Monday, October 31, 2016

Royal Guards - Page 53-54

“Tuan Harken,” kata Viseris, dengan suara yang sama sekali tidak seperti dirinya. “Apakah semua laki-laki memiliki rupa menarik sepertimu?”
            Di sebelahnya, Myana bisa mendengar upaya Nartaria menyamarkan dengusan menjadi suara batuk dengan cukup sukses.
            Harken yang berjalan mengimbangi mereka bertiga—Myana yakin dia bisa bergerak jauh lebih cepat jika dia mau—tersenyum lagi. Viseris tentu saja, sudah menguasai dirinya terhadap efek senyuman itu. Dia gadis yang hebat.
            “Kalian boleh memanggilku Harken,” katanya. “Dan terima kasih Viseris. Kau membuatku tersipu-sipu.”
            Mungkin laki-laki memang pandai berbohong. Ekspresi apa pun yang muncul di wajah Harken, tersipu-sipu jelas bukan salah satunya.
            “Seperti perempuan, setiap laki-laki juga memiliki rupa masing-masing tentu saja,” katanya lagi.
            “Jika semua laki-laki sepertimu kurasa aku akan sangat menyukai mereka.”
            Dengan hebat, Nartaria menyamarkan lagi suara dengusannya. Bagaimana bisa Viseris mengucapkan kata-kata seperti itu dengan wajah datar?
            Harken tertawa, terdengar agak gugup.
            “Hentikan Viseris,” katanya. “Kau sungguh membuatku tersipu-sipu.”
           Dan kali ini Myana bisa melihat sedikit rona merah samar di pipi pria itu. Oh, ternyata dia tidak berbohong. Mungkin memang tersipu-sipu versi laki-laki dan perempuan berbeda.
            Nartaria berbisik pada Myana.
            “Kau seharusnya mengajaknya mengobrol!” desisnya. “Dia ini kan pelindung kakakmu! Dan dia membutuhkan bantuan!”
            Myana keheranan mendengar pernyataan ini. Dia melihat lagi ekspresi Harken. Dia memang tampak kelihatan tidak nyaman. Viseris menggelutinya seperti ular liar dan Harken, kendati dengan cara yang halus, berupaya menjauhkan diri darinya. Nartaria memang sangat observan.
            “Harken!” panggil Myana tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri. Dia menempatkan dirinya di antara Harken dan Viseris. Gadis itu tidak repot-repot menyembunyikan ekspresi kesalnya, namun Myana mengabaikannya. Harken tampak sekali lega. Dia tersenyum ramah.
            Myana berusaha mengontrol dirinya. Dia balas tersenyum.
            “Ceritakan padaku mengenai Minasa, Harken,” pintanya. “Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.”
            “Kau akan bertemu dengannya sebentar lagi,” celetuk Viseris. Nartaria dengan sigap mengajaknya mengobrol.
            “Aku menyukai hiasan bunga di kepalamu Viseris! Apa kau membuatnya sendiri? Kau sangat berbakat!”
            Dan mendengar pujian ini, perhatian Viseris teralihkan.
            “Minasa tentu saja sangat merindukanmu,” kata Harken, tidak menyadari upaya Nartaria dan Myana untuk menjauhkannya dari Viseris. “Dia selalu bercerita padaku tentang adiknya yang unik. Aku bisa melihatnya sekarang.”
            Myana merasakan senyumnya menghilang.
            “Apa aku salah bicara?” kata Harken, menyadari perubahan ekspresi Myana.
            Myana menggeleng. Dia harus mengubah kebiasaannya ini, muram ketika seseorang mulai membicarakan perbedaan dirinya.
            Harken tampak kurang yakin, namun Myana tersenyum lagi, berusaha membuatnya melanjutkan.
            “Dia bersikeras harus aku yang menjemputmu,” katanya, tersenyum dengan tatapan menerawang. “Aku agak heran, maksudku, bukankah seharusnya dia sendiri yang menjemputmu? Tapi dia sangat memaksa. Dia bisa menjadi sangat pemaksa.”
            Harken tertawa kecil. Hanya dari obrolan singkat itu Myana menyadari sesuatu. Ketika Harken membicarakan kakaknya, tatapan matanya melembut.
            “Kau menyukai kakakku,” ucap Myana tanpa sadar.
            Sekali lagi Myana melihat rona merah samar di pipi lawan bicaranya itu.
            “Kurasa ‘suka’ bukan istilah yang tepat,” ucapnya, tersenyum.
            “Kau sangat menyukainya kalau begitu?”

            “Bisa dibilang begitu,” jawab Harken, tertawa.


No comments: