Apa pun gambaran yang pernah dia
bayangkan mengenai sosok laki-laki sekarang tampaknya sangat konyol.
Laki-laki di hadapan mereka bertubuh
sangat besar. Dia berbahu lebar dan berdada bidang. Dia memakai pakaian dari kain hitam yang
ketat dan.. membentuk. Dia memakai celana panjang yang terbuat dari bahan yang
tampak kasar, lagi-lagi dalam balutan yang ketat dan.. membentuk.
Seperti inikah rupa laki-laki?
Laki-laki ternyata sangat berbeda dari perempuan. Setiap potongan
tubuhnya tampak terpahat dan kasar. Ukuran dan bentuk tubuhnya mengintimidasi
dan herannya.. menarik. susah payah, Myana mengalihkan tatapannya dari tubuh
makhluk asing itu dan menatap wajahnya. Ini tidak membuatnya merasa lebih baik.
Wajah
laki-laki ini sangat berbeda, kasar dan herannya menarik. Matanya berwarna emas. Dia berambut
ikal sepanjang leher dan tergerai begitu saja, menimbulkan kesan liar.
Rambutnya indah berwarna pirang. Rahangnya tegas, dan dagunya lebar. Hidungnya
besar dan mancung. Tulang pipinya menonjol dalam pahatan yang memesona. Dia
tersenyum, dan selagi melakukan itu, Myana bisa melihat dua buah lesung pipit
tersingkap di pipinya.
Astaga. Wow. Astaga. Wow.
Myana susah payah memerintahkan
jantungnya—yang sedari tadi berdetak-detak liar—untuk tenang. Dia melirik
Nartaria yang wajahnya memerah. Viseris masih saja terperangah.
“Wow,”
Viseris berceletuk lagi, dan Myana paham maksudnya.
Ibunya
mengambil alih. Dia menghampiri laki-laki itu dan laki-laki itu tersenyum
semakin lebar.
Astaga. Wow. Astaga. Wow.
“Ibu mertua,” katanya, mengecup
tangan kanan ibunya. Suaranya bahkan sangat lain! Rendah dan dalam dan menarik. “Miranda, kau terlihat sangat
cantik seperti biasa!”
Myana
takjub ketika melihat ibunya tidak meleleh di tempat.
“Harken,”
sapanya terkekeh. “Bisa kulihat kau belum kehilangan pesonamu. Kau membuat tiga
gadis malang ini kehilangan kemampuan bicara!”
Myana
merasakan wajahnya memanas. Wajahnya pasti merah padam sekarang.
“Viseris,
tutup mulutmu!”
Viseris
diingatkan lagi oleh ibunya ketika sikutan di rusuk ternyata tidak berpengaruh.
Lelaki
yang disebut Harken ini mengamati penyambutnya. Tatapannya berhenti ketika
melihat Myana. Myana susah payah menahan dirinya untuk tetap berdiri tegak.
Bisa dilihat ibunya menahan tawa.
“Myana!”
katanya. Dan dia menghampiri. Myana yakin dirinya akan pingsan saat itu juga.
“Minasa bercerita banyak tentangmu!”
“errr..”
adalah respon terbaik yang bisa diberikan olehnya.
Untungnya,
Harken mengalihkan tatapannya ke Nartaria, yang tampak terlonjak.
“Dan
kau pasti Nartaria!” ucapnya riang.Laki-laki itu beralih lagi ke Viseris, yang
terpekik.
“Dan
kau pasti Viseris!” katanya lagi. Viseris tampaknya bisa mati bahagia saat itu
juga.
“Harken,”
panggil ibu Myana, terdengar geli. “Berhenti menebar pesonamu! Tunggulah
sebentar di sana sampai kami selesai mengucapkan salam perpisahan!”
“Tentu
saja Miranda.”
Dia
menunggu di depan lorong.
“Ibu,”
ucap Myana pelan begitu ibunya kembali ke hadapannya. “Dia.. sangat..”
Ibunya
menatapnya tersenyum.
“Aku
mengerti perasaanmu nak,” katanya. “Butuh waktu cukup lama untukku terbiasa
dengannya ketika Minasa memerkenalkannya padaku.”
“Apakah
semua laki-laki tampak sepertinya?”
Ibunya
tertawa kecil.
“Tidak,
kurasa tidak.”
Bagus.
Jika semua laki-laki tampak seperti Harken, Myana mengkhawatirkan kondisi
jantungnya. Agak sulit soalnya jika dia harus mengontrol degup jantungnya yang
tak beraturan setiap kali melihat laki-laki.
“Ayahmu
juga memiliki pesona seperti Harken,”
Dalam
kesempatan yang jarang, terkadang ibunya menceritakan sedikit tentang ayahnya.
Seusai mengucapkan itu dia tampak muram.
“Kau
tidak ingin mengunjunginya?” ujar Myana hati-hati.
“Kau
tahu aku sudah mengunjunginya berkali-kali Myana. Setiap bulan. Ini bukan waktu
untuk keluar hutan bagiku.”
Dia
tampak semakin muram.
“Tapi
kau harus mengunjunginya Myana! Dia
akan sangat senang melihatmu!”
Tiba-tiba
ibunya memeluknya.
“Sampaikan
salamku pada kakakmu, Minasa, dan pada ayahmu. Jika kau bermalam di tempat ayahmu,
aku akan ke sana tiga minggu lagi. Kita bertiga bisa bercakap-cakap.”
Myana
baru sadar dirinya terisak lagi.
“Harken
akan menjagamu selama perjalanan. Bersikap sopanlah padanya! Dia laki-laki yang
baik.”
“Tentu
ibu,” jawab Myana, mendadak tertawa kecil. “Jika
aku bisa berbicara normal dengannya.”
Ibunya
juga tertawa.
“Kau
akan segera terbiasa,” janjinya.
*
No comments:
Post a Comment