Thursday, June 30, 2016

Royal Guards - Page 35-36

“Aku menuntut penjelasan!” tuntut Elkal.
            “Kau mencuri kata-kataku!”
            Sven melambaikan tangannya ke sekeliling, berusaha menegaskan maksudnya. “Dua kuda yang mati dan kobaran api yang membakar rumput! Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi tadi?
            “Sesaat yang lalu kau sudah akan terbakar!” Elkal meracau, nampaknya tidak mendengar pertanyaan Sven. “Tapi kau berpindah, dan kau berpindah lagi, dan kau sudah menebas dua orang itu! Bahkan sebelum aku sempat berkedip!”
            Sven menghela nafas.
            “Aku memiliki beberapa trik,”
            “Trik? Kau sebut itu trik?”
            “Cukup!” tukas Sven. “Kau belum menjawab pertanyaanku! Siapa mereka berdua? Kenapa mereka ingin membunuhmu? Oh, tunggu dulu, ini lebih penting! Kenapa mereka juga ingin membunuhku?”
            Elkal mengerjap mendengar amukan Sven.
            “Dan kenapa mereka menghilang menjadi asap?” lanjut Sven geram. “Dan kenapa kudaku mati? Dan apa yang mereka maksud dengan pengguna tanda? Tolong jelaskan!”
            Sven terengah-engah, seakan baru berlari ratusan kilometer.
            “Aku tidak tahu..”
            “Percobaan yang bagus!” sergah Sven galak. “Sekarang coba jawab lagi! Kali ini jawaban yang lain!”
            “Aku tidak tahu!” teriak Elkal, terdengar frustasi. “Aku tidak tahu siapa mereka! Aku tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba menyerangku! Aku tidak tahu kenapa mereka juga menyerangmu! Aku tahu salah seorang dari mereka—Damian—adalah seorang penyihir, tapi kurasa kau juga tahu bagian itu! Aku sama tidak mengertinya seperti kau!”
            Dia juga terengah-engah setelah amukan kecil itu.
            Mereka terdiam selama beberapa saat.
            “Kita harus kembali ke kota,” kata Sven akhirnya. Suaranya menyadarkan betapa letihnya dia saat ini. “Aku butuh minum.”
            Elkal mengangguk. Sven melihat sebuah ekspresi baru terpeta di wajahnya. Pria itu tampak ingin mengutarakan sesuatu, namun ragu.
            “Apa?” tuntut Sven segera. “Apa yang kau pikirkan?”
            “Boleh kulihat tangan kirimu?”
            Sven tidak sempat menjawab karena Elkal sudah mengambil tangan kirinya. Dia melihat punggung tangan itu dan menarik nafas tajam. Tangan kiri Sven memang memiliki sebuah tanda aneh.
            “Ada apa?”
            Elkal menggeleng.
            “Aku butuh minum,” katanya akhirnya. Dia tampak ragu-ragu sesaat. “Aku barangkali tahu apa yang mereka maksud dengan pengguna tanda.”
            “APA? Bagaimana—”
            Elkal mengangkat tangannya, memotong kata-kata Sven.
            “Aku akan menjelaskannya setelah aku minum sesuatu,” katanya letih. Dia tampak ragu-ragu lagi. “Dan aku belum memerkenalkan diri secara resmi padamu.”
            Dia tiba-tiba menunduk hormat.
            “Namaku Elkal Vollenhad,” katanya. “Senang bertemu denganmu Hasven Leingord.”
            Sven menyumpah, merasa heran dengan perubahan sikap ini.
            “Apa-apaan kau—”
            “Dan barangkali kau perlu tahu,” potong Elkal. “Aku ini penyihir.”
*

No comments: