Vierre
Pemegang Senjata
Erross
Pencakar Langit
Elrika
Penjerat Kehidupan
Anima
Penyamar
Charment
Pengguna Roh
Fluffen
Pencipta
Enam bangsa
Enam bagian
Enam segel
Prologue
Tanda
Rasanya
sulit dipercaya kalau kurang dari enam jam yang lalu, Bern bersukacita
menyambut kelahiran putrinya. Bukan berarti dia tidak bahagia sekarang, tidak,
namun kebahagiaan itu tertutup oleh perasaan yang lain. Cemas, terutama karena
bukan hanya putrinya yang terlibat, tetapi putranya, Elric juga sama.
Tentu
saja putrinya lahir dalam keadaan sempurna, sepuluh jari tangan dan kaki
lengkap, tanpa suatu cacat apa pun. Sesungguhnya putri Lili adalah perpaduan
sempurna antara ras Corain dari Bern dan ras Akrean dari Rosa. Dia mewarisi
rambut merah yang sangat indah dari ayahnya serta wajah sempurna dan kulit
seputih salju dari ibunya. Seorang utusan dari bangsa Elrika bahkan mengatakan
bahwa putri Lili adalah bayi tercantik yang pernah dia temui. Ini merupakan
sanjungan tertinggi karena bangsa Elrika memiliki definisi tersendiri mengenai
kata ‘cantik’.
Bern
tidak heran ketika putrinya yang baru berumur beberapa jam itu sudah
menghipnotis banyak kalangan ke dalam jari-jari mungilnya. Dia sendiri
terhanyut dalam pesona putrinya itu. Putranya, Elric, berkali-kali merengek
ingin melihat dan menggendong adiknya, namun pada saat itulah—ketika Elric
menggelayuti kakinya—baru Bern menyadari sesuatu yang membuat dirinya
seolah-olah tertampar udara dingin.
Kini,
dengan perasaan campur aduk, dia duduk di ruangan itu. Ruangan yang luas dengan
lantai tertutup karpet bernuansa biru laut yang indah. Kemewahan dari ruangan
ini ditegaskan dengan banyaknya lukisan-lukisan indah bernilai tinggi yang digantung
di dinding. Meja bulat besar mengilap di hadapan Bern merupakan pusat ruangan,
dikelilingi kursi-kursi berlapis beludru yang empuk dan nyaman. Tak kurang,
sebuah lampu kristal yang artistik di atas pusat meja itu turut meneriakan kata
‘mewah’ ke dalam ruangan itu. Namun, tak
satupun dari keindahan tata ruang itu yang mampu menarik perhatian Bern lebih
dari beberapa detik. Dia sangat gelisah, berulang kali menatap pintu ganda
besar di seberang meja dan kursi tempatnya duduk, menunggu.
Tak sabar, Bern
sudah akan beranjak dari tempatnya duduk ketika pintu ganda besar itu akhirnya
terbuka. Satu per satu, dari pintu itu muncul orang-orang yang sedari tadi Bern
tunggu. Enam pria berbadan tegap, dengan busana yang menegaskan bahwa mereka
adalah prajurit. Cara mereka berjalan luwes dan terkesan angkuh, ciri khas dari
seorang veteran pejuang. Mereka menyadari kehadiran Bern dan segera membentuk
barisan kecil yang rapi, kemudian membungkuk penuh hormat.
“Paduka,” ujar
salah seorang. “Kami datang secepat mungkin.”
Design-nya bukan original mine, dan proporsi-nya juga agak aneh, tapi di bayangan gw, kira-kira dia begini lah. My drawing skill is limited :'(
No comments:
Post a Comment