Dua orang asing berdiri
berdampingan. Salah seorangnya adalah pria tua, berjenggot panjang, berbadan
tegap dan berambut hitam panjang berantakan, tampak liar seperti singa jantan.
Yang lain seorang wanita, berambut putih panjang diikat kuda, memakai anting
besar berbentuk bulan sabit dan memiliki penampilan yang terkesan mistis.
Mereka memakai busana serba hitam dengan mantel panjang berwarna senada. Yang pria
membawa sebuah buku besar. Yang wanita bersenjata busur dengan ukuran yang
lebih besar dari busur pada umumnya.
Elkal
berada tidak jauh di depan mereka, berlutut dan terengah-engah. Rumput-rumput di sekelilingnya terbakar.
Kudanya terkapar tak jauh darinya, mati.
Suara
derap kuda membuatnya menoleh. Dia tampak terperanjat.
“Apa
yang—kau!” dia berteriak. “Apa yang kau lakukan?! Cepat pergi dari sini!”
Baiklah,
itu bukan reaksi yang diharapkan Sven. Dia menghentikan laju kudanya dan
menimbang situasi. Sesungguhnya dia tidak tahu apa yang harus dia katakan.
Pemandangan di depannya bukan sesuatu yang biasa dia lihat sehari-hari. Baru
beberapa menit yang lalu dia masih berusaha meyakinkan Elkal untuk menerima
tawarannya, tetapi disinilah dia sekarang, setelah rentetan kejadian-kejadian
aneh.
Si
perempuan menatap lelaki tua di sebelahnya.
“Sihirmu
tidak berfungsi?” tanyanya pelan. Sesuai dengan penampilannya yang mistis,
suaranya terdengar dalam dan misterius. Kesan
ganjil yang timbul dari suara itu adalah sensasinya yang seakan bergema dari
kejauhan.
“Dan
anak panahmu meleset,” jawab si pria tua. Sensasi aneh ‘gema dari kejauhan’ itu
juga menempel pada suaranya yang agak serak dan kental. “Siapapun laki-laki
ini, dia bukan orang biasa.”
Sven
punya perasaan kuat bahwa mereka berdua sedang membicarakan dirinya. Akan
tetapi isi dari percakapan ini mengherankan. Dia mengamati busur yang dipegang
si perempuan. Masa iya anak panah yang tadi melesat mengincarnya berasal dari
busur itu?
“Siapa
kalian!?” seru Elkal tiba-tiba, membuat mereka berdua kembali mengalihkan
pandangan acuh tak acuh padanya. “kenapa kalian tiba-tiba menyerangku!?”
“Ah,”
jawab si perempuan. “Kau tidak perlu tahu tuan Vollenhad. Yang perlu kau yakini
hanyalah kau akan mati sekarang.”
Dia
mengucapkan kalimat itu dengan nada santai, namun kata-kata dan cara pandangnya
penuh janji ancaman dan membuat Sven yakin akan satu hal.
Dua
orang ini berniat membunuh.
Dia sudah akan
menerjang ketika kudanya mengalami hal aneh. Kuda itu bergetar hebat, dan detik
berikutnya meringkik kesakitan seakan-akan sesuatu yang tak kasat mata tengah
menyiksanya. Sven berkutat dengan kudanya yang bergerak-gerak liar, berusaha
menenangkannya, namun tanpa disangka, kudanya ambruk. Sven menyumpah dan
melompat tepat pada waktunya sebelum kudanya sendiri membuat kakinya remuk
tertimpa. Dia menyaksikan dengan tercengang ketika nyawa kudanya
perlahan-lahan merenggang, menggelepar dengan gerakan-gerakan lemah nan layu.
Kudanya mati.
“Bagaimanapun
sihirmu berfungsi Damian,” kata si perempuan, menyaksikan kejadian itu dengan
sangat tenang. “Siapapun laki-laki ini, nampaknya dia punya imun yang cukup
tinggi.”
Lelaki
yang dipanggil Damian itu hanya mengangkat bahu. Dia mengalihkan perhatiannya
ke buku besar bawaannya dan mulai membaca. Detik itu juga, ketika mulut darinya
tampak bergerak-gerak kecil dalam bisikan halus, suasana berubah. Sven
merasakan hawa dingin di sekelilingnya, dan dia terpaku di tempat ketika udara
di sekelilingnya seakan-akan menguar, terdistorsi oleh sesuatu yang kasat mata.
Sven selalu percaya nalurinya, dan nalurinya kali ini mengatakan sesuatu yang
buruk akan terjadi sebentar lagi.
Terdengar
suara teriakan Elkal.
“MENGAPA
KAU BENGONG!? MINGGIR DARI SANA!”
Disusul
suara letupan dan hawa panas. Hawa dingin itu serta merta beralih menjadi
sangat panas.
Sven
bisa merasakan dirinya terbakar, dan kali ini dia bereaksi secara naluriah.
Tanpa
aba-aba, segalanya berjalan dalam
gerak lambat. Sven yakin ada sesuatu yang datang. Dia yakin apa pun itu, apa
pun yang menyerangnya berasal persis dari atas tempat dia berdiri. Dia tahu
sudah terlambat untuk menghindar. Namun, sekali lagi, semuanya menjadi lambat,
seolah-olah alam menghentikan kegiatannya dan dia masih bisa bergerak seperti
biasa. Dia bisa melihat ekspresi ketakutan Elkal. Dia bisa melihat ekspresi
bosan si perempuan. Dia bisa melihat debu-debu halus yang tertiup angin dalam
gerakan yang sangat lambat. Namun, dia hanya berlari, merasa lebih cepat dari
siapa pun. Dia menghindari bahaya dengan menerjang ke depan. Udara panas
menyerbu di belakangnya. Dari arah yang sama, angin panas menghembus kencang,
membuatnya terlempar ke depan, namun dengan cekatan Sven membetulkan posisinya
lagi. Ketika dia menoleh, dia bisa melihat kobaran api raksasa yang menyelimuti
tempatnya berada tadi, menjilat-jilat dengan liar, lagi-lagi dalam gerakan yang
sangat lambat.
“Mustahil!”
Seruan
ini membuatnya kembali fokus, melupakan kobaran api itu dan mengalihkan
perhatiannya. Dia tidak membuang waktu. Hanya tersisa waktu beberapa detik
sebelum kekuatannya habis. Dia berlari seraya menghunus pedangnya. Ruang
lingkup sekelilingnya masih dalam gerak lambat sementara dia adalah satu-satunya
pengecualian. Kedua orang berjubah hitam itu bahkan tidak sempat bereaksi
ketika dia menebas, pertama si laki-laki, yang disebut Damian, kemudian si
perempuan tak bernama. Mereka berdua ambruk ketika alam kembali berjalan
normal. Gerakan-gerakan yang melambat berangsur-angsur menjadi gerakan yang
seharusnya. Sven merasakan gerakannya menjadi normal lagi, seperti seharusnya.
“Apa
yang—bagaimana kau—bagaimana—”
Sven
bisa mendengar Elkal tergagap di belakangnya. Pria itu pastilah bertanya-tanya apa
yang baru saja terjadi. Bagaimanapun, perhatian Sven teralihkan total ketika dia
menyadari ketiadaan darah di pedang maupun di tubuh dua orang yang ditebasnya. Namun,
yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika si lelaki tua mendengus.
“Pengguna
tanda,” katanya, terdengar mengejek, bahkan dalam kondisinya yang terkapar. “Seharusnya
aku tahu.”
Seusai
mengatakan itu, dia menguap. Sosok
tubuh itu berubah menjadi asap hitam yang menguar ke atas, meliuk-liuk seperti
ular sebelum akhirnya hilang tanpa bekas.
“Jadi
begitu,” si perempuan berkata, juga terdengar mengejek dalam kondisinya. “Kita
akan bertemu lagi, pengguna tanda.”
Dan
seperti rekannya, dia menguap menjadi asap hitam dan lenyap.
Sven
terpana memandang kejadian-kejadian itu, kesulitan mencerna apa yang baru saja terjadi.
Ini benar-benar memberikanku definisi baru
mengenai kata aneh.
*
No comments:
Post a Comment