Chapter
3
Si
Perak
Tiga
nasihat favorit seorang ibu kepada anak laki-lakinya :
Jangan
mencari masalah di negeri orang.
Jangan
biarkan rasa penasaran mengalahkan akal sehat.
Jangan
pernah mencintai seorang Elrika.
Bulan
keempat, Punas
Bulan embun
Bulan
purnama adalah salah satu fenomena alam favoritnya. Di tempatnya bersandar dia
bisa melihat garis-garis tipis pantulan cahaya dari bulan dan efek pantulan
cahaya itu. Rambut-rambut keemasan yang indah menjadi semakin indah ketika
tertimpa sinar cahaya bulan. Secara naluriah dia memilin rambutnya, dengan
penasaran membayangkan dirinya di tengah-tengah kerumunan para wanita yang
menari itu. Dia akan tampak sangat mencolok. Imajinasinya membenamkan dia
semakin jauh ke dalam bayangan, berusaha tidak terlihat.
“Kau
bersikap aneh Myana,”
Suara
familiar itu mengejutkannya. Dia menoleh, mendapati seorang wanita cantik
tersenyum kepadanya. Wanita itu—seperti yang lain—berambut emas, ditata dalam
kepangan yang rumit. Wajahnya oval, bibirnya merah dan penuh, hidungnya
sempurna, alis mata dan pelupuk matanya tebal memikat. Kesempurnaan kecantikan
itu bertambah dengan warna mata emasnya yang menghipnotis, ciri khas dari
bangsa Elrika. Semua bangsa Elrika, dengan pengecualian dirinya sendiri.
Myana
Alata’lain, bahasa kuno yang secara harfiah berarti ‘perak bulan purnama’, adalah
nama yang tidak bisa mendeskripsikannya jauh lebih tepat lagi. Sedari lahir, Myana berbeda dari yang lain.
Dia tidak berambut emas. Rambutnya berwarna perak penuh. Matanya tidak berwarna
emas melainkan berwarna perak berkilau. Perbedaan ini membuat dia benci berada
di tengah kerumunan. Dia benci selalu menjadi pusat perhatian.
“Tarian
bulan purnama ini untukmu, dan kau bersembunyi di sini,”
Myana
memandang sepupunya.
“Tari,”
desahnya. “Kau tahu seberapa bencinya aku menjadi pusat perhatian.”
Nartaria mendekapnya, memeluknya menenangkan.
Kebiasaan yang sering dilakukan ketika dia berhasil menemukan Myana yang
bersembunyi di tempat-tempat yang tidak lazim. Myana menerima pelukan sepupunya
dan bersandar di sana.
“Lagipula,”
katanya pelan. “Tarian ini bukan hanya untukku Tari. Tarian ini juga
diperuntukkan untukmu dan Viseris.”
Nartaria
tertawa kecil.
“Betul,”
katanya. “Tapi kuingatkan, kau lahir pada saat bulan purnama, jadi tarian ini
sangat cocok dengan namamu.”
“Selain
itu,” lanjutnya. “Tidak seharusnya kau bermuram seperti ini. Besok kita bertiga
akan pergi dari sini. Bukankah itu mimpimu sedari kecil? Berpetualang ke luar
hutan? Aku jelas ingin sekali mendengarkan cerita kakakmu! Bukankah dia
sekarang tinggal di Kario? Bersama pelindung barunya?”
Dia
mengucapkan itu dengan mata berbinar-binar.
“Aku
jelas ingin melihat rupa seorang laki-laki.”
Kali
ini dia terkikik, tersipu-sipu. Antusiasmenya menular. Nartaria memang pandai
membuat Myana ceria lagi.
“Kudengar
mereka itu seperti binatang,” goda Myana. “Kudengar mereka membawa penyakit,
bau dan kasar.”
“Benarkah?”
gumam Nartaria. “yang kudengar lain Myana. Tapi kita akan segera tahu bukan?”
Mereka
terdiam, masing-masing membayangkan wujud pria versi mereka. Tiba-tiba Nartaria
berdiri, memegang kedua tangan Myana dan membujuk.
“Kita
seharusnya ikut menari Myana,” katanya riang. “Ini adalah hari terakhir kita di
hutan ini! Ayolah!”
“Tari!
Aku rasa lebih baik—“
“Aku
tidak akan melepaskanmu!” bujuk Nartaria. “Aku janji.”
Myana
menatap kedua mata emas itu, mencari ketentraman. Entah bagaimana tatapan itu
membuatnya yakin. Dia berdiri, membiarkan Nartaria menuntunnya dan berbaur di
tengah-tengah padang rumput, menari mengikuti irama musik.
*
Myana Alata'lain
Myana = Silver
Alata'lain = Full Moon
Lain = Moon
I got Myana's name from my friend, Alif Isla(Miyana)
Sorry dude

