Mawe
seperti pria najril pada umumnya, memiliki kulit sewarna tembaga, rambut hitam berminyak
panjang dan dada yang bidang dengan tubuh seorang petarung. Meski demikian, di
hadapan Heil yang raksasa, dia terlihat seperti anak-anak.
“Ena karayan Mawe,” (Kau menganggu
Mawe)kata Heil acuh tak acuh.“Dela en
taren? Razol del vorstar!” (Seorang katamu? Tangkap si vorstar!)
Seharusnya
para abdinya lebih tahu untuk tidak mengganggunya dengan informasi konyol
semacam ini. Selemah apa pun mereka, menghadapi satu orang pendatang asing
seharusnya bukan hal sulit. Namun, Mawe bergeming, masih menunduk, jelas sekali
takut.
“Aria una un rashtad,” (maafkan aku
ketuaku) cicitnya. “Del vorstar, del
vorstar ner razolin tur rakhuna!” (si vorstar, si vorstar sudah menghabisi
sepuluh prajurit!)
“Turi na ren rakhuna lakh aratorin un
rashtad,” (Saat ini para prajurit sedang menahannya ketuaku) lanjutnya. “Aria una un rashtad! Ukana dirat erante varom
un rashtad! Kalih alaneraz un rashtad!” (maafkan aku ketuaku! Kami tidak
cukup kuat ketuaku! Mohon bantuannya ketuaku!)
Rakhuna-nya tentu tidak selemah itu. Koloni
yang dipimpin Heil tergolong kecil. Dia memimpin sekitar tiga ratus kaum najril
dan hanya seratus di antaranya yang merupakan rakhuna. Dengan jumlah sekecil itu, Heil memastikan setiap rakhuna-nya terlatih dengan sangat
baik. Jadi, meskipun mereka tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi Heil,
paling tidak kemampuan bertempur mereka sangat disegani, terutama oleh orang dari
kota. Bisa menghabisi sepuluh orang rakhuna
dan tetap bertarung setelahnya jelas menandakan bahwa si vorstar ini bukan orang sembarangan. Heil merasakan perasaan asing
yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Gairah? Semangat? Dia berbalik, melempar
busur dan panahnya, kemudian mengambil pedang raksasa favoritnya, lento.
Mawe masih menunduk di tempatnya berada ketika Heil sudah siap lagi.
“Kiran aenatel, Mawe!” (Pimpin jalannya,
Mawe!)
*
Heil
memacu kudanya mengikuti Mawe, melewati tenda-tenda yang berjajar rapi.
Orang-orang yang melihatnya, para pria dan wanita berkulit tembaga, menunduk
begitu dia lewat. Beberapa bahkan terang-terangan kembali ke tendanya,
ketakutan akan keberadaannya. Mereka memakai baju yang terbuat dari kulit dan
bulu, hanya menutupi sedikit bagian tubuh. Laki-laki najril memakai tourqui, gulungan kulit berbulu tebal
yang terbuat dari kulit singa gurun. Tourqui
para lelaki dibuat sedemikian rupa hingga menutupi area perut dan kemaluan.
Para wanita najril juga memakai tourqui,
hanya saja dengan desain yang berbeda berupa tambahan untuk menutupi
payudaranya. Semuanya mengenakan sepatu panjang mencapai lutut yang juga terbuat dari
kulit singa gurun. Heil tahu dari ibunya bahwa orang-orang kota seringkali
menyebut penampilan orang-orang najril sebagai orang primitif dan barbar.
Hampir
semua dari sukunya memiliki rambut yang sangat panjang, tetapi Heil lain lagi.
Rambutnya selalu pendek berantakan, karena setiap bulannya dia memotong
rambutnya sendiri dengan pisau lengkung yang tajam. Banyak yang bilang dia
sangat mirip ayahnya ketika berambut panjang, dan dia tidak suka mendengar kalimat semacam itu.
Tidak
butuh waktu lama sebelum mereka meninggalkan area tenda, berkuda ke dataran
gurun yang gersang. Heil bisa melihat kerumunan berkuda tidak jauh di depannya.
Meski banyak asap, di tengah-tengah kerumunan itu Heil bisa melihatnya : seorang
yang berpenampilan mencolok dibandingkan yang lain. Dia memakai baju logam dan
sibuk dengan para rakhuna yang
menyerang. Tanpa menunggu Mawe, Heil bergegas memacu kudanya. Semakin dekat dia
bisa melihat para rakhuna yang
tumbang. Hitungan singkat membuatnya yakin bahwa mereka yang tumbang itu lebih
dari sepuluh orang. Ini membuatnya sangat geram.
Dia
sudah cukup dekat ketika pria berbaju logam itu melumpuhkan dua rakhuna lagi, menjatuhkan mereka dari
kudanya. Para abdinya menyadari kehadirannya dan bergegas memberinya jalan.
Heil menyadari kehadiran satu-satunya pria berambut coklat. Eral, tangan
kanannya juga berada di antara para rakhuna.
Eral turun tangan dan mereka masih belum
berhasil melumpuhkan penyusup ini?
Kembali Heil merasakan perasaan
asing itu : semangat meletup yang sulit dijelaskan.
“Karow!” (mundur!) perintahnya lantang.
Para rakhuna yang masih mengelilingi
si orang asing bergegas bubar mendengar suaranya. Eral sudah akan
menghampirinya ketika Heil melambaikan tangannya dengan tegas, melarangnya
mendekat.
“Dariat enaras un kuriantel!”(jangan
ganggu pertarunganku!)
Instruksinya
jelas. Dia akan bertarung dengan orang asing ini sendirian. Tak akan ada satu
pun abdinya yang cukup lancang untuk mengganggu pertarungannya.
Calon
lawannya tampak tenang, tidak terlihat seperti baru saja dikerumuni para
prajurit najril beberapa saat yang lalu. Dia memakai baju logam—yang beberapa
kali disebut ‘baju zirah’ oleh orang kota yang memberi upeti—membaluti baju dan
celana standar prajurit dari kota, lengkap dengan atribut sepatu dan sarung
tangan, perpaduan serasi antara biru dan perak. Dia bersenjatakan pedang
prajurit dan sebuah perisai yang cukup besar untuk melindungi dua orang
sekaligus. Pria itu tampak cukup tua, barangkali berusia lebih dari lima puluh
tahun. Rambut putihnya yang tipis menegaskan hal itu. Sikap dan perangainya
yang terkesan angkuh menandakan kualitasnya sebagai seorang veteran petarung.
Namun, bukan penampilannya, auranya ataupun perangainya yang membuat Heil
terkesiap. Sepasang mata pria itu putih berkabut dan kosong menatap ke
kejauhan. Namun, mustahil seorang yang buta
bisa bergerak dan bertarung sepertinya.
No comments:
Post a Comment