Monday, August 15, 2016

Royal Guards - Page 42-43

“Bagus,” kata Mirian tampak senang. “Karena apa yang ingin kuceritakan sangat penting, dan aku butuh kau untuk mendengarkan sungguh-sungguh.”
            Dia terdiam beberapa saat.
            “Dulu, dulu sekali, ketika dunia ini masih terbagi menjadi dua belas bangsa, terdapat sebuah entitas gelap, seorang demigod  bernama Talkarom,”
            “Apa-apaan—apa hubungannya itu dengan ini semua!?”
            “Jika kau mau mendengarkan,” kata Mirian pelan. “Kau akan melihat kaitannya, aku janji.”
            Heil mengumpat pelan.
            “Baiklah!” katanya. “Lanjutkan!”
            Untuk kesekian kalinya Mirian tertawa kecil.
            “Kau pria yang tidak sabaran,” katanya, lagi-lagi mengulang kalimat itu. “Agak sulit menceritakan ini jika ada interupsi.”
            “Aku tidak akan menginterupsi lagi,” Heil berdecak. “Sekarang lanjutkan ceritamu!”
            Mirian terkekeh lagi sebelum melanjutkan.
            “Demigod—jika kau belum tahu—adalah entitas misterius di dunia ini. Mereka memiliki kemampuan luar biasa, dan bersedia meminjamkannya kepada orang tertentu, dengan imbalan tertentu,”
            “Talkarom adalah demigod sangat kuat yang memiliki kemampuan memanggil pasukan dari kegelapan, dan bersama kontraktornya, dia meneror dunia, memusnahkan enam bangsa dalam tiraninya, menyisakan enam bangsa yang sekarang.”
            “Keenam bangsa ini bersatu untuk melawan, namun rupanya persatuan mereka bahkan tidak cukup kuat untuk memusnahkan Talkarom,”
            “Satu fakta mengenai demigod, bahwa tiap-tiap dari mereka memiliki pasangan, atau barangkali lebih tepat disebut lawan. Analogikan saja dengan air dan api sebagai contoh yang sederhana. Keenam bangsa yang sudah putus asa saat itu akhirnya meminta tolong pada demigod pasangan Talkarom, Keliandras,”
            “Keliandras menyanggupi permintaan enam bangsa, namun dia tidak bersedia membunuh Talkarom. Ketika itu dia menjelaskan bahwa keberadaan mereka saling melengkapi satu sama lain. Jika Talkarom mati, Keliandras juga otomatis akan ikut mati.”
            “Keliandras menawarkan solusi yang lain. Dia memerintah enam bangsa untuk menyegel dirinya, karena jika dirinya tersegel, maka otomatis Talkarom juga akan ikut tersegel.”
            “Kenapa tidak bunuh saja si Keliandras?” Heil tidak tahan untuk tidak bertanya.
            “Keliandras adalah seorang demigod,” kata Mirian mengingatkan. “Dan dia juga kuat seperti Talkarom.”
            “Kemudian,” lanjut Mirian, seolah-olah tidak ada interupsi dari Heil. “Keenam bangsa akhirnya menyegel Keliandras dengan memecahnya menjadi enam bagian,”
            “Memecah?” Heil bertanya lagi.
            “Memecah, membagi, membelah, sebut saja istilah yang kau suka,” kata Mirian. “Keenam bangsa memecah Keliandras menjadi enam, dan sesuai janji, Talkarom tersegel.”
            “Keenam bagian dari Keliandras kemudian dibagi kepada masing-masing bangsa untuk dijaga, untuk memastikan Talkarom tetap tersegel selama-lamanya. Senjatanya untuk bangsa Fluffen, Permatanya untuk bangsa Erros, Medium atau tubuhnya untuk bangsa  Elrika, Esensi rohnya untuk bangsa Charment, Pakaiannya untuk bangsa Anima dan terakhir Esensi kekuatannya untuk bangsa kita, bangsa Vierr,”
            “Kekuatan dari Keliandras sangat besar, sehingga bagian ini dipecah lagi. Kekuatan utama kepada satu orang, sementara kekuatan-kekuatan ‘kecil’ lainnya kepada orang-orang yang lain. Pemilik kekuatan ini ditandai dengan sebuah tanda atau lambang khusus di punggung tangan kirinya,”
            Heil merasakan jantungnya berdetak kencang. Mirian tidak tampak menyadari kegelisahan Heil dan tetap melanjutkan ceritanya.
            “Tanda ini terus berpindah dari generasi ke generasi. Kekuatan utama, esensi yang paling penting, diwariskan secara turun temurun, dan pemilik tanda ini adalah anggota kerajaan,”
            “Ketujuh tanda yang lain berbeda. Mereka memilih tuannya. Ketika ada pewaris tanda utama yang baru lahir, Ketujuh tanda ini memilih tujuh orang yang mereka anggap pantas sebagai pelindung pemegang tanda utama. Orang-orang yang dipilih tanda inilah yang disebut sebagai royal guard,”
            “delapan belas tahun yang lalu, seorang pewaris tanda lahir, seorang putri bernama putri Lili. Segera setelah itu, tujuh tanda yang lain mencari tuan yang baru. dua di antara tanda itu tetap berada di tangan royal guard pelindung pewaris sebelum putri Lili, raja Bern, sementara lima tanda yang lain berpindah,”
            “Aku dulunya adalah seorang royal guard.”

            Mirian sudah berhenti bicara sekarang dan menatap Heil penuh-penuh, meskipun tatapannya tidak terfokus. Dia menunggu Heil untuk berkomentar. Rupanya ini sulit. Heil berusaha mencerna apa yang baru saja dia dengar.


This part is a short version. I will edit it much much later...

Friday, August 12, 2016

Cowok Petakilan - Chapter 8


Ceritanya gue lagi cross check siapa-siapa aja yang mau gue kenalin.

Pano dan Clarin, check.

Vino, check.

Naya, check.

Pongki, check.

Sisa Eren ya?

Gimana kalau Eren di skip aja? Dia itu kasusnya agak unik soalnya. lagipula udah pada gatel kali ya daritadi gue cerita ngalor ngidul ga keruan. Padahal ada persoalan penting yang mesti kudu wajib dibahas.

Suasana hening banget setelah pernyataan jedar dari Vino. Gue yang duduk sebelahan sama Pongki saling pandang. Pongki tampangnya cengo kaya orang kurang vitamin E. Dalem hati gue juga kepikiran, kayanya muka gue kurang lebih sama kaya gitu. Ga sih. Gue mah selalu fabulous dalam segala kondisi, hehehe.

Clarin yang pertama kali pulih.

"Jatuh cinta gimana bang?" dia nanya pelan.

Mungkin karena gue selalu merhatiin Clarin kali ya, jadi bisa gue notice kalau dia ngelirik ga nyaman ke arah Naya. Otomatis gue juga jadi ngeliat Naya. agak penasaran juga sama reaksi dia, coz dia kan selalu keukeuh kalau dia naksir sama Vino.

Tapi Naya tampak kalem-kalem aja.

"Ya ga gimana-gimana!" Vino jawab. "Pokoknya gue galau sekarang!"

"Sama siapa?" Clarin nanya lagi. "Weekend ini bang Vin ketemu cewek? Di mana? Kok bisa jatuh cinta?"

Rentetan pertanyaan itu dicuekin sama Vino. Dia masih aja tutup muka kayak putri malu. Emang Vino brengsek. Jangan nyuekin Clarin dong! Gantian nanya gue aja lah Clarin. Gue siap.

"Paling boong," di belakang, Eren nyeletuk. "Penjahat kelamin mana bisa jatuh cinta."

Sedikit info tentang Eren, dia itu jarang ngomong dan paling susah dibuat ketawa. Tapi sekalinya ngomong pasti kata-katanya bikin sakit. Gue sampai sekarang masih gagal paham kenapa bisa temenan sama manusia satu ini. Golongan darahnya AB sih. Kalau gue baca di instagram, emang golongan darah AB kaya gitu sifatnya. Kalo gue O. Kalo Clarin A. Berarti calon anak kita kalo ga O ya A.

Buat yang belum nyadar, gue anaknya emang gampang teralihkan, trims.

"Gue ga boong nyet!" Vino marah. Eren jadi kaget, karena biasanya Vino paling kalem nanggepin kata-kata dia. Rasain lo ren!

"Oke," kata Clarin. "Cerita dong bang kalau gitu!"

"Bentar!" yang teriak malah Naya. Dia banting setir, bikin seisi mobil shock dan teriak kaya orang naik wahana dufan. Dia baru aja parkir dengan indahnya di pinggir jalan ala-ala film fast and furious. Detik-detik berlalu dan kita semua berusaha bikin suara lagi. Gue yang kegencet Vino agak susah mau komentar juga.

"Naya!" semuanya ngomel, tapi Naya tampak cuek.

"Jangan cerita pas gue lagi nyetir dong!" omelnya cempreng. "Kan gue pengen fokus dengerin juga!"

"Gapapa nih kita parkir disini?" celetuk Clarin.

"Siapa yang parkir?" kata Naya ngeselin. "Kita kan masih di mobil, jadi ini bukan parkir! Lagipula aku udah ngasih lampu sen kok kak! Tenang!"

"Ga mesti banting setir juga kan, dek."

Naya selalu manggil Clarin kak dan Clarin manggil dia dek. Cuman mereka berdua yang ngomongnya pake aku-kamu-an.

"Biarin!"

Naya beralih dari Clarin ke Vino.

"Yaudah lanjut bang! Cerita cepet!"

 Vino keliatan ga nyaman setelah ditembak langsung kaya gitu. Dia bergumam ga jelas.

"Mau cerita apa gak!?" tanya Naya galak, kaya anak kurang kalsium.

"Iya bentar!" Vino bales galak. "Bingung abang cerita dari mana!"

O iya.Vino juga selalu bilang dirinya 'abang' ke Naya doang. Ga tau kenapa. Mungkin karena Naya yang paling muda kali ya?

Clarin membantu menengahi.

"Coba cerita dulu kenapa bang Vino bisa tiba-tiba sadar gitu, kalau abang jatuh cinta."

Sebenernya bukan cuman Clarin doang yang penasaran, tetapi kita kita juga. Ejekan Eren tadi juga ga jauh dari kenyataan, karena diem-diem gue juga berpikiran sama : masa iya seorang Alvino Salman Pranatya bisa jatuh cinta? Kalau orangnya model gue sih gue percaya.

"Oke-oke," akhirnya Vino ngomong. "So... where to start? Hmmmm... It happens on saturday."

terdengar suara mm-hm dari seisi mobil. Kita udah kaya psikiater yang manggut-manggut denger pasiennya cerita.

"I met this girl on a bar, you know, biasalah, malem minggu."

mm-hm lagi.

"And you know me lah, we flirt, dancing, drink, fooling around for a bit, you know, usual stuff."

mm-hm lagi.

"Stop that!"

Kayanya Vino ga suka sama reaksi mm-hm kita.

"Kita kan dengerin," Eren ngasih kejelasan.

"Ya ga usah pake hem-ham-hem kaya gitu! Ngeselin!"

"Oke," Clarin bilang. "Siapa nama cewek itu bang?"

Vino mikir.

"Lupa," katanya.

"He?? Bukannya kata lo, lo jatuh cinta!? Kok bisa lupa!?" Pongki nanya heran.

"Gue ga bilang gue jatuh cinta sama cewek ini!"

Nah loh. Gue dan yang lain jadi bingung sama arah cerita Vino mau dibawa kemana.

"Anyway, we really hit it up, and after that, you know, usual stuff."

Usual stuff disini berarti Vino dan si cewek malang itu berangkat ke hotel terdekat. Gue udah kasih tau belum kalau ini ceritanya buat 18 tahun ke atas? Yang belum 18 tahun, pergi jajan dulu sana!

"We fooled around, kissing, making out--"

"Too much information!" Naya motong.

"Sorry--" Vino minta maaf. Ga biasanya dia minta maaf kalo cerita vulgar kaya gini. "Basically, after that, I prepared my condom..."

Sampe bagian ini Vino nyembunyiin mukanya lagi. Dia berbisik pelan banget sampe kita semua yang dengerin mesti mepet ke dia biar bisa denger.

"My big brother... he couldn't....dia ga bangun-bangun..."

Vino selalu ngasih moniker ke 'barang'nya dengan julukan konyol 'big brother'.

 "OH MY GOD!" kita semua teriak.

"APA URUSANNYA ITU SAMA JATUH CINTA!!!" Di belakang, Pano emosi.

"Apaan sih bang!" Naya keliatan jengkel. "Gue udah sampe nepi kaya gini loh!"

Bahkan Clarin yang paling sabar sekalipun keliatan kesel.

"Bentar!!! DENGERIN GUE DULU!!!" Vino ikutan emosi.

Meskipun sempet rame, kita akhirnya dengerin cerita Vino lagi.

"It never happen!" Vino berkata geram. Dia kaya gemes ngeliat kelakuan kita yang kesel karena cerita dia. "Secape-capenya gue, my big brother NEVER failed me! Dan gue juga ga mabuk-mabuk amat, jadi harusnya ga kaya gitu!"

"Gue jalan lagi ya!" Naya udah balik megang setir.

"BENTAR!!" Vino makin geram. "Gue akhirnya bisa bikin dia bangun! Itupun karena gue ngebayangin satu orang!"

Naya serta merta balik badan lagi. Kita yang tadinya udah lanjut kegiatan masing-masing, jadi mepet ke Vino lagi.

Vino keliatan malu lagi.

"I... Gue cuman bisa bikin big brother bangun kalau mikirin dia... jadi di situ gue sadar kalau gue jatuh cinta..."

"So...," Naya berkata lambat-lambat. "Abang akhirnya ngapain?"

Vino memalingkan muka. Ini kiasan loh ya. Muka ga bisa dimaling.

"She's a woman in need," kata Vino pelan. "I did my job."

Kita semua bilang 'yaelah'.

"Tapi sepanjang itu gue ngebayangin orang lain! Dan gue ngerasa bersalah banget abis itu! Gue kaya berkhianat! Sebelumnya ga pernah kaya gini!"

Kita semua tercenung. Emang sih dari ceritanya aja ketauan kalau Vino brengsek. Tapi dia juga selalu bangga sama prestasi dia di atas ranjang. Dia selalu bilang kalau pas lagi ML, pasangannya adalah nomor satu di hatinya. Dalam versinya, Vino setia dan berkomitmen penuh selama masa intim itu. Emang logikanya udah gesrek, tetapi paling enggak dia selalu memastikan kalau cewek yang dia bawa ke ranjang tau kalau mau sama dia emang harus kaya gitu. Purely one night stand.

Jadi, biarpun logikanya gesrek, Vino kayanya bener-bener serius sama cewek misterius yang satu itu.

"Siapa cewek itu bang?" Clarin nanya.

"NO!" Vino serta merta galak. "Kalian cukup tau aja kalau gue lagi galau sekarang!"

Dan, meskipun kita udah berusaha mencari tahu identitas si cewek selama satu jam penuh,Vino tetap ga mau bicara apa-apa lagi.

*











Monday, August 1, 2016

Royal Guards - Page 40-41

Heil mencerna pernyataan ini. Jadi, lawan bicaranya memang buta, tetapi entah bagaimana, dia tetap dapat bergerak dan bertarung dengan leluasa. Heil tidak bisa menahan keinginannya untuk bertanya.
          “Bagaimana?” tanyanya penasaran. “Bagaimana orang yang tidak bisa melihat bisa bertarung sepertimu?”
            Mirian tertawa lagi.
            “Bagaimana kalau begini tuan Heil,” 
            “Jangan panggil aku tuan,” tukas Heil.
            “Heil,” Mirian mengangguk setuju. “Bagaimana kalau kita mengajukan pertanyaan bergantian? Dan sebelum mengajukan pertanyaan, kau harus menjawab terlebih dahulu, demi memuaskan rasa ingin tahu kita semua, kau setuju?”
            “Tentu,” jawab Heil asal. “Jadi bagaimana orang yang tidak bisa melihat bisa bertarung sepertimu?”
            “Aku yang bertanya duluan kau tahu?” kata Mirian geli. “Baiklah, untuk menjawab pertanyaanmu. Aku bisa melihat, hanya saja tidak dengan cara yang lazim. Mungkin bisa kau sebut aku memiliki…bakat?”
            Mirian mendengus seusai mengucapkan itu, seolah-olah ‘bakat’ adalah kata yang konyol.
“Aku bisa tahu kalau kita berada di dalam tenda. Aku bisa tahu kau adalah pria yang sangat besar. Aku bisa melihat, tapi aku tidak bisa melihat bagaimana rupa wajahmu dan aku tidak bisa melihat warna-warna di sekelilingku. Aku bisa melihat banyak hal, tetapi aku juga tidak bisa  melihat banyak hal. Aku melihat hal-hal yang tidak bisa kau lihat, dan kau melihat hal-hal yang tidak bisa kulihat.”
“Yang membuatku kembali ke pertanyaan awal, aku tidak bisa melihat apakah kau memiliki tanda di tangan kirimu atau tidak.”
“Bagaimana kau bisa memiliki… bakat itu?” tanya Heil. Dia menekuni jawaban Mirian, namun jawaban itu ternyata hanya membuatnya semakin penasaran.
“Sekarang giliranku anak muda,” gumam Mirian. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Ya, aku memiliki tanda di tanganku,” jawab Heil tak sabar. “Bagaimana kau bisa memiliki bakat itu?”
            Mirian mengangguk-angguk dan tampak puas sebelum menjawab.
            “Setiap orang memiliki bakat tertentu, Heil.” Katanya.
            “Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
            “Tidak, tetapi aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku bisa memiliki.. bakat ini.”
            Dia mengucapkan kata itu dengan nada geli lagi.
            “Giliranku,” lanjut Mirian. “Tanda itu. Apakah itu sudah ada semenjak lahir atau muncul begitu saja pada tangan kirimu?”
            “Tanda ini muncul ketika usiaku sembilan tahun,” jawab Heil. “Kenapa kau sangat tertarik?”
            “Bisa dibilang tanda di tangan kirimu adalah tujuanku datang kemari,” jawab Mirian. “Dan bisa dibilang kedatanganku kemari tidak sia-sia. Katakan, Heil, seberapa banyak yang kau tahu mengenai royal guard?”
            “Royal guard?
           Heil berusaha mengingat-ingat. Dia pernah mendengar istilah itu dari ibunya, cerita-cerita ketika dia kecil.
            “Pengawal kerajaan?” katanya akhirnya. “Apa kau bermaksud mengatakan kau ini pengawal kerajaan?”
            Ini menjelaskan satu hal. Dari cerita ibunya, dia tahu bahwa pengawal kerajaan adalah orang-orang dengan kemampuan bertarung yang hebat. Jika Mirian adalah salah satunya, jelas cerita itu bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan.
            “Ya dan tidak,” jawab Mirian. “Saat ini aku memang pengawal kerajaan, tetapi bukan seorang royal guard.”
            Heil mengernyitkan alisnya.
            “Bukankah mereka sama saja?”
            Mirian menggeleng.
            “Lalu apa hubungannya antara royal itu dengan ketertarikanmu dengan tanda di tanganku?” tanya Heil
            “Sekarang giliranku,” cetus Mirian.
            “Oh demi Ernost!” umpat Heil. “Lupakan permainan konyolmu itu! Apa hubungannya antara royal guard dengan tanganku!?”
            Mirian tertawa.
            “Kau pria yang tidak sabaran,” katanya. “Hubungan antara kedua hal itu sangat erat. Dan tujuanku datang kemari adalah untuk menjelaskan,”
            “Heil,” lanjutnya. “Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Kau mau mendengarkan?”

            “Aku sedang mendengarkan sekarang,” gerutu Heil. Dia agak bingung dengan sikapnya sendiri. Biasanya dia tidak senang mengobrol dan beramah-tamah, tetapi lawan bicaranya kali ini terlalu menarik. Selain itu, samar-samar dia juga penasaran mengenai tanda di tangan kirinya dan sejauh ini Mirian membuatnya tetap tertarik dengan topik ini.