Thursday, October 20, 2016

Royal Guards - Page 51-52

Apa pun gambaran yang pernah dia bayangkan mengenai sosok laki-laki sekarang tampaknya sangat konyol.
            Laki-laki di hadapan mereka bertubuh sangat besar. Dia berbahu lebar dan berdada bidang.  Dia memakai pakaian dari kain hitam yang ketat dan.. membentuk. Dia memakai celana panjang yang terbuat dari bahan yang tampak kasar, lagi-lagi dalam balutan yang ketat dan.. membentuk.
            Seperti inikah rupa laki-laki?
            Laki-laki ternyata sangat berbeda dari perempuan. Setiap potongan tubuhnya tampak terpahat dan kasar. Ukuran dan bentuk tubuhnya mengintimidasi dan herannya.. menarik. susah payah, Myana mengalihkan tatapannya dari tubuh makhluk asing itu dan menatap wajahnya. Ini tidak membuatnya merasa lebih baik.
            Wajah laki-laki ini sangat berbeda, kasar dan herannya menarik. Matanya berwarna emas. Dia berambut ikal sepanjang leher dan tergerai begitu saja, menimbulkan kesan liar. Rambutnya indah berwarna pirang. Rahangnya tegas, dan dagunya lebar. Hidungnya besar dan mancung. Tulang pipinya menonjol dalam pahatan yang memesona. Dia tersenyum, dan selagi melakukan itu, Myana bisa melihat dua buah lesung pipit tersingkap di pipinya.
            Astaga. Wow. Astaga. Wow.
            Myana susah payah memerintahkan jantungnya—yang sedari tadi berdetak-detak liar—untuk tenang. Dia melirik Nartaria yang wajahnya memerah. Viseris masih saja terperangah.
            “Wow,” Viseris berceletuk lagi, dan Myana paham maksudnya.
            Ibunya mengambil alih. Dia menghampiri laki-laki itu dan laki-laki itu tersenyum semakin lebar.
            Astaga. Wow. Astaga. Wow.
            “Ibu mertua,” katanya, mengecup tangan kanan ibunya. Suaranya bahkan sangat lain! Rendah dan dalam dan menarik. “Miranda, kau terlihat sangat cantik seperti biasa!”
            Myana takjub ketika melihat ibunya tidak meleleh di tempat.
            “Harken,” sapanya terkekeh. “Bisa kulihat kau belum kehilangan pesonamu. Kau membuat tiga gadis malang ini kehilangan kemampuan bicara!”
            Myana merasakan wajahnya memanas. Wajahnya pasti merah padam sekarang.
            “Viseris, tutup mulutmu!”
            Viseris diingatkan lagi oleh ibunya ketika sikutan di rusuk ternyata tidak berpengaruh.
            Lelaki yang disebut Harken ini mengamati penyambutnya. Tatapannya berhenti ketika melihat Myana. Myana susah payah menahan dirinya untuk tetap berdiri tegak. Bisa dilihat ibunya menahan tawa.
            “Myana!” katanya. Dan dia menghampiri. Myana yakin dirinya akan pingsan saat itu juga. “Minasa bercerita banyak tentangmu!”
            “errr..” adalah respon terbaik yang bisa diberikan olehnya.
            Untungnya, Harken mengalihkan tatapannya ke Nartaria, yang tampak terlonjak.
            “Dan kau pasti Nartaria!” ucapnya riang.Laki-laki itu beralih lagi ke Viseris, yang terpekik.
            “Dan kau pasti Viseris!” katanya lagi. Viseris tampaknya bisa mati bahagia saat itu juga.
            “Harken,” panggil ibu Myana, terdengar geli. “Berhenti menebar pesonamu! Tunggulah sebentar di sana sampai kami selesai mengucapkan salam perpisahan!”
            “Tentu saja Miranda.”
            Dia menunggu di depan lorong.        
            “Ibu,” ucap Myana pelan begitu ibunya kembali ke hadapannya. “Dia.. sangat..”
            Ibunya menatapnya tersenyum.
            “Aku mengerti perasaanmu nak,” katanya. “Butuh waktu cukup lama untukku terbiasa dengannya ketika Minasa memerkenalkannya padaku.”
            “Apakah semua laki-laki tampak sepertinya?”
            Ibunya tertawa kecil.
            “Tidak, kurasa tidak.”
            Bagus. Jika semua laki-laki tampak seperti Harken, Myana mengkhawatirkan kondisi jantungnya. Agak sulit soalnya jika dia harus mengontrol degup jantungnya yang tak beraturan setiap kali melihat laki-laki.
            “Ayahmu juga memiliki pesona seperti Harken,”
            Dalam kesempatan yang jarang, terkadang ibunya menceritakan sedikit tentang ayahnya. Seusai mengucapkan itu dia tampak muram. 
            “Kau tidak ingin mengunjunginya?” ujar Myana hati-hati.
            “Kau tahu aku sudah mengunjunginya berkali-kali Myana. Setiap bulan. Ini bukan waktu untuk keluar hutan bagiku.”
            Dia tampak semakin muram.
            “Tapi kau harus mengunjunginya Myana! Dia akan sangat senang melihatmu!”
            Tiba-tiba ibunya memeluknya.
            “Sampaikan salamku pada kakakmu, Minasa, dan pada ayahmu. Jika kau bermalam di tempat ayahmu, aku akan ke sana tiga minggu lagi. Kita bertiga bisa bercakap-cakap.”
            Myana baru sadar dirinya terisak lagi.
            “Harken akan menjagamu selama perjalanan. Bersikap sopanlah padanya! Dia laki-laki yang baik.”
            “Tentu ibu,” jawab Myana, mendadak tertawa kecil. “Jika aku bisa berbicara normal dengannya.”
            Ibunya juga tertawa.
            “Kau akan segera terbiasa,” janjinya.

*

No comments: