“Aku menuntut penjelasan!” tuntut
Elkal.
“Kau
mencuri kata-kataku!”
Sven
melambaikan tangannya ke sekeliling, berusaha menegaskan maksudnya. “Dua kuda
yang mati dan kobaran api yang membakar rumput! Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi tadi?”
“Sesaat
yang lalu kau sudah akan terbakar!” Elkal meracau, nampaknya tidak mendengar
pertanyaan Sven. “Tapi kau berpindah, dan kau berpindah lagi, dan kau sudah
menebas dua orang itu! Bahkan sebelum aku sempat berkedip!”
Sven
menghela nafas.
“Aku
memiliki beberapa trik,”
“Trik?
Kau sebut itu trik?”
“Cukup!”
tukas Sven. “Kau belum menjawab pertanyaanku! Siapa mereka berdua? Kenapa
mereka ingin membunuhmu? Oh, tunggu dulu, ini lebih penting! Kenapa mereka juga
ingin membunuhku?”
Elkal
mengerjap mendengar amukan Sven.
“Dan
kenapa mereka menghilang menjadi asap?” lanjut Sven geram. “Dan kenapa kudaku mati? Dan apa yang mereka maksud
dengan pengguna tanda? Tolong
jelaskan!”
Sven
terengah-engah, seakan baru berlari ratusan kilometer.
“Aku
tidak tahu..”
“Percobaan
yang bagus!” sergah Sven galak. “Sekarang coba jawab lagi! Kali ini jawaban
yang lain!”
“Aku
tidak tahu!” teriak Elkal, terdengar frustasi. “Aku tidak tahu siapa mereka!
Aku tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba menyerangku! Aku tidak tahu kenapa
mereka juga menyerangmu! Aku tahu
salah seorang dari mereka—Damian—adalah seorang penyihir, tapi kurasa kau juga
tahu bagian itu! Aku sama tidak mengertinya seperti kau!”
Dia
juga terengah-engah setelah amukan kecil itu.
Mereka
terdiam selama beberapa saat.
“Kita
harus kembali ke kota,” kata Sven akhirnya. Suaranya menyadarkan betapa
letihnya dia saat ini. “Aku butuh minum.”
Elkal
mengangguk. Sven melihat sebuah ekspresi baru terpeta di wajahnya. Pria itu
tampak ingin mengutarakan sesuatu, namun ragu.
“Apa?”
tuntut Sven segera. “Apa yang kau pikirkan?”
“Boleh
kulihat tangan kirimu?”
Sven
tidak sempat menjawab karena Elkal sudah mengambil tangan kirinya. Dia melihat
punggung tangan itu dan menarik nafas tajam. Tangan kiri Sven memang memiliki
sebuah tanda aneh.
“Ada
apa?”
Elkal
menggeleng.
“Aku
butuh minum,” katanya akhirnya. Dia tampak ragu-ragu sesaat. “Aku barangkali tahu apa yang mereka maksud
dengan pengguna tanda.”
“APA?
Bagaimana—”
Elkal
mengangkat tangannya, memotong kata-kata Sven.
“Aku
akan menjelaskannya setelah aku minum
sesuatu,” katanya letih. Dia tampak ragu-ragu lagi. “Dan aku belum
memerkenalkan diri secara resmi padamu.”
Dia
tiba-tiba menunduk hormat.
“Namaku
Elkal Vollenhad,” katanya. “Senang bertemu denganmu Hasven Leingord.”
Sven
menyumpah, merasa heran dengan perubahan sikap ini.
“Apa-apaan
kau—”
“Dan
barangkali kau perlu tahu,” potong Elkal. “Aku ini penyihir.”
*
No comments:
Post a Comment