“Tuan Harken,” kata Viseris, dengan
suara yang sama sekali tidak seperti dirinya. “Apakah semua laki-laki memiliki
rupa menarik sepertimu?”
Di
sebelahnya, Myana bisa mendengar upaya Nartaria menyamarkan dengusan menjadi
suara batuk dengan cukup sukses.
Harken
yang berjalan mengimbangi mereka bertiga—Myana yakin dia bisa bergerak jauh
lebih cepat jika dia mau—tersenyum lagi. Viseris tentu saja, sudah menguasai
dirinya terhadap efek senyuman itu. Dia gadis yang hebat.
“Kalian
boleh memanggilku Harken,” katanya. “Dan terima kasih Viseris. Kau membuatku
tersipu-sipu.”
Mungkin
laki-laki memang pandai berbohong. Ekspresi apa pun yang muncul di wajah
Harken, tersipu-sipu jelas bukan salah satunya.
“Seperti
perempuan, setiap laki-laki juga memiliki rupa masing-masing tentu saja,”
katanya lagi.
“Jika
semua laki-laki sepertimu kurasa aku akan sangat menyukai mereka.”
Dengan
hebat, Nartaria menyamarkan lagi suara dengusannya. Bagaimana bisa Viseris
mengucapkan kata-kata seperti itu dengan wajah datar?
Harken
tertawa, terdengar agak gugup.
“Hentikan
Viseris,” katanya. “Kau sungguh membuatku tersipu-sipu.”
Dan
kali ini Myana bisa melihat sedikit rona
merah samar di pipi pria itu. Oh, ternyata dia tidak berbohong. Mungkin memang
tersipu-sipu versi laki-laki dan perempuan berbeda.
Nartaria
berbisik pada Myana.
“Kau
seharusnya mengajaknya mengobrol!” desisnya. “Dia ini kan pelindung kakakmu! Dan dia membutuhkan bantuan!”
Myana
keheranan mendengar pernyataan ini. Dia melihat lagi ekspresi Harken. Dia
memang tampak kelihatan tidak nyaman. Viseris menggelutinya seperti ular liar
dan Harken, kendati dengan cara yang halus, berupaya menjauhkan diri darinya. Nartaria
memang sangat observan.
“Harken!”
panggil Myana tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri. Dia menempatkan dirinya
di antara Harken dan Viseris. Gadis itu tidak repot-repot menyembunyikan
ekspresi kesalnya, namun Myana mengabaikannya. Harken tampak sekali lega. Dia
tersenyum ramah.
Myana
berusaha mengontrol dirinya. Dia balas tersenyum.
“Ceritakan
padaku mengenai Minasa, Harken,” pintanya. “Aku sudah lama sekali tidak bertemu
dengannya.”
“Kau
akan bertemu dengannya sebentar lagi,” celetuk Viseris. Nartaria dengan sigap
mengajaknya mengobrol.
“Aku
menyukai hiasan bunga di kepalamu Viseris! Apa kau membuatnya sendiri? Kau
sangat berbakat!”
Dan
mendengar pujian ini, perhatian Viseris teralihkan.
“Minasa
tentu saja sangat merindukanmu,” kata Harken, tidak menyadari upaya Nartaria
dan Myana untuk menjauhkannya dari Viseris. “Dia selalu bercerita padaku
tentang adiknya yang unik. Aku bisa melihatnya sekarang.”
Myana
merasakan senyumnya menghilang.
“Apa
aku salah bicara?” kata Harken, menyadari perubahan ekspresi Myana.
Myana
menggeleng. Dia harus mengubah kebiasaannya ini, muram ketika seseorang mulai
membicarakan perbedaan dirinya.
Harken
tampak kurang yakin, namun Myana tersenyum lagi, berusaha membuatnya
melanjutkan.
“Dia
bersikeras harus aku yang menjemputmu,” katanya, tersenyum dengan tatapan
menerawang. “Aku agak heran, maksudku, bukankah seharusnya dia sendiri yang
menjemputmu? Tapi dia sangat memaksa. Dia bisa menjadi sangat pemaksa.”
Harken
tertawa kecil. Hanya dari obrolan singkat itu Myana menyadari sesuatu. Ketika
Harken membicarakan kakaknya, tatapan matanya melembut.
“Kau
menyukai kakakku,” ucap Myana tanpa sadar.
Sekali
lagi Myana melihat rona merah samar di pipi lawan bicaranya itu.
“Kurasa
‘suka’ bukan istilah yang tepat,” ucapnya, tersenyum.
“Kau
sangat menyukainya kalau begitu?”
“Bisa
dibilang begitu,” jawab Harken, tertawa.
No comments:
Post a Comment