Friday, May 20, 2016

Royal Guards - Page 17-18

Chapter 2
Si Penghancur

Asap terbang, debu terbang, suara raungan
Tunggangan yang liar dan tak bisa jinak
Kecuali oleh para pejuang padang pasir
Tinggal di sini suatu saat
Namun lebih banyak menghilang di kala lain
Liar, buas, membahana
            Tinggal di sini suatu saat
            Namun lebih banyak menghilang di kala lain
            Ditelan pasir dan badai
            Menelan musuh yang lengah
            Menghancurkan seteru padang pasir
            Liar, buas, membahana
           
Lagu tentang ras Najril, Grajham si Pemalu

“Di tengah-tengah gurun pasir Travia, arah selatan dari kota Kalen,”
“mereka mendirikan tenda dan kemah di padang pasir,”
“mereka tidak menerima pengunjung, terutama pengunjung yang memakai baju zirah,”
“mereka akan menyerangmu pertama kali, tidak repot-repot bertanya, terutama karena busanamu yang dianggap mengancam. Tidak perlu repot-repot menjelaskan, karena kau sendiri tidak akan mengerti bahasa najril,”
“jangan lukai mereka tuan Tartorigal! Ini agak sulit, karena mereka adalah prajurit-prajurit yang tangguh, tapi aku yakin kau lebih dari mampu untuk menangani mereka tanpa harus melukai,”
“salah seorang dari mereka akan mengerti bahasa Vierre, tunggulah sampai orang itu muncul,”
“orang itulah yang kita cari tuan, tetapi akan sulit untuk membuatnya berhenti. Dia tipikal pria yang menyerang dulu, bicara belakangan,”
“dan berhati-hatilah tuan, dia.. brutal.”
*
            Sepanjang pagi, dia mendengar gerutuan dan omelan. Sebenarnya gerutuan dan omelan itu berasal dari dirinya sendiri. Dia telah meminta, atau lebih tepatnya memerintah para pengikutnya untuk beradu pedang—pedang kayu untuk latihan—dengannya, tapi tak satupun dari mereka yang mampu mengimbangi dirinya, padahal dia belum sedikit pun mengerahkan seluruh kemampuannya. Pamannya, yang bisa mengimbanginya paling tidak beberapa menit, sedang pergi dan baru akan kembali dua atau tiga hari lagi. Alhasil, setelah menyumpah dan marah-marah kepada orang-orang yang tumbang olehnya, dia kembali lagi ke tendanya, mencoba mencari hiburan yang lain.
            Tenda tempatnya tinggal berantakan seperti biasa. Gulungan kain dan kulit bertumpuk di salah satu sisi tenda, di tempat dia biasa tidur. Sebuah meja rendah yang sederhana dari kulit hewan dan kayu di sisi lain, tempat dia menaruh hasil buruan dan makanan. Aneka macam senjata tertata dengan rapi di atas kulit singa gurun yang tergelar di sisi tersisa, dan dia biasa mengasah senjatanya di sana. Di tengah-tengah tenda masih tersisa kayu-kayu dan arang untuk api unggun dibatasi dengan batu-batu yang ditata sedemikian rupa agar api tidak menjalar ke bagian tenda yang lain. Tempatnya tinggal sebenarnya nyaman, namun baru beberapa menit dia di sana, dia sudah gatal untuk keluar lagi.
Heil teringat persediaan makanan koloni mereka yang menipis, terlebih selama dua bulan terakhir belum ada orang kota yang melewati gurun tempat mereka tinggal. Biasanya dia cukup bermurah hati dalam memberikan harga upeti kepada mereka yang ingin lewat dengan aman sehingga kalaupun mereka mendapatkan tambahan persediaan makanan, jumlahnya tidak pernah terlalu banyak. Cukup banyak ketua koloni lain yang mengkritik dirinya lembek karena hal ini, tetapi Heil tidak pernah peduli.  Dia lebih dari mampu untuk menyediakan persediaan makanan bagi koloninya sendiri, tanpa harus mengandalkan kehadiran orang luar. Pemikiran akan persediaan makanan itu membuatnya bangkit. Dia mengambil busur dan panah kemudian bersiap mengumumkan kepergiannya untuk berburu.
            Heil baru saja akan keluar dari tendanya ketika salah seorang abdinya, Mawe, berlari-lari menghampirinya. Mawe masih muda, namun memiliki kemampuan bertarung yang cukup baik menurut Heil. Sayangnya dia pengecut, terutama di hadapan Heil. Meskipun memang tidak banyak abdinya yang bisa bersikap berani di hadapannya.
            Mawe segera berlutut di hadapannya.
            “Un Rashtad! Dela vorstar nari ga enranei!” (ketua ku! Seorang vorstar datang dari utara!)
            Heil hanya melirik Mawe dengan malas. 

This is Heil.

I notice his proportion is so weird, but again, like I've mentioned, I cant draw very well.
Basically he's a brutal giant, but with unexpected soft side.
I love him the most, aside from Remia, who is only gonna show up on chapter 38.

1 comment:

vivi said...

Kumpulan Angka Arti Tafsir Mimpi Togel Paling Lengkap
Tafsir Arti Mimpi