Tuesday, March 7, 2017

Cowok Petakilan - Chapter 9



"Ke Labuan Bajo?"

"Yep-yep-yep"

"Bulan ini?"

"Tul!"

"Ngapain!?" 

"Honeymoon dong! HOHOHOHOHOHOHO!!!"

Di atas adalah percakapan gue dengan mama. 


Tuesday, February 21, 2017

NEWS

Baru-baru ini keinget password blog lama gue, yang udah ga pernah di update dari tahun 2011.

Gue pribadi ngerasa gaya bahasa saat itu alay banget, tapi gue suka juga dengan cerita ala-ala diary.

Mungkin akan gue perbarui di waktu mendatang, so check it out! :D

http://rahmanremon.blogspot.co.id/

Monday, October 31, 2016

Royal Guards - Page 53-54

“Tuan Harken,” kata Viseris, dengan suara yang sama sekali tidak seperti dirinya. “Apakah semua laki-laki memiliki rupa menarik sepertimu?”
            Di sebelahnya, Myana bisa mendengar upaya Nartaria menyamarkan dengusan menjadi suara batuk dengan cukup sukses.
            Harken yang berjalan mengimbangi mereka bertiga—Myana yakin dia bisa bergerak jauh lebih cepat jika dia mau—tersenyum lagi. Viseris tentu saja, sudah menguasai dirinya terhadap efek senyuman itu. Dia gadis yang hebat.
            “Kalian boleh memanggilku Harken,” katanya. “Dan terima kasih Viseris. Kau membuatku tersipu-sipu.”
            Mungkin laki-laki memang pandai berbohong. Ekspresi apa pun yang muncul di wajah Harken, tersipu-sipu jelas bukan salah satunya.
            “Seperti perempuan, setiap laki-laki juga memiliki rupa masing-masing tentu saja,” katanya lagi.
            “Jika semua laki-laki sepertimu kurasa aku akan sangat menyukai mereka.”
            Dengan hebat, Nartaria menyamarkan lagi suara dengusannya. Bagaimana bisa Viseris mengucapkan kata-kata seperti itu dengan wajah datar?
            Harken tertawa, terdengar agak gugup.
            “Hentikan Viseris,” katanya. “Kau sungguh membuatku tersipu-sipu.”
           Dan kali ini Myana bisa melihat sedikit rona merah samar di pipi pria itu. Oh, ternyata dia tidak berbohong. Mungkin memang tersipu-sipu versi laki-laki dan perempuan berbeda.
            Nartaria berbisik pada Myana.
            “Kau seharusnya mengajaknya mengobrol!” desisnya. “Dia ini kan pelindung kakakmu! Dan dia membutuhkan bantuan!”
            Myana keheranan mendengar pernyataan ini. Dia melihat lagi ekspresi Harken. Dia memang tampak kelihatan tidak nyaman. Viseris menggelutinya seperti ular liar dan Harken, kendati dengan cara yang halus, berupaya menjauhkan diri darinya. Nartaria memang sangat observan.
            “Harken!” panggil Myana tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri. Dia menempatkan dirinya di antara Harken dan Viseris. Gadis itu tidak repot-repot menyembunyikan ekspresi kesalnya, namun Myana mengabaikannya. Harken tampak sekali lega. Dia tersenyum ramah.
            Myana berusaha mengontrol dirinya. Dia balas tersenyum.
            “Ceritakan padaku mengenai Minasa, Harken,” pintanya. “Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.”
            “Kau akan bertemu dengannya sebentar lagi,” celetuk Viseris. Nartaria dengan sigap mengajaknya mengobrol.
            “Aku menyukai hiasan bunga di kepalamu Viseris! Apa kau membuatnya sendiri? Kau sangat berbakat!”
            Dan mendengar pujian ini, perhatian Viseris teralihkan.
            “Minasa tentu saja sangat merindukanmu,” kata Harken, tidak menyadari upaya Nartaria dan Myana untuk menjauhkannya dari Viseris. “Dia selalu bercerita padaku tentang adiknya yang unik. Aku bisa melihatnya sekarang.”
            Myana merasakan senyumnya menghilang.
            “Apa aku salah bicara?” kata Harken, menyadari perubahan ekspresi Myana.
            Myana menggeleng. Dia harus mengubah kebiasaannya ini, muram ketika seseorang mulai membicarakan perbedaan dirinya.
            Harken tampak kurang yakin, namun Myana tersenyum lagi, berusaha membuatnya melanjutkan.
            “Dia bersikeras harus aku yang menjemputmu,” katanya, tersenyum dengan tatapan menerawang. “Aku agak heran, maksudku, bukankah seharusnya dia sendiri yang menjemputmu? Tapi dia sangat memaksa. Dia bisa menjadi sangat pemaksa.”
            Harken tertawa kecil. Hanya dari obrolan singkat itu Myana menyadari sesuatu. Ketika Harken membicarakan kakaknya, tatapan matanya melembut.
            “Kau menyukai kakakku,” ucap Myana tanpa sadar.
            Sekali lagi Myana melihat rona merah samar di pipi lawan bicaranya itu.
            “Kurasa ‘suka’ bukan istilah yang tepat,” ucapnya, tersenyum.
            “Kau sangat menyukainya kalau begitu?”

            “Bisa dibilang begitu,” jawab Harken, tertawa.


Thursday, October 20, 2016

Royal Guards - Page 51-52

Apa pun gambaran yang pernah dia bayangkan mengenai sosok laki-laki sekarang tampaknya sangat konyol.
            Laki-laki di hadapan mereka bertubuh sangat besar. Dia berbahu lebar dan berdada bidang.  Dia memakai pakaian dari kain hitam yang ketat dan.. membentuk. Dia memakai celana panjang yang terbuat dari bahan yang tampak kasar, lagi-lagi dalam balutan yang ketat dan.. membentuk.
            Seperti inikah rupa laki-laki?
            Laki-laki ternyata sangat berbeda dari perempuan. Setiap potongan tubuhnya tampak terpahat dan kasar. Ukuran dan bentuk tubuhnya mengintimidasi dan herannya.. menarik. susah payah, Myana mengalihkan tatapannya dari tubuh makhluk asing itu dan menatap wajahnya. Ini tidak membuatnya merasa lebih baik.
            Wajah laki-laki ini sangat berbeda, kasar dan herannya menarik. Matanya berwarna emas. Dia berambut ikal sepanjang leher dan tergerai begitu saja, menimbulkan kesan liar. Rambutnya indah berwarna pirang. Rahangnya tegas, dan dagunya lebar. Hidungnya besar dan mancung. Tulang pipinya menonjol dalam pahatan yang memesona. Dia tersenyum, dan selagi melakukan itu, Myana bisa melihat dua buah lesung pipit tersingkap di pipinya.
            Astaga. Wow. Astaga. Wow.
            Myana susah payah memerintahkan jantungnya—yang sedari tadi berdetak-detak liar—untuk tenang. Dia melirik Nartaria yang wajahnya memerah. Viseris masih saja terperangah.
            “Wow,” Viseris berceletuk lagi, dan Myana paham maksudnya.
            Ibunya mengambil alih. Dia menghampiri laki-laki itu dan laki-laki itu tersenyum semakin lebar.
            Astaga. Wow. Astaga. Wow.
            “Ibu mertua,” katanya, mengecup tangan kanan ibunya. Suaranya bahkan sangat lain! Rendah dan dalam dan menarik. “Miranda, kau terlihat sangat cantik seperti biasa!”
            Myana takjub ketika melihat ibunya tidak meleleh di tempat.
            “Harken,” sapanya terkekeh. “Bisa kulihat kau belum kehilangan pesonamu. Kau membuat tiga gadis malang ini kehilangan kemampuan bicara!”
            Myana merasakan wajahnya memanas. Wajahnya pasti merah padam sekarang.
            “Viseris, tutup mulutmu!”
            Viseris diingatkan lagi oleh ibunya ketika sikutan di rusuk ternyata tidak berpengaruh.
            Lelaki yang disebut Harken ini mengamati penyambutnya. Tatapannya berhenti ketika melihat Myana. Myana susah payah menahan dirinya untuk tetap berdiri tegak. Bisa dilihat ibunya menahan tawa.
            “Myana!” katanya. Dan dia menghampiri. Myana yakin dirinya akan pingsan saat itu juga. “Minasa bercerita banyak tentangmu!”
            “errr..” adalah respon terbaik yang bisa diberikan olehnya.
            Untungnya, Harken mengalihkan tatapannya ke Nartaria, yang tampak terlonjak.
            “Dan kau pasti Nartaria!” ucapnya riang.Laki-laki itu beralih lagi ke Viseris, yang terpekik.
            “Dan kau pasti Viseris!” katanya lagi. Viseris tampaknya bisa mati bahagia saat itu juga.
            “Harken,” panggil ibu Myana, terdengar geli. “Berhenti menebar pesonamu! Tunggulah sebentar di sana sampai kami selesai mengucapkan salam perpisahan!”
            “Tentu saja Miranda.”
            Dia menunggu di depan lorong.        
            “Ibu,” ucap Myana pelan begitu ibunya kembali ke hadapannya. “Dia.. sangat..”
            Ibunya menatapnya tersenyum.
            “Aku mengerti perasaanmu nak,” katanya. “Butuh waktu cukup lama untukku terbiasa dengannya ketika Minasa memerkenalkannya padaku.”
            “Apakah semua laki-laki tampak sepertinya?”
            Ibunya tertawa kecil.
            “Tidak, kurasa tidak.”
            Bagus. Jika semua laki-laki tampak seperti Harken, Myana mengkhawatirkan kondisi jantungnya. Agak sulit soalnya jika dia harus mengontrol degup jantungnya yang tak beraturan setiap kali melihat laki-laki.
            “Ayahmu juga memiliki pesona seperti Harken,”
            Dalam kesempatan yang jarang, terkadang ibunya menceritakan sedikit tentang ayahnya. Seusai mengucapkan itu dia tampak muram. 
            “Kau tidak ingin mengunjunginya?” ujar Myana hati-hati.
            “Kau tahu aku sudah mengunjunginya berkali-kali Myana. Setiap bulan. Ini bukan waktu untuk keluar hutan bagiku.”
            Dia tampak semakin muram.
            “Tapi kau harus mengunjunginya Myana! Dia akan sangat senang melihatmu!”
            Tiba-tiba ibunya memeluknya.
            “Sampaikan salamku pada kakakmu, Minasa, dan pada ayahmu. Jika kau bermalam di tempat ayahmu, aku akan ke sana tiga minggu lagi. Kita bertiga bisa bercakap-cakap.”
            Myana baru sadar dirinya terisak lagi.
            “Harken akan menjagamu selama perjalanan. Bersikap sopanlah padanya! Dia laki-laki yang baik.”
            “Tentu ibu,” jawab Myana, mendadak tertawa kecil. “Jika aku bisa berbicara normal dengannya.”
            Ibunya juga tertawa.
            “Kau akan segera terbiasa,” janjinya.

*

Monday, October 17, 2016

Royal Guards - Page 49-50

“Aku sudah menghubungi kakakmu,” katanya. “Dia bilang pelindungnya akan datang ke sini menjemputmu.”
            “Pelindung boleh masuk ke hutan?” tanya Myana heran.
            “Dalam momen seperti ini, mereka diberikan izin khusus,”
            Ketika Myana memberikan kabar ini kepada Nartaria dan Viseris, mereka tidak sanggup menahan antusiasmenya yang meluap-luap.
            “Oh astaga astaga astaga,” pekik Viseris. Dia meloncat-loncat kecil dan tampak kesulitan bernafas. “Tidak kusangka aku akan bertemu dengan pelindung secepat ini! Oh, aku harus segera bersiap-siap!”
            Dan tanpa basa-basi lagi dia bergegas kembali ke rumah ibunya, bergumam-gumam kecil sepanjang perjalanan.
            “Rambut, kulit, wangi-wangian—oh, banyak sekali yang harus dilakukan!”
            Nartaria, meskipun tampak lebih sopan dan terkontrol tetap tidak bisa menyembunyikan semangatnya. Dia tersenyum-senyum kecil ketika berpikir Myana tidak melihat.
            “Viseris agak berlebihan ya?” katanya. “Maksudku, dia itu kan pelindung kakakmu!”
            Dia menatap Myana.
            “Kau tahu siapa namanya?”
“Harken,”
Nartaria mengangguk-angguk.
“Bagaimana rupanya? Apa kakakmu sering menceritakan bagaimana rupanya?”
            Myana berkata tidak dan tidak dan Nartaria tampak kecewa.
            “Aku..er.. kurasa aku juga sebaiknya bersiap-siap kau tahu?” katanya, berusaha bersikap datar. “Perjalanan panjang, kau tidak ingin melupakan segala sesuatu kan?”
            Tampak agak malu, dia bergegas pergi. Myana menyadari keinginannya untuk berlari seperti Viseris, namun Nartaria ternyata mampu mengendalikan dirinya.
            Kini, mereka bertiga, bersama ibu masing-masing sudah berada di depan lorong masuk yang tertutup sulur-sulur pohon, menunggu kehadiran si pelindung misterius itu. Ibunya menyadari genangan air mata Myana yang semakin banyak dan menghapusnya lembut.
            “Jangan sedih sayang,” katanya pelan. “Kau akan merasa senang di luar sana. Banyak hal yang bisa kau pelajari, banyak hal baru yang sangat indah. Kau harus percaya kata-kataku, aku juga pernah mengalami hal sepertimu, ingat?”
            Myana mengangguk. Dia sebenarnya bersemangat ingin pergi ke luar hutan. Namun, kerinduannya akan ibunya membuatnya muram.
            “Kemarilah,”
            Ibunya menarik dan memeluknya. Myana membiarkan dirinya terisak dalam dekapan ibunya.
            Di sebelahnya, Nartaria dan Viseris juga berpisah dengan cara masing-masing. Nartaria juga memeluk ibunya. Viseris, yang berpenampilan sangat total tampaknya tidak begitu sedih dengan prospek berpisah lagi dengan ibunya. Dia menatap lorong bersulur itu dengan semangat, jelas sekali tidak sabar untuk melihat kedatangan si penjemput. Rambut pendeknya dihiasi dengan bunga-bungaan yang sudah dia rangkai dengan rapi. Kain putihnya—kain yang digunakan semua bangsa Elrika sebagai pakaian—dibalut dalam posisi yang rumit dan terbuka, memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang indah. Kulitnya yang agak gelap mengilap. Dia tampak sangat cantik.
            Nartaria lain lagi. Dia berpenampilan seperti biasanya. Rambut panjangnya dikepang dan dibentuk dalam satu gulungan yang indah. Pakaian yang dipakainya tampak elegan dan menarik, meskipun tidak terbuka seperti milik Viseris. Tentu saja dia juga tampak sangat cantik.
            Myana, di satu sisi, tidak berminat memoles dirinya. Dia memakai kain putihnya dengan balutan yang tertutup, sederhana dan rapi. Toh, menurut ibunya, mereka nantinya akan berganti pakaian untuk berbaur. Rambut lurus perak panjangnya digerai begitu saja dalam model yang sederhana.
            Dia masih berpelukan ketika ibunya menoleh ke lorong itu.
            “Dia datang,” katanya, melepaskan Myana.
            Myana bisa mendengar pekikan tertahan Viseris dan suara tarikan nafas tegang Nartaria. Harus diakui, dia sendiri juga sangat penasaran ingin melihat rupa seorang laki-laki untuk pertama kalinya. Beragam gambaran berseliweran di pikirannya.
            Sebuah tangan yang besar muncul dari dalam lorong menyingkap sulur dan menyibak sebuah sosok di sana. Dia berjalan keluar dan memerlihatkan dirinya di bawah cahaya.
            “Wow,”

            Yang mengucapkan itu adalah Viseris. Mulutnya terbuka begitu saja sampai ibunya menyikut rusuknya mengingatkan. Hal lucu yang sama juga terjadi pada Nartaria. Dia tampak terperangah. Myana memeriksa ekspresinya sendiri dari dalam dan menyadari bahwa mulutnya juga terbuka seperti orang bodoh. Dengan susah payah dia menutup mulut.


Tuesday, October 11, 2016

Royal Guards - Page 47-48

Chapter 6
Talgeyr

Bangsa Elrika  memiliki satu ciri khas : mereka semua cantik. Sudah diketahui umum kalau bangsa tersebut hanya terdiri dari kaum perempuan. Masing-masing dari perempuan itu memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Setiap Elrika memiliki rambut berwarna emas dengan pupil mata berwarna sama.  Keiistimewaan ini membuat Elrika selalu mencolok di tengah-tengah keramaian.
Elrika tinggal di dua hutan besar, hutan Alvina dan hutan Teresala. Nama  hutan ini konon diambil dari kakak beradik pemimpin generasi perang dua belas bangsa. Sumber lain mengatakan nama ini adalah nama seorang Elrika dan pelindungnya, Alvina sebagai Elrika dan Teresala sebagai pelindung. Ada semacam pertahanan khusus yang membuat bangsa selain Elrika tidak dapat memasuki hutan Alvina dan Teresala. Kedua hutan ini belum pernah dimasuki bangsa lain, khususnya laki-laki. Lalu bagaimana bangsa Elrika bisa berinteraksi dengan bangsa lain?
Pada usia 18 tahun, seluruh gadis Elrika menjalani ritual yang biasa dikenal dengan sebutan ‘masa transisi’. Pada masa transisi ini mereka keluar dari hutan dan berbaur dengan bangsa-bangsa lain. Tidak banyak yang diketahui apa tujuan dilakukannya transisi ini, namun satu hal yang pasti, para gadis Elrika ini selalu kembali ke hutannya dalam salah satu dari dua kondisi. Pertama, apabila mereka mengandung dan kedua, apabila mereka bersama seorang pelindung. Informasi mengenai hal ini sangat sulit dipastikan, karena selain kemustahilan memelajari gaya hidup mereka di hutan, bangsa Elrika juga sangat enggan membuka rahasia mereka.
Satu fakta menarik mengenai Elrika adalah kemampuan mereka dalam berbahasa. Mereka mampu berbahasa apa pun. Mereka juga mampu berkomunikasi dengan alam, termasuk binatang dan tumbuhan. Kemampuan ini diduga menjadi salah satu penyebab kenapa setiap Elrika adalah vegetarian. Mereka menolak untuk membunuh dan mengonsumsi binatang. Dalam perang dua belas bangsa, diketahui bangsa Elrika mampu menggunakan kemampuan ini dalam pertempuran. Mereka mampu memanipulasi para hewan dan alam ini sebagai bala bantuan.
Satu kekuatan tempur utama bangsa Elrika adalah pelindung atau dalam bahasa kuno Elrika disebut ‘talgeyr’. Talgeyr adalah para laki-laki yang memiliki hubungan misterius dengan pasangan Elrikanya. Mereka memiliki kemampuan tempur yang luar biasa. Kecepatan dan kekuatan mereka beberapa kali lipat lebih besar dari laki-laki prajurit bangsa Vierr. Mereka memakai tombak misterius yang bisa dimunculkan dan dihilangkan sesuka hati mereka. Ketika mereka terluka parah, pasangan Elrikanya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan mereka dalam hitungan menit. Sungguh aset kekuatan tempur yang mengerikan.
Tidak banyak yang bisa diketahui mengenai keberadaan talgeyr ini. Dalam banyak versi, bisa dikatakan mereka adalah bagian dari bangsa Elrika. Namun, banyak juga sumber yang yakin bahwa mereka hanyalah penjaga, tidak lebih. Dalam beberapa catatan, diketahui warna mata para talgeyr ternyata juga berwarna emas. Diketahui pula bahwa Elrika yang memiliki seorang pelindung memiliki warna mata yang berbeda dari Elrika lain, yaitu perak. Namun, tidak banyak kesimpulan yang bisa diambil dari fakta ini.
Gerolog Tanserim, pakar enam bangsa, berpendapat bahwa talgeyr adalah salah satu manifestasi kemampuan bangsa Elrika dalam berkomunikasi dengan alam. Dia menjelaskan teorinya yang menganggap para talgeyr adalah entitas ciptaan bangsa Elrika yang dibuat dari alam, dengan cara misterius yang hanya diketahui bangsa Elrika, membandingkannya dengan para roh peliharaan bangsa Charment, hanya saja talgeyr berada dalam wujud manusia. Teori ini banyak disetujui, meskipun kemampuan talgeyr yang jauh lebih kompleks dari roh bangsa Charment, khususnya dalam hal berinteraksi dan bertindak, menimbulkan banyak tanda tanya. Talgeyr mampu bercakap-cakap dan membuat keputusan sendiri, berbeda dari roh bangsa Charment yang terikat dan patuh dengan pemiliknya.
Kemisteriusan bangsa Elrika telah mengundang rasa penasaran setiap orang, meskipun tanda-tanda bahwa rahasia mereka akan terungkap sangat minim. Satu hal yang pasti, bangsa Elrika, kendati hanya terdiri dari perempuan, tidak bisa dianggap sebagai bangsa yang lemah. Bangsa Elrika adalah salah satu bangsa yang paling disegani selain bangsa Charment dan bangsa Erross.

Bagian awal buku ‘Mengungkap Rahasia Elrika’, Erentin Lian

            Alam berbisik. Pohon-pohon melambai-lambai dan membisikan kata-kata pemberi semangat. Satu atau dua mengejek dan mencemooh, tapi tentu saja dalam bentuk tidak lebih dari candaan. Myana mengusap air matanya.

            Dia sudah melepas rindu dengan ibunya, menghabiskan waktu tiga hari di rumah pohonnya yang sederhana. Ibunya adalah wanita yang cantik dan ceria. Dia memeluk Myana berulang-ulang, mengecupnya dan tak henti-hentinya memberikan nasihat.


I'm not satisfied at all with my writing.. but this will do for now

Monday, October 3, 2016

Royal Guards - Page 44-46

Vorstar,” katanya, mendengus. “Kau sungguh-sungguh berharap bahwa aku akan percaya kata-katamu? Ceritamu adalah hal terkonyol yang pernah kudengar!”
            “Ceritamu tadi menyiratkan bahwa aku adalah  royal guard baru yang dipilih oleh tanda di tanganku!”
            “Benar,” kata Mirian tenang. “Untuk itulah aku datang kemari.”
            “Omong kosong!” bantah Heil. “Kau seharusnya mencari cerita yang lebih masuk akal vorstar!”
            “Tidakkah ada sesuatu yang membuatmu unik Heil? Sesuatu yang membuatmu tahu bahwa dirimu berbeda dari orang lain? Setiap pengguna tanda memiliki kemampuan yang unik.”
            Heil teringat sesuatu. Ingatan akan dirinya ketika berusia 11 tahun. Ingatan ketika ayah kandungnya sendiri menikam perutnya. Ingatan yang sekuat tenaga berusaha dia hapus.
            “Kau terdiam,” ucap Mirian. “Jauh di dasar hatimu, kau tahu ceritaku benar.”
            Heil menggeleng kuat-kuat, seakan dengan melakukan itu akan mampu menghilangkan ingatan tidak nyaman itu. Amarah menggantikan rasa gelisahnya. Dia menyalahkan Mirian yang sudah membuatnya mengingat kejadian itu.
            “Vorstar,” katanya. Kontras dengan suasana batinnya, suaranya terdengar tenang dan terkendali. “Kuperingatkan kau untuk menyudahi topik ini. Ini adalah cerita yang konyol dan aku sudah cukup sabar untuk mendengarkan! Jangan memancingku ke batas kesabaran, vorstar.”
            Heil sudah setengah berharap Mirian akan membantah, namun pria tua itu hanya mengangkat bahunya.
            “Baiklah,” katanya, acuh tak acuh, yang herannya membuat Heil jengkel. “Kedatanganku memang hanya ingin memberitahumu arti tanda itu. Mau kau apakan informasi itu terserah kau.”
            Heil menatapnya tak percaya.
            “Menurut ceritamu, royal guard adalah pelindung anggota keluarga kerajaan yang bertanda. Bukankah itu tujuanmu datang kemari?”
            “Apa? Memintamu untuk menjadi pelindung putri Lili? Jangan konyol, kau bahkan tidak mengenal siapa itu putri Lili bukan? Selain itu kau adalah pemimpin di sini. Tidak mungkin aku memintamu untuk meninggalkan mereka dan datang ke ibu kota bukan?”
            Sikap acuh tak acuh Mirian membuat amarah Heil berangsur-angsur menghilang, digantikan rasa gelisah lagi. Mana mungkin Mirian datang ke tengah-tengah amukan para prajurit najril, hanya untuk menceritakan ini kepadanya. Tidak masuk akal.
            “Kenapa gadis ini butuh pelindung?”
            Heil akan membantah lagi, namun terkejut ketika menyadari dirinya malah menanyakan hal itu.
            “Banyak penyebabnya,” jawab Mirian. “Tapi ini tidak perlu kau risaukan. Dia sangat aman sekarang. Kami sudah memiliki empat orang royal guard di istana. Sudah lebih dari cukup.”
            “Kalau begitu kenapa kau datang kemari?” geram Heil. “Apa manfaatnya bagimu?”
            “Seperti yang tadi kukatakan,” kata Mirian. Ekspresi geli tampak lagi di wajahnya. “Pengguna tanda memiliki kemampuan yang unik. Kemampuan itu sangat berbahaya di tangan orang yang salah. Aku harus mengecek siapa yang memiliki tanda itu untuk memastikan. Kuanggap kau layak, dan aku cukup puas dengan itu.”
            “Omong kosong,” sergah Heil. “Bagaimana bisa kau yakin aku layak? Kita baru saja bertemu dan sudah berusaha saling bunuh saat pertama kali bertemu.”
            “Aku tidak berusaha membunuhmu Heil,”
            “Nah, aku berusaha membunuhmu,” tukas Heil. “Tidakkah itu membuatku tidak layak?”
            “Kau menyerang dengan anggapan aku membunuh para prajuritmu.”
            Heil terdiam. Sebenarnya itu memang salah satu penyebabnya. Tetapi dia juga tidak bisa menjelaskan perasaan bergairahnya waktu itu, ketika dihadapkan pada kemungkinan berhadapan dengan seorang yang cukup kuat untuk mengimbangi dirinya.
            “Lagipula,” lanjut Mirian. “Bukankah kau tidak percaya dengan ceritaku? Apakah ketertarikanmu ini merupakan bukti kalau kau percaya?”
            “Tidak,” bantah Heil lagi, namun suaranya terdengar kurang yakin. “Kita sedang berandai-andai sekarang.”
            Mirian mendengus. Heil mengabaikannya. Dia sebenarnya tidak ingin membahas ini lebih jauh, tetapi kesulitan membuat dirinya untuk tidak bertanya.
            “Bagaimana kalau kau menganggap diriku tidak layak?” tanya Heil lagi, dalam hati mengutuki dirinya sendiri. “Apa yang akan kau lakukan?”
            “Aku akan membunuhmu. Tanda itu akan berpindah ke tangan orang lain setelahnya.”
            Diucapkan dengan nada biasa-biasa saja, namun Heil yakin pria tua ini sanggup mengalahkan dirinya jika dia bersungguh-sungguh mencoba. Meskipun Heil juga yakin dirinya bisa memberikan perlawanan yang sengit. Sesuatu dalam dirinya terbakar lagi.
            “Empat orang royal guard ini,” ucap Heil tanpa sadar. “Yang menjaga di istana, apakah mereka kuat?”
            “Oh ya, sangat.”
            “Sebanding dengan dirimu?” 
            “Tidak, tidak,” kata Mirian. “Mereka jauh lebih kuat dariku, terutama ketuanya. Aku bahkan tidak sanggup berkutik.”
            “Royal guard memiliki ketua?”
            “Tentu,” jawab Mirian.
            “Hmm..”
            Heil merasa tertantang. Selama ini dia terbiasa menjadi yang terkuat dalam pertarungan. Kehadiran Mirian membuatnya tersadar bahwa ada banyak orang kuat di luar sana. Selain itu ada sesuatu yang mengusik perasaannya.
            Setiap pengguna tanda memiliki kekuatan yang unik.
            Kata-kata Mirian itu bergema berulang-ulang di dalam kepalanya.
            “Kau pembawa kutukan! Pembunuh!”
            Kalimat itu muncul lagi dalam benaknya. Mustahil untuk dilupakan.
            “Vorstar,” kata Heil, seraya mengusir ingatan itu jauh-jauh. “Jika aku memintamu untuk bertarung melawanku dengan sungguh-sungguh, dengan niat membunuh, maukah kau melakukannya?”
            Dia harus mengetes. Dia harus tahu sejauh apa batas kemampuannya.
            Mirian tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk.

*