Hutan Teresala, tempatnya tinggal, terbagi
menjadi tiga bagian. Sisi luar hutan, dimana jarak-jarak pepohonan masih
menyisakan ruang yang cukup luas, merupakan tempat para Elrika yang sudah
menjalani ‘masa transisi’ ke luar hutan. Mereka membangun tempat tinggal dari
kayu dan dedaunan, di atas pohon-pohon yang tinggi. Lebih jauh ke dalam, dimana
kali ini pepohonan mulai merapat dan sangat mudah menyesatkan orang-orang
asing, adalah tempat tinggal para ibu. Tidak seperti di bagian luar hutan yang rumahnya
dibangun di atas pepohonan dengan tangga dan jembatan yang rumit, di bagian
hutan ini, rumah-rumah dibangun setelah pohon-pohon ditebang sehingga
menyisakan lahan untuk tempat tinggal yang nyaman. Para gadis muda tinggal
disini hingga usia 12 tahun, dan ketika mereka sudah menginjak usia itu mereka
akan berpindah, lebih jauh ke dalam hutan, sementara sang ibu yang ditinggal
putrinya berpindah ke bagian luar hutan. Bagian terdalam hutan menyimpan
kejutan. Di balik pepohonan tersirat lembah, danau dan sungai yang sangat
memukau. Tempat tinggal dibangun dengan rapi di antara bukit-bukit kecil. Di
bagian selatan, ketika area menanjak, terdapat sebuah tebing curam yang tidak
terlihat puncaknya, bagian dari gunung raksasa, Bramand. Dari puncak yang tidak
terlihat itu pula mengalir deras air terjun yang merupakan pusat aliran sungai
yang bermuara ke lima bagian. Dilihat
dari jauh, dari area pepohonan, pemandangan yang terhampar ini sangat luar
biasa. Campuran warna hijau bukit dan padang rumput, warna biru danau dan
sungai, kemudian bayangan hitam yang menjulang tinggi di kejauhan, lengkap
dengan siluet air terjun dan pelangi di sana, merupakan perpaduan magis alam
dan keindahan. Para gadis yang baru menyaksikan pemandangan itu biasanya akan
terhipnotis terpaku di tempat. Myana termasuk salah satunya.
Dataran ini
disebut dataran Sheirin. Segera saja, Myana ditempatkan di salah satu rumah di
sana, bersama-sama sepupunya Nartaria. Setiap rumah berpenghuni lima orang.
Yang lebih tua mengajarkan yang lebih muda. Kemudian ketika yang paling tua
sudah mencapai usia 18 tahun, mereka akan pergi meninggalkan dataran Sheirin,
meninggalkan hutan. Usia di bawahnya ganti mengajarkan gadis yang baru datang.
Begitu seterusnya. Kini, giliran Myana dan Nartaria—juga Viseris—yang sudah
mencapai usia itu.
Malam
purnama bulan keempat, semua penghuni dataran Sheirin berpesta. Mereka bermain
musik dan menari-nari hingga dini hari. Mereka berkomunikasi dengan
burung-burung, membuatnya berkicau riang sepanjang hari. Mereka membisiki
tanaman-tanaman, yang kembali berbisik penuh suka cita. Pesta ini guna
mengantarkan para gadis yang akan pergi.
Myana dan Nartaria
sudah berjanji akan bertemu dengan Viseris di tepi hutan menjelang siang.
Mereka berdua berpamitan dan memeluk saudari serumahnya satu per satu.
“Tahun depan
giliranku,” kata Ilaya, teman serumah yang berumur setahun lebih muda. Dia
memeluk Myana dan berbisik. “Berhati-hatilah kak, dewi Alvina selalu
menyertaimu.”
“Dan
jika kau bertemu Karina di luar sana, sampaikan salamku.”
Myana
membalas pelukan itu. Dia menahan keinginannya untuk menangis. “pasti Ilaya,”
desahnya. “Jaga Nalini untukku.”
Dia
berpaling ke saudarinya yang lain, melihat Nartaria juga tengah memeluk
saudarinya, Elanoir. Nalini, yang baru berusia 13 tahun, terisak di baliknya.
Melihat itu, pertahanan Myana pecah. Dia buru-buru mengusap pipinya, menghapus
air mata yang sudah mengalir di sana.
Myana
mendapati dirinya di pelukan Ilaya lagi. Dia mendesah.
“Jangan
menangis, Myana,” ucapnya. “Kita akan segera bertemu lagi.”
Suaranya
bergetar di akhir kalimat itu, membuat Myana mendongak. Ilaya juga menangis.
“Oh,
ini konyol,” Ilaya terkikik lemah, berusaha menghalau air matanya. “Toh kita akan segera bertemu lagi.”
Ketiga
saudarinya yang lain menyusul memeluk mereka berdua. Mereka menangis
beriringan.
“Ini
konyol,” kata Ilaya lagi, masih terisak, masih berusaha menghalau tangisannya.
“Kami mencintaimu kak. Jangan ragukan itu.”
“Kami
mencintaimu dik, jangan ragukan itu.”
Mereka
berlima tetap dalam posisi itu, berpelukan dan terisak cukup lama, hingga
waktunya berpisah.
*
No comments:
Post a Comment