Monday, October 3, 2016

Royal Guards - Page 44-46

Vorstar,” katanya, mendengus. “Kau sungguh-sungguh berharap bahwa aku akan percaya kata-katamu? Ceritamu adalah hal terkonyol yang pernah kudengar!”
            “Ceritamu tadi menyiratkan bahwa aku adalah  royal guard baru yang dipilih oleh tanda di tanganku!”
            “Benar,” kata Mirian tenang. “Untuk itulah aku datang kemari.”
            “Omong kosong!” bantah Heil. “Kau seharusnya mencari cerita yang lebih masuk akal vorstar!”
            “Tidakkah ada sesuatu yang membuatmu unik Heil? Sesuatu yang membuatmu tahu bahwa dirimu berbeda dari orang lain? Setiap pengguna tanda memiliki kemampuan yang unik.”
            Heil teringat sesuatu. Ingatan akan dirinya ketika berusia 11 tahun. Ingatan ketika ayah kandungnya sendiri menikam perutnya. Ingatan yang sekuat tenaga berusaha dia hapus.
            “Kau terdiam,” ucap Mirian. “Jauh di dasar hatimu, kau tahu ceritaku benar.”
            Heil menggeleng kuat-kuat, seakan dengan melakukan itu akan mampu menghilangkan ingatan tidak nyaman itu. Amarah menggantikan rasa gelisahnya. Dia menyalahkan Mirian yang sudah membuatnya mengingat kejadian itu.
            “Vorstar,” katanya. Kontras dengan suasana batinnya, suaranya terdengar tenang dan terkendali. “Kuperingatkan kau untuk menyudahi topik ini. Ini adalah cerita yang konyol dan aku sudah cukup sabar untuk mendengarkan! Jangan memancingku ke batas kesabaran, vorstar.”
            Heil sudah setengah berharap Mirian akan membantah, namun pria tua itu hanya mengangkat bahunya.
            “Baiklah,” katanya, acuh tak acuh, yang herannya membuat Heil jengkel. “Kedatanganku memang hanya ingin memberitahumu arti tanda itu. Mau kau apakan informasi itu terserah kau.”
            Heil menatapnya tak percaya.
            “Menurut ceritamu, royal guard adalah pelindung anggota keluarga kerajaan yang bertanda. Bukankah itu tujuanmu datang kemari?”
            “Apa? Memintamu untuk menjadi pelindung putri Lili? Jangan konyol, kau bahkan tidak mengenal siapa itu putri Lili bukan? Selain itu kau adalah pemimpin di sini. Tidak mungkin aku memintamu untuk meninggalkan mereka dan datang ke ibu kota bukan?”
            Sikap acuh tak acuh Mirian membuat amarah Heil berangsur-angsur menghilang, digantikan rasa gelisah lagi. Mana mungkin Mirian datang ke tengah-tengah amukan para prajurit najril, hanya untuk menceritakan ini kepadanya. Tidak masuk akal.
            “Kenapa gadis ini butuh pelindung?”
            Heil akan membantah lagi, namun terkejut ketika menyadari dirinya malah menanyakan hal itu.
            “Banyak penyebabnya,” jawab Mirian. “Tapi ini tidak perlu kau risaukan. Dia sangat aman sekarang. Kami sudah memiliki empat orang royal guard di istana. Sudah lebih dari cukup.”
            “Kalau begitu kenapa kau datang kemari?” geram Heil. “Apa manfaatnya bagimu?”
            “Seperti yang tadi kukatakan,” kata Mirian. Ekspresi geli tampak lagi di wajahnya. “Pengguna tanda memiliki kemampuan yang unik. Kemampuan itu sangat berbahaya di tangan orang yang salah. Aku harus mengecek siapa yang memiliki tanda itu untuk memastikan. Kuanggap kau layak, dan aku cukup puas dengan itu.”
            “Omong kosong,” sergah Heil. “Bagaimana bisa kau yakin aku layak? Kita baru saja bertemu dan sudah berusaha saling bunuh saat pertama kali bertemu.”
            “Aku tidak berusaha membunuhmu Heil,”
            “Nah, aku berusaha membunuhmu,” tukas Heil. “Tidakkah itu membuatku tidak layak?”
            “Kau menyerang dengan anggapan aku membunuh para prajuritmu.”
            Heil terdiam. Sebenarnya itu memang salah satu penyebabnya. Tetapi dia juga tidak bisa menjelaskan perasaan bergairahnya waktu itu, ketika dihadapkan pada kemungkinan berhadapan dengan seorang yang cukup kuat untuk mengimbangi dirinya.
            “Lagipula,” lanjut Mirian. “Bukankah kau tidak percaya dengan ceritaku? Apakah ketertarikanmu ini merupakan bukti kalau kau percaya?”
            “Tidak,” bantah Heil lagi, namun suaranya terdengar kurang yakin. “Kita sedang berandai-andai sekarang.”
            Mirian mendengus. Heil mengabaikannya. Dia sebenarnya tidak ingin membahas ini lebih jauh, tetapi kesulitan membuat dirinya untuk tidak bertanya.
            “Bagaimana kalau kau menganggap diriku tidak layak?” tanya Heil lagi, dalam hati mengutuki dirinya sendiri. “Apa yang akan kau lakukan?”
            “Aku akan membunuhmu. Tanda itu akan berpindah ke tangan orang lain setelahnya.”
            Diucapkan dengan nada biasa-biasa saja, namun Heil yakin pria tua ini sanggup mengalahkan dirinya jika dia bersungguh-sungguh mencoba. Meskipun Heil juga yakin dirinya bisa memberikan perlawanan yang sengit. Sesuatu dalam dirinya terbakar lagi.
            “Empat orang royal guard ini,” ucap Heil tanpa sadar. “Yang menjaga di istana, apakah mereka kuat?”
            “Oh ya, sangat.”
            “Sebanding dengan dirimu?” 
            “Tidak, tidak,” kata Mirian. “Mereka jauh lebih kuat dariku, terutama ketuanya. Aku bahkan tidak sanggup berkutik.”
            “Royal guard memiliki ketua?”
            “Tentu,” jawab Mirian.
            “Hmm..”
            Heil merasa tertantang. Selama ini dia terbiasa menjadi yang terkuat dalam pertarungan. Kehadiran Mirian membuatnya tersadar bahwa ada banyak orang kuat di luar sana. Selain itu ada sesuatu yang mengusik perasaannya.
            Setiap pengguna tanda memiliki kekuatan yang unik.
            Kata-kata Mirian itu bergema berulang-ulang di dalam kepalanya.
            “Kau pembawa kutukan! Pembunuh!”
            Kalimat itu muncul lagi dalam benaknya. Mustahil untuk dilupakan.
            “Vorstar,” kata Heil, seraya mengusir ingatan itu jauh-jauh. “Jika aku memintamu untuk bertarung melawanku dengan sungguh-sungguh, dengan niat membunuh, maukah kau melakukannya?”
            Dia harus mengetes. Dia harus tahu sejauh apa batas kemampuannya.
            Mirian tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk.

*


No comments: