“Bagus,” kata Mirian tampak senang.
“Karena apa yang ingin kuceritakan sangat penting, dan aku butuh kau untuk
mendengarkan sungguh-sungguh.”
Dia
terdiam beberapa saat.
“Dulu,
dulu sekali, ketika dunia ini masih terbagi menjadi dua belas bangsa, terdapat sebuah
entitas gelap, seorang demigod bernama Talkarom,”
“Apa-apaan—apa
hubungannya itu dengan ini semua!?”
“Jika
kau mau mendengarkan,” kata Mirian pelan. “Kau akan melihat kaitannya, aku
janji.”
Heil
mengumpat pelan.
“Baiklah!”
katanya. “Lanjutkan!”
Untuk
kesekian kalinya Mirian tertawa kecil.
“Kau
pria yang tidak sabaran,” katanya, lagi-lagi mengulang kalimat itu. “Agak sulit
menceritakan ini jika ada interupsi.”
“Aku
tidak akan menginterupsi lagi,” Heil berdecak. “Sekarang lanjutkan ceritamu!”
Mirian
terkekeh lagi sebelum melanjutkan.
“Demigod—jika kau belum tahu—adalah entitas
misterius di dunia ini. Mereka memiliki kemampuan luar biasa, dan bersedia
meminjamkannya kepada orang tertentu, dengan imbalan tertentu,”
“Talkarom
adalah demigod sangat kuat yang
memiliki kemampuan memanggil pasukan dari kegelapan, dan bersama kontraktornya,
dia meneror dunia, memusnahkan enam bangsa dalam tiraninya, menyisakan enam
bangsa yang sekarang.”
“Keenam
bangsa ini bersatu untuk melawan, namun rupanya persatuan mereka bahkan tidak
cukup kuat untuk memusnahkan Talkarom,”
“Satu
fakta mengenai demigod, bahwa
tiap-tiap dari mereka memiliki pasangan, atau barangkali lebih tepat disebut lawan.
Analogikan saja dengan air dan api sebagai contoh yang sederhana. Keenam bangsa
yang sudah putus asa saat itu akhirnya meminta tolong pada demigod pasangan Talkarom, Keliandras,”
“Keliandras
menyanggupi permintaan enam bangsa, namun dia tidak bersedia membunuh Talkarom.
Ketika itu dia menjelaskan bahwa keberadaan mereka saling melengkapi satu sama
lain. Jika Talkarom mati, Keliandras juga otomatis akan ikut mati.”
“Keliandras
menawarkan solusi yang lain. Dia memerintah enam bangsa untuk menyegel dirinya,
karena jika dirinya tersegel, maka otomatis Talkarom juga akan ikut tersegel.”
“Kenapa
tidak bunuh saja si Keliandras?” Heil tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Keliandras
adalah seorang demigod,” kata Mirian
mengingatkan. “Dan dia juga kuat seperti Talkarom.”
“Kemudian,”
lanjut Mirian, seolah-olah tidak ada interupsi dari Heil. “Keenam bangsa
akhirnya menyegel Keliandras dengan memecahnya menjadi enam bagian,”
“Memecah?”
Heil bertanya lagi.
“Memecah,
membagi, membelah, sebut saja istilah yang kau suka,” kata Mirian. “Keenam
bangsa memecah Keliandras menjadi enam, dan sesuai janji, Talkarom tersegel.”
“Keenam
bagian dari Keliandras kemudian dibagi kepada masing-masing bangsa untuk
dijaga, untuk memastikan Talkarom tetap tersegel selama-lamanya. Senjatanya
untuk bangsa Fluffen, Permatanya untuk bangsa Erros, Medium atau tubuhnya untuk
bangsa Elrika, Esensi rohnya untuk
bangsa Charment, Pakaiannya untuk bangsa Anima dan terakhir Esensi kekuatannya
untuk bangsa kita, bangsa Vierr,”
“Kekuatan
dari Keliandras sangat besar, sehingga bagian ini dipecah lagi. Kekuatan utama
kepada satu orang, sementara kekuatan-kekuatan ‘kecil’ lainnya kepada
orang-orang yang lain. Pemilik kekuatan ini ditandai dengan sebuah tanda atau
lambang khusus di punggung tangan kirinya,”
Heil
merasakan jantungnya berdetak kencang. Mirian tidak tampak menyadari
kegelisahan Heil dan tetap melanjutkan ceritanya.
“Tanda
ini terus berpindah dari generasi ke generasi. Kekuatan utama, esensi yang
paling penting, diwariskan secara turun temurun, dan pemilik tanda ini adalah
anggota kerajaan,”
“Ketujuh
tanda yang lain berbeda. Mereka memilih tuannya. Ketika ada pewaris tanda utama
yang baru lahir, Ketujuh tanda ini memilih tujuh orang yang mereka anggap
pantas sebagai pelindung pemegang tanda utama. Orang-orang yang dipilih tanda
inilah yang disebut sebagai royal guard,”
“delapan belas tahun yang lalu, seorang pewaris tanda lahir, seorang putri bernama putri Lili.
Segera setelah itu, tujuh tanda yang lain mencari tuan yang baru. dua di antara
tanda itu tetap berada di tangan royal
guard pelindung pewaris sebelum putri Lili, raja Bern, sementara lima tanda
yang lain berpindah,”
“Aku
dulunya adalah seorang royal guard.”
Mirian
sudah berhenti bicara sekarang dan menatap Heil penuh-penuh, meskipun
tatapannya tidak terfokus. Dia menunggu Heil untuk berkomentar. Rupanya ini
sulit. Heil berusaha mencerna apa yang baru saja dia dengar.
This part is a short version. I will edit it much much later...
No comments:
Post a Comment