“Vorstar,” katanya, mendengus. “Kau sungguh-sungguh berharap bahwa
aku akan percaya kata-katamu? Ceritamu adalah hal terkonyol yang pernah
kudengar!”
“Ceritamu
tadi menyiratkan bahwa aku adalah royal
guard baru yang dipilih oleh tanda di tanganku!”
“Benar,”
kata Mirian tenang. “Untuk itulah aku datang kemari.”
“Omong
kosong!” bantah Heil. “Kau seharusnya mencari cerita yang lebih masuk akal vorstar!”
“Tidakkah
ada sesuatu yang membuatmu unik Heil? Sesuatu yang membuatmu tahu bahwa dirimu
berbeda dari orang lain? Setiap pengguna tanda memiliki kemampuan yang unik.”
Heil
teringat sesuatu. Ingatan akan dirinya ketika berusia 11 tahun. Ingatan ketika
ayah kandungnya sendiri menikam perutnya. Ingatan yang sekuat tenaga berusaha
dia hapus.
“Kau
terdiam,” ucap Mirian. “Jauh di dasar hatimu, kau tahu ceritaku benar.”
Heil
menggeleng kuat-kuat, seakan dengan melakukan itu akan mampu menghilangkan
ingatan tidak nyaman itu. Amarah menggantikan rasa gelisahnya. Dia menyalahkan
Mirian yang sudah membuatnya mengingat kejadian itu.
“Vorstar,” katanya. Kontras dengan
suasana batinnya, suaranya terdengar tenang dan terkendali. “Kuperingatkan kau
untuk menyudahi topik ini. Ini adalah cerita yang konyol dan aku sudah cukup
sabar untuk mendengarkan! Jangan memancingku ke batas kesabaran, vorstar.”
Heil
sudah setengah berharap Mirian akan membantah, namun pria tua itu hanya
mengangkat bahunya.
“Baiklah,”
katanya, acuh tak acuh, yang herannya membuat Heil jengkel. “Kedatanganku memang hanya ingin memberitahumu arti
tanda itu. Mau kau apakan informasi itu terserah kau.”
Heil
menatapnya tak percaya.
“Menurut
ceritamu, royal guard adalah pelindung anggota keluarga kerajaan yang
bertanda. Bukankah itu tujuanmu datang kemari?”
“Apa?
Memintamu untuk menjadi pelindung putri Lili? Jangan konyol, kau bahkan tidak
mengenal siapa itu putri Lili bukan? Selain itu kau adalah pemimpin di sini.
Tidak mungkin aku memintamu untuk meninggalkan mereka dan datang ke ibu kota
bukan?”
Sikap
acuh tak acuh Mirian membuat amarah Heil berangsur-angsur menghilang,
digantikan rasa gelisah lagi. Mana mungkin Mirian datang ke tengah-tengah
amukan para prajurit najril, hanya untuk menceritakan ini kepadanya. Tidak
masuk akal.
“Kenapa
gadis ini butuh pelindung?”
Heil
akan membantah lagi, namun terkejut ketika menyadari dirinya malah menanyakan
hal itu.
“Banyak
penyebabnya,” jawab Mirian. “Tapi ini tidak perlu kau risaukan. Dia sangat aman
sekarang. Kami sudah memiliki empat orang royal
guard di istana. Sudah lebih dari cukup.”
“Kalau
begitu kenapa kau datang kemari?” geram Heil. “Apa manfaatnya bagimu?”
“Seperti
yang tadi kukatakan,” kata Mirian. Ekspresi geli tampak lagi di wajahnya.
“Pengguna tanda memiliki kemampuan yang unik. Kemampuan itu sangat berbahaya di
tangan orang yang salah. Aku harus mengecek siapa yang memiliki tanda itu untuk
memastikan. Kuanggap kau layak, dan aku cukup puas dengan itu.”
“Omong
kosong,” sergah Heil. “Bagaimana bisa kau yakin aku layak? Kita baru saja
bertemu dan sudah berusaha saling bunuh saat pertama kali bertemu.”
“Aku
tidak berusaha membunuhmu Heil,”
“Nah,
aku berusaha membunuhmu,” tukas Heil.
“Tidakkah itu membuatku tidak layak?”
“Kau
menyerang dengan anggapan aku membunuh para prajuritmu.”
Heil
terdiam. Sebenarnya itu memang salah
satu penyebabnya. Tetapi dia juga tidak bisa menjelaskan perasaan bergairahnya
waktu itu, ketika dihadapkan pada kemungkinan berhadapan dengan seorang yang
cukup kuat untuk mengimbangi dirinya.
“Lagipula,”
lanjut Mirian. “Bukankah kau tidak percaya dengan ceritaku? Apakah ketertarikanmu
ini merupakan bukti kalau kau percaya?”
“Tidak,”
bantah Heil lagi, namun suaranya terdengar kurang yakin. “Kita sedang
berandai-andai sekarang.”
Mirian
mendengus. Heil mengabaikannya. Dia sebenarnya tidak ingin membahas ini lebih
jauh, tetapi kesulitan membuat dirinya untuk tidak bertanya.
“Bagaimana
kalau kau menganggap diriku tidak layak?” tanya Heil lagi, dalam hati mengutuki
dirinya sendiri. “Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku
akan membunuhmu. Tanda itu akan berpindah ke tangan orang lain setelahnya.”
Diucapkan
dengan nada biasa-biasa saja, namun Heil yakin pria tua ini sanggup mengalahkan
dirinya jika dia bersungguh-sungguh mencoba. Meskipun Heil juga yakin dirinya
bisa memberikan perlawanan yang sengit. Sesuatu dalam dirinya terbakar lagi.
“Empat
orang royal guard ini,” ucap Heil
tanpa sadar. “Yang menjaga di istana, apakah mereka kuat?”
“Oh
ya, sangat.”
“Sebanding
dengan dirimu?”
“Tidak,
tidak,” kata Mirian. “Mereka jauh
lebih kuat dariku, terutama ketuanya. Aku bahkan tidak sanggup berkutik.”
“Royal guard memiliki ketua?”
“Tentu,”
jawab Mirian.
“Hmm..”
Heil
merasa tertantang. Selama ini dia terbiasa menjadi yang terkuat dalam
pertarungan. Kehadiran Mirian membuatnya tersadar bahwa ada banyak orang kuat
di luar sana. Selain itu ada sesuatu yang mengusik perasaannya.
Setiap pengguna tanda memiliki
kekuatan yang unik.
Kata-kata
Mirian itu bergema berulang-ulang di dalam kepalanya.
“Kau pembawa kutukan! Pembunuh!”
Kalimat itu muncul lagi dalam
benaknya. Mustahil untuk dilupakan.
“Vorstar,” kata Heil, seraya mengusir
ingatan itu jauh-jauh. “Jika aku memintamu untuk bertarung melawanku dengan
sungguh-sungguh, dengan niat membunuh, maukah kau melakukannya?”
Dia
harus mengetes. Dia harus tahu sejauh apa batas kemampuannya.
Mirian
tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk.
*
No comments:
Post a Comment