Wednesday, February 25, 2015
Butterfly In Your Eyes - Prologue
Mataku tertutup.
Bukan, bukan tertutup, melainkan ditutup...
Barangkali mereka takut, dan yang kumaksud dengan mereka adalah mereka, kau tahu kan maksudku?
Mereka yang selalu mencibir dan menunjuk, tetapi tidak pernah secara terang-terangan, atau bisa dibilang mereka melakukannya tanpa sepengetahuanku, paling tidak begitulah menurut anggapan mereka.
Siapa yang peduli soal mereka? Jelas bukan aku. Saat ini aku hanya memedulikan kondisi mataku yang kini mulai gatal.
"Kudengar seseorang dari tiga generasi terdahulu bahkan bisa melepas sendi-sendi di tubuh seseorang hanya dengan memelototinya," Mikrar berkata. Mata ditutup atau tidak, aku tetap akan bisa mengetahui kalau itu dia. Suaranya berat sekali, padahal usianya sama denganku. Hanya terpaut beberapa bulan, dia lebih tua sedikit.
"Dulu kau juga seperti ini?" aku bertanya, menatap condong ke kanan mungkin. Suaranya sih berasal dari sana.
Lucu rasanya kalau mengingat kondisi kami berdua terbalik hanya beberapa bulan yang lalu. Dia yang matanya ditutup sementara aku yang memerhatikan dari dekat.
Setelah dipikir-pikir, pertanyaanku aneh juga.
"Maksudku, bukan ditutup begini," tambahku. "Mataku mulai gatal."
"Dulu kau juga seperti ini?" tanyaku lagi.
Kudengar keheningan Mikrar. Dia sepertinya tengah mengingat-ngingat. Atau memang dia sengaja membuatku menunggu hanya untuk membuatku kesal, entahlah.
"Itu awalnya," akhirnya dia menjawab. "Kau ingin jawaban yang jujur?"
Aku tidak menyukai nada suara itu.
"Seingatku, kau dulu tidak pernah mengeluh soal gatal!" aku berkata agak menuduh.
"Memang tidak, tapi bukan berarti aku tidak merasakannya kan?" kata Mikrar. "Aku tidak ingin menakut-nakutimu dulu."
"Lalu kenapa kau menakut-nakutiku sekarang!?"
Kudengar dia tertawa.
"Jangan tertawa!" tukasku galak. Hari ini aku galak sekali.
"Aku bahkan belum mulai," kata Mikrar terdengar geli. "Makanya aku menanyaimu : kau ingin jawaban yang jujur atau tidak?"
Maukah aku mendengar jawaban yang jujur? Kalau menilai dari nada suara kurang menyenangkan Mikrar rasanya lebih baik aku tidak tahu saja. Kalau sakit ya sakit, tidak ya tidak. Apa bedanya aku tahu lebih dulu atau tidak?
Tapi tetap saja aku mengangguk. Bodoh.
Lagi, kudengar keheningan Mikrar. Selama sepuluh tahun aku mengenalnya, aku jadi tahu itu kebiasaannya kalau dia tengah memilah kata-kata yang akan dia ucapkan. Dia beda denganku yang cenderung mengatakan begitu saja apa yang terlintas di benak. Dari dulu dia selalu berhati-hati dan penuh perhitungan.
Kebiasaanya itu yang membuatku yakin bahwa dia akan mengatakan sesuatu yang buruk. Selalu begitu.
"Langsung katakan saja!" aku nyaris membentak. Galak lagi.
Kudengar dia mendesah.
"Pada akhir prosesnya, rasa gatal itu akan membuatmu ingin mencongkel matamu sendiri." dia berkata cepat, setengah meringis.
Jadi itu sebabnya mereka bukan hanya menutup mataku, tetapi juga mengikat kedua tanganku.
Aku seharusnya ketakutan, tetapi malah marah.
"Itukah yang terjadi padamu waktu mereka menyeretku keluar!?"
Aku bisa mendengar suaraku meninggi beberapa tingkat.
Hening lagi.
"Ya, begitulah," Mikrar berkata kemudian. "Kenapa kau tiba-tiba marah?"
"Gila! Aku khawatir setengah mati tahu ga!? Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau proses itu membuatmu kesakitan!?"
"Gatal," Mikrar mengoreksi.
"Apalah!" Aku mencibir. "Kau meyakinkanku kalau kau baik-baik saja padahal tidak!"
"Aku baik-baik saja sekarang," kata Mikrar.
Aku menghembuskan nafas kuat-kuat, sesuatu yang kulakukan saat rasa jengkelku memuncak. Kalau kondisiku tidak terikat sekarang, barangkali sudah kutinggalkan dia.
"Sudah kubilang kan aku tidak ingin menakut-nakutimu," Mikrar berkata. Nada suaranya nyaris memohon. "Giliranmu kan setelah aku, jadi aku--kau seharusnya tahu maksudku..."
Kendati jengkel, aku tidak bodoh. Aku tahu niat Mikrar baik, selalu baik.
"Kau belum memberitahuku apa kekuatan yang kau dapat," kataku tiba-tiba.
"Sesuatu yang bodoh," kata Mikrar. "Kuharap kau mendapat kekuatan bodoh juga."
"Ya, tapi apa?"
"Bukan hal penting."
"Kenapa sih kau tidak mau memberitahuku!?"
"Sudah kubilang kekuatan bodoh!"
Sudah beratus-ratus kali kutanyakan pertanyaan ini setelah kemampuan matanya aktif, tetapi Mikrar selalu menjawab hal yang sama. Dia takut aku akan menertawakannya atau bagaimana!?
Mataku mulai gatal lagi ketika kudengar suara cekikikan yang tak asing. Suara yang paling kubenci di dunia ini.
"Mau apa kau ke sini!?" aku dan Mikrar memaki berbarengan.
"Oh seram!"
Suara itu sudah pasti milik Dava, makhluk paling menyebalkan di dunia. Kau percaya dengan istilah 'cinta pada pandangan pertama?'. Hal yang sebaliknya rupanya juga bisa terjadi. Kami 'benci setengah mampus pada pandangan pertama'. Dia juga sama halnya seperti aku dan Mikrar, terlahir sebagai calon sener, para pemilik kekuatan mata. Bedanya adalah dia itu makhluk paling sengak dan kurang ajar yang pernah aku temui. Fakta kalau dia lima tahun lebih tua membuatnya makin menjadi-jadi.
"Kalian pasangan gay masih belum selesai?" dia bertanya, dengan nada suara merendahkan yang sudah sangat kukenali. Biasanya setelah mendengar itu aku langsung gatal ingin meninju hidungnya. Kali ini bukan pengecualian. Sayang tanganku terikat.
"Kau tidak punya urusan di sini!" kudengar Mikrar menggeram.
Lagi, kudengar suara cekikikan yang memuakkan.
"Oh, aku punya urusan!" ujar Dava malas. "Pak jenggot memintaku untuk menanyai teman kerdilmu apakah matanya sudah gatal atau tidak. Kalau ya, jadinya kau yang tidak punya urusan di sini."
"Mataku baik-baik saja, jadi kau bisa enyah sekarang!" aku berbohong.
"Jangan bohong, kerdil. Aku mendengar percakapan kalian."
"Tentu saja orang sepertimu akan menguping!" kataku jijik.
Alih-alih balasan sengit seperti biasanya, Dava malah terdiam. Aku yang tidak bisa melihat hanya bisa membayangkan diamnya itu sebagai tanda kalau dia tengah membuat gerakan menghina atau apa. Tiba-tiba saja mataku gatal lagi, kali ini setingkat lebih parah.
"Kenapa kau belum juga memberitahunya?" kudengar Dava menanyai Mikrar. "Cepat atau lambat dia akan tahu, jadi kenapa kau menunda-nunda?"
"Jangan ikut campur Dava!" Mikrar terdengar marah sekali.
Terdengar hiruk-pikuk. Walaupun aku tidak bisa melihatnya tetapi aku cukup yakin kalau Mikrar baru saja menyerang Dava.
"Memberitahuku apa?" aku bertanya keheranan. "Apa maksudmu?"
Aku mendengar Dava mengerang. Dia terdengar kesakitan.
"TOLOL!" dia membentak. "Kenapa kau melakukan itu tolol! Jangan memberikan mereka alasan lebih!"
"A--aku tidak bermaksud," Mikrar terdengar ketakutan.
"Apa-apaan!" aku ikut membentak. "Seseorang jelaskan padaku apa yang tengah terjadi!"
"JANGAN!" Kali ini giliran Mikrar yang membentak.
Terdengar suara sesuatu yang dibanting.
"Tutup matamu bodoh!" Dava tersengal. "Kau mencekikku!"
"Mikrar?"
Mikrar tidak menjawab panggilanku, tetapi aku bisa mendengarnya terisak.
"Dava!" aku berteriak, meronta-ronta tanpa hasil di tempatku terikat. "Jangan ganggu dia, kau pengecut!"
"Satu lagi orang tolol," Dava berkata terengah-engah, namun kali ini nadanya menghina. "Temanmu yang tolol itu nyaris membunuhku dengan matanya dan kau menyalahkan aku?"
"Apa?"
"Bersihkan kupingmu itu--oh tanganmu terikat aku lupa--kubilang dia nyaris membunuhku dengan matanya! Dia tidak memberitahumu tentang kekuatannya yang spektakuler eh?"
Suara isakan Mikrar kini terdengar semakin jelas.
"Ap--Apa maksudmu!?" Aku membentak marah. "Jangan membohongiku kau bangsat! Kekuatan seperti itu tidak akan ditolerir oleh mereka, kau tahu itu!"
"Mikrar!" kali ini aku membentak Mikrar. "Berhenti bersikap cengeng dan katakan padaku apa ini!"
Aku bisa mendegar Dava akan bersuara lagi.
"DIAM KAU BANGSAT!" Aku meraung. "Aku tidak bicara denganmu! Mikrar jawab aku!"
Mikrar masih saja terisak dan Dava masih saja mencibir.
"Dengarkan aku cecunguk," katanya. "Aku tidak tahu kenapa aku mau repot-repot, tetapi teman konyolmu itu terlalu cengeng untuk mengatakannya!"
"Dava--" Mikrar akhirnya bersuara. Nadanya memohon. "Kumohon jangan..."
Tetapi Dava mengabaikannya.
"Dia seharusnya sudah dipancung semenjak mereka tahu tentang kemampuan matanya,"
Aku merasakan sesuatu yang tak kasat mata mencengkram jantungku begitu kuat, tetapi Dava belum selesai.
"tetapi dia memohon untuk menundanya sampai dia yakin kau mendapat kekuatan yang aman. Dia meyakinkan pada mereka kalau kekuatanku bisa membuatnya aman selama beberapa waktu. Dia memohon padaku untuk selalu mengawasinya kalau-kalau kekuatannya hilang kendali."
Perkataannya begitu membuatku terguncang dan bahkan tidak tahu harus bereaksi apa. Otakku kosong.
"Mereka berubah pikiran," lanjut Dava. "Ini terakhir kalinya kalian bisa saling mencumbu. Mereka tidak mau menunggu lagi."
Otakku kosong.
"Mer-mereka sudah berjanji akan menunggu sampai kekuatan Leks aktif!" Mikrar tergagap. "Mereka berjanji!"
"Nah, kubilang mereka berubah pikiran kan? Mereka memang lucu seperti itu," Dava berkata penuh kebencian. "Rupanya mereka khawatir kalau kekuatan si kerdil ini ternyata juga berbahaya, kalian berdua akan memberontak. Jadi, bunuh satu dulu supaya aman, ya kan?"
Otakku kosong.
Aku ingin bertanya banyak hal, ingin membentak keras-keras, ingin bersuara lagi, tetapi otakku benar-benar kosong. Suara gelagapan Mikrar hanya terdengar seperti dengungan yang tak berarti. Cibiran kejam Dava juga sama, hanya dengung samar-samar.
"Leks, kau harus memaafkanku," aku mendengar potongan suara dari Mikrar. Lagi-lagi dia terdengar sesenggukan.
Sekonyong-konyong mataku terasa gatal sekali.
Sangat gatal.
Terlalu gatal.
Mataku terbakar.
Monday, January 26, 2015
Cowok Petakilan - Chapter 6
Vino adalah definisi paling pas dari seorang cowok mesos. Kalo hobi orang normal itu kan biasanya palingan baca atau maen bola. Nah, si Vino ini hobinya tuh nge-gym. Gue ga ngerti lagi gimana caranya ngangkat-ngangkat barbel bisa jadi hobi. I mean, si Vino ini SETIAP HARI itu selalu ke tempat fitness minimal DUA JAM. Otot bisepnya aja udah lebih gede dari volume banjir di Jakarta. Hence, gue nyebut dia Vino otot.
Kalo cuman itu masa iya dia jadi cowok mesos? Nih buktinya :
Gue : Bang, hari ini mau ada rencana ke mana?
Vino : Sauna dulu gue abis nge gym..
Gue : ..................
Kurang bukti? Nih lagi :
Vino : Baju baru bro?
Gue : Heh? Ga juga sih, cuman jarang gue pake aja bang.
Vino : Hmmmm, model kerah gitu udah lewat Dit. Coba liat gue nih!
Gue :....................
Notice kan gue manggil dia dengan julukan bang? Emang usia Vino itu lebih tua di atas gue lima tahun. Dia itu udah jadi orang kantoran, tapi ga tau kenapa gaulnya malah sama anak kuliahan. Ada ceritanya sih...
Identitas 7
Nama : Alvino Salman Pranatya
Usia : Tadi udah gue sebut kan? Kurang?
Tinggi : 165 cm tok . Yes, dia emang pendek #ketawanyinyir
Berat : 72 kg. Ini dia berat kaya gini karena lemaknya ga ada. Adanya otot bah! #ketawasatir
Bisep : Lebih gede dari volume banjir Jakarta
Moto hidup : Live now, regret later!
Panggilan akrab dari gue : Bang Vin.
Panggilan dia ke gue
Top 3 hobbies : Nge-gym, nge-date, nge-shopping (maksa pake 'nge-' :P)
*nut nut nut* <<<masih vibrate ternyata hape gue
Vino otot (Mobile)
Received Mon @ 11:12a
Jadi kesini?
Zaman udah canggih kaya gini tapi Vino tetep komunikasi pake telpon dan sms. Dia itu cowok simple pake banget.
"Siapa tuh dot?" Eren ngeliat gue ngetik.
"Bang Vin," gue jawab sambil ngetik balesan 'jadi'.
"Kok dia sms nya ke lo!" desis Naya dari depan. "Yang ngasih tau kita mau jalan kan gue!"
Buat ngasih tau lagi, Naya ini kayanya sih naksir sama Vino. Tapi ga ada yang bisa tau pasti, soalnya selain Nayanya kaya setengah serius setengah becanda, dia juga ga pernah keliatan jeles kalo Vino lagi ngegandeng cewek. Sementara Vino itu sering banget ngegandeng cewek. Dia punya prinsip ga mau 'nyicip' cewek yang sama setelah lewat dua minggu. Oh, have I mentioned that he is a jerk with a capital J?
Vino itu cowok brengsek dalam masalah percintaan. Tapi dia sangat care sama kita-kita. Dia ngingetin gue sama Barney Stinson di film seri How I Met Your Mother.
"Gue galau!"
Itu kalimat pertama yang diucapin Vino waktu dia naik mobil. Dia necis kaya biasanya, pake kemeja biru titik-titik sama celana jeans item. Dia anti pake celana bahan, biarpun dalam kondisi paling formal sekalipun.
Kehadiran dia bikin kita di bangku tengah suit-suitan buat ngusir satu orang ke belakang. Vino tuh lebar parah, jadi ga bisa satu area sama gajah jumbo di belakang. Ga ada yang mau kegenjet Pano, jadinya suit-suitan itu udah kaya duel idup mati.
"GUE GA TERIMA!" Eren tereak (beneran tereak). "Masa cuma sekali suitnya!? Dimana-mana tiga kali!"
"Jangan tereak di dalam mobil!" Naya tereak dengan suara cemprengnya.
"Lo juga tereak!" Eren tereak lagi.
Di balik adu teriakan itu, gue denger satu suara favorit gue : cekikikan Clarin. Dia rupanya geli ngeliat kelakuan kita. Suara macam itu mah tetep akan bisa gue denger biarpun dunia di sekeliling gue runtuh sekalipun.
Akhirnya Eren mau sebangku sama Pano dengan syarat Pano harus tahan nafas selama perjalanan. Maksudnya biar dia rada kecilan gitu. Panonya sih bilang sanggup, jadi ya jalan deh kita.
Kembali ke kalimat "Gue galau!" yang dilontarkan Vino.
"Galau kenapa bang?" Naya yang paling cepet nanya.
Baru kali ini gue ngeliat tampang Vino separah itu. Tampangnya udah kaya orang ga tidur dua hari. Kalo dipikir-pikir ini pertama kalinya gue ngeliat dia lagi setelah abis weekend. Did something happen?
"Weekend ini gue ketemu cewek..."
Kompak semuanya pada mengerang denger kalimat pembuka ini. Ga ada yang berminat dengerin cerita cinta ga keruan dari makhluk satu ini.
"Tunggu! Dengerin cerita gue dulu!" Vino tiba-tiba galak.
Sikap galak itu yang bikin kita nyimak lagi. Ga biasanya dia galak.
Dan kalimat dia berikutnya udah kaya bom atom yang bikin kita semua nganga dan kayanya baru bisa nutup setelah lewat seabad.
"Kayanya gue jatuh cinta deh..." Dia ngomong pelan sambil nunduk. "Mampus gue!"
Subscribe to:
Posts (Atom)

