Friday, August 29, 2014

Simfoni Buta - Chapter 1



Ini mimpi...

Aku bisa yakin ini mimpi karena ini bukan pertama kalinya terjadi...

Tetapi mengetahui kalau ini mimpi tetap saja percuma...

Aku tetap tidak bisa mengontrol ketakutan di dalam diriku! 

Bangunlah!

Ayo cepat bangunlah!

Kumohon, seseorang bangunkan aku!

Tentu saja teriakan bisuku sia-sia, karena dia sudah muncul di sana.

Tak jauh dari tempatku berdiri.

Penuh darah, dan menatap kosong.

Awalnya.

Tetapi tak lama tatapan matanya mulai terfokus padaku.

Dan aku terpaku di tempat.

Melihat gadis itu, rasanya seperti ada tangan yang tak kasat mata yang meremas jantungku kuat-kuat.

Seperti inilah rasanya tercabik-cabik.

Mati jauh lebih baik.

Tidak, mati masih terlalu indah bagiku.

Siksaan semacam ini adalah hukuman yang pantas untukku.

Dia mulai mengangkat tangannya, pelan dan pelan, membuat gerakan menuding.

Menudingku.

Tak kurang, ekspresi wajahnya perlahan mencerminkan gerakan menudingnya itu.

Kecewa? Menyalahkan? Marah?

"Sakit..."

Ketika dia bersuara, aku tak tahan lagi.

"Hentikan..." kudengar diriku meringis.

"Kak, sakit kak..."

Suara itu penuh permohonan, menyayat hatiku yang sudah teriris-iris.

"Hentikan!"

"KAK, SAKIT KAK!"

Dia berteriak. Jeritan yang menghancurkan diriku menjadi berkeping-keping.

"HENTIKAN!!!"


"Jor, bangun Jor!"

Suara lain dari kejauhan, namun samar. Aku tidak menggubris, masih saja terpana.

"SAKIIITTTT!!!!"

"HENTIKAN, TOLONG!"

"JOR, BANGUN!"

Diriku berguncang. Pemandangan mulai memudar.

Dengan sensasi seakan baru saja muncul ke permukaan air setelah menyelam, aku menarik nafas.

Kubuka mataku dengan penuh rasa syukur.

*

Mataku terbuka selama sedetik sebelum menutup kembali.

Silau...

"Udah bangun Jor?" Di sampingku terdengar suara laki-laki.

Aku mengangguk, mengusap wajahku dan mencoba sehati-hati mungkin membiasakan diri dengan keberadaan cahaya yang tiba-tiba ini.

Dalam kondisi itu aku menyadari diriku basah kuyup. Aku bisa merasakan kausku yang basah menempel pada kulit punggungku. Satu lagi, aku juga terengah-engah, seakan bukan baru saja terbangun dari tidur melainkan baru saja berlari sangat jauh. Kulirik penyelematku.

Dia seperti biasanya : jenggot tipis, kacamata tanpa frame dan rambut panjang yang diikat kuda, ciri khasnya. Dia menatapku dengan ekspresi yang menurutku menyerupai keprihatinan. Masih ekspresi itu. Syukurlah. Selama berbulan-bulan aku seringkali membayangkan ekspresi keprihatinan itu akan digantikan ekspresi jengkel, atau lebih buruk lagi, muak. Aku tidak akan kaget seandainya itu terjadi. Wajar, nyaris setiap hari kondisiku begini, berteriak-teriak dalam tidur. Aku malah heran Helmi belum mengusirku dari tempat tinggalnya sampai saat ini.

"Mimpi buruk lagi Jor?" tanya Helmi. Nada suaranya sependapat dengan ekspresi wajahnya.

Sekali lagi aku mengangguk.

Dia tidak berkata apa-apa selama beberapa saat. Aku juga tidak tahu harus berkata apa. Maaf? Tentu saja sudah beribu kali aku meminta maaf atas gangguan tengah malam ini, tetapi dia selalu memotong permintaan maafku bahkan sebelum aku memulai.
.
"Lo pucat banget Jor," katanya tiba-tiba. "Mau gue ambilin minum?"

Kali ini aku menggeleng. Kucoba selama beberapa saat untuk menemukan suaraku kembali. Ini sulit, namun setiap hari seperti ini rupanya membuatku menjadi semakin mahir.

"Ga usah Mi," kataku, takjub mendengar betapa normalnya suaraku. "Thanks udah ngebangunin."

Perlahan aku duduk dan memeriksa sekeliling, mencari-cari. Helmi tampaknya menyadari kegelisahanku dan mengambilkan jam tanganku, masih bertengger di tempatku menaruhnya sebelum tidur, di samping bantalku. 

Jam satu pagi.

Astaga.

Ini bahkan jauh lebih parah.

"Mi, sori!" Ucapku buru-buru. "Sori banget!"

Helmi hanya mendengus.

"Jangan minta maaf lah Jor," katanya. "Gue belom tidur kok, santai aja. Masih ngurus toko di bawah tadi."

Tapi, melihat pakaiannya, sudah jelas Helmi sudah berniat untuk tidur, sebelum aku menggagalkan niat itu.

"Lo beneran ga mau minum? Pucet sumpah!"

Sebelum Helmi menjalankan kebiasaannya, aku buru-buru bangkit. Dia biasanya menggubris ucapanku dan tetap saja beranjak mengambilkan minum.

"Lo tidur aja Mi, gue ke dapur sebentar."

"Oh... oke."

Aku bisa merasakan tatapan khawatirnya di belakangku sebelum akhirnya menutup pintu kamar.

*

Helmi adalah misteri bagiku. Dia berusia sepuluh tahun lebih muda, namun aku merasa diperlakukan seperti adik. Aku sudah menceritakan asalku tentu saja, tetapi dia sama sekali tidak peduli akan hal itu. 'terus?' adalah kata balasannya waktu itu.

Bisa dibilang seharusnya aku ini bukanlah orang yang paling tepat untuk dipercayakan naungan tempat tinggal secara cuma-cuma. Terlebih, pingsan di depan toko bunga miliknya, dengan pakaian compang-camping, menurutku bukan merupakan kesan pertama yang baik. Tetapi rupanya Helmi berpendapat lain. Bukan hanya dia memberikan tempat tinggal gratis selama delapan bulan ini, dia juga menyediakan makanan, pakaian dan macam-macam lagi. Aku mencoba membalas budi sebisaku. Aku membantunya mengelola toko, membersihkan rumah, kemudian di sela-sela waktu mengambil pekerjaan tetek bengek dan menabung. Aku mencoba untuk memberinya uang itu, tapi dia malah memarahiku.

Aku menarik kesimpulan : Dia terlalu baik.

Dan aku bersyukur karenanya.

Dapur masih sama seperti biasanya, kecil, namun rapi. Terdapat sebuah dispenser, kulkas mini dan sebuah rak tempat menaruh piring dan gelas. Di seberang itu westafel, dan berbagai macam peralatan memasak. Dapur ini sebenarnya tidak cukup besar untuk dilalui dua orang sekaligus, namun entah bagaimana aku dan Helmi bisa beroperasi secara bersamaan baik itu ketika memasak ataupun mencuci piring.

Aku mengambil secangkir gelas, mengisinya penuh dengan air dan meneguknya dalam satu gerakan yang efisien. Aku bisa merasakan diriku mengerang ketika air dingin mengalir melewati kerongkonganku. Baru kusadari betapa hausnya diriku. Bisa kurasakan bulir-bulir keringat baru bermunculan di sekujur tubuhku yang sudah basah selagi menenggak. Secangkir air lagi, dan aku merasa jauh lebih baik.

Di atas westafel terdapat sebuah cermin bundar dan aku menatap bayangan wajahku di sana.

Berantakan.

Aku membuka keran air dan membilas wajahku. Paling tidak ini membuatku tidak terlalu kelihatan seperti hantu. Setelahnya aku membuka kausku yang basah kuyup dan memerasnya di atas westafel. Volume cairan yang terbuang membuatku terpana. Jika saja ini bukan jam satu pagi, aku barangkali akan mandi.

Aku bersender di dinding pojok, mengatur nafasku yang semakin membaik. Degup jantungku sudah mulai tenang, namun tanpa diundang, tentu saja bayangan terakhir mimpiku tadi muncul lagi. Aku memejamkan mata dan menggeleng-geleng, berusaha mengenyahkan ilusi itu. Kuguyur lagi wajahku, kuatur lagi nafasku. Ritual ini kuulangi beberapa kali sebelum akhirnya bayangan itu memudar. Tidak hilang, tidak, tapi paling tidak, tidak sejelas tadi. 

Sepuluh menit belum berlalu, namun aku sudah bisa mendengar suara dengkur Helmi dari balik pintu tempatku muncul di sisi kanan.

Sederhana adalah kata yang sempurna untuk mendeskripsikan rumah ini. Tempatku berdiri sekarang adalah dapur, tepat di ujung lorong, sementara ujung lorong satunya merupakan tangga ke bawah. Lorong ini hanya memiliki dua pintu, satu untuk kamar mandi, di sebelah kiriku, dan kamar untuk tidur. Kami menggunakan kasur gulung untuk tidur. Tidak jarang aku mendapati kaki Helmi tepat berada di depan wajahku saat terbangun. Dia tipikal orang yang tidur dengan berisik. Dengkuran itu adalah salah satu buktinya.

Di bagian bawah adalah toko. Helmi merawat dan menjual berbagai macam bunga-bungaan serta tanaman hias. Menurutku dia sangat baik melakukannya. Berbeda dengan tanganku yang lebih banyak menghancurkan daripada membantu. Butuh waktu sebulan penuh, beragam tanaman yang layu, dan berpuluh-puluh pot yang pecah bagiku untuk mengubah perbandingan itu.

Kemudian aku teringat tempat istimewaku...

Kulirik lagi jam tanganku.

Rasanya konyol jika aku harus meninggalkan toko dan pergi ke sana di waktu dini hari semacam ini.

Tetapi pengaruh mimpi burukku selalu berkurang saat berada di tempat itu.

Ah, sudahlah...

Berjinjit melewati sosok Helmi yang tertidur, kuambil kaus ganti dan juga sebuah jaket abu-abu yang lusuh. Baju tidurku yang basah kuyup kulempar begitu saja ke dalam ember di kamar mandi. Aku akan segera mencucinya besok...

Setelah menuruni tangga, aku melewati barisan-barisan tanaman di rak-rak di ruangan bawah. Kupastikan pintu terkunci rapat saat aku di luar. Jalan di kiri-kanan tampak sangat sepi, dengan penerangan yang suram. Tetapi, aku justru sangat  menghargai suara kesunyian malam di sekelilingku itu. Hanya ada seekor kucing hitam-coklat dengan mata hijau terang yang bertengger di salah satu pagar rumah di ujung jalan. 

 Sekali lagi aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya melangkah, menuju tempat istimewaku.