Thursday, June 30, 2016

Royal Guards - Page 35-36

“Aku menuntut penjelasan!” tuntut Elkal.
            “Kau mencuri kata-kataku!”
            Sven melambaikan tangannya ke sekeliling, berusaha menegaskan maksudnya. “Dua kuda yang mati dan kobaran api yang membakar rumput! Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi tadi?
            “Sesaat yang lalu kau sudah akan terbakar!” Elkal meracau, nampaknya tidak mendengar pertanyaan Sven. “Tapi kau berpindah, dan kau berpindah lagi, dan kau sudah menebas dua orang itu! Bahkan sebelum aku sempat berkedip!”
            Sven menghela nafas.
            “Aku memiliki beberapa trik,”
            “Trik? Kau sebut itu trik?”
            “Cukup!” tukas Sven. “Kau belum menjawab pertanyaanku! Siapa mereka berdua? Kenapa mereka ingin membunuhmu? Oh, tunggu dulu, ini lebih penting! Kenapa mereka juga ingin membunuhku?”
            Elkal mengerjap mendengar amukan Sven.
            “Dan kenapa mereka menghilang menjadi asap?” lanjut Sven geram. “Dan kenapa kudaku mati? Dan apa yang mereka maksud dengan pengguna tanda? Tolong jelaskan!”
            Sven terengah-engah, seakan baru berlari ratusan kilometer.
            “Aku tidak tahu..”
            “Percobaan yang bagus!” sergah Sven galak. “Sekarang coba jawab lagi! Kali ini jawaban yang lain!”
            “Aku tidak tahu!” teriak Elkal, terdengar frustasi. “Aku tidak tahu siapa mereka! Aku tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba menyerangku! Aku tidak tahu kenapa mereka juga menyerangmu! Aku tahu salah seorang dari mereka—Damian—adalah seorang penyihir, tapi kurasa kau juga tahu bagian itu! Aku sama tidak mengertinya seperti kau!”
            Dia juga terengah-engah setelah amukan kecil itu.
            Mereka terdiam selama beberapa saat.
            “Kita harus kembali ke kota,” kata Sven akhirnya. Suaranya menyadarkan betapa letihnya dia saat ini. “Aku butuh minum.”
            Elkal mengangguk. Sven melihat sebuah ekspresi baru terpeta di wajahnya. Pria itu tampak ingin mengutarakan sesuatu, namun ragu.
            “Apa?” tuntut Sven segera. “Apa yang kau pikirkan?”
            “Boleh kulihat tangan kirimu?”
            Sven tidak sempat menjawab karena Elkal sudah mengambil tangan kirinya. Dia melihat punggung tangan itu dan menarik nafas tajam. Tangan kiri Sven memang memiliki sebuah tanda aneh.
            “Ada apa?”
            Elkal menggeleng.
            “Aku butuh minum,” katanya akhirnya. Dia tampak ragu-ragu sesaat. “Aku barangkali tahu apa yang mereka maksud dengan pengguna tanda.”
            “APA? Bagaimana—”
            Elkal mengangkat tangannya, memotong kata-kata Sven.
            “Aku akan menjelaskannya setelah aku minum sesuatu,” katanya letih. Dia tampak ragu-ragu lagi. “Dan aku belum memerkenalkan diri secara resmi padamu.”
            Dia tiba-tiba menunduk hormat.
            “Namaku Elkal Vollenhad,” katanya. “Senang bertemu denganmu Hasven Leingord.”
            Sven menyumpah, merasa heran dengan perubahan sikap ini.
            “Apa-apaan kau—”
            “Dan barangkali kau perlu tahu,” potong Elkal. “Aku ini penyihir.”
*

Royal Guards - Page 32-34

Dua orang asing berdiri berdampingan. Salah seorangnya adalah pria tua, berjenggot panjang, berbadan tegap dan berambut hitam panjang berantakan, tampak liar seperti singa jantan. Yang lain seorang wanita, berambut putih panjang diikat kuda, memakai anting besar berbentuk bulan sabit dan memiliki penampilan yang terkesan mistis. Mereka memakai busana serba hitam dengan mantel panjang berwarna senada. Yang pria membawa sebuah buku besar. Yang wanita bersenjata busur dengan ukuran yang lebih besar dari busur pada umumnya.
            Elkal berada tidak jauh di depan mereka, berlutut dan terengah-engah.  Rumput-rumput di sekelilingnya terbakar. Kudanya terkapar tak jauh darinya, mati.
            Suara derap kuda membuatnya menoleh. Dia tampak terperanjat.
            “Apa yang—kau!” dia berteriak. “Apa yang kau lakukan?! Cepat pergi dari sini!”
            Baiklah, itu bukan reaksi yang diharapkan Sven. Dia menghentikan laju kudanya dan menimbang situasi. Sesungguhnya dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Pemandangan di depannya bukan sesuatu yang biasa dia lihat sehari-hari. Baru beberapa menit yang lalu dia masih berusaha meyakinkan Elkal untuk menerima tawarannya, tetapi disinilah dia sekarang, setelah rentetan kejadian-kejadian aneh.
            Si perempuan menatap lelaki tua di sebelahnya.
            “Sihirmu tidak berfungsi?” tanyanya pelan. Sesuai dengan penampilannya yang mistis, suaranya terdengar dalam dan misterius.  Kesan ganjil yang timbul dari suara itu adalah sensasinya yang seakan bergema dari kejauhan.
            “Dan anak panahmu meleset,” jawab si pria tua. Sensasi aneh ‘gema dari kejauhan’ itu juga menempel pada suaranya yang agak serak dan kental. “Siapapun laki-laki ini, dia bukan orang biasa.”
            Sven punya perasaan kuat bahwa mereka berdua sedang membicarakan dirinya. Akan tetapi isi dari percakapan ini mengherankan. Dia mengamati busur yang dipegang si perempuan. Masa iya anak panah yang tadi melesat mengincarnya berasal dari busur itu?  
            “Siapa kalian!?” seru Elkal tiba-tiba, membuat mereka berdua kembali mengalihkan pandangan acuh tak acuh padanya. “kenapa kalian tiba-tiba menyerangku!?”
            “Ah,” jawab si perempuan. “Kau tidak perlu tahu tuan Vollenhad. Yang perlu kau yakini hanyalah kau akan mati sekarang.”
            Dia mengucapkan kalimat itu dengan nada santai, namun kata-kata dan cara pandangnya penuh janji ancaman dan membuat Sven yakin akan satu hal.  
            Dua orang ini berniat membunuh.
Dia sudah akan menerjang ketika kudanya mengalami hal aneh. Kuda itu bergetar hebat, dan detik berikutnya meringkik kesakitan seakan-akan sesuatu yang tak kasat mata tengah menyiksanya. Sven berkutat dengan kudanya yang bergerak-gerak liar, berusaha menenangkannya, namun tanpa disangka, kudanya ambruk. Sven menyumpah dan melompat tepat pada waktunya sebelum kudanya sendiri membuat kakinya remuk tertimpa. Dia menyaksikan dengan tercengang ketika nyawa kudanya perlahan-lahan merenggang, menggelepar dengan gerakan-gerakan lemah nan layu. Kudanya mati.
            “Bagaimanapun sihirmu berfungsi Damian,” kata si perempuan, menyaksikan kejadian itu dengan sangat tenang. “Siapapun laki-laki ini, nampaknya dia punya imun yang cukup tinggi.”
            Lelaki yang dipanggil Damian itu hanya mengangkat bahu. Dia mengalihkan perhatiannya ke buku besar bawaannya dan mulai membaca. Detik itu juga, ketika mulut darinya tampak bergerak-gerak kecil dalam bisikan halus, suasana berubah. Sven merasakan hawa dingin di sekelilingnya, dan dia terpaku di tempat ketika udara di sekelilingnya seakan-akan menguar, terdistorsi oleh sesuatu yang kasat mata. Sven selalu percaya nalurinya, dan nalurinya kali ini mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi.
            Terdengar suara teriakan Elkal.
            “MENGAPA KAU BENGONG!? MINGGIR DARI SANA!”
            Disusul suara letupan dan hawa panas. Hawa dingin itu serta merta beralih menjadi sangat panas.
            Sven bisa merasakan dirinya terbakar, dan kali ini dia bereaksi secara naluriah.
            Tanpa aba-aba, segalanya berjalan dalam gerak lambat. Sven yakin ada sesuatu yang datang. Dia yakin apa pun itu, apa pun yang menyerangnya berasal persis dari atas tempat dia berdiri. Dia tahu sudah terlambat untuk menghindar. Namun, sekali lagi, semuanya menjadi lambat, seolah-olah alam menghentikan kegiatannya dan dia masih bisa bergerak seperti biasa. Dia bisa melihat ekspresi ketakutan Elkal. Dia bisa melihat ekspresi bosan si perempuan. Dia bisa melihat debu-debu halus yang tertiup angin dalam gerakan yang sangat lambat. Namun, dia hanya berlari, merasa lebih cepat dari siapa pun. Dia menghindari bahaya dengan menerjang ke depan. Udara panas menyerbu di belakangnya. Dari arah yang sama, angin panas menghembus kencang, membuatnya terlempar ke depan, namun dengan cekatan Sven membetulkan posisinya lagi. Ketika dia menoleh, dia bisa melihat kobaran api raksasa yang menyelimuti tempatnya berada tadi, menjilat-jilat dengan liar, lagi-lagi dalam gerakan yang sangat lambat.
            “Mustahil!”
            Seruan ini membuatnya kembali fokus, melupakan kobaran api itu dan mengalihkan perhatiannya. Dia tidak membuang waktu. Hanya tersisa waktu beberapa detik sebelum kekuatannya habis. Dia berlari seraya menghunus pedangnya. Ruang lingkup sekelilingnya masih dalam gerak lambat sementara dia adalah satu-satunya pengecualian. Kedua orang berjubah hitam itu bahkan tidak sempat bereaksi ketika dia menebas, pertama si laki-laki, yang disebut Damian, kemudian si perempuan tak bernama. Mereka berdua ambruk ketika alam kembali berjalan normal. Gerakan-gerakan yang melambat berangsur-angsur menjadi gerakan yang seharusnya. Sven merasakan gerakannya menjadi normal lagi, seperti seharusnya.
            “Apa yang—bagaimana kau—bagaimana—”
            Sven bisa mendengar Elkal tergagap di belakangnya. Pria itu pastilah bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi. Bagaimanapun, perhatian Sven teralihkan total ketika dia menyadari ketiadaan darah di pedang maupun di tubuh dua orang yang ditebasnya. Namun, yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika si lelaki tua mendengus.
            “Pengguna tanda,” katanya, terdengar mengejek, bahkan dalam kondisinya yang terkapar. “Seharusnya aku tahu.”
            Seusai mengatakan itu, dia menguap. Sosok tubuh itu berubah menjadi asap hitam yang menguar ke atas, meliuk-liuk seperti ular sebelum akhirnya hilang tanpa bekas.
            “Jadi begitu,” si perempuan berkata, juga terdengar mengejek dalam kondisinya. “Kita akan bertemu lagi, pengguna tanda.”
            Dan seperti rekannya, dia menguap menjadi asap hitam dan lenyap.
            Sven terpana memandang kejadian-kejadian itu, kesulitan mencerna apa yang baru saja terjadi.
            Ini benar-benar memberikanku definisi baru mengenai kata aneh.

*


Tuesday, June 28, 2016

Royal Guards - Page 30-31

Chapter 4
Si Dua Asap
            Sven menunggu semalaman. Beberapa orang yang mengenalnya memang mengakuinya sebagai orang yang sangat gigih, terutama jika menyangkut masalah uang. Baru ketika matahari terbit, dia melihat Elkal keluar dari gerbang selatan kota, berkuda, masih dengan jubah merahnya dan tongkatnya yang ganjil. Elkal menyadari kehadiran Sven dan tampak jengkel. Dia segera memacu kudanya kencang.  Sven bergegas menaiki kudanya dan menyusul.
            “Elkal!”
            “Pergilah!”
            Mereka bersahut-sahutan sambil mengendarai kuda.
            “Aku akan membagi imbalannya! 25 persen!”
            “Pergilah!”
            “30 persen!”
            “Tidak!”
            “Lima puluh—tidak, empat pul—tidak, 35 persen!”
            Tiba-tiba Elkal menghentikan kudanya. Gerakan itu membuat Sven kaget sesaat, namun dengan sigap dia menarik tali kekang miliknya. Kudanya berhenti persis di sebelah kuda milik Elkal.
            “35 persen? Ayolah! Cukup terjemahkan ini untukku!”
            Elkal mengamatinya dengan ekspresi yang sama seperti kemarin, penuh kecurigaan dan tidak ramah.
            “Benarkah kau seorang ranvel?” tiba-tiba dia berkata. “Kau tidak kelihatan seperti ranvel.”
            “Kau tidak kelihatan seperti ranvel,” Sven membalas.
            Elkal bahkan lebih kecil dari Sven.
            “Aku ingin tahu,” tukas Elkal. “Bagaimana kau bisa tahu tempatku menginap?”
            Sven mengangkat bahu.
            “Bradley memberitahuku,” katanya.
            Elkal tampak bingung.
            “Bradley? Bradley si agen?”
            Dia tampak gusar mendengar informasi ini. Selewat beberapa saat dia menggeleng.
            “Jadi?” tuntut Sven.
            “Biarkan aku memberimu saran,” tukas Elkal galak. “Carilah pekerjaan lain jika kau sayang nyawamu!”
            Dia kembali memacu kudanya kencang.
            “Hei!” panggil Sven.
            Dia sudah berniat menyusul lagi ketika sesuatu terjadi.
            Awan hitam bergulung secara tiba-tiba menyelimuti Sven dan kudanya. Sven menghentikan kudanya dan menghunus pedangnya. Dia memikirkan makhluk gaib di kawasan itu. Belum pernah dia menemukan makhluk gaib yang mampu membuat awan hitam dan menutupi pandangan. Dengan pedang siap di tangan dia menajamkan telinga, berusaha menangkap suara terkecil sekalipun. Namun, awan hitam itu lenyap sama cepatnya seperti dia datang, meninggalkan Sven yang terheran-heran. Elkal sudah menghilang dari pandangan. Sven menggeram.
            Suara angin terbelah. Sisi kanan.
            Dia menghindar tepat pada waktunya. Sebatang anak panah meluncur persis melewati letak kepalanya berada hanya sedetik yang lalu. Belum sempat dia pulih dari keterkejutannya, suara ledakan dari kejauhan menyita perhatiannya.
            DUAR!
            Apa lagi sekarang?
            Dia mencari-cari sekilas, berusaha menemukan pemanah yang jelas-jelas berusaha membunuhnya tadi. Di sisi kanan, arah panah tadi datang, hanya ada padang rumput dan bebatuan kecil, mustahil untuk bersembunyi di sana. Namun, dia tidak melihat satu makhluk hidup pun. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan fenomena aneh ini. Sven bergegas memacu kudanya menuju sumber suara ledakan, berharap ada penjelasan masuk akal atas kejadian-kejadian tadi.
            Asap hitam? Panah tapi tidak ada pemanah? Apa-apaan ini?
            Aku sering menjumpai hal-hal aneh, tapi yang tadi itu jelas memberikan definisi baru tentang kata aneh, haha
            Tunggu..
            Apa itu?
            Apakah itu api?
Kebakaran?
            Di kejauhan, sesuatu terbakar. Dia tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi Sven tidak mungkin salah mengenali jubah merah mencolok itu. Apa pun yang terjadi di sana, Elkal terlibat. Sven teringat pesan terakhir Bradley.
            “Jauhi orang itu.”
            Barangkali Bradley benar-benar serius ketika dia memberikan nasihat itu. Barangkali agen itu tahu identitas asli seorang Elkal, dan berbaik hati memeringatkan Sven untuk menjauhinya. Barangkali pria bernama Elkal itu bukan hanya seorang ranvel yang tampak berbeda secara fisik, tapi berbeda dari segala aspek. Apa pun itu, Sven bertekad mendapatkan jawaban.
*
To be honest, I think my beginning stories are kinda weird._.

Saturday, June 25, 2016

Royal Guards - Page 26-29

Selama perjalanan, mereka mendapati banyak gadis yang melambai dan tersenyum kepada mereka. Tidak jarang dari para gadis itu yang buru-buru menyambut mereka dalam pelukan cepat dan memberikan salam perpisahan. Nartaria yang paling banyak mendapatkan sambutan ini. Myana yang tergolong pemalu tidak memiliki banyak teman selain saudari-saudarinya di rumah.
“Jadi, apa rencanamu Myana?” tanya Nartaria suatu saat.
Myana mengangkat bahu.
“Kurasa sama seperti yang lain,” katanya. “Aku ingin mengunjungi ibuku dan mengobrol.”
            “Tentu,” kata Nartaria, memutar bola matanya, seolah-olah beranggapan jawaban Myana sangat konyol. “Maksudku, setelah itu.”
            “Mungkin mengunjungi kakakku di Kario. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.”
            Nartaria mengangguk-angguk pelan, sejenak tampak berpikir.
            “Boleh aku ikut?” tanyanya kemudian.
            Myana menatapnya kesal.
            “Jangan bodoh Tari,” tegurnya dengan nada tajam. “Kau tidak perlu mengajukan pertanyaan seperti itu! Tentu saja kau boleh ikut!”
            Nartaria tersenyum cerah. Ekspresi itu hanya singgah selama sedetik karena setelahnya dia mendesah.
            “Kalian curang,” katanya. “Kau dan Viseris memiliki kakak yang sudah berpengalaman di luar hutan.”
            “Kita akan menemui kakakku bersama-sama,” Myana meyakinkannya.
            Dia baru tahu kalau ternyata Viseris memiliki kakak. Biasanya, seorang Elrika hanya memiliki putri tunggal. Myana dan kakaknya adalah pengecualian yang jarang.
            “Jadi Viseris juga memiliki kakak?” tanya Myana. “Di mana kakaknya tinggal?”
            “Kario,”
            “Ah,”
            Myana menekan perasaan gelisahnya. Dia tidak begitu nyaman jika harus bepergian bersama-sama hingga ke Kario.
            Ini tidak luput dari perhatian Nartaria.
            “Kau tidak begitu menyukai Viseris ya?” tanyanya. Myana menggeleng.
            “Bukan begitu,” dia berkilah. “dia yang tidak menyukaiku, Tari.”
            Nartaria menatapnya tertegun.
            “Kau selalu beranggapan begitu Myana,” katanya mendengus. “Menurutmu, setiap orang tidak menyukaimu, dan untuk ke—aku tidak tahu ini yang keberapa kalinya—untuk kesekian kalinya kuyakinkan padamu, tidak ada yang tidak menyukaimu.”
            Myana terdiam.
            “Jangan keras kepala seperti itu!” lanjut Nartaria. “Aku tahu ekspresi itu. Kau sama sekali tidak percaya kata-kataku kan? Nah, itu bodoh! Semua orang yang mengenalmu tahu kau itu terlalu baik. Mereka semua sayang padamu. Tidak ada yang membenci dirimu kecuali dirimu sendiri.”
            Ketika Myana masih saja tidak membalas, Nartaria menutup ucapan panjangnya dengan nasihat favoritnya.
            “Berulangkali kukatakan kalau kau itu unik Myana. Tidak ada yang salah dengan unik.”
            Myana tidak sanggup membalas kata-kata itu. Nartaria tidak bisa lebih tepat lagi. Myana selalu merasa terasing di antara teman-temannya. Dia merasa minder, merasa cacat. Semua Elrika seharusnya memiliki rambut dan mata berwarna emas. Keberadaannya yang tidak sempurna selalu membuatnya bertanya-tanya, apa yang membuatnya terlahir dalam keadaan seperti itu? Mengapa dia berbeda dari yang lain? Adakah gadis yang bernasib sama sepertinya?
            “Sebenarnya,” katanya akhirnya, setelah terdiam cukup lama. “Salah satu bagian dari mimpiku pergi ke luar hutan adalah ini,”
            Dia bermain-main dengan rambut peraknya.
            “Aku ingin tahu apa yang membuatku berbeda, membuatku abnormal. Aku ingin tahu apakah ada yang lain yang bernasib sama sepertiku. Tidak ada yang bisa memberiku jawaban memuaskan di sini.”
            Myana tidak pernah mengutarakan ini kepada siapa pun dan mendapati dirinya agak kaget setelah membuat pengakuan itu. Dia melirik Nartaria yang menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak.
            “Myana,” dia memulai, tampak ingin mengucapkan sesuatu. Namun, alih-alih bersuara, dia menggeleng. “Kuanggap itu berarti kau sudah tahu akan ke mana setelah Kario?”
            Sekali lagi Myana mengangkat bahu, sebisa mungkin berusaha terdengar acuh tak acuh.
“Jauh di utara, ada entitas bernama Arlando yang tahu segala sesuatu, seorang demigod yang bersedia memberikan jawaban apa pun dengan imbalan emas yang cukup.”
            “Kau berniat bertransaksi dengan demigod?”   
            Nartaria berhenti berjalan dan menatapnya terpana.
            “Kau berniat bertransaksi dengan demigod?” ulangnya. Dia membuka mulutnya, kemudian  menutupnya lagi, tampak berpikir, menelaah kata-katanya.
            “Myana,” katanya akhirnya. “Aku bahkan tidak tahu harus bicara apa, tapi kau. Berniat. Bertransaksi. Dengan demigod!”
            Dia menekankan kata-katanya, memandang Myana dengan tatapan ‘apa kau sudah gila?’ miliknya.
            “Kau bersikap sangat konyol Myana,” dia mendesah. “”Lagipula darimana kau tahu informasi semacam ini? Kita tidak pernah keluar dari hutan Teresala!”
            Myana tersenyum kecil.
            “Kau mengenalku Tari,” katanya. “’konyol’ bisa dibilang adalah nama tengahku.”
            “Mengenai informasi ini,” lanjutnya. “kakakku Minasa membawa pulang banyak buku dari luar sewaktu dia kembali. Dan aku banyak membaca. Keberadaan demigod Arlando bukan hal yang rahasia Tari, dan banyak orang yang sudah bertransaksi dengannya. Dia hanya meminta imbalan emas—dalam jumlah yang sangat banyak—tapi tidak pernah disertai embel-embel. Ini seratus persen aman.”
            Nartaria masih menatapnya terpana.
            “Kau benar-benar serius ya?” ucapnya pelan. “Lalu darimana kau akan mendapatkan emas itu Myana? Emas tidak turun begitu saja dari langit, kau tahu?”
            Myana enggan menjawabnya. Dia tahu Nartaria akan kalap mendengar rencananya.
            “Myana!” Nartaria menegurnya keras. “Kau tidak merencanakan hal yang aneh-aneh bukan? Jangan jawab itu! Oh, kau membuatku gila Myana! Kita bahkan belum memulai perjalanan ini!”
            “Dan hapus seringaimu itu!” tambahnya ketika melihat ekspresi Myana.
            Myana geli melihat kekhawatiran sepupunya. Dia juga sedikit merasa bersalah telah membuatnya seperti itu. Sedikit.
            “Kita sebaiknya bergegas Tari,”
            Nartaria terkesiap, tampaknya baru menyadari kalau perjalanan mereka terhenti. Dia menarik nafas panjang dan menatap Myana sekali lagi. Tatapan matanya penuh janji, dan lagi-lagi Myana berhasil mendapatkan ketentraman di balik tatapan itu, meskipun saat itu dia tidak sedang mencarinya.
            “Aku ikut Myana,” katanya sungguh-sungguh. “Kemanapun kau pergi, aku ikut.”
            Myana merasakan sesuatu yang kasat mata menggenggam jantungnya. Dia kesulitan bernafas untuk beberapa saat. Matanya berair lagi. Dia tersadar dirinya merasa terharu mendengar kata-kata sederhana sepupunya itu.
            “Tari, aku—“
            “Tidak ada argumen Myana,” potong Nartaria. “Kau mau bersikap konyol dan bertransaksi dengan demigod itu, aku ikut. Kau mau mencari emas dengan cara-cara yang konyol, apa pun itu, aku ikut. Kau harus mengikatku dengan rantai jika kau tidak ingin aku mengikutimu Myana.”
            “Dan satu lagi Myana,” dia terdiam. Kilatan marah muncul di matanya. “Jika aku mendengar dirimu mengatai dirimu sendiri abnormal sekali lagi, kau akan berhadapan denganku.”

*

Now I notice Myana's story here is short! But I already write what I want, so...

Monday, June 6, 2016

Royal Guards - Page 25-26

 Hutan Teresala, tempatnya tinggal, terbagi menjadi tiga bagian. Sisi luar hutan, dimana jarak-jarak pepohonan masih menyisakan ruang yang cukup luas, merupakan tempat para Elrika yang sudah menjalani ‘masa transisi’ ke luar hutan. Mereka membangun tempat tinggal dari kayu dan dedaunan, di atas pohon-pohon yang tinggi. Lebih jauh ke dalam, dimana kali ini pepohonan mulai merapat dan sangat mudah menyesatkan orang-orang asing, adalah tempat tinggal para ibu. Tidak seperti di bagian luar hutan yang rumahnya dibangun di atas pepohonan dengan tangga dan jembatan yang rumit, di bagian hutan ini, rumah-rumah dibangun setelah pohon-pohon ditebang sehingga menyisakan lahan untuk tempat tinggal yang nyaman. Para gadis muda tinggal disini hingga usia 12 tahun, dan ketika mereka sudah menginjak usia itu mereka akan berpindah, lebih jauh ke dalam hutan, sementara sang ibu yang ditinggal putrinya berpindah ke bagian luar hutan. Bagian terdalam hutan menyimpan kejutan. Di balik pepohonan tersirat lembah, danau dan sungai yang sangat memukau. Tempat tinggal dibangun dengan rapi di antara bukit-bukit kecil. Di bagian selatan, ketika area menanjak, terdapat sebuah tebing curam yang tidak terlihat puncaknya, bagian dari gunung raksasa, Bramand. Dari puncak yang tidak terlihat itu pula mengalir deras air terjun yang merupakan pusat aliran sungai yang bermuara ke lima bagian.  Dilihat dari jauh, dari area pepohonan, pemandangan yang terhampar ini sangat luar biasa. Campuran warna hijau bukit dan padang rumput, warna biru danau dan sungai, kemudian bayangan hitam yang menjulang tinggi di kejauhan, lengkap dengan siluet air terjun dan pelangi di sana, merupakan perpaduan magis alam dan keindahan. Para gadis yang baru menyaksikan pemandangan itu biasanya akan terhipnotis terpaku di tempat. Myana termasuk salah satunya.
Dataran ini disebut dataran Sheirin. Segera saja, Myana ditempatkan di salah satu rumah di sana, bersama-sama sepupunya Nartaria. Setiap rumah berpenghuni lima orang. Yang lebih tua mengajarkan yang lebih muda. Kemudian ketika yang paling tua sudah mencapai usia 18 tahun, mereka akan pergi meninggalkan dataran Sheirin, meninggalkan hutan. Usia di bawahnya ganti mengajarkan gadis yang baru datang. Begitu seterusnya. Kini, giliran Myana dan Nartaria—juga Viseris—yang sudah mencapai usia itu.
            Malam purnama bulan keempat, semua penghuni dataran Sheirin berpesta. Mereka bermain musik dan menari-nari hingga dini hari. Mereka berkomunikasi dengan burung-burung, membuatnya berkicau riang sepanjang hari. Mereka membisiki tanaman-tanaman, yang kembali berbisik penuh suka cita. Pesta ini guna mengantarkan para gadis yang akan pergi.
Myana dan Nartaria sudah berjanji akan bertemu dengan Viseris di tepi hutan menjelang siang. Mereka berdua berpamitan dan memeluk saudari serumahnya satu per satu.
“Tahun depan giliranku,” kata Ilaya, teman serumah yang berumur setahun lebih muda. Dia memeluk Myana dan berbisik. “Berhati-hatilah kak, dewi Alvina selalu menyertaimu.”
            “Dan jika kau bertemu Karina di luar sana, sampaikan salamku.”
            Myana membalas pelukan itu. Dia menahan keinginannya untuk menangis. “pasti Ilaya,” desahnya. “Jaga Nalini untukku.”
            Dia berpaling ke saudarinya yang lain, melihat Nartaria juga tengah memeluk saudarinya, Elanoir. Nalini, yang baru berusia 13 tahun, terisak di baliknya. Melihat itu, pertahanan Myana pecah. Dia buru-buru mengusap pipinya, menghapus air mata yang sudah mengalir di sana.
            Myana mendapati dirinya di pelukan Ilaya lagi. Dia mendesah.
            “Jangan menangis, Myana,” ucapnya. “Kita akan segera bertemu lagi.”
            Suaranya bergetar di akhir kalimat itu, membuat Myana mendongak. Ilaya juga menangis.
            “Oh, ini konyol,” Ilaya terkikik lemah, berusaha menghalau air matanya. “Toh kita akan segera bertemu lagi.”
            Ketiga saudarinya yang lain menyusul memeluk mereka berdua. Mereka menangis beriringan.
            “Ini konyol,” kata Ilaya lagi, masih terisak, masih berusaha menghalau tangisannya. “Kami mencintaimu kak. Jangan ragukan itu.”
            “Kami mencintaimu dik, jangan ragukan itu.”
            Mereka berlima tetap dalam posisi itu, berpelukan dan terisak cukup lama, hingga waktunya berpisah.

*