Tidak hanya gurun itu saja yang membuat orang
enggan untuk ke area selatan. Lebih
ke selatan lagi adalah pegunungan
cincin Arwen, tempat para tetua Erross tinggal, sementara bangsa itu tidak
terkenal akan keramahannya.
Agak
sulit menemukan penginapan Go’iss Par’an
karena letaknya yang agak tersembunyi dari jalan utama. Sven sendiri tidak
pernah menginap di daerah semacam ini. Dia lebih menyukai penginapan di pusat
kota yang bersih dan hangat. Benar saja, Go’iss
Par’an tampak kumuh dan menyedihkan, tersembunyi di balik jalan-jalan yang
sempit.
Lonceng
berbunyi ketika Sven membuka pintu. Dia mengernyitkan hidung mencium aroma
mirip muntahan. Tempat itu tidak begitu ramai. Hanya ada dua orang muram yang
minum-minum di sudut dan seorang pria tua di balik meja panjang, mengelap
gelas-gelas. Tempat ini lebih menyerupai kedai minum murahan daripada sebuah
penginapan.
“Penginapan
di lantai dua, semalam 15 royn, tidak menyediakan sarapan dan makan malam,”
kata si pria tua acuh tak acuh, segera setelah Sven menghampirinya.
Sven
menaruh beberapa kepingan nayn dan berhasil menarik perhatian lawan bicaranya. Si pria tua memandang koin di meja hadapannya
dengan ekspresi tamak.
“Aku
membutuhkan informasi,” kata Sven sambil memainkan keping-kepingan uangnya.
Si pria tua mengambil
uang itu dengan sangat gesit.
“Aku
mendapat..kisikan,” kata Sven. “seseorang bernama Elkal menginap di sini.”
Ekspresi
menyerupai keraguan menghinggapi wajah pria tua itu. Namun, keraguannya tampak
goyah begitu Sven mengeluarkan lagi beberapa keping uang. Kegelisahannya
membuat Sven heran. Biasanya jumlah kepingan sebanyak ini mampu membuat bicara
orang paling keras kepala sekalipun. Dikeluarkan lagi kepingan-kepingan yang
lain.
Melihat
tumpukan uang di hadapannya, si pria tua menghela nafas. Dengan tamak dia
mengambil uang-uang itu.
“Lantai
atas, kamar paling pojok sebelah kanan,” bisiknya. Dia segera masuk ke pintu di
belakang seakan takut Sven akan meminta kembali uangnya.
Tanpa
berpanjang-panjang lagi, Sven segera menuju lantai atas. Dia baru akan mengetuk
pintu yang dimaksud ketika tiba-tiba saja pintu itu menjeblak terbuka.
Sven
mendapati dirinya berhadapan dengan seorang pria yang menodongkan sesuatu ke
dadanya. Hal paling pertama yang Sven sadari adalah rambutnya. Pria itu
berambut jabrik dengan warna yang sangat tidak biasa. Perak. Tak hanya itu, warna
matanya juga berwarna perak ganjil, menerawang dari balik googles yang dia kenakan. Selain goggles, yang membuat penampilannya tampak nyentrik adalah jubahnya
yang berwarna merah mencolok. Dia memiliki rahang persegi dengan wajah pucat
yang berbintik-bintik. Di luar itu dia tampak sangat galak.
Sven
tidak mengenali benda yang ditodongkan ke dadanya—yang menyerupai tongkat kayu berbonggol—namun
firasatnya mengatakan bahwa benda itu berbahaya.
“Elkal?”
kata Sven ragu-ragu. Dia mengangkat kedua tangannya. “Aku tidak berbahaya,
lihat?”
“Pergi,”
dia menggeram. “Kau salah orang!”
“Namaku
Sven. Hasven Leingord. Aku hanya ingin bicara.”
“Kau
salah orang!”
Sven
menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Sejenak dia mempertimbangkan untuk
melawan tetapi mungkin itu tidak akan menimbulkan kesan pertama yang baik.
“Aku
ranvel,” katanya. “Aku butuh bantuanmu.”
Si
jabrik tampak berpikir sesaat. Selewat satu menit penuh dia akhirnya menarik kembali
senjatanya, atau tongkat, atau galah, atau apa pun sebutannya.
“Jangan
melakukan hal aneh!” katanya tajam. “Jauhkan tanganmu dari pedang!”
“Aku
hanya ingin mengambil sesuatu,” kata Sven. “Ada di kantongku, sebuah kertas.”
Butuh
sebuah anggukan ragu-ragu sebelum Sven akhirnya mengeluarkan lembaran pekerjaan
yang tidak bisa ia baca itu.
“Kau
Elkal kan?” tanyanya lagi sebelum menyerahkan lembaran itu.
“Tergantung
siapa yang bertanya,” jawab si jabrik, mengambil lembaran itu dengan kasar dan
memeriksanya sejenak. Ekspresinya seketika itu juga tampak paham.
“Tidak,”
katanya, menjulurkan kembali lembaran itu, yang disambut Sven dengan tercengang.
“Tidak?
Apanya yang tidak? Kau bukan Elkal?”
“Kau
ingin aku menerjemahkan halaman ini, dan aku menolak.”
Keakuratan
tebakan ini membuat Sven cukup kagum. Sepertinya pria jabrik ini cukup cerdas,
tidak seperti ranvel yang biasa Sven temui pada umumnya.
“Ayolah,
paling tidak biarkan aku masuk dan kita akan membicarakan hal ini dengan lebih
santai.”
“Tidak,
pergilah!”
“Aku
akan membayarmu! Mahal!”
“Pergilah!”
Sven
belum sempat berkata apa-apa lagi ketika si jabrik membanting pintunya.
*
chapter 1 is done!
Next chapter we'll go to Heil Story!
Kindly give your feedbacks all ;D
No comments:
Post a Comment