kau juga tidak
bisa membacanya?”
“Juga?”
No comments:
Post a Comment