Wednesday, May 25, 2016

Royal Guards - Page 23-24

Chapter 3
Si Perak

Tiga nasihat favorit seorang ibu kepada anak laki-lakinya :
Jangan mencari masalah di negeri orang.
Jangan biarkan rasa penasaran mengalahkan akal sehat.
Jangan pernah mencintai seorang Elrika.     

Bulan keempat, Punas
Bulan embun

            Bulan purnama adalah salah satu fenomena alam favoritnya. Di tempatnya bersandar dia bisa melihat garis-garis tipis pantulan cahaya dari bulan dan efek pantulan cahaya itu. Rambut-rambut keemasan yang indah menjadi semakin indah ketika tertimpa sinar cahaya bulan. Secara naluriah dia memilin rambutnya, dengan penasaran membayangkan dirinya di tengah-tengah kerumunan para wanita yang menari itu. Dia akan tampak sangat mencolok. Imajinasinya membenamkan dia semakin jauh ke dalam bayangan, berusaha tidak terlihat.
            “Kau bersikap aneh Myana,”
            Suara familiar itu mengejutkannya. Dia menoleh, mendapati seorang wanita cantik tersenyum kepadanya. Wanita itu—seperti yang lain—berambut emas, ditata dalam kepangan yang rumit. Wajahnya oval, bibirnya merah dan penuh, hidungnya sempurna, alis mata dan pelupuk matanya tebal memikat. Kesempurnaan kecantikan itu bertambah dengan warna mata emasnya yang menghipnotis, ciri khas dari bangsa Elrika. Semua bangsa Elrika, dengan pengecualian dirinya sendiri.
            Myana Alata’lain, bahasa kuno yang secara harfiah berarti ‘perak bulan purnama’, adalah nama yang tidak bisa mendeskripsikannya jauh lebih tepat lagi.  Sedari lahir, Myana berbeda dari yang lain. Dia tidak berambut emas. Rambutnya berwarna perak penuh. Matanya tidak berwarna emas melainkan berwarna perak berkilau. Perbedaan ini membuat dia benci berada di tengah kerumunan. Dia benci selalu menjadi pusat perhatian.
            “Tarian bulan purnama ini untukmu, dan kau bersembunyi di sini,”
            Myana memandang sepupunya.
            “Tari,” desahnya. “Kau tahu seberapa bencinya aku menjadi pusat perhatian.”
             Nartaria mendekapnya, memeluknya menenangkan. Kebiasaan yang sering dilakukan ketika dia berhasil menemukan Myana yang bersembunyi di tempat-tempat yang tidak lazim. Myana menerima pelukan sepupunya dan bersandar di sana.
            “Lagipula,” katanya pelan. “Tarian ini bukan hanya untukku Tari. Tarian ini juga diperuntukkan untukmu dan Viseris.”
            Nartaria tertawa kecil.
            “Betul,” katanya. “Tapi kuingatkan, kau lahir pada saat bulan purnama, jadi tarian ini sangat cocok dengan namamu.”
            “Selain itu,” lanjutnya. “Tidak seharusnya kau bermuram seperti ini. Besok kita bertiga akan pergi dari sini. Bukankah itu mimpimu sedari kecil? Berpetualang ke luar hutan? Aku jelas ingin sekali mendengarkan cerita kakakmu! Bukankah dia sekarang tinggal di Kario? Bersama pelindung barunya?”
            Dia mengucapkan itu dengan mata berbinar-binar.
            “Aku jelas ingin melihat rupa seorang laki-laki.”
            Kali ini dia terkikik, tersipu-sipu. Antusiasmenya menular. Nartaria memang pandai membuat Myana ceria lagi.
            “Kudengar mereka itu seperti binatang,” goda Myana. “Kudengar mereka membawa penyakit, bau dan kasar.”
            “Benarkah?” gumam Nartaria. “yang kudengar lain Myana. Tapi kita akan segera tahu bukan?”
            Mereka terdiam, masing-masing membayangkan wujud pria versi mereka. Tiba-tiba Nartaria berdiri, memegang kedua tangan Myana dan membujuk.
            “Kita seharusnya ikut menari Myana,” katanya riang. “Ini adalah hari terakhir kita di hutan ini! Ayolah!”
            “Tari! Aku rasa lebih baik—“
            “Aku tidak akan melepaskanmu!” bujuk Nartaria. “Aku janji.”
            Myana menatap kedua mata emas itu, mencari ketentraman. Entah bagaimana tatapan itu membuatnya yakin. Dia berdiri, membiarkan Nartaria menuntunnya dan berbaur di tengah-tengah padang rumput, menari mengikuti irama musik.

*

Myana Alata'lain

Myana = Silver
Alata'lain = Full Moon
Lain = Moon

I got Myana's name from my friend, Alif Isla(Miyana)
Sorry dude

No comments: