Selama perjalanan,
mereka mendapati banyak gadis yang melambai dan tersenyum kepada mereka. Tidak
jarang dari para gadis itu yang buru-buru menyambut mereka dalam pelukan cepat
dan memberikan salam perpisahan. Nartaria yang paling banyak mendapatkan
sambutan ini. Myana yang tergolong pemalu tidak memiliki banyak teman selain
saudari-saudarinya di rumah.
“Jadi, apa
rencanamu Myana?” tanya Nartaria suatu saat.
Myana mengangkat
bahu.
“Kurasa sama
seperti yang lain,” katanya. “Aku ingin mengunjungi ibuku dan mengobrol.”
“Tentu,”
kata Nartaria, memutar bola matanya, seolah-olah beranggapan jawaban Myana
sangat konyol. “Maksudku, setelah itu.”
“Mungkin
mengunjungi kakakku di Kario. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.”
Nartaria
mengangguk-angguk pelan, sejenak tampak berpikir.
“Boleh
aku ikut?” tanyanya kemudian.
Myana
menatapnya kesal.
“Jangan
bodoh Tari,” tegurnya dengan nada tajam. “Kau tidak perlu mengajukan pertanyaan
seperti itu! Tentu saja kau boleh ikut!”
Nartaria
tersenyum cerah. Ekspresi itu hanya singgah selama sedetik karena setelahnya
dia mendesah.
“Kalian
curang,” katanya. “Kau dan Viseris memiliki kakak yang sudah berpengalaman di
luar hutan.”
“Kita
akan menemui kakakku bersama-sama,” Myana meyakinkannya.
Dia
baru tahu kalau ternyata Viseris memiliki kakak. Biasanya, seorang Elrika hanya
memiliki putri tunggal. Myana dan kakaknya adalah pengecualian yang jarang.
“Jadi
Viseris juga memiliki kakak?” tanya Myana. “Di mana kakaknya tinggal?”
“Kario,”
“Ah,”
Myana
menekan perasaan gelisahnya. Dia tidak begitu nyaman jika harus bepergian
bersama-sama hingga ke Kario.
Ini
tidak luput dari perhatian Nartaria.
“Kau
tidak begitu menyukai Viseris ya?” tanyanya. Myana menggeleng.
“Bukan
begitu,” dia berkilah. “dia yang tidak menyukaiku, Tari.”
Nartaria
menatapnya tertegun.
“Kau
selalu beranggapan begitu Myana,” katanya mendengus. “Menurutmu, setiap orang
tidak menyukaimu, dan untuk ke—aku tidak tahu ini yang keberapa kalinya—untuk
kesekian kalinya kuyakinkan padamu, tidak ada yang tidak menyukaimu.”
Myana
terdiam.
“Jangan
keras kepala seperti itu!” lanjut Nartaria. “Aku tahu ekspresi itu. Kau sama
sekali tidak percaya kata-kataku kan? Nah, itu bodoh! Semua orang yang
mengenalmu tahu kau itu terlalu baik. Mereka semua sayang padamu. Tidak ada
yang membenci dirimu kecuali dirimu sendiri.”
Ketika
Myana masih saja tidak membalas, Nartaria menutup ucapan panjangnya dengan nasihat
favoritnya.
“Berulangkali
kukatakan kalau kau itu unik Myana. Tidak ada yang salah dengan unik.”
Myana
tidak sanggup membalas kata-kata itu. Nartaria tidak bisa lebih tepat lagi.
Myana selalu merasa terasing di antara teman-temannya. Dia merasa minder, merasa
cacat. Semua Elrika seharusnya memiliki rambut dan mata berwarna emas.
Keberadaannya yang tidak sempurna selalu membuatnya bertanya-tanya, apa yang
membuatnya terlahir dalam keadaan seperti itu? Mengapa dia berbeda dari yang
lain? Adakah gadis yang bernasib sama sepertinya?
“Sebenarnya,”
katanya akhirnya, setelah terdiam cukup lama. “Salah satu bagian dari mimpiku
pergi ke luar hutan adalah ini,”
Dia
bermain-main dengan rambut peraknya.
“Aku
ingin tahu apa yang membuatku berbeda, membuatku abnormal. Aku ingin tahu
apakah ada yang lain yang bernasib sama sepertiku. Tidak ada yang bisa
memberiku jawaban memuaskan di sini.”
Myana
tidak pernah mengutarakan ini kepada siapa pun dan mendapati dirinya agak kaget
setelah membuat pengakuan itu. Dia melirik Nartaria yang menatapnya dengan
ekspresi sulit ditebak.
“Myana,”
dia memulai, tampak ingin mengucapkan sesuatu. Namun, alih-alih bersuara, dia
menggeleng. “Kuanggap itu berarti kau sudah tahu akan ke mana setelah Kario?”
Sekali
lagi Myana mengangkat bahu, sebisa mungkin berusaha terdengar acuh tak acuh.
“Jauh di utara,
ada entitas bernama Arlando yang tahu segala sesuatu, seorang demigod yang bersedia memberikan jawaban
apa pun dengan imbalan emas yang cukup.”
“Kau
berniat bertransaksi dengan demigod?”
Nartaria berhenti berjalan dan
menatapnya terpana.
“Kau
berniat bertransaksi dengan demigod?”
ulangnya. Dia membuka mulutnya, kemudian
menutupnya lagi, tampak berpikir, menelaah kata-katanya.
“Myana,”
katanya akhirnya. “Aku bahkan tidak tahu harus bicara apa, tapi kau. Berniat. Bertransaksi. Dengan demigod!”
Dia
menekankan kata-katanya, memandang Myana dengan tatapan ‘apa kau sudah gila?’
miliknya.
“Kau
bersikap sangat konyol Myana,” dia mendesah. “”Lagipula darimana kau tahu
informasi semacam ini? Kita tidak pernah keluar dari hutan Teresala!”
Myana
tersenyum kecil.
“Kau
mengenalku Tari,” katanya. “’konyol’ bisa dibilang adalah nama tengahku.”
“Mengenai
informasi ini,” lanjutnya. “kakakku Minasa membawa pulang banyak buku dari luar
sewaktu dia kembali. Dan aku banyak membaca. Keberadaan demigod Arlando bukan hal yang rahasia Tari, dan banyak orang yang
sudah bertransaksi dengannya. Dia hanya meminta imbalan emas—dalam jumlah yang sangat banyak—tapi tidak pernah disertai
embel-embel. Ini seratus persen aman.”
Nartaria
masih menatapnya terpana.
“Kau
benar-benar serius ya?” ucapnya pelan. “Lalu darimana kau akan mendapatkan emas
itu Myana? Emas tidak turun begitu saja dari langit, kau tahu?”
Myana
enggan menjawabnya. Dia tahu Nartaria akan kalap mendengar rencananya.
“Myana!”
Nartaria menegurnya keras. “Kau tidak merencanakan hal yang aneh-aneh bukan?
Jangan jawab itu! Oh, kau membuatku gila Myana! Kita bahkan belum memulai perjalanan
ini!”
“Dan
hapus seringaimu itu!” tambahnya ketika melihat ekspresi Myana.
Myana
geli melihat kekhawatiran sepupunya. Dia juga sedikit merasa bersalah telah
membuatnya seperti itu. Sedikit.
“Kita
sebaiknya bergegas Tari,”
Nartaria
terkesiap, tampaknya baru menyadari kalau perjalanan mereka terhenti. Dia
menarik nafas panjang dan menatap Myana sekali lagi. Tatapan matanya penuh
janji, dan lagi-lagi Myana berhasil mendapatkan ketentraman di balik tatapan
itu, meskipun saat itu dia tidak sedang mencarinya.
“Aku
ikut Myana,” katanya sungguh-sungguh. “Kemanapun kau pergi, aku ikut.”
Myana
merasakan sesuatu yang kasat mata menggenggam jantungnya. Dia kesulitan
bernafas untuk beberapa saat. Matanya berair lagi. Dia tersadar dirinya merasa
terharu mendengar kata-kata sederhana sepupunya itu.
“Tari,
aku—“
“Tidak
ada argumen Myana,” potong Nartaria. “Kau mau bersikap konyol dan bertransaksi
dengan demigod itu, aku ikut. Kau mau
mencari emas dengan cara-cara yang konyol, apa pun itu, aku ikut. Kau harus
mengikatku dengan rantai jika kau tidak ingin aku mengikutimu Myana.”
“Dan
satu lagi Myana,” dia terdiam. Kilatan marah muncul di matanya. “Jika aku
mendengar dirimu mengatai dirimu sendiri abnormal sekali lagi, kau akan
berhadapan denganku.”
*
Now I notice Myana's story here is short! But I already write what I want, so...