Monday, October 31, 2016

Royal Guards - Page 53-54

“Tuan Harken,” kata Viseris, dengan suara yang sama sekali tidak seperti dirinya. “Apakah semua laki-laki memiliki rupa menarik sepertimu?”
            Di sebelahnya, Myana bisa mendengar upaya Nartaria menyamarkan dengusan menjadi suara batuk dengan cukup sukses.
            Harken yang berjalan mengimbangi mereka bertiga—Myana yakin dia bisa bergerak jauh lebih cepat jika dia mau—tersenyum lagi. Viseris tentu saja, sudah menguasai dirinya terhadap efek senyuman itu. Dia gadis yang hebat.
            “Kalian boleh memanggilku Harken,” katanya. “Dan terima kasih Viseris. Kau membuatku tersipu-sipu.”
            Mungkin laki-laki memang pandai berbohong. Ekspresi apa pun yang muncul di wajah Harken, tersipu-sipu jelas bukan salah satunya.
            “Seperti perempuan, setiap laki-laki juga memiliki rupa masing-masing tentu saja,” katanya lagi.
            “Jika semua laki-laki sepertimu kurasa aku akan sangat menyukai mereka.”
            Dengan hebat, Nartaria menyamarkan lagi suara dengusannya. Bagaimana bisa Viseris mengucapkan kata-kata seperti itu dengan wajah datar?
            Harken tertawa, terdengar agak gugup.
            “Hentikan Viseris,” katanya. “Kau sungguh membuatku tersipu-sipu.”
           Dan kali ini Myana bisa melihat sedikit rona merah samar di pipi pria itu. Oh, ternyata dia tidak berbohong. Mungkin memang tersipu-sipu versi laki-laki dan perempuan berbeda.
            Nartaria berbisik pada Myana.
            “Kau seharusnya mengajaknya mengobrol!” desisnya. “Dia ini kan pelindung kakakmu! Dan dia membutuhkan bantuan!”
            Myana keheranan mendengar pernyataan ini. Dia melihat lagi ekspresi Harken. Dia memang tampak kelihatan tidak nyaman. Viseris menggelutinya seperti ular liar dan Harken, kendati dengan cara yang halus, berupaya menjauhkan diri darinya. Nartaria memang sangat observan.
            “Harken!” panggil Myana tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri. Dia menempatkan dirinya di antara Harken dan Viseris. Gadis itu tidak repot-repot menyembunyikan ekspresi kesalnya, namun Myana mengabaikannya. Harken tampak sekali lega. Dia tersenyum ramah.
            Myana berusaha mengontrol dirinya. Dia balas tersenyum.
            “Ceritakan padaku mengenai Minasa, Harken,” pintanya. “Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.”
            “Kau akan bertemu dengannya sebentar lagi,” celetuk Viseris. Nartaria dengan sigap mengajaknya mengobrol.
            “Aku menyukai hiasan bunga di kepalamu Viseris! Apa kau membuatnya sendiri? Kau sangat berbakat!”
            Dan mendengar pujian ini, perhatian Viseris teralihkan.
            “Minasa tentu saja sangat merindukanmu,” kata Harken, tidak menyadari upaya Nartaria dan Myana untuk menjauhkannya dari Viseris. “Dia selalu bercerita padaku tentang adiknya yang unik. Aku bisa melihatnya sekarang.”
            Myana merasakan senyumnya menghilang.
            “Apa aku salah bicara?” kata Harken, menyadari perubahan ekspresi Myana.
            Myana menggeleng. Dia harus mengubah kebiasaannya ini, muram ketika seseorang mulai membicarakan perbedaan dirinya.
            Harken tampak kurang yakin, namun Myana tersenyum lagi, berusaha membuatnya melanjutkan.
            “Dia bersikeras harus aku yang menjemputmu,” katanya, tersenyum dengan tatapan menerawang. “Aku agak heran, maksudku, bukankah seharusnya dia sendiri yang menjemputmu? Tapi dia sangat memaksa. Dia bisa menjadi sangat pemaksa.”
            Harken tertawa kecil. Hanya dari obrolan singkat itu Myana menyadari sesuatu. Ketika Harken membicarakan kakaknya, tatapan matanya melembut.
            “Kau menyukai kakakku,” ucap Myana tanpa sadar.
            Sekali lagi Myana melihat rona merah samar di pipi lawan bicaranya itu.
            “Kurasa ‘suka’ bukan istilah yang tepat,” ucapnya, tersenyum.
            “Kau sangat menyukainya kalau begitu?”

            “Bisa dibilang begitu,” jawab Harken, tertawa.


Thursday, October 20, 2016

Royal Guards - Page 51-52

Apa pun gambaran yang pernah dia bayangkan mengenai sosok laki-laki sekarang tampaknya sangat konyol.
            Laki-laki di hadapan mereka bertubuh sangat besar. Dia berbahu lebar dan berdada bidang.  Dia memakai pakaian dari kain hitam yang ketat dan.. membentuk. Dia memakai celana panjang yang terbuat dari bahan yang tampak kasar, lagi-lagi dalam balutan yang ketat dan.. membentuk.
            Seperti inikah rupa laki-laki?
            Laki-laki ternyata sangat berbeda dari perempuan. Setiap potongan tubuhnya tampak terpahat dan kasar. Ukuran dan bentuk tubuhnya mengintimidasi dan herannya.. menarik. susah payah, Myana mengalihkan tatapannya dari tubuh makhluk asing itu dan menatap wajahnya. Ini tidak membuatnya merasa lebih baik.
            Wajah laki-laki ini sangat berbeda, kasar dan herannya menarik. Matanya berwarna emas. Dia berambut ikal sepanjang leher dan tergerai begitu saja, menimbulkan kesan liar. Rambutnya indah berwarna pirang. Rahangnya tegas, dan dagunya lebar. Hidungnya besar dan mancung. Tulang pipinya menonjol dalam pahatan yang memesona. Dia tersenyum, dan selagi melakukan itu, Myana bisa melihat dua buah lesung pipit tersingkap di pipinya.
            Astaga. Wow. Astaga. Wow.
            Myana susah payah memerintahkan jantungnya—yang sedari tadi berdetak-detak liar—untuk tenang. Dia melirik Nartaria yang wajahnya memerah. Viseris masih saja terperangah.
            “Wow,” Viseris berceletuk lagi, dan Myana paham maksudnya.
            Ibunya mengambil alih. Dia menghampiri laki-laki itu dan laki-laki itu tersenyum semakin lebar.
            Astaga. Wow. Astaga. Wow.
            “Ibu mertua,” katanya, mengecup tangan kanan ibunya. Suaranya bahkan sangat lain! Rendah dan dalam dan menarik. “Miranda, kau terlihat sangat cantik seperti biasa!”
            Myana takjub ketika melihat ibunya tidak meleleh di tempat.
            “Harken,” sapanya terkekeh. “Bisa kulihat kau belum kehilangan pesonamu. Kau membuat tiga gadis malang ini kehilangan kemampuan bicara!”
            Myana merasakan wajahnya memanas. Wajahnya pasti merah padam sekarang.
            “Viseris, tutup mulutmu!”
            Viseris diingatkan lagi oleh ibunya ketika sikutan di rusuk ternyata tidak berpengaruh.
            Lelaki yang disebut Harken ini mengamati penyambutnya. Tatapannya berhenti ketika melihat Myana. Myana susah payah menahan dirinya untuk tetap berdiri tegak. Bisa dilihat ibunya menahan tawa.
            “Myana!” katanya. Dan dia menghampiri. Myana yakin dirinya akan pingsan saat itu juga. “Minasa bercerita banyak tentangmu!”
            “errr..” adalah respon terbaik yang bisa diberikan olehnya.
            Untungnya, Harken mengalihkan tatapannya ke Nartaria, yang tampak terlonjak.
            “Dan kau pasti Nartaria!” ucapnya riang.Laki-laki itu beralih lagi ke Viseris, yang terpekik.
            “Dan kau pasti Viseris!” katanya lagi. Viseris tampaknya bisa mati bahagia saat itu juga.
            “Harken,” panggil ibu Myana, terdengar geli. “Berhenti menebar pesonamu! Tunggulah sebentar di sana sampai kami selesai mengucapkan salam perpisahan!”
            “Tentu saja Miranda.”
            Dia menunggu di depan lorong.        
            “Ibu,” ucap Myana pelan begitu ibunya kembali ke hadapannya. “Dia.. sangat..”
            Ibunya menatapnya tersenyum.
            “Aku mengerti perasaanmu nak,” katanya. “Butuh waktu cukup lama untukku terbiasa dengannya ketika Minasa memerkenalkannya padaku.”
            “Apakah semua laki-laki tampak sepertinya?”
            Ibunya tertawa kecil.
            “Tidak, kurasa tidak.”
            Bagus. Jika semua laki-laki tampak seperti Harken, Myana mengkhawatirkan kondisi jantungnya. Agak sulit soalnya jika dia harus mengontrol degup jantungnya yang tak beraturan setiap kali melihat laki-laki.
            “Ayahmu juga memiliki pesona seperti Harken,”
            Dalam kesempatan yang jarang, terkadang ibunya menceritakan sedikit tentang ayahnya. Seusai mengucapkan itu dia tampak muram. 
            “Kau tidak ingin mengunjunginya?” ujar Myana hati-hati.
            “Kau tahu aku sudah mengunjunginya berkali-kali Myana. Setiap bulan. Ini bukan waktu untuk keluar hutan bagiku.”
            Dia tampak semakin muram.
            “Tapi kau harus mengunjunginya Myana! Dia akan sangat senang melihatmu!”
            Tiba-tiba ibunya memeluknya.
            “Sampaikan salamku pada kakakmu, Minasa, dan pada ayahmu. Jika kau bermalam di tempat ayahmu, aku akan ke sana tiga minggu lagi. Kita bertiga bisa bercakap-cakap.”
            Myana baru sadar dirinya terisak lagi.
            “Harken akan menjagamu selama perjalanan. Bersikap sopanlah padanya! Dia laki-laki yang baik.”
            “Tentu ibu,” jawab Myana, mendadak tertawa kecil. “Jika aku bisa berbicara normal dengannya.”
            Ibunya juga tertawa.
            “Kau akan segera terbiasa,” janjinya.

*

Monday, October 17, 2016

Royal Guards - Page 49-50

“Aku sudah menghubungi kakakmu,” katanya. “Dia bilang pelindungnya akan datang ke sini menjemputmu.”
            “Pelindung boleh masuk ke hutan?” tanya Myana heran.
            “Dalam momen seperti ini, mereka diberikan izin khusus,”
            Ketika Myana memberikan kabar ini kepada Nartaria dan Viseris, mereka tidak sanggup menahan antusiasmenya yang meluap-luap.
            “Oh astaga astaga astaga,” pekik Viseris. Dia meloncat-loncat kecil dan tampak kesulitan bernafas. “Tidak kusangka aku akan bertemu dengan pelindung secepat ini! Oh, aku harus segera bersiap-siap!”
            Dan tanpa basa-basi lagi dia bergegas kembali ke rumah ibunya, bergumam-gumam kecil sepanjang perjalanan.
            “Rambut, kulit, wangi-wangian—oh, banyak sekali yang harus dilakukan!”
            Nartaria, meskipun tampak lebih sopan dan terkontrol tetap tidak bisa menyembunyikan semangatnya. Dia tersenyum-senyum kecil ketika berpikir Myana tidak melihat.
            “Viseris agak berlebihan ya?” katanya. “Maksudku, dia itu kan pelindung kakakmu!”
            Dia menatap Myana.
            “Kau tahu siapa namanya?”
“Harken,”
Nartaria mengangguk-angguk.
“Bagaimana rupanya? Apa kakakmu sering menceritakan bagaimana rupanya?”
            Myana berkata tidak dan tidak dan Nartaria tampak kecewa.
            “Aku..er.. kurasa aku juga sebaiknya bersiap-siap kau tahu?” katanya, berusaha bersikap datar. “Perjalanan panjang, kau tidak ingin melupakan segala sesuatu kan?”
            Tampak agak malu, dia bergegas pergi. Myana menyadari keinginannya untuk berlari seperti Viseris, namun Nartaria ternyata mampu mengendalikan dirinya.
            Kini, mereka bertiga, bersama ibu masing-masing sudah berada di depan lorong masuk yang tertutup sulur-sulur pohon, menunggu kehadiran si pelindung misterius itu. Ibunya menyadari genangan air mata Myana yang semakin banyak dan menghapusnya lembut.
            “Jangan sedih sayang,” katanya pelan. “Kau akan merasa senang di luar sana. Banyak hal yang bisa kau pelajari, banyak hal baru yang sangat indah. Kau harus percaya kata-kataku, aku juga pernah mengalami hal sepertimu, ingat?”
            Myana mengangguk. Dia sebenarnya bersemangat ingin pergi ke luar hutan. Namun, kerinduannya akan ibunya membuatnya muram.
            “Kemarilah,”
            Ibunya menarik dan memeluknya. Myana membiarkan dirinya terisak dalam dekapan ibunya.
            Di sebelahnya, Nartaria dan Viseris juga berpisah dengan cara masing-masing. Nartaria juga memeluk ibunya. Viseris, yang berpenampilan sangat total tampaknya tidak begitu sedih dengan prospek berpisah lagi dengan ibunya. Dia menatap lorong bersulur itu dengan semangat, jelas sekali tidak sabar untuk melihat kedatangan si penjemput. Rambut pendeknya dihiasi dengan bunga-bungaan yang sudah dia rangkai dengan rapi. Kain putihnya—kain yang digunakan semua bangsa Elrika sebagai pakaian—dibalut dalam posisi yang rumit dan terbuka, memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang indah. Kulitnya yang agak gelap mengilap. Dia tampak sangat cantik.
            Nartaria lain lagi. Dia berpenampilan seperti biasanya. Rambut panjangnya dikepang dan dibentuk dalam satu gulungan yang indah. Pakaian yang dipakainya tampak elegan dan menarik, meskipun tidak terbuka seperti milik Viseris. Tentu saja dia juga tampak sangat cantik.
            Myana, di satu sisi, tidak berminat memoles dirinya. Dia memakai kain putihnya dengan balutan yang tertutup, sederhana dan rapi. Toh, menurut ibunya, mereka nantinya akan berganti pakaian untuk berbaur. Rambut lurus perak panjangnya digerai begitu saja dalam model yang sederhana.
            Dia masih berpelukan ketika ibunya menoleh ke lorong itu.
            “Dia datang,” katanya, melepaskan Myana.
            Myana bisa mendengar pekikan tertahan Viseris dan suara tarikan nafas tegang Nartaria. Harus diakui, dia sendiri juga sangat penasaran ingin melihat rupa seorang laki-laki untuk pertama kalinya. Beragam gambaran berseliweran di pikirannya.
            Sebuah tangan yang besar muncul dari dalam lorong menyingkap sulur dan menyibak sebuah sosok di sana. Dia berjalan keluar dan memerlihatkan dirinya di bawah cahaya.
            “Wow,”

            Yang mengucapkan itu adalah Viseris. Mulutnya terbuka begitu saja sampai ibunya menyikut rusuknya mengingatkan. Hal lucu yang sama juga terjadi pada Nartaria. Dia tampak terperangah. Myana memeriksa ekspresinya sendiri dari dalam dan menyadari bahwa mulutnya juga terbuka seperti orang bodoh. Dengan susah payah dia menutup mulut.


Tuesday, October 11, 2016

Royal Guards - Page 47-48

Chapter 6
Talgeyr

Bangsa Elrika  memiliki satu ciri khas : mereka semua cantik. Sudah diketahui umum kalau bangsa tersebut hanya terdiri dari kaum perempuan. Masing-masing dari perempuan itu memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Setiap Elrika memiliki rambut berwarna emas dengan pupil mata berwarna sama.  Keiistimewaan ini membuat Elrika selalu mencolok di tengah-tengah keramaian.
Elrika tinggal di dua hutan besar, hutan Alvina dan hutan Teresala. Nama  hutan ini konon diambil dari kakak beradik pemimpin generasi perang dua belas bangsa. Sumber lain mengatakan nama ini adalah nama seorang Elrika dan pelindungnya, Alvina sebagai Elrika dan Teresala sebagai pelindung. Ada semacam pertahanan khusus yang membuat bangsa selain Elrika tidak dapat memasuki hutan Alvina dan Teresala. Kedua hutan ini belum pernah dimasuki bangsa lain, khususnya laki-laki. Lalu bagaimana bangsa Elrika bisa berinteraksi dengan bangsa lain?
Pada usia 18 tahun, seluruh gadis Elrika menjalani ritual yang biasa dikenal dengan sebutan ‘masa transisi’. Pada masa transisi ini mereka keluar dari hutan dan berbaur dengan bangsa-bangsa lain. Tidak banyak yang diketahui apa tujuan dilakukannya transisi ini, namun satu hal yang pasti, para gadis Elrika ini selalu kembali ke hutannya dalam salah satu dari dua kondisi. Pertama, apabila mereka mengandung dan kedua, apabila mereka bersama seorang pelindung. Informasi mengenai hal ini sangat sulit dipastikan, karena selain kemustahilan memelajari gaya hidup mereka di hutan, bangsa Elrika juga sangat enggan membuka rahasia mereka.
Satu fakta menarik mengenai Elrika adalah kemampuan mereka dalam berbahasa. Mereka mampu berbahasa apa pun. Mereka juga mampu berkomunikasi dengan alam, termasuk binatang dan tumbuhan. Kemampuan ini diduga menjadi salah satu penyebab kenapa setiap Elrika adalah vegetarian. Mereka menolak untuk membunuh dan mengonsumsi binatang. Dalam perang dua belas bangsa, diketahui bangsa Elrika mampu menggunakan kemampuan ini dalam pertempuran. Mereka mampu memanipulasi para hewan dan alam ini sebagai bala bantuan.
Satu kekuatan tempur utama bangsa Elrika adalah pelindung atau dalam bahasa kuno Elrika disebut ‘talgeyr’. Talgeyr adalah para laki-laki yang memiliki hubungan misterius dengan pasangan Elrikanya. Mereka memiliki kemampuan tempur yang luar biasa. Kecepatan dan kekuatan mereka beberapa kali lipat lebih besar dari laki-laki prajurit bangsa Vierr. Mereka memakai tombak misterius yang bisa dimunculkan dan dihilangkan sesuka hati mereka. Ketika mereka terluka parah, pasangan Elrikanya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan mereka dalam hitungan menit. Sungguh aset kekuatan tempur yang mengerikan.
Tidak banyak yang bisa diketahui mengenai keberadaan talgeyr ini. Dalam banyak versi, bisa dikatakan mereka adalah bagian dari bangsa Elrika. Namun, banyak juga sumber yang yakin bahwa mereka hanyalah penjaga, tidak lebih. Dalam beberapa catatan, diketahui warna mata para talgeyr ternyata juga berwarna emas. Diketahui pula bahwa Elrika yang memiliki seorang pelindung memiliki warna mata yang berbeda dari Elrika lain, yaitu perak. Namun, tidak banyak kesimpulan yang bisa diambil dari fakta ini.
Gerolog Tanserim, pakar enam bangsa, berpendapat bahwa talgeyr adalah salah satu manifestasi kemampuan bangsa Elrika dalam berkomunikasi dengan alam. Dia menjelaskan teorinya yang menganggap para talgeyr adalah entitas ciptaan bangsa Elrika yang dibuat dari alam, dengan cara misterius yang hanya diketahui bangsa Elrika, membandingkannya dengan para roh peliharaan bangsa Charment, hanya saja talgeyr berada dalam wujud manusia. Teori ini banyak disetujui, meskipun kemampuan talgeyr yang jauh lebih kompleks dari roh bangsa Charment, khususnya dalam hal berinteraksi dan bertindak, menimbulkan banyak tanda tanya. Talgeyr mampu bercakap-cakap dan membuat keputusan sendiri, berbeda dari roh bangsa Charment yang terikat dan patuh dengan pemiliknya.
Kemisteriusan bangsa Elrika telah mengundang rasa penasaran setiap orang, meskipun tanda-tanda bahwa rahasia mereka akan terungkap sangat minim. Satu hal yang pasti, bangsa Elrika, kendati hanya terdiri dari perempuan, tidak bisa dianggap sebagai bangsa yang lemah. Bangsa Elrika adalah salah satu bangsa yang paling disegani selain bangsa Charment dan bangsa Erross.

Bagian awal buku ‘Mengungkap Rahasia Elrika’, Erentin Lian

            Alam berbisik. Pohon-pohon melambai-lambai dan membisikan kata-kata pemberi semangat. Satu atau dua mengejek dan mencemooh, tapi tentu saja dalam bentuk tidak lebih dari candaan. Myana mengusap air matanya.

            Dia sudah melepas rindu dengan ibunya, menghabiskan waktu tiga hari di rumah pohonnya yang sederhana. Ibunya adalah wanita yang cantik dan ceria. Dia memeluk Myana berulang-ulang, mengecupnya dan tak henti-hentinya memberikan nasihat.


I'm not satisfied at all with my writing.. but this will do for now

Monday, October 3, 2016

Royal Guards - Page 44-46

Vorstar,” katanya, mendengus. “Kau sungguh-sungguh berharap bahwa aku akan percaya kata-katamu? Ceritamu adalah hal terkonyol yang pernah kudengar!”
            “Ceritamu tadi menyiratkan bahwa aku adalah  royal guard baru yang dipilih oleh tanda di tanganku!”
            “Benar,” kata Mirian tenang. “Untuk itulah aku datang kemari.”
            “Omong kosong!” bantah Heil. “Kau seharusnya mencari cerita yang lebih masuk akal vorstar!”
            “Tidakkah ada sesuatu yang membuatmu unik Heil? Sesuatu yang membuatmu tahu bahwa dirimu berbeda dari orang lain? Setiap pengguna tanda memiliki kemampuan yang unik.”
            Heil teringat sesuatu. Ingatan akan dirinya ketika berusia 11 tahun. Ingatan ketika ayah kandungnya sendiri menikam perutnya. Ingatan yang sekuat tenaga berusaha dia hapus.
            “Kau terdiam,” ucap Mirian. “Jauh di dasar hatimu, kau tahu ceritaku benar.”
            Heil menggeleng kuat-kuat, seakan dengan melakukan itu akan mampu menghilangkan ingatan tidak nyaman itu. Amarah menggantikan rasa gelisahnya. Dia menyalahkan Mirian yang sudah membuatnya mengingat kejadian itu.
            “Vorstar,” katanya. Kontras dengan suasana batinnya, suaranya terdengar tenang dan terkendali. “Kuperingatkan kau untuk menyudahi topik ini. Ini adalah cerita yang konyol dan aku sudah cukup sabar untuk mendengarkan! Jangan memancingku ke batas kesabaran, vorstar.”
            Heil sudah setengah berharap Mirian akan membantah, namun pria tua itu hanya mengangkat bahunya.
            “Baiklah,” katanya, acuh tak acuh, yang herannya membuat Heil jengkel. “Kedatanganku memang hanya ingin memberitahumu arti tanda itu. Mau kau apakan informasi itu terserah kau.”
            Heil menatapnya tak percaya.
            “Menurut ceritamu, royal guard adalah pelindung anggota keluarga kerajaan yang bertanda. Bukankah itu tujuanmu datang kemari?”
            “Apa? Memintamu untuk menjadi pelindung putri Lili? Jangan konyol, kau bahkan tidak mengenal siapa itu putri Lili bukan? Selain itu kau adalah pemimpin di sini. Tidak mungkin aku memintamu untuk meninggalkan mereka dan datang ke ibu kota bukan?”
            Sikap acuh tak acuh Mirian membuat amarah Heil berangsur-angsur menghilang, digantikan rasa gelisah lagi. Mana mungkin Mirian datang ke tengah-tengah amukan para prajurit najril, hanya untuk menceritakan ini kepadanya. Tidak masuk akal.
            “Kenapa gadis ini butuh pelindung?”
            Heil akan membantah lagi, namun terkejut ketika menyadari dirinya malah menanyakan hal itu.
            “Banyak penyebabnya,” jawab Mirian. “Tapi ini tidak perlu kau risaukan. Dia sangat aman sekarang. Kami sudah memiliki empat orang royal guard di istana. Sudah lebih dari cukup.”
            “Kalau begitu kenapa kau datang kemari?” geram Heil. “Apa manfaatnya bagimu?”
            “Seperti yang tadi kukatakan,” kata Mirian. Ekspresi geli tampak lagi di wajahnya. “Pengguna tanda memiliki kemampuan yang unik. Kemampuan itu sangat berbahaya di tangan orang yang salah. Aku harus mengecek siapa yang memiliki tanda itu untuk memastikan. Kuanggap kau layak, dan aku cukup puas dengan itu.”
            “Omong kosong,” sergah Heil. “Bagaimana bisa kau yakin aku layak? Kita baru saja bertemu dan sudah berusaha saling bunuh saat pertama kali bertemu.”
            “Aku tidak berusaha membunuhmu Heil,”
            “Nah, aku berusaha membunuhmu,” tukas Heil. “Tidakkah itu membuatku tidak layak?”
            “Kau menyerang dengan anggapan aku membunuh para prajuritmu.”
            Heil terdiam. Sebenarnya itu memang salah satu penyebabnya. Tetapi dia juga tidak bisa menjelaskan perasaan bergairahnya waktu itu, ketika dihadapkan pada kemungkinan berhadapan dengan seorang yang cukup kuat untuk mengimbangi dirinya.
            “Lagipula,” lanjut Mirian. “Bukankah kau tidak percaya dengan ceritaku? Apakah ketertarikanmu ini merupakan bukti kalau kau percaya?”
            “Tidak,” bantah Heil lagi, namun suaranya terdengar kurang yakin. “Kita sedang berandai-andai sekarang.”
            Mirian mendengus. Heil mengabaikannya. Dia sebenarnya tidak ingin membahas ini lebih jauh, tetapi kesulitan membuat dirinya untuk tidak bertanya.
            “Bagaimana kalau kau menganggap diriku tidak layak?” tanya Heil lagi, dalam hati mengutuki dirinya sendiri. “Apa yang akan kau lakukan?”
            “Aku akan membunuhmu. Tanda itu akan berpindah ke tangan orang lain setelahnya.”
            Diucapkan dengan nada biasa-biasa saja, namun Heil yakin pria tua ini sanggup mengalahkan dirinya jika dia bersungguh-sungguh mencoba. Meskipun Heil juga yakin dirinya bisa memberikan perlawanan yang sengit. Sesuatu dalam dirinya terbakar lagi.
            “Empat orang royal guard ini,” ucap Heil tanpa sadar. “Yang menjaga di istana, apakah mereka kuat?”
            “Oh ya, sangat.”
            “Sebanding dengan dirimu?” 
            “Tidak, tidak,” kata Mirian. “Mereka jauh lebih kuat dariku, terutama ketuanya. Aku bahkan tidak sanggup berkutik.”
            “Royal guard memiliki ketua?”
            “Tentu,” jawab Mirian.
            “Hmm..”
            Heil merasa tertantang. Selama ini dia terbiasa menjadi yang terkuat dalam pertarungan. Kehadiran Mirian membuatnya tersadar bahwa ada banyak orang kuat di luar sana. Selain itu ada sesuatu yang mengusik perasaannya.
            Setiap pengguna tanda memiliki kekuatan yang unik.
            Kata-kata Mirian itu bergema berulang-ulang di dalam kepalanya.
            “Kau pembawa kutukan! Pembunuh!”
            Kalimat itu muncul lagi dalam benaknya. Mustahil untuk dilupakan.
            “Vorstar,” kata Heil, seraya mengusir ingatan itu jauh-jauh. “Jika aku memintamu untuk bertarung melawanku dengan sungguh-sungguh, dengan niat membunuh, maukah kau melakukannya?”
            Dia harus mengetes. Dia harus tahu sejauh apa batas kemampuannya.
            Mirian tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk.

*


Monday, August 15, 2016

Royal Guards - Page 42-43

“Bagus,” kata Mirian tampak senang. “Karena apa yang ingin kuceritakan sangat penting, dan aku butuh kau untuk mendengarkan sungguh-sungguh.”
            Dia terdiam beberapa saat.
            “Dulu, dulu sekali, ketika dunia ini masih terbagi menjadi dua belas bangsa, terdapat sebuah entitas gelap, seorang demigod  bernama Talkarom,”
            “Apa-apaan—apa hubungannya itu dengan ini semua!?”
            “Jika kau mau mendengarkan,” kata Mirian pelan. “Kau akan melihat kaitannya, aku janji.”
            Heil mengumpat pelan.
            “Baiklah!” katanya. “Lanjutkan!”
            Untuk kesekian kalinya Mirian tertawa kecil.
            “Kau pria yang tidak sabaran,” katanya, lagi-lagi mengulang kalimat itu. “Agak sulit menceritakan ini jika ada interupsi.”
            “Aku tidak akan menginterupsi lagi,” Heil berdecak. “Sekarang lanjutkan ceritamu!”
            Mirian terkekeh lagi sebelum melanjutkan.
            “Demigod—jika kau belum tahu—adalah entitas misterius di dunia ini. Mereka memiliki kemampuan luar biasa, dan bersedia meminjamkannya kepada orang tertentu, dengan imbalan tertentu,”
            “Talkarom adalah demigod sangat kuat yang memiliki kemampuan memanggil pasukan dari kegelapan, dan bersama kontraktornya, dia meneror dunia, memusnahkan enam bangsa dalam tiraninya, menyisakan enam bangsa yang sekarang.”
            “Keenam bangsa ini bersatu untuk melawan, namun rupanya persatuan mereka bahkan tidak cukup kuat untuk memusnahkan Talkarom,”
            “Satu fakta mengenai demigod, bahwa tiap-tiap dari mereka memiliki pasangan, atau barangkali lebih tepat disebut lawan. Analogikan saja dengan air dan api sebagai contoh yang sederhana. Keenam bangsa yang sudah putus asa saat itu akhirnya meminta tolong pada demigod pasangan Talkarom, Keliandras,”
            “Keliandras menyanggupi permintaan enam bangsa, namun dia tidak bersedia membunuh Talkarom. Ketika itu dia menjelaskan bahwa keberadaan mereka saling melengkapi satu sama lain. Jika Talkarom mati, Keliandras juga otomatis akan ikut mati.”
            “Keliandras menawarkan solusi yang lain. Dia memerintah enam bangsa untuk menyegel dirinya, karena jika dirinya tersegel, maka otomatis Talkarom juga akan ikut tersegel.”
            “Kenapa tidak bunuh saja si Keliandras?” Heil tidak tahan untuk tidak bertanya.
            “Keliandras adalah seorang demigod,” kata Mirian mengingatkan. “Dan dia juga kuat seperti Talkarom.”
            “Kemudian,” lanjut Mirian, seolah-olah tidak ada interupsi dari Heil. “Keenam bangsa akhirnya menyegel Keliandras dengan memecahnya menjadi enam bagian,”
            “Memecah?” Heil bertanya lagi.
            “Memecah, membagi, membelah, sebut saja istilah yang kau suka,” kata Mirian. “Keenam bangsa memecah Keliandras menjadi enam, dan sesuai janji, Talkarom tersegel.”
            “Keenam bagian dari Keliandras kemudian dibagi kepada masing-masing bangsa untuk dijaga, untuk memastikan Talkarom tetap tersegel selama-lamanya. Senjatanya untuk bangsa Fluffen, Permatanya untuk bangsa Erros, Medium atau tubuhnya untuk bangsa  Elrika, Esensi rohnya untuk bangsa Charment, Pakaiannya untuk bangsa Anima dan terakhir Esensi kekuatannya untuk bangsa kita, bangsa Vierr,”
            “Kekuatan dari Keliandras sangat besar, sehingga bagian ini dipecah lagi. Kekuatan utama kepada satu orang, sementara kekuatan-kekuatan ‘kecil’ lainnya kepada orang-orang yang lain. Pemilik kekuatan ini ditandai dengan sebuah tanda atau lambang khusus di punggung tangan kirinya,”
            Heil merasakan jantungnya berdetak kencang. Mirian tidak tampak menyadari kegelisahan Heil dan tetap melanjutkan ceritanya.
            “Tanda ini terus berpindah dari generasi ke generasi. Kekuatan utama, esensi yang paling penting, diwariskan secara turun temurun, dan pemilik tanda ini adalah anggota kerajaan,”
            “Ketujuh tanda yang lain berbeda. Mereka memilih tuannya. Ketika ada pewaris tanda utama yang baru lahir, Ketujuh tanda ini memilih tujuh orang yang mereka anggap pantas sebagai pelindung pemegang tanda utama. Orang-orang yang dipilih tanda inilah yang disebut sebagai royal guard,”
            “delapan belas tahun yang lalu, seorang pewaris tanda lahir, seorang putri bernama putri Lili. Segera setelah itu, tujuh tanda yang lain mencari tuan yang baru. dua di antara tanda itu tetap berada di tangan royal guard pelindung pewaris sebelum putri Lili, raja Bern, sementara lima tanda yang lain berpindah,”
            “Aku dulunya adalah seorang royal guard.”

            Mirian sudah berhenti bicara sekarang dan menatap Heil penuh-penuh, meskipun tatapannya tidak terfokus. Dia menunggu Heil untuk berkomentar. Rupanya ini sulit. Heil berusaha mencerna apa yang baru saja dia dengar.


This part is a short version. I will edit it much much later...

Friday, August 12, 2016

Cowok Petakilan - Chapter 8


Ceritanya gue lagi cross check siapa-siapa aja yang mau gue kenalin.

Pano dan Clarin, check.

Vino, check.

Naya, check.

Pongki, check.

Sisa Eren ya?

Gimana kalau Eren di skip aja? Dia itu kasusnya agak unik soalnya. lagipula udah pada gatel kali ya daritadi gue cerita ngalor ngidul ga keruan. Padahal ada persoalan penting yang mesti kudu wajib dibahas.

Suasana hening banget setelah pernyataan jedar dari Vino. Gue yang duduk sebelahan sama Pongki saling pandang. Pongki tampangnya cengo kaya orang kurang vitamin E. Dalem hati gue juga kepikiran, kayanya muka gue kurang lebih sama kaya gitu. Ga sih. Gue mah selalu fabulous dalam segala kondisi, hehehe.

Clarin yang pertama kali pulih.

"Jatuh cinta gimana bang?" dia nanya pelan.

Mungkin karena gue selalu merhatiin Clarin kali ya, jadi bisa gue notice kalau dia ngelirik ga nyaman ke arah Naya. Otomatis gue juga jadi ngeliat Naya. agak penasaran juga sama reaksi dia, coz dia kan selalu keukeuh kalau dia naksir sama Vino.

Tapi Naya tampak kalem-kalem aja.

"Ya ga gimana-gimana!" Vino jawab. "Pokoknya gue galau sekarang!"

"Sama siapa?" Clarin nanya lagi. "Weekend ini bang Vin ketemu cewek? Di mana? Kok bisa jatuh cinta?"

Rentetan pertanyaan itu dicuekin sama Vino. Dia masih aja tutup muka kayak putri malu. Emang Vino brengsek. Jangan nyuekin Clarin dong! Gantian nanya gue aja lah Clarin. Gue siap.

"Paling boong," di belakang, Eren nyeletuk. "Penjahat kelamin mana bisa jatuh cinta."

Sedikit info tentang Eren, dia itu jarang ngomong dan paling susah dibuat ketawa. Tapi sekalinya ngomong pasti kata-katanya bikin sakit. Gue sampai sekarang masih gagal paham kenapa bisa temenan sama manusia satu ini. Golongan darahnya AB sih. Kalau gue baca di instagram, emang golongan darah AB kaya gitu sifatnya. Kalo gue O. Kalo Clarin A. Berarti calon anak kita kalo ga O ya A.

Buat yang belum nyadar, gue anaknya emang gampang teralihkan, trims.

"Gue ga boong nyet!" Vino marah. Eren jadi kaget, karena biasanya Vino paling kalem nanggepin kata-kata dia. Rasain lo ren!

"Oke," kata Clarin. "Cerita dong bang kalau gitu!"

"Bentar!" yang teriak malah Naya. Dia banting setir, bikin seisi mobil shock dan teriak kaya orang naik wahana dufan. Dia baru aja parkir dengan indahnya di pinggir jalan ala-ala film fast and furious. Detik-detik berlalu dan kita semua berusaha bikin suara lagi. Gue yang kegencet Vino agak susah mau komentar juga.

"Naya!" semuanya ngomel, tapi Naya tampak cuek.

"Jangan cerita pas gue lagi nyetir dong!" omelnya cempreng. "Kan gue pengen fokus dengerin juga!"

"Gapapa nih kita parkir disini?" celetuk Clarin.

"Siapa yang parkir?" kata Naya ngeselin. "Kita kan masih di mobil, jadi ini bukan parkir! Lagipula aku udah ngasih lampu sen kok kak! Tenang!"

"Ga mesti banting setir juga kan, dek."

Naya selalu manggil Clarin kak dan Clarin manggil dia dek. Cuman mereka berdua yang ngomongnya pake aku-kamu-an.

"Biarin!"

Naya beralih dari Clarin ke Vino.

"Yaudah lanjut bang! Cerita cepet!"

 Vino keliatan ga nyaman setelah ditembak langsung kaya gitu. Dia bergumam ga jelas.

"Mau cerita apa gak!?" tanya Naya galak, kaya anak kurang kalsium.

"Iya bentar!" Vino bales galak. "Bingung abang cerita dari mana!"

O iya.Vino juga selalu bilang dirinya 'abang' ke Naya doang. Ga tau kenapa. Mungkin karena Naya yang paling muda kali ya?

Clarin membantu menengahi.

"Coba cerita dulu kenapa bang Vino bisa tiba-tiba sadar gitu, kalau abang jatuh cinta."

Sebenernya bukan cuman Clarin doang yang penasaran, tetapi kita kita juga. Ejekan Eren tadi juga ga jauh dari kenyataan, karena diem-diem gue juga berpikiran sama : masa iya seorang Alvino Salman Pranatya bisa jatuh cinta? Kalau orangnya model gue sih gue percaya.

"Oke-oke," akhirnya Vino ngomong. "So... where to start? Hmmmm... It happens on saturday."

terdengar suara mm-hm dari seisi mobil. Kita udah kaya psikiater yang manggut-manggut denger pasiennya cerita.

"I met this girl on a bar, you know, biasalah, malem minggu."

mm-hm lagi.

"And you know me lah, we flirt, dancing, drink, fooling around for a bit, you know, usual stuff."

mm-hm lagi.

"Stop that!"

Kayanya Vino ga suka sama reaksi mm-hm kita.

"Kita kan dengerin," Eren ngasih kejelasan.

"Ya ga usah pake hem-ham-hem kaya gitu! Ngeselin!"

"Oke," Clarin bilang. "Siapa nama cewek itu bang?"

Vino mikir.

"Lupa," katanya.

"He?? Bukannya kata lo, lo jatuh cinta!? Kok bisa lupa!?" Pongki nanya heran.

"Gue ga bilang gue jatuh cinta sama cewek ini!"

Nah loh. Gue dan yang lain jadi bingung sama arah cerita Vino mau dibawa kemana.

"Anyway, we really hit it up, and after that, you know, usual stuff."

Usual stuff disini berarti Vino dan si cewek malang itu berangkat ke hotel terdekat. Gue udah kasih tau belum kalau ini ceritanya buat 18 tahun ke atas? Yang belum 18 tahun, pergi jajan dulu sana!

"We fooled around, kissing, making out--"

"Too much information!" Naya motong.

"Sorry--" Vino minta maaf. Ga biasanya dia minta maaf kalo cerita vulgar kaya gini. "Basically, after that, I prepared my condom..."

Sampe bagian ini Vino nyembunyiin mukanya lagi. Dia berbisik pelan banget sampe kita semua yang dengerin mesti mepet ke dia biar bisa denger.

"My big brother... he couldn't....dia ga bangun-bangun..."

Vino selalu ngasih moniker ke 'barang'nya dengan julukan konyol 'big brother'.

 "OH MY GOD!" kita semua teriak.

"APA URUSANNYA ITU SAMA JATUH CINTA!!!" Di belakang, Pano emosi.

"Apaan sih bang!" Naya keliatan jengkel. "Gue udah sampe nepi kaya gini loh!"

Bahkan Clarin yang paling sabar sekalipun keliatan kesel.

"Bentar!!! DENGERIN GUE DULU!!!" Vino ikutan emosi.

Meskipun sempet rame, kita akhirnya dengerin cerita Vino lagi.

"It never happen!" Vino berkata geram. Dia kaya gemes ngeliat kelakuan kita yang kesel karena cerita dia. "Secape-capenya gue, my big brother NEVER failed me! Dan gue juga ga mabuk-mabuk amat, jadi harusnya ga kaya gitu!"

"Gue jalan lagi ya!" Naya udah balik megang setir.

"BENTAR!!" Vino makin geram. "Gue akhirnya bisa bikin dia bangun! Itupun karena gue ngebayangin satu orang!"

Naya serta merta balik badan lagi. Kita yang tadinya udah lanjut kegiatan masing-masing, jadi mepet ke Vino lagi.

Vino keliatan malu lagi.

"I... Gue cuman bisa bikin big brother bangun kalau mikirin dia... jadi di situ gue sadar kalau gue jatuh cinta..."

"So...," Naya berkata lambat-lambat. "Abang akhirnya ngapain?"

Vino memalingkan muka. Ini kiasan loh ya. Muka ga bisa dimaling.

"She's a woman in need," kata Vino pelan. "I did my job."

Kita semua bilang 'yaelah'.

"Tapi sepanjang itu gue ngebayangin orang lain! Dan gue ngerasa bersalah banget abis itu! Gue kaya berkhianat! Sebelumnya ga pernah kaya gini!"

Kita semua tercenung. Emang sih dari ceritanya aja ketauan kalau Vino brengsek. Tapi dia juga selalu bangga sama prestasi dia di atas ranjang. Dia selalu bilang kalau pas lagi ML, pasangannya adalah nomor satu di hatinya. Dalam versinya, Vino setia dan berkomitmen penuh selama masa intim itu. Emang logikanya udah gesrek, tetapi paling enggak dia selalu memastikan kalau cewek yang dia bawa ke ranjang tau kalau mau sama dia emang harus kaya gitu. Purely one night stand.

Jadi, biarpun logikanya gesrek, Vino kayanya bener-bener serius sama cewek misterius yang satu itu.

"Siapa cewek itu bang?" Clarin nanya.

"NO!" Vino serta merta galak. "Kalian cukup tau aja kalau gue lagi galau sekarang!"

Dan, meskipun kita udah berusaha mencari tahu identitas si cewek selama satu jam penuh,Vino tetap ga mau bicara apa-apa lagi.

*











Monday, August 1, 2016

Royal Guards - Page 40-41

Heil mencerna pernyataan ini. Jadi, lawan bicaranya memang buta, tetapi entah bagaimana, dia tetap dapat bergerak dan bertarung dengan leluasa. Heil tidak bisa menahan keinginannya untuk bertanya.
          “Bagaimana?” tanyanya penasaran. “Bagaimana orang yang tidak bisa melihat bisa bertarung sepertimu?”
            Mirian tertawa lagi.
            “Bagaimana kalau begini tuan Heil,” 
            “Jangan panggil aku tuan,” tukas Heil.
            “Heil,” Mirian mengangguk setuju. “Bagaimana kalau kita mengajukan pertanyaan bergantian? Dan sebelum mengajukan pertanyaan, kau harus menjawab terlebih dahulu, demi memuaskan rasa ingin tahu kita semua, kau setuju?”
            “Tentu,” jawab Heil asal. “Jadi bagaimana orang yang tidak bisa melihat bisa bertarung sepertimu?”
            “Aku yang bertanya duluan kau tahu?” kata Mirian geli. “Baiklah, untuk menjawab pertanyaanmu. Aku bisa melihat, hanya saja tidak dengan cara yang lazim. Mungkin bisa kau sebut aku memiliki…bakat?”
            Mirian mendengus seusai mengucapkan itu, seolah-olah ‘bakat’ adalah kata yang konyol.
“Aku bisa tahu kalau kita berada di dalam tenda. Aku bisa tahu kau adalah pria yang sangat besar. Aku bisa melihat, tapi aku tidak bisa melihat bagaimana rupa wajahmu dan aku tidak bisa melihat warna-warna di sekelilingku. Aku bisa melihat banyak hal, tetapi aku juga tidak bisa  melihat banyak hal. Aku melihat hal-hal yang tidak bisa kau lihat, dan kau melihat hal-hal yang tidak bisa kulihat.”
“Yang membuatku kembali ke pertanyaan awal, aku tidak bisa melihat apakah kau memiliki tanda di tangan kirimu atau tidak.”
“Bagaimana kau bisa memiliki… bakat itu?” tanya Heil. Dia menekuni jawaban Mirian, namun jawaban itu ternyata hanya membuatnya semakin penasaran.
“Sekarang giliranku anak muda,” gumam Mirian. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Ya, aku memiliki tanda di tanganku,” jawab Heil tak sabar. “Bagaimana kau bisa memiliki bakat itu?”
            Mirian mengangguk-angguk dan tampak puas sebelum menjawab.
            “Setiap orang memiliki bakat tertentu, Heil.” Katanya.
            “Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
            “Tidak, tetapi aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku bisa memiliki.. bakat ini.”
            Dia mengucapkan kata itu dengan nada geli lagi.
            “Giliranku,” lanjut Mirian. “Tanda itu. Apakah itu sudah ada semenjak lahir atau muncul begitu saja pada tangan kirimu?”
            “Tanda ini muncul ketika usiaku sembilan tahun,” jawab Heil. “Kenapa kau sangat tertarik?”
            “Bisa dibilang tanda di tangan kirimu adalah tujuanku datang kemari,” jawab Mirian. “Dan bisa dibilang kedatanganku kemari tidak sia-sia. Katakan, Heil, seberapa banyak yang kau tahu mengenai royal guard?”
            “Royal guard?
           Heil berusaha mengingat-ingat. Dia pernah mendengar istilah itu dari ibunya, cerita-cerita ketika dia kecil.
            “Pengawal kerajaan?” katanya akhirnya. “Apa kau bermaksud mengatakan kau ini pengawal kerajaan?”
            Ini menjelaskan satu hal. Dari cerita ibunya, dia tahu bahwa pengawal kerajaan adalah orang-orang dengan kemampuan bertarung yang hebat. Jika Mirian adalah salah satunya, jelas cerita itu bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan.
            “Ya dan tidak,” jawab Mirian. “Saat ini aku memang pengawal kerajaan, tetapi bukan seorang royal guard.”
            Heil mengernyitkan alisnya.
            “Bukankah mereka sama saja?”
            Mirian menggeleng.
            “Lalu apa hubungannya antara royal itu dengan ketertarikanmu dengan tanda di tanganku?” tanya Heil
            “Sekarang giliranku,” cetus Mirian.
            “Oh demi Ernost!” umpat Heil. “Lupakan permainan konyolmu itu! Apa hubungannya antara royal guard dengan tanganku!?”
            Mirian tertawa.
            “Kau pria yang tidak sabaran,” katanya. “Hubungan antara kedua hal itu sangat erat. Dan tujuanku datang kemari adalah untuk menjelaskan,”
            “Heil,” lanjutnya. “Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Kau mau mendengarkan?”

            “Aku sedang mendengarkan sekarang,” gerutu Heil. Dia agak bingung dengan sikapnya sendiri. Biasanya dia tidak senang mengobrol dan beramah-tamah, tetapi lawan bicaranya kali ini terlalu menarik. Selain itu, samar-samar dia juga penasaran mengenai tanda di tangan kirinya dan sejauh ini Mirian membuatnya tetap tertarik dengan topik ini. 


Saturday, July 2, 2016

Royal Guards - Page 37-39

Chapter 5
Penerus
            “Akan ada waktunya ketika dia mengharapkan penjelasan kedatanganmu, tuan Tartorigal,”
“Di balik perangai dan gaya bertarungnya yang kasar, dia adalah pendengar yang sangat baik,”
“Sesuatu dalam dirimu akan membuatnya mendengar, terutama karena kau sangat misterius,”
“Ceritakan dengan tenang, dan tidak perlu memaksa!”
“Berikan dia waktu untuk mencerna penjelasanmu.”
*
Sepanjang perjalanan ke tendanya, Heil berteriak dan memerintah. Siapapun yang cukup sial mendengar instruksinya, dengan segera dan terburu-buru berusaha memenuhi permintaannya, berlarian kalang kabut.
            “Kau pemimpin yang galak,” kata si pria tua, Mirian Tartorigal.
            Heil mengabaikannya.
            “Ukaro!” (Daging!) umpatnya. “Una teren ukaro!Dariat tuia ukaro!” (Aku ingin daging! Jangan lupakan daging!)
            Perempuan agak tua yang menerima instruksinya mengangguk-angguk kelewat semangat. Bergegas dia berlari dan meneriaki perempuan-perempuan lain yang lebih muda untuk segera memasak.
            Eral yang sedari tadi mengekor Heil—dan tampaknya ingin sekali mengutarakan sesuatu—akhirnya memberanikan diri untuk memprotes.
            “Aria una un rashtad,” katanya pelan. “Maafkan bila hamba terkesan lancang, tetapi tidakkah sambutan semacam ini berlebihan? Terlebih sambutan ini diperuntukkan seorang vorstar!”
            “Simpan pendapatmu Eral,” tukas Heil galak. “Kuingatkan kau siapa pemimpin di sini! Aku tidak butuh persetujuanmu! Bila aku ingin mengadakan pesta penyambutan, aku akan mengadakan pesta penyambutan!
            Eral memucat. Sesuatu dalam ekspresi Heil membuatnya urung berkomentar. Dia menunduk dan meminta maaf.
            “Tinggalkan aku dengan tamuku Eral,” ujar Heil begitu mereka mencapai tendanya. Dia duduk di tempatnya dengan malas.
            Eral membungkuk dan bergegas pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Heil mengalihkan perhatiannya ke tamunya, yang sedari tadi memerhatikannya dengan penuh minat. Meskipun sekali lagi, pria tua itu menatapnya dengan tatapan yang kosong.
            “Ada masalah?” tanya Heil akhirnya, ketika lawan bicaranya tidak berkata apa-apa.
            Dia menjawabnya dengan tertawa kecil, sekali lagi membuat Heil merasa dianggap seperti bocah.
            “Kau,” katanya. “Berbakat dalam mengintimidasi orang lain. Cukup dengan sedikit menaikkan nada suara, kau sudah membuat prajurit terkuatmu sekalipun mundur ketakutan.”
            “Begitu?” kata Heil acuh tak acuh. 
Orang ini tidak mungkin buta, pikir Heil, tetapi tatapan matanya yang menerawang membuatnya bingung. Terlebih, orang yang buta tidak mungkin bisa berduel dengan kemampuan sepertinya. Heil telah menebas, menusuk, dan mengeluarkan seluruh kemampuan berpedangnya melawan orang ini, dan betapa senangnya dia karena Mirian adalah orang pertama yang mampu membuatnya bertarung sungguh-sungguh. Lawannya selama ini sangat membosankan. Tidak banyak  dari mereka yang bahkan selamat dari serangan pertamanya.
Akan tetapi, pria tua ini lain. Tidak hanya semua serangan Heil dipatahkan—padahal dia bersungguh-sungguh—tetapi tidak jarang Heil juga harus bertahan menahan serangan lawannya itu. Setelah lewat setengah jam dalam duel yang menggairahkan itu, Heil akhirnya memutuskan bahwa dia harus mengenal Mirian. Kemampuan bertarungnya membuat Heil penasaran. Tak kurang, Mirian berhasil membuat pingsan, tanpa melukai satu pun di antara para prajuritnya dalam kondisi yang nyaris mustahil.
“Apa maumu vorstar?”  tanyanya waktu itu, di sela-sela pertarungan. Bahkan dia yakin bisa mendengar nada riang dalam suaranya, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Bicara,” dia menjawab.
“Dengan pedang?” tanya Heil lagi tidak percaya. “Kau membunuh para prajuritku vorstar. Kuragukan jawabanmu itu.”
“Mereka menyerang dan aku bertahan,” jawab Mirian. “Lagipula, aku tidak membunuh satu pun dari mereka. Mereka hanya pingsan.”
Setelah itu Heil dibuat takjub ketika menyaksikan para prajuritnya yang sudah roboh, yang dia kira sudah mati, satu per satu kembali sadar.
Heil baru menyadari kalau Mirian masih saja berdiri di tempatnya masuk tadi, jadi dia memberikan isyarat untuknya  agar duduk. Pria tua itu mengambil tempat si salah satu gundukan kulit di hadapan Heil. Meskipun terlihat kurang begitu nyaman, duduk bersilang dengan busana logam yang kaku, Mirian Tartorigal, orang tua yang terlihat seperti orang buta itu bergerak dengan keluwesan yang sama dengan orang dengan penglihatan normal.
            “Aku punya pertanyaan,” kata Mirian tiba-tiba, dengan nada campuran antara pertanyaan dan pernyataan, seolah meminta izin untuk bicara.
            Heil menunggu. Ketika Mirian tidak berkata apa-apa, dia mendecak.
            “Apa?”
            “Aku penasaran dengan satu kata dalam bahasa najril yang beberapa kali ditujukan padaku,” katanya, tersenyum. “Kalau tidak salah.. vor..vorstar? Boleh aku tahu apa artinya?”
            Sejenak Heil memertimbangkan untuk memberikan jawaban asal.
            “vorstar berarti ‘baju besi’,” jawabnya jujur. “Kami menyebut orang-orang yang memakai baju besi—seperti yang kau pakai itu—dengan julukan itu.”
            Mirian mengangguk-angguk paham.
            “Dan kau?” tanyanya lagi. “kuartikan rashtad itu berarti ketua atau sejenisnya?”
            Heil menjawabnya dengan gumaman setuju.
            “Rasanya aneh,” kata Mirian. “Tak satupun dari prajuritmu yang mengerti bahasa Vierre, tetapi kau yang seorang ketua, fasih berbahasa itu.”
            Heil mengabaikan pertanyaan tersirat itu.
            “Apa maumu pak tua?” tanyanya. “Kau mengatakan padaku ingin berbicara. Bicaralah.”
            “Kita sedang berbicara sekarang,” kata Mirian, terdengar geli. “Kau belum memberitahuku namamu anak muda.”
            “Heil,” jawab Heil. “Sekarang bicaralah. Katakan tujuanmu.”
            Mirian menangkupkan kedua tangannya, tampak berpikir. Dia terdiam beberapa saat sebelum bicara lagi.
            “Sebelumnya,” katanya pelan. “Aku ingin memastikan.”
            “Apa?”
            “Tangan kirimu,” Mirian mengarahkan tatapannya ke tangan kiri Heil. “Apakah di punggung tangan kirimu terdapat sebuah tanda?”
            Sedari tadi Heil sudah berusaha memerkirakan tujuan Mirian, namun pertanyaan ini melenceng jauh dari dugaannya. Dia  mengangkat tangan kirinya, memerlihatkan sebuah tanda aneh yang tidak pernah dia gubris, sampai hari ini.

            “Aku bisa tahu kau memerlihatkan punggung tangan kirimu padaku,” kata Mirian, tertawa kecil. “Tapi aku tidak bisa melihat, kau tahu?”


Ok, mungkin ada yang sadar kalau di chapter ini gw STOP membuat bahasa najril,
Ini semata-mata buat mempercepat proses pembuatan draft, tapi gw memang berencana membuat sekitar 17 bahasa di novel ini. Meskipun belum pasti juga jumlahnya segitu.

Thursday, June 30, 2016

Royal Guards - Page 35-36

“Aku menuntut penjelasan!” tuntut Elkal.
            “Kau mencuri kata-kataku!”
            Sven melambaikan tangannya ke sekeliling, berusaha menegaskan maksudnya. “Dua kuda yang mati dan kobaran api yang membakar rumput! Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi tadi?
            “Sesaat yang lalu kau sudah akan terbakar!” Elkal meracau, nampaknya tidak mendengar pertanyaan Sven. “Tapi kau berpindah, dan kau berpindah lagi, dan kau sudah menebas dua orang itu! Bahkan sebelum aku sempat berkedip!”
            Sven menghela nafas.
            “Aku memiliki beberapa trik,”
            “Trik? Kau sebut itu trik?”
            “Cukup!” tukas Sven. “Kau belum menjawab pertanyaanku! Siapa mereka berdua? Kenapa mereka ingin membunuhmu? Oh, tunggu dulu, ini lebih penting! Kenapa mereka juga ingin membunuhku?”
            Elkal mengerjap mendengar amukan Sven.
            “Dan kenapa mereka menghilang menjadi asap?” lanjut Sven geram. “Dan kenapa kudaku mati? Dan apa yang mereka maksud dengan pengguna tanda? Tolong jelaskan!”
            Sven terengah-engah, seakan baru berlari ratusan kilometer.
            “Aku tidak tahu..”
            “Percobaan yang bagus!” sergah Sven galak. “Sekarang coba jawab lagi! Kali ini jawaban yang lain!”
            “Aku tidak tahu!” teriak Elkal, terdengar frustasi. “Aku tidak tahu siapa mereka! Aku tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba menyerangku! Aku tidak tahu kenapa mereka juga menyerangmu! Aku tahu salah seorang dari mereka—Damian—adalah seorang penyihir, tapi kurasa kau juga tahu bagian itu! Aku sama tidak mengertinya seperti kau!”
            Dia juga terengah-engah setelah amukan kecil itu.
            Mereka terdiam selama beberapa saat.
            “Kita harus kembali ke kota,” kata Sven akhirnya. Suaranya menyadarkan betapa letihnya dia saat ini. “Aku butuh minum.”
            Elkal mengangguk. Sven melihat sebuah ekspresi baru terpeta di wajahnya. Pria itu tampak ingin mengutarakan sesuatu, namun ragu.
            “Apa?” tuntut Sven segera. “Apa yang kau pikirkan?”
            “Boleh kulihat tangan kirimu?”
            Sven tidak sempat menjawab karena Elkal sudah mengambil tangan kirinya. Dia melihat punggung tangan itu dan menarik nafas tajam. Tangan kiri Sven memang memiliki sebuah tanda aneh.
            “Ada apa?”
            Elkal menggeleng.
            “Aku butuh minum,” katanya akhirnya. Dia tampak ragu-ragu sesaat. “Aku barangkali tahu apa yang mereka maksud dengan pengguna tanda.”
            “APA? Bagaimana—”
            Elkal mengangkat tangannya, memotong kata-kata Sven.
            “Aku akan menjelaskannya setelah aku minum sesuatu,” katanya letih. Dia tampak ragu-ragu lagi. “Dan aku belum memerkenalkan diri secara resmi padamu.”
            Dia tiba-tiba menunduk hormat.
            “Namaku Elkal Vollenhad,” katanya. “Senang bertemu denganmu Hasven Leingord.”
            Sven menyumpah, merasa heran dengan perubahan sikap ini.
            “Apa-apaan kau—”
            “Dan barangkali kau perlu tahu,” potong Elkal. “Aku ini penyihir.”
*

Royal Guards - Page 32-34

Dua orang asing berdiri berdampingan. Salah seorangnya adalah pria tua, berjenggot panjang, berbadan tegap dan berambut hitam panjang berantakan, tampak liar seperti singa jantan. Yang lain seorang wanita, berambut putih panjang diikat kuda, memakai anting besar berbentuk bulan sabit dan memiliki penampilan yang terkesan mistis. Mereka memakai busana serba hitam dengan mantel panjang berwarna senada. Yang pria membawa sebuah buku besar. Yang wanita bersenjata busur dengan ukuran yang lebih besar dari busur pada umumnya.
            Elkal berada tidak jauh di depan mereka, berlutut dan terengah-engah.  Rumput-rumput di sekelilingnya terbakar. Kudanya terkapar tak jauh darinya, mati.
            Suara derap kuda membuatnya menoleh. Dia tampak terperanjat.
            “Apa yang—kau!” dia berteriak. “Apa yang kau lakukan?! Cepat pergi dari sini!”
            Baiklah, itu bukan reaksi yang diharapkan Sven. Dia menghentikan laju kudanya dan menimbang situasi. Sesungguhnya dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Pemandangan di depannya bukan sesuatu yang biasa dia lihat sehari-hari. Baru beberapa menit yang lalu dia masih berusaha meyakinkan Elkal untuk menerima tawarannya, tetapi disinilah dia sekarang, setelah rentetan kejadian-kejadian aneh.
            Si perempuan menatap lelaki tua di sebelahnya.
            “Sihirmu tidak berfungsi?” tanyanya pelan. Sesuai dengan penampilannya yang mistis, suaranya terdengar dalam dan misterius.  Kesan ganjil yang timbul dari suara itu adalah sensasinya yang seakan bergema dari kejauhan.
            “Dan anak panahmu meleset,” jawab si pria tua. Sensasi aneh ‘gema dari kejauhan’ itu juga menempel pada suaranya yang agak serak dan kental. “Siapapun laki-laki ini, dia bukan orang biasa.”
            Sven punya perasaan kuat bahwa mereka berdua sedang membicarakan dirinya. Akan tetapi isi dari percakapan ini mengherankan. Dia mengamati busur yang dipegang si perempuan. Masa iya anak panah yang tadi melesat mengincarnya berasal dari busur itu?  
            “Siapa kalian!?” seru Elkal tiba-tiba, membuat mereka berdua kembali mengalihkan pandangan acuh tak acuh padanya. “kenapa kalian tiba-tiba menyerangku!?”
            “Ah,” jawab si perempuan. “Kau tidak perlu tahu tuan Vollenhad. Yang perlu kau yakini hanyalah kau akan mati sekarang.”
            Dia mengucapkan kalimat itu dengan nada santai, namun kata-kata dan cara pandangnya penuh janji ancaman dan membuat Sven yakin akan satu hal.  
            Dua orang ini berniat membunuh.
Dia sudah akan menerjang ketika kudanya mengalami hal aneh. Kuda itu bergetar hebat, dan detik berikutnya meringkik kesakitan seakan-akan sesuatu yang tak kasat mata tengah menyiksanya. Sven berkutat dengan kudanya yang bergerak-gerak liar, berusaha menenangkannya, namun tanpa disangka, kudanya ambruk. Sven menyumpah dan melompat tepat pada waktunya sebelum kudanya sendiri membuat kakinya remuk tertimpa. Dia menyaksikan dengan tercengang ketika nyawa kudanya perlahan-lahan merenggang, menggelepar dengan gerakan-gerakan lemah nan layu. Kudanya mati.
            “Bagaimanapun sihirmu berfungsi Damian,” kata si perempuan, menyaksikan kejadian itu dengan sangat tenang. “Siapapun laki-laki ini, nampaknya dia punya imun yang cukup tinggi.”
            Lelaki yang dipanggil Damian itu hanya mengangkat bahu. Dia mengalihkan perhatiannya ke buku besar bawaannya dan mulai membaca. Detik itu juga, ketika mulut darinya tampak bergerak-gerak kecil dalam bisikan halus, suasana berubah. Sven merasakan hawa dingin di sekelilingnya, dan dia terpaku di tempat ketika udara di sekelilingnya seakan-akan menguar, terdistorsi oleh sesuatu yang kasat mata. Sven selalu percaya nalurinya, dan nalurinya kali ini mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi.
            Terdengar suara teriakan Elkal.
            “MENGAPA KAU BENGONG!? MINGGIR DARI SANA!”
            Disusul suara letupan dan hawa panas. Hawa dingin itu serta merta beralih menjadi sangat panas.
            Sven bisa merasakan dirinya terbakar, dan kali ini dia bereaksi secara naluriah.
            Tanpa aba-aba, segalanya berjalan dalam gerak lambat. Sven yakin ada sesuatu yang datang. Dia yakin apa pun itu, apa pun yang menyerangnya berasal persis dari atas tempat dia berdiri. Dia tahu sudah terlambat untuk menghindar. Namun, sekali lagi, semuanya menjadi lambat, seolah-olah alam menghentikan kegiatannya dan dia masih bisa bergerak seperti biasa. Dia bisa melihat ekspresi ketakutan Elkal. Dia bisa melihat ekspresi bosan si perempuan. Dia bisa melihat debu-debu halus yang tertiup angin dalam gerakan yang sangat lambat. Namun, dia hanya berlari, merasa lebih cepat dari siapa pun. Dia menghindari bahaya dengan menerjang ke depan. Udara panas menyerbu di belakangnya. Dari arah yang sama, angin panas menghembus kencang, membuatnya terlempar ke depan, namun dengan cekatan Sven membetulkan posisinya lagi. Ketika dia menoleh, dia bisa melihat kobaran api raksasa yang menyelimuti tempatnya berada tadi, menjilat-jilat dengan liar, lagi-lagi dalam gerakan yang sangat lambat.
            “Mustahil!”
            Seruan ini membuatnya kembali fokus, melupakan kobaran api itu dan mengalihkan perhatiannya. Dia tidak membuang waktu. Hanya tersisa waktu beberapa detik sebelum kekuatannya habis. Dia berlari seraya menghunus pedangnya. Ruang lingkup sekelilingnya masih dalam gerak lambat sementara dia adalah satu-satunya pengecualian. Kedua orang berjubah hitam itu bahkan tidak sempat bereaksi ketika dia menebas, pertama si laki-laki, yang disebut Damian, kemudian si perempuan tak bernama. Mereka berdua ambruk ketika alam kembali berjalan normal. Gerakan-gerakan yang melambat berangsur-angsur menjadi gerakan yang seharusnya. Sven merasakan gerakannya menjadi normal lagi, seperti seharusnya.
            “Apa yang—bagaimana kau—bagaimana—”
            Sven bisa mendengar Elkal tergagap di belakangnya. Pria itu pastilah bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi. Bagaimanapun, perhatian Sven teralihkan total ketika dia menyadari ketiadaan darah di pedang maupun di tubuh dua orang yang ditebasnya. Namun, yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika si lelaki tua mendengus.
            “Pengguna tanda,” katanya, terdengar mengejek, bahkan dalam kondisinya yang terkapar. “Seharusnya aku tahu.”
            Seusai mengatakan itu, dia menguap. Sosok tubuh itu berubah menjadi asap hitam yang menguar ke atas, meliuk-liuk seperti ular sebelum akhirnya hilang tanpa bekas.
            “Jadi begitu,” si perempuan berkata, juga terdengar mengejek dalam kondisinya. “Kita akan bertemu lagi, pengguna tanda.”
            Dan seperti rekannya, dia menguap menjadi asap hitam dan lenyap.
            Sven terpana memandang kejadian-kejadian itu, kesulitan mencerna apa yang baru saja terjadi.
            Ini benar-benar memberikanku definisi baru mengenai kata aneh.

*