Monday, June 6, 2016

Royal Guards - Page 25-26

 Hutan Teresala, tempatnya tinggal, terbagi menjadi tiga bagian. Sisi luar hutan, dimana jarak-jarak pepohonan masih menyisakan ruang yang cukup luas, merupakan tempat para Elrika yang sudah menjalani ‘masa transisi’ ke luar hutan. Mereka membangun tempat tinggal dari kayu dan dedaunan, di atas pohon-pohon yang tinggi. Lebih jauh ke dalam, dimana kali ini pepohonan mulai merapat dan sangat mudah menyesatkan orang-orang asing, adalah tempat tinggal para ibu. Tidak seperti di bagian luar hutan yang rumahnya dibangun di atas pepohonan dengan tangga dan jembatan yang rumit, di bagian hutan ini, rumah-rumah dibangun setelah pohon-pohon ditebang sehingga menyisakan lahan untuk tempat tinggal yang nyaman. Para gadis muda tinggal disini hingga usia 12 tahun, dan ketika mereka sudah menginjak usia itu mereka akan berpindah, lebih jauh ke dalam hutan, sementara sang ibu yang ditinggal putrinya berpindah ke bagian luar hutan. Bagian terdalam hutan menyimpan kejutan. Di balik pepohonan tersirat lembah, danau dan sungai yang sangat memukau. Tempat tinggal dibangun dengan rapi di antara bukit-bukit kecil. Di bagian selatan, ketika area menanjak, terdapat sebuah tebing curam yang tidak terlihat puncaknya, bagian dari gunung raksasa, Bramand. Dari puncak yang tidak terlihat itu pula mengalir deras air terjun yang merupakan pusat aliran sungai yang bermuara ke lima bagian.  Dilihat dari jauh, dari area pepohonan, pemandangan yang terhampar ini sangat luar biasa. Campuran warna hijau bukit dan padang rumput, warna biru danau dan sungai, kemudian bayangan hitam yang menjulang tinggi di kejauhan, lengkap dengan siluet air terjun dan pelangi di sana, merupakan perpaduan magis alam dan keindahan. Para gadis yang baru menyaksikan pemandangan itu biasanya akan terhipnotis terpaku di tempat. Myana termasuk salah satunya.
Dataran ini disebut dataran Sheirin. Segera saja, Myana ditempatkan di salah satu rumah di sana, bersama-sama sepupunya Nartaria. Setiap rumah berpenghuni lima orang. Yang lebih tua mengajarkan yang lebih muda. Kemudian ketika yang paling tua sudah mencapai usia 18 tahun, mereka akan pergi meninggalkan dataran Sheirin, meninggalkan hutan. Usia di bawahnya ganti mengajarkan gadis yang baru datang. Begitu seterusnya. Kini, giliran Myana dan Nartaria—juga Viseris—yang sudah mencapai usia itu.
            Malam purnama bulan keempat, semua penghuni dataran Sheirin berpesta. Mereka bermain musik dan menari-nari hingga dini hari. Mereka berkomunikasi dengan burung-burung, membuatnya berkicau riang sepanjang hari. Mereka membisiki tanaman-tanaman, yang kembali berbisik penuh suka cita. Pesta ini guna mengantarkan para gadis yang akan pergi.
Myana dan Nartaria sudah berjanji akan bertemu dengan Viseris di tepi hutan menjelang siang. Mereka berdua berpamitan dan memeluk saudari serumahnya satu per satu.
“Tahun depan giliranku,” kata Ilaya, teman serumah yang berumur setahun lebih muda. Dia memeluk Myana dan berbisik. “Berhati-hatilah kak, dewi Alvina selalu menyertaimu.”
            “Dan jika kau bertemu Karina di luar sana, sampaikan salamku.”
            Myana membalas pelukan itu. Dia menahan keinginannya untuk menangis. “pasti Ilaya,” desahnya. “Jaga Nalini untukku.”
            Dia berpaling ke saudarinya yang lain, melihat Nartaria juga tengah memeluk saudarinya, Elanoir. Nalini, yang baru berusia 13 tahun, terisak di baliknya. Melihat itu, pertahanan Myana pecah. Dia buru-buru mengusap pipinya, menghapus air mata yang sudah mengalir di sana.
            Myana mendapati dirinya di pelukan Ilaya lagi. Dia mendesah.
            “Jangan menangis, Myana,” ucapnya. “Kita akan segera bertemu lagi.”
            Suaranya bergetar di akhir kalimat itu, membuat Myana mendongak. Ilaya juga menangis.
            “Oh, ini konyol,” Ilaya terkikik lemah, berusaha menghalau air matanya. “Toh kita akan segera bertemu lagi.”
            Ketiga saudarinya yang lain menyusul memeluk mereka berdua. Mereka menangis beriringan.
            “Ini konyol,” kata Ilaya lagi, masih terisak, masih berusaha menghalau tangisannya. “Kami mencintaimu kak. Jangan ragukan itu.”
            “Kami mencintaimu dik, jangan ragukan itu.”
            Mereka berlima tetap dalam posisi itu, berpelukan dan terisak cukup lama, hingga waktunya berpisah.

*

No comments: