Friday, February 7, 2014

The Finder Apprentice - Prologue



Bianca, begitu orang-orang lain memanggilnya, sudah terbiasa dengan kondisi ini, tidak mendapatkan klien hingga berbulan-bulan. Biasanya dia menghabiskan hari hanya dengan duduk, mencoret-coret kertas, dan bermain-main dengan Wein, gasket peliharaannya.

Lembaran perkamen, pena dan tinta tertata dengan rapi di meja kaca bundar di hadapannya, meskipun sebenarnya pekerjaan yang dia lakukan tidak membutuhkan benda-benda semacam itu. Ruangan itu luas dan berbentuk kubah. Di dalamnya, di pusat ruangan, hanya berisi sebuah meja dan dua buah sofa duduk berwarna hitam yang terlihat nyaman, satu untuk Bianca dan satu di seberangnya untuk klien.Warna biru laut dinding dan langit-langit di ruangan itu menimbulkan ilusi, seolah-olah ruangan itu bersentuhan langsung dengan langit.Tak kurang, karpet hijau yang menyelimuti lantai juga turut memerlihatkan ilusi. Koordinasi ruangan ini membuat Bianca tampak seakan duduk di tengah-tengah padang rumput, alih-alih sebuah ruangan kubah yang ganjil.

Namun, perpaduan warna di dalam ruangan itu rupanya tidak memiliki pengaruh berarti ketika Bianca berada di sana. Dia tetap akan menjadi pusat perhatian. Pria itu mengenakan wallot--busana formal laki-laki yang biasa dikenakan para petinggi di Jehana--berwarna ungu cerah dengan banyak renda putih. Tak kurang, dia juga mengenakan celana panjang yang satu set dengan baju berwarna senada, sarung tangan putih, dan sebuah bros putih besar berbentuk menyerupai sayap yang tersemat di dadanya. Dia tampak sangat mencolok.

Bianca sedang menusuk-nusuk origami buatannya sendiri dengan jari saat cahaya kebiruan tiba-tiba bersinar muncul begitu saja, tidak jauh di depan dari posisinya duduk. Detik berikutnya, cahaya itu meredup dan memerlihatkan sebuah sosok aneh. Bianca tidak bereaksi apa-apa terhadap kejadian itu, seakan kemunculan sinar dan sosok setelahnya adalah kejadian yang biasa dilihat orang di kehidupan sehari-hari.

"Wein," gumamnya, masih sibuk dengan mainan kertasnya.

Sosok biru yang dipanggil Wein itu nyaris merupakan perpaduan tiga hewan sekaligus : kucing, kelinci, dan seekor burung. Dia bertubuh bulat gemuk, memiliki telinga yang panjang, tangan dan kaki kelinci yang mungil, dan wajah imut seekor kucing dengan mata bundar perak yang kelewat besar. Sayap burungnya menimbulkan suara bising ketika berkepak-kepak.

"Master," cicitnya nyaring. Bianca sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut ketika ternyata makhluk ganjil di hadapannya itu bisa bicara.

"Master," Wein terbang berputar-putar mengelilingi Bianca dengan penuh semangat. "Kita kedatangan klien, master!"

 Bianca nyaris terlonjak.Dia langsung melupakan permainan konyolnya itu.

"Dimana dia?" tuntutnya penuh semangat. "Kenapa kau tidak membiarkannya masuk!"

"Tapi master..."

"Apa?"

"Dia sama sepertimu master," kata Wein. "Wein tidak bisa memindahkannya kesini!"

"Apa!?"

Bianca belum sempat mencerna informasi ini ketika sebuah cahaya bersinar lagi di tempat Wein muncul tadi, kali ini berwarna putih.

Jika tadi Bianca tidak bereaksi apa-apa terhadap kemunculan Wein, kini sebaliknya, dia tampak sangat terkejut. Dari balik cahaya putih itu muncul seorang wanita paruh baya yang sangat cantik. Dia memakai gaun sutra berwarna hijau dengan banyak hiasan. Rambut hitam legamnya ditata dalam gulungan yang anggun dan menimbulkan aura angkuh.

"Bianca Writel?" dia bersuara. Bahkan suaranya lain, seperti lonceng yang bergema dari kejauhan. Bianca merasakan sensasi aneh bahwa wanita yang berada di hadapannya itu tidak benar-benar berada di sana.

"Tergantung siapa yang bertanya," jawab Bianca berhati-hati.

Wanita itu melangkah dengan gesit dan mengambil posisi duduk di hadapan Bianca. Dari caranya berjalan, Bianca semakin yakin bahwa wanita di hadapannya memang tidak 'sepenuhnya' di situ.

 "Namaku Ariana," katanya. "waktuku tidak banyak."

Dia menyingsingkan lengan bajunya dan menarik keluar selembar foto. Foto anak laki-laki yang tampan.

"Temukan anak ini," ungkapnya tanpa berbelit-belit.

"Nona," Bianca memprotes. "Aku tidak sembarangan menerima pekerjaan, kau tahu? Ada prosedur dan syarat yang sebelumnya harus kau penuhi!"

"Anak ini berada di dimensi lain!" sergah Ariana tak sabar. "Itu pekerjaanmu kan? Mencarikan 'barang' yang terjebak di dimensi lain?"

"Yah, tapi biasanya 'barang' yang kucari itu bukan seorang bocah!"

"Aku akan memberimu imbalan confeti! Aku punya banyak!"

Bianca terdiam. Dia mengambil foto di meja hadapannya dan mengamatinya lekat-lekat. Suara di ruangan itu hanya ditimbulkan dari kepakan sayap Wein selama beberapa saat.

"Memangnya siapa bocah ini?" tanyanya akhirnya.

"Dia bernama Rigar,"

"Dan siapa si Rigar ini?"

"Anakku.."

Bianca menoleh menatap wanita itu lagi dengan ekspresi terperangah.

"Anakmu diculik atau bagaimana?"

"Tidak," jawab Ariana. Ekspresinya suram. "Aku menelantarkannya."

Bianca menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Nona," katanya. "Aku butuh informasi yang lebih detil daripada itu!"

"Wein menganggap ini sangat aneh," celetuk makhluk bersayap di belakangnya. "Bukankah nona Ariana ini juga memiliki kemampuan untuk 'menyeberang' dimensi? Kenapa tidak mengambil anak ini sendirian?"

"Pertanyaan yang bagus Wein," puji Bianca. "Kenapa?"

Ariana memejamkan matanya, tampak sangat gusar.

"Tuan Bianca," katanya pelan, sebelum membuka matanya perlahan-lahan. "Aku memiliki alasan tersendiri. Seperti yang aku yakin telah kau sadari, aku tidak benar-benar berada di sini. Kondisiku saat ini tidak memungkinkanku untuk bergerak bebas!"

"Kalau begitu kenapa kau menelantarkan bocah ini? Kenapa kau ingin dia kembali sekarang?"

"Benarkah anak ini anakmu?" timpal Wein.

"Tuan Bianca! Kumohon! Jangan ajukan pertanyaan yang sulit! Aku akan memberikan imbalan yang pantas! Aku bersumpah!"

Dia membuat gerakan tiba-tiba, meraih tangan Bianca. Bianca nyaris terjungkal dengan sikap mengejutkan ini. Ariana menatapnya dengan tatapan memohon.

"Kumohon..."

Bianca mengamati mata itu, mata biru yang dalam dan misterius. Sesuatu dalam tatapan itu membuat Bianca yakin bahwa siapapun wanita ini, dia tidak memiliki tujuan jahat terhadap laki-laki di dalam foto itu. Tatapan itu adalah tatapan untuk melindungi, bukan membunuh.

"Baiklah!" gerutu Bianca. Dia selalu menganggap dirinya tidak bisa menolak permintaan wanita cantik. Toh, lagipula sudah lama sekali dia tidak menerima pekerjaan.

"Darimana aku harus mulai?"

Tuesday, February 4, 2014

Cowok Petakilan - Prologue


Kriiiiiing!!


Bruak!!



Kr...rii..ng...



Duakkkk!!!


.................................................................................

Beristirahat dengan tenang...
Mimi....
Alarm jam ke 78...


5.47 am, selasa, pertengahan bulan maret...


.................................................................................



"WOI, BANGUN WOI!!"

"UDAH BUJANGAN GA SOLAT SUBUH LO YE!?"

"BANGOOONN!!!"





Bletakkkk!!!!


..................................................................................



5.48 am, selasa, pertengahan bulan maret...



Benjol bertambah satu...



Damn...



......




Monday, February 3, 2014

Simfoni Buta - Prologue



Mereka berkata rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau.

Tak pernah dalam mimpiku yang paling liar sekalipun menduga akan merasakan sensasi itu di lubang hitam ini...

Rasanya aneh ketika melihat para penghuni lain menerima pengunjung.

Rasanya... sakit...

Tapi, seharusnya aku tidak merasakan perasaan ini...

Aku sudah mati...

Aku 100% yakin itu...

Lagipula, siapa yang mau mengunjungi seorang pembunuh?

... ... ... ... ... ... ... ... ... ...