Thursday, June 30, 2016

Royal Guards - Page 32-34

Dua orang asing berdiri berdampingan. Salah seorangnya adalah pria tua, berjenggot panjang, berbadan tegap dan berambut hitam panjang berantakan, tampak liar seperti singa jantan. Yang lain seorang wanita, berambut putih panjang diikat kuda, memakai anting besar berbentuk bulan sabit dan memiliki penampilan yang terkesan mistis. Mereka memakai busana serba hitam dengan mantel panjang berwarna senada. Yang pria membawa sebuah buku besar. Yang wanita bersenjata busur dengan ukuran yang lebih besar dari busur pada umumnya.
            Elkal berada tidak jauh di depan mereka, berlutut dan terengah-engah.  Rumput-rumput di sekelilingnya terbakar. Kudanya terkapar tak jauh darinya, mati.
            Suara derap kuda membuatnya menoleh. Dia tampak terperanjat.
            “Apa yang—kau!” dia berteriak. “Apa yang kau lakukan?! Cepat pergi dari sini!”
            Baiklah, itu bukan reaksi yang diharapkan Sven. Dia menghentikan laju kudanya dan menimbang situasi. Sesungguhnya dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Pemandangan di depannya bukan sesuatu yang biasa dia lihat sehari-hari. Baru beberapa menit yang lalu dia masih berusaha meyakinkan Elkal untuk menerima tawarannya, tetapi disinilah dia sekarang, setelah rentetan kejadian-kejadian aneh.
            Si perempuan menatap lelaki tua di sebelahnya.
            “Sihirmu tidak berfungsi?” tanyanya pelan. Sesuai dengan penampilannya yang mistis, suaranya terdengar dalam dan misterius.  Kesan ganjil yang timbul dari suara itu adalah sensasinya yang seakan bergema dari kejauhan.
            “Dan anak panahmu meleset,” jawab si pria tua. Sensasi aneh ‘gema dari kejauhan’ itu juga menempel pada suaranya yang agak serak dan kental. “Siapapun laki-laki ini, dia bukan orang biasa.”
            Sven punya perasaan kuat bahwa mereka berdua sedang membicarakan dirinya. Akan tetapi isi dari percakapan ini mengherankan. Dia mengamati busur yang dipegang si perempuan. Masa iya anak panah yang tadi melesat mengincarnya berasal dari busur itu?  
            “Siapa kalian!?” seru Elkal tiba-tiba, membuat mereka berdua kembali mengalihkan pandangan acuh tak acuh padanya. “kenapa kalian tiba-tiba menyerangku!?”
            “Ah,” jawab si perempuan. “Kau tidak perlu tahu tuan Vollenhad. Yang perlu kau yakini hanyalah kau akan mati sekarang.”
            Dia mengucapkan kalimat itu dengan nada santai, namun kata-kata dan cara pandangnya penuh janji ancaman dan membuat Sven yakin akan satu hal.  
            Dua orang ini berniat membunuh.
Dia sudah akan menerjang ketika kudanya mengalami hal aneh. Kuda itu bergetar hebat, dan detik berikutnya meringkik kesakitan seakan-akan sesuatu yang tak kasat mata tengah menyiksanya. Sven berkutat dengan kudanya yang bergerak-gerak liar, berusaha menenangkannya, namun tanpa disangka, kudanya ambruk. Sven menyumpah dan melompat tepat pada waktunya sebelum kudanya sendiri membuat kakinya remuk tertimpa. Dia menyaksikan dengan tercengang ketika nyawa kudanya perlahan-lahan merenggang, menggelepar dengan gerakan-gerakan lemah nan layu. Kudanya mati.
            “Bagaimanapun sihirmu berfungsi Damian,” kata si perempuan, menyaksikan kejadian itu dengan sangat tenang. “Siapapun laki-laki ini, nampaknya dia punya imun yang cukup tinggi.”
            Lelaki yang dipanggil Damian itu hanya mengangkat bahu. Dia mengalihkan perhatiannya ke buku besar bawaannya dan mulai membaca. Detik itu juga, ketika mulut darinya tampak bergerak-gerak kecil dalam bisikan halus, suasana berubah. Sven merasakan hawa dingin di sekelilingnya, dan dia terpaku di tempat ketika udara di sekelilingnya seakan-akan menguar, terdistorsi oleh sesuatu yang kasat mata. Sven selalu percaya nalurinya, dan nalurinya kali ini mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi.
            Terdengar suara teriakan Elkal.
            “MENGAPA KAU BENGONG!? MINGGIR DARI SANA!”
            Disusul suara letupan dan hawa panas. Hawa dingin itu serta merta beralih menjadi sangat panas.
            Sven bisa merasakan dirinya terbakar, dan kali ini dia bereaksi secara naluriah.
            Tanpa aba-aba, segalanya berjalan dalam gerak lambat. Sven yakin ada sesuatu yang datang. Dia yakin apa pun itu, apa pun yang menyerangnya berasal persis dari atas tempat dia berdiri. Dia tahu sudah terlambat untuk menghindar. Namun, sekali lagi, semuanya menjadi lambat, seolah-olah alam menghentikan kegiatannya dan dia masih bisa bergerak seperti biasa. Dia bisa melihat ekspresi ketakutan Elkal. Dia bisa melihat ekspresi bosan si perempuan. Dia bisa melihat debu-debu halus yang tertiup angin dalam gerakan yang sangat lambat. Namun, dia hanya berlari, merasa lebih cepat dari siapa pun. Dia menghindari bahaya dengan menerjang ke depan. Udara panas menyerbu di belakangnya. Dari arah yang sama, angin panas menghembus kencang, membuatnya terlempar ke depan, namun dengan cekatan Sven membetulkan posisinya lagi. Ketika dia menoleh, dia bisa melihat kobaran api raksasa yang menyelimuti tempatnya berada tadi, menjilat-jilat dengan liar, lagi-lagi dalam gerakan yang sangat lambat.
            “Mustahil!”
            Seruan ini membuatnya kembali fokus, melupakan kobaran api itu dan mengalihkan perhatiannya. Dia tidak membuang waktu. Hanya tersisa waktu beberapa detik sebelum kekuatannya habis. Dia berlari seraya menghunus pedangnya. Ruang lingkup sekelilingnya masih dalam gerak lambat sementara dia adalah satu-satunya pengecualian. Kedua orang berjubah hitam itu bahkan tidak sempat bereaksi ketika dia menebas, pertama si laki-laki, yang disebut Damian, kemudian si perempuan tak bernama. Mereka berdua ambruk ketika alam kembali berjalan normal. Gerakan-gerakan yang melambat berangsur-angsur menjadi gerakan yang seharusnya. Sven merasakan gerakannya menjadi normal lagi, seperti seharusnya.
            “Apa yang—bagaimana kau—bagaimana—”
            Sven bisa mendengar Elkal tergagap di belakangnya. Pria itu pastilah bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi. Bagaimanapun, perhatian Sven teralihkan total ketika dia menyadari ketiadaan darah di pedang maupun di tubuh dua orang yang ditebasnya. Namun, yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika si lelaki tua mendengus.
            “Pengguna tanda,” katanya, terdengar mengejek, bahkan dalam kondisinya yang terkapar. “Seharusnya aku tahu.”
            Seusai mengatakan itu, dia menguap. Sosok tubuh itu berubah menjadi asap hitam yang menguar ke atas, meliuk-liuk seperti ular sebelum akhirnya hilang tanpa bekas.
            “Jadi begitu,” si perempuan berkata, juga terdengar mengejek dalam kondisinya. “Kita akan bertemu lagi, pengguna tanda.”
            Dan seperti rekannya, dia menguap menjadi asap hitam dan lenyap.
            Sven terpana memandang kejadian-kejadian itu, kesulitan mencerna apa yang baru saja terjadi.
            Ini benar-benar memberikanku definisi baru mengenai kata aneh.

*


No comments: