Monday, May 23, 2016

Royal Guards - Page 19-20

            Mawe seperti pria najril pada umumnya, memiliki kulit sewarna tembaga, rambut hitam berminyak panjang dan dada yang bidang dengan tubuh seorang petarung. Meski demikian, di hadapan Heil yang raksasa, dia terlihat seperti anak-anak.
            “Ena karayan Mawe,” (Kau menganggu Mawe)kata Heil acuh tak acuh.“Dela en taren? Razol del vorstar!” (Seorang katamu? Tangkap si vorstar!)
            Seharusnya para abdinya lebih tahu untuk tidak mengganggunya dengan informasi konyol semacam ini. Selemah apa pun mereka, menghadapi satu orang pendatang asing seharusnya bukan hal sulit. Namun, Mawe bergeming, masih menunduk, jelas sekali takut.
            “Aria una un rashtad,” (maafkan aku ketuaku) cicitnya. “Del vorstar, del vorstar ner razolin tur rakhuna!” (si vorstar, si vorstar sudah menghabisi sepuluh prajurit!)
            “Turi na ren rakhuna lakh aratorin un rashtad,” (Saat ini para prajurit sedang menahannya ketuaku) lanjutnya. “Aria una un rashtad! Ukana dirat erante varom un rashtad! Kalih alaneraz un rashtad!” (maafkan aku ketuaku! Kami tidak cukup kuat ketuaku! Mohon bantuannya ketuaku!)
            Rakhuna-nya tentu tidak selemah itu. Koloni yang dipimpin Heil tergolong kecil. Dia memimpin sekitar tiga ratus kaum najril dan hanya seratus di antaranya yang merupakan rakhuna. Dengan jumlah sekecil itu, Heil memastikan setiap rakhuna­-nya terlatih dengan sangat baik. Jadi, meskipun mereka tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi Heil, paling tidak kemampuan bertempur mereka sangat disegani, terutama oleh orang dari kota. Bisa menghabisi sepuluh orang rakhuna dan tetap bertarung setelahnya jelas menandakan bahwa si vorstar ini bukan orang sembarangan. Heil merasakan perasaan asing yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Gairah? Semangat? Dia berbalik, melempar busur dan panahnya, kemudian mengambil pedang raksasa favoritnya, lento.  Mawe masih menunduk di tempatnya berada ketika Heil sudah siap lagi.
            “Kiran aenatel, Mawe!” (Pimpin jalannya, Mawe!)
*
            Heil memacu kudanya mengikuti Mawe, melewati tenda-tenda yang berjajar rapi. Orang-orang yang melihatnya, para pria dan wanita berkulit tembaga, menunduk begitu dia lewat. Beberapa bahkan terang-terangan kembali ke tendanya, ketakutan akan keberadaannya. Mereka memakai baju yang terbuat dari kulit dan bulu, hanya menutupi sedikit bagian tubuh. Laki-laki najril memakai tourqui, gulungan kulit berbulu tebal yang terbuat dari kulit singa gurun. Tourqui para lelaki dibuat sedemikian rupa hingga menutupi area perut dan kemaluan. Para wanita najril juga memakai tourqui, hanya saja dengan desain yang berbeda berupa tambahan untuk menutupi payudaranya. Semuanya mengenakan sepatu panjang mencapai lutut yang juga terbuat dari kulit singa gurun. Heil tahu dari ibunya bahwa orang-orang kota seringkali menyebut penampilan orang-orang najril sebagai orang primitif dan barbar.
            Hampir semua dari sukunya memiliki rambut yang sangat panjang, tetapi Heil lain lagi. Rambutnya selalu pendek berantakan, karena setiap bulannya dia memotong rambutnya sendiri dengan pisau lengkung yang tajam. Banyak yang bilang dia sangat mirip ayahnya ketika berambut panjang, dan dia tidak suka mendengar kalimat semacam itu.   
            Tidak butuh waktu lama sebelum mereka meninggalkan area tenda, berkuda ke dataran gurun yang gersang. Heil bisa melihat kerumunan berkuda tidak jauh di depannya. Meski banyak asap, di tengah-tengah kerumunan itu Heil bisa melihatnya : seorang yang berpenampilan mencolok dibandingkan yang lain. Dia memakai baju logam dan sibuk dengan para rakhuna yang menyerang. Tanpa menunggu Mawe, Heil bergegas memacu kudanya. Semakin dekat dia bisa melihat para rakhuna yang tumbang. Hitungan singkat membuatnya yakin bahwa mereka yang tumbang itu lebih dari sepuluh orang. Ini membuatnya sangat geram.
            Dia sudah cukup dekat ketika pria berbaju logam itu melumpuhkan dua rakhuna lagi, menjatuhkan mereka dari kudanya. Para abdinya menyadari kehadirannya dan bergegas memberinya jalan. Heil menyadari kehadiran satu-satunya pria berambut coklat. Eral, tangan kanannya juga berada di antara para rakhuna.
            Eral turun tangan dan mereka masih belum berhasil melumpuhkan penyusup ini?
            Kembali Heil merasakan perasaan asing itu : semangat meletup yang sulit dijelaskan.
            “Karow!” (mundur!) perintahnya lantang. Para rakhuna yang masih mengelilingi si orang asing bergegas bubar mendengar suaranya. Eral sudah akan menghampirinya ketika Heil melambaikan tangannya dengan tegas, melarangnya mendekat.
            “Dariat enaras un kuriantel!”(jangan ganggu pertarunganku!)
            Instruksinya jelas. Dia akan bertarung dengan orang asing ini sendirian. Tak akan ada satu pun abdinya yang cukup lancang untuk mengganggu pertarungannya.
            Calon lawannya tampak tenang, tidak terlihat seperti baru saja dikerumuni para prajurit najril beberapa saat yang lalu. Dia memakai baju logam—yang beberapa kali disebut ‘baju zirah’ oleh orang kota yang memberi upeti—membaluti baju dan celana standar prajurit dari kota, lengkap dengan atribut sepatu dan sarung tangan, perpaduan serasi antara biru dan perak. Dia bersenjatakan pedang prajurit dan sebuah perisai yang cukup besar untuk melindungi dua orang sekaligus. Pria itu tampak cukup tua, barangkali berusia lebih dari lima puluh tahun. Rambut putihnya yang tipis menegaskan hal itu. Sikap dan perangainya yang terkesan angkuh menandakan kualitasnya sebagai seorang veteran petarung. Namun, bukan penampilannya, auranya ataupun perangainya yang membuat Heil terkesiap. Sepasang mata pria itu putih berkabut dan kosong menatap ke kejauhan. Namun, mustahil seorang yang buta bisa bergerak dan bertarung sepertinya.


No comments: