Chapter
1
Si Pemburu
Debu,
pasir dan keringat
Darah
menetes, darah habis
Mati,
hidup, sebuah permainan
Demi
satu tujuan
Emas,
emas dan emas
Debu, pasir dan keringat
Tinju, tendang, hantam, serang
Denting logam pedang panjang
Demi satu tujuan
Emas, emas dan emas
Debu,
pasir dan keringat
Gesit
dan kuat
Buru
dan diburu
Demi
satu tujuan
Emas,
emas dan emas
Lagu tentang Ranvel, Grajham si Pemalu
“Maaf, tapi kau
tidak terlihat seperti seorang ranvel,”
Pria di hadapannya
jelas bukan orang yang ramah. Pria itu meliriknya sekilas, mendengus dan
kembali membaca tumpukan perkamen di meja hadapannya. Tentu saja Sven sudah
mengenali gelagat ini. Dia sudah terbiasa mendengar kalimat ‘kau tidak terlihat
seperti ranvel’ nyaris sama banyaknya dengan kalimat ‘kau berbeda dari ranvel
yang selama ini kulihat’.
“Maaf,” Pria itu
berkata lagi. “Maksudku, kau berbeda dari ranvel yang selama ini kulihat.”
Sven mendengus
mendengar dua kalimat itu dari orang yang sama.
Pria di hadapannya
itu adalah seorang agen. Dia menyebut dirinya Bradley beberapa saat yang lalu.
Dia seperti agen pada umumnya: gendut, tidak ramah, dan malas. Di luar itu,
Bradley memiliki kumis seperti sikat sepatu yang mencolok.
“Tentu,” kata Sven
akhirnya.“berbeda itu bagus.”
“Begitu?” Bradley
mendengus lagi. “Tidak pernah selama menjadi agen aku menemui ranvel yang mau
repot memerkenalkan diri. Mereka adalah tipe orang yang langsung ke bisnis!”
“Tentu saja,” ujar
Sven setuju. “Begitu juga denganku, langsung ke bisnis.”
Bradley mengangkat
alisnya.
“Benarkah? Kau
bahkan nyaris tidak melirik barisan pekerjaan yang sudah kutempel di dinding!”
Dia menegaskan
maksudnya dengan melambaikan tangannya ke sekeliling, seolah mengingatkan Sven
akan keberadaan kertas-kertas yang memenuhi dinding. Dinding di ruangan itu
memang nyaris tidak menyisakan ruang untuk menempelkan yang lain, sesak
dipenuhi kertas, selebaran, poster dan macam-macam lagi.
“Silakan cari
pekerjaan yang kau rasa cocok dan beritahu aku jika kau sudah selesai!”
Seusai mengucapkan
itu, Bradley kembali membenamkan hidungnya ke tumpukan perkamen di hadapannya.
Namun, Sven bergeming.
“Tidak perlu,”
katanya. “Aku sudah tahu pekerjaan yang kuinginkan.”
Bradley mendongak
lagi, tampak heran.
“Sudah?” ulang
Bradley. “Pekerjaan seperti apa?”
“Yang membayar
paling mahal,” jawab Sven.
Bradley melongo.
Sven mengingatkan dirinya agar menahan keinginan isengnya untuk melemparkan
sesuatu ke dalam mulut yang terbuka itu. Sebenarnya malah, dia pernah melakukan
itu ke agen yang lain dan hasilnya tidak pernah bagus.
“Maaf, apa katamu
tadi?”
Ini sudah ketiga
kalinya Bradley mengucapkan kata maaf. Barangkali Bradley ini adalah pria yang
sangat sopan, atau kurang ajar. Agak sulit dibedakan sebetulnya.
“Yang membayar
paling mahal,”
“Aku mendengar
yang pertama kali sebenarnya,” kata Bradley, menegakkan posisi duduknya.
“Kau sadar kan,”
katanya lagi, menekankan kata per kata, seakan berbicara dengan anak umur lima
tahun. “Kalau paling mahal berarti
paling berbahaya?”
Mungkin seharusnya
Sven tersinggung dengan nada suara merendahkan itu, tetapi sekali lagi, dia
sudah sangat terbiasa dengan perlakuan semacam ini.
“Tentu saja aku
tahu,” jawab Sven tenang. “Tidak masalah bagiku.”