Monday, May 16, 2016

Royal Guards - Page 15-16

 Tidak hanya gurun itu saja yang membuat orang enggan untuk ke area selatan. Lebih
ke selatan lagi adalah pegunungan cincin Arwen, tempat para tetua Erross tinggal, sementara bangsa itu tidak terkenal akan keramahannya.
            Agak sulit menemukan penginapan Go’iss Par’an karena letaknya yang agak tersembunyi dari jalan utama. Sven sendiri tidak pernah menginap di daerah semacam ini. Dia lebih menyukai penginapan di pusat kota yang bersih dan hangat. Benar saja, Go’iss Par’an tampak kumuh dan menyedihkan, tersembunyi di balik jalan-jalan yang sempit. 
            Lonceng berbunyi ketika Sven membuka pintu. Dia mengernyitkan hidung mencium aroma mirip muntahan. Tempat itu tidak begitu ramai. Hanya ada dua orang muram yang minum-minum di sudut dan seorang pria tua di balik meja panjang, mengelap gelas-gelas. Tempat ini lebih menyerupai kedai minum murahan daripada sebuah penginapan.
            “Penginapan di lantai dua, semalam 15 royn, tidak menyediakan sarapan dan makan malam,” kata si pria tua acuh tak acuh, segera setelah Sven menghampirinya.
            Sven menaruh beberapa kepingan nayn dan berhasil menarik perhatian lawan bicaranya.  Si pria tua memandang koin di meja hadapannya dengan ekspresi tamak.
            “Aku membutuhkan informasi,” kata Sven sambil memainkan keping-kepingan uangnya.
Si pria tua mengambil uang itu dengan sangat gesit.
            “Aku mendapat..kisikan,” kata Sven. “seseorang bernama Elkal menginap di sini.”
            Ekspresi menyerupai keraguan menghinggapi wajah pria tua itu. Namun, keraguannya tampak goyah begitu Sven mengeluarkan lagi beberapa keping uang. Kegelisahannya membuat Sven heran. Biasanya jumlah kepingan sebanyak ini mampu membuat bicara orang paling keras kepala sekalipun. Dikeluarkan lagi kepingan-kepingan yang lain.
            Melihat tumpukan uang di hadapannya, si pria tua menghela nafas. Dengan tamak dia mengambil uang-uang itu.
            “Lantai atas, kamar paling pojok sebelah kanan,” bisiknya. Dia segera masuk ke pintu di belakang seakan takut Sven akan meminta kembali uangnya.
            Tanpa berpanjang-panjang lagi, Sven segera menuju lantai atas. Dia baru akan mengetuk pintu yang dimaksud ketika tiba-tiba saja pintu itu menjeblak terbuka.
            Sven mendapati dirinya berhadapan dengan seorang pria yang menodongkan sesuatu ke dadanya. Hal paling pertama yang Sven sadari adalah rambutnya. Pria itu berambut jabrik dengan warna yang sangat tidak biasa. Perak. Tak hanya itu, warna matanya juga berwarna perak ganjil, menerawang dari balik googles yang dia kenakan. Selain goggles, yang membuat penampilannya tampak nyentrik adalah jubahnya yang berwarna merah mencolok. Dia memiliki rahang persegi dengan wajah pucat yang berbintik-bintik. Di luar itu dia tampak sangat galak.
            Sven tidak mengenali benda yang ditodongkan ke dadanya—yang menyerupai tongkat kayu berbonggol—namun firasatnya mengatakan bahwa benda itu berbahaya.
            “Elkal?” kata Sven ragu-ragu. Dia mengangkat kedua tangannya. “Aku tidak berbahaya, lihat?”
            “Pergi,” dia menggeram. “Kau salah orang!”
            “Namaku Sven. Hasven Leingord. Aku hanya ingin bicara.”
            “Kau salah orang!”
            Sven menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Sejenak dia mempertimbangkan untuk melawan tetapi mungkin itu tidak akan menimbulkan kesan pertama yang baik.
            “Aku ranvel,” katanya. “Aku butuh bantuanmu.”
            Si jabrik tampak berpikir sesaat. Selewat satu menit penuh dia akhirnya menarik kembali senjatanya, atau tongkat, atau galah, atau apa pun sebutannya.
            “Jangan melakukan hal aneh!” katanya tajam. “Jauhkan tanganmu dari pedang!”
            “Aku hanya ingin mengambil sesuatu,” kata Sven. “Ada di kantongku, sebuah kertas.”
            Butuh sebuah anggukan ragu-ragu sebelum Sven akhirnya mengeluarkan lembaran pekerjaan yang tidak bisa ia baca itu.
            “Kau Elkal kan?” tanyanya lagi sebelum menyerahkan lembaran itu.
            “Tergantung siapa yang bertanya,” jawab si jabrik, mengambil lembaran itu dengan kasar dan memeriksanya sejenak. Ekspresinya seketika itu juga tampak paham.
            “Tidak,” katanya, menjulurkan kembali lembaran itu, yang disambut Sven dengan tercengang.
            “Tidak? Apanya yang tidak? Kau bukan Elkal?”
            “Kau ingin aku menerjemahkan halaman ini, dan aku menolak.”
            Keakuratan tebakan ini membuat Sven cukup kagum. Sepertinya pria jabrik ini cukup cerdas, tidak seperti ranvel yang biasa Sven temui pada umumnya.
            “Ayolah, paling tidak biarkan aku masuk dan kita akan membicarakan hal ini dengan lebih santai.”
            “Tidak, pergilah!”
            “Aku akan membayarmu! Mahal!”
            “Pergilah!”

            Sven belum sempat berkata apa-apa lagi ketika si jabrik membanting pintunya.      
*

 chapter 1 is done!
Next chapter we'll go to Heil Story!
Kindly give your feedbacks all ;D


No comments: