Chapter
2
Si Penghancur
Asap
terbang, debu terbang, suara raungan
Tunggangan
yang liar dan tak bisa jinak
Kecuali
oleh para pejuang padang pasir
Tinggal
di sini suatu saat
Namun
lebih banyak menghilang di kala lain
Liar,
buas, membahana
Tinggal di sini suatu saat
Namun lebih banyak menghilang di
kala lain
Ditelan pasir dan badai
Menelan musuh yang lengah
Menghancurkan seteru padang pasir
Liar, buas, membahana
Lagu tentang ras Najril, Grajham si Pemalu
“Di tengah-tengah gurun pasir Travia, arah
selatan dari kota Kalen,”
“mereka mendirikan tenda dan kemah di padang
pasir,”
“mereka tidak menerima pengunjung, terutama
pengunjung yang memakai baju zirah,”
“mereka akan menyerangmu pertama kali, tidak
repot-repot bertanya, terutama karena busanamu yang dianggap mengancam. Tidak
perlu repot-repot menjelaskan, karena kau sendiri tidak akan mengerti bahasa najril,”
“jangan lukai mereka tuan Tartorigal! Ini
agak sulit, karena mereka adalah prajurit-prajurit yang tangguh, tapi aku yakin
kau lebih dari mampu untuk menangani mereka tanpa harus melukai,”
“salah seorang dari mereka akan mengerti
bahasa Vierre, tunggulah sampai orang itu muncul,”
“orang itulah yang kita cari tuan, tetapi
akan sulit untuk membuatnya berhenti. Dia tipikal pria yang menyerang dulu,
bicara belakangan,”
“dan berhati-hatilah tuan, dia.. brutal.”
*
Sepanjang
pagi, dia mendengar gerutuan dan omelan. Sebenarnya gerutuan dan omelan itu
berasal dari dirinya sendiri. Dia telah meminta, atau lebih tepatnya memerintah
para pengikutnya untuk beradu pedang—pedang kayu untuk latihan—dengannya, tapi
tak satupun dari mereka yang mampu mengimbangi dirinya, padahal dia belum
sedikit pun mengerahkan seluruh kemampuannya. Pamannya, yang bisa
mengimbanginya paling tidak beberapa menit, sedang pergi dan baru akan kembali
dua atau tiga hari lagi. Alhasil, setelah menyumpah dan marah-marah kepada
orang-orang yang tumbang olehnya, dia kembali lagi ke tendanya, mencoba mencari
hiburan yang lain.
Tenda
tempatnya tinggal berantakan seperti biasa. Gulungan kain dan kulit bertumpuk
di salah satu sisi tenda, di tempat dia biasa tidur. Sebuah meja rendah yang
sederhana dari kulit hewan dan kayu di sisi lain, tempat dia menaruh hasil
buruan dan makanan. Aneka macam senjata tertata dengan rapi di atas kulit singa
gurun yang tergelar di sisi tersisa, dan dia biasa mengasah senjatanya di sana.
Di tengah-tengah tenda masih tersisa kayu-kayu dan arang untuk api unggun
dibatasi dengan batu-batu yang ditata sedemikian rupa agar api tidak menjalar
ke bagian tenda yang lain. Tempatnya tinggal sebenarnya nyaman, namun baru
beberapa menit dia di sana, dia sudah gatal untuk keluar lagi.
Heil teringat
persediaan makanan koloni mereka yang menipis, terlebih selama dua bulan
terakhir belum ada orang kota yang melewati gurun tempat mereka tinggal.
Biasanya dia cukup bermurah hati dalam memberikan harga upeti kepada mereka
yang ingin lewat dengan aman sehingga kalaupun mereka mendapatkan tambahan
persediaan makanan, jumlahnya tidak pernah terlalu banyak. Cukup banyak ketua koloni
lain yang mengkritik dirinya lembek karena hal ini, tetapi Heil tidak pernah
peduli. Dia lebih dari mampu untuk
menyediakan persediaan makanan bagi koloninya sendiri, tanpa harus mengandalkan
kehadiran orang luar. Pemikiran akan persediaan makanan itu membuatnya bangkit.
Dia mengambil busur dan panah kemudian bersiap mengumumkan kepergiannya untuk
berburu.
Heil
baru saja akan keluar dari tendanya ketika salah seorang abdinya, Mawe,
berlari-lari menghampirinya. Mawe masih muda, namun memiliki kemampuan
bertarung yang cukup baik menurut Heil. Sayangnya dia pengecut, terutama di
hadapan Heil. Meskipun memang tidak banyak abdinya yang bisa bersikap berani di
hadapannya.
Mawe
segera berlutut di hadapannya.
“Un Rashtad! Dela vorstar nari ga enranei!” (ketua
ku! Seorang vorstar datang dari utara!)
Heil hanya melirik Mawe dengan malas.
Heil hanya melirik Mawe dengan malas.
This is Heil.
I notice his proportion is so weird, but again, like I've mentioned, I cant draw very well.
Basically he's a brutal giant, but with unexpected soft side.
I love him the most, aside from Remia, who is only gonna show up on chapter 38.
1 comment:
Kumpulan Angka Arti Tafsir Mimpi Togel Paling Lengkap
Tafsir Arti Mimpi
Post a Comment