Wednesday, May 25, 2016

Royal Guards - Page 23-24

Chapter 3
Si Perak

Tiga nasihat favorit seorang ibu kepada anak laki-lakinya :
Jangan mencari masalah di negeri orang.
Jangan biarkan rasa penasaran mengalahkan akal sehat.
Jangan pernah mencintai seorang Elrika.     

Bulan keempat, Punas
Bulan embun

            Bulan purnama adalah salah satu fenomena alam favoritnya. Di tempatnya bersandar dia bisa melihat garis-garis tipis pantulan cahaya dari bulan dan efek pantulan cahaya itu. Rambut-rambut keemasan yang indah menjadi semakin indah ketika tertimpa sinar cahaya bulan. Secara naluriah dia memilin rambutnya, dengan penasaran membayangkan dirinya di tengah-tengah kerumunan para wanita yang menari itu. Dia akan tampak sangat mencolok. Imajinasinya membenamkan dia semakin jauh ke dalam bayangan, berusaha tidak terlihat.
            “Kau bersikap aneh Myana,”
            Suara familiar itu mengejutkannya. Dia menoleh, mendapati seorang wanita cantik tersenyum kepadanya. Wanita itu—seperti yang lain—berambut emas, ditata dalam kepangan yang rumit. Wajahnya oval, bibirnya merah dan penuh, hidungnya sempurna, alis mata dan pelupuk matanya tebal memikat. Kesempurnaan kecantikan itu bertambah dengan warna mata emasnya yang menghipnotis, ciri khas dari bangsa Elrika. Semua bangsa Elrika, dengan pengecualian dirinya sendiri.
            Myana Alata’lain, bahasa kuno yang secara harfiah berarti ‘perak bulan purnama’, adalah nama yang tidak bisa mendeskripsikannya jauh lebih tepat lagi.  Sedari lahir, Myana berbeda dari yang lain. Dia tidak berambut emas. Rambutnya berwarna perak penuh. Matanya tidak berwarna emas melainkan berwarna perak berkilau. Perbedaan ini membuat dia benci berada di tengah kerumunan. Dia benci selalu menjadi pusat perhatian.
            “Tarian bulan purnama ini untukmu, dan kau bersembunyi di sini,”
            Myana memandang sepupunya.
            “Tari,” desahnya. “Kau tahu seberapa bencinya aku menjadi pusat perhatian.”
             Nartaria mendekapnya, memeluknya menenangkan. Kebiasaan yang sering dilakukan ketika dia berhasil menemukan Myana yang bersembunyi di tempat-tempat yang tidak lazim. Myana menerima pelukan sepupunya dan bersandar di sana.
            “Lagipula,” katanya pelan. “Tarian ini bukan hanya untukku Tari. Tarian ini juga diperuntukkan untukmu dan Viseris.”
            Nartaria tertawa kecil.
            “Betul,” katanya. “Tapi kuingatkan, kau lahir pada saat bulan purnama, jadi tarian ini sangat cocok dengan namamu.”
            “Selain itu,” lanjutnya. “Tidak seharusnya kau bermuram seperti ini. Besok kita bertiga akan pergi dari sini. Bukankah itu mimpimu sedari kecil? Berpetualang ke luar hutan? Aku jelas ingin sekali mendengarkan cerita kakakmu! Bukankah dia sekarang tinggal di Kario? Bersama pelindung barunya?”
            Dia mengucapkan itu dengan mata berbinar-binar.
            “Aku jelas ingin melihat rupa seorang laki-laki.”
            Kali ini dia terkikik, tersipu-sipu. Antusiasmenya menular. Nartaria memang pandai membuat Myana ceria lagi.
            “Kudengar mereka itu seperti binatang,” goda Myana. “Kudengar mereka membawa penyakit, bau dan kasar.”
            “Benarkah?” gumam Nartaria. “yang kudengar lain Myana. Tapi kita akan segera tahu bukan?”
            Mereka terdiam, masing-masing membayangkan wujud pria versi mereka. Tiba-tiba Nartaria berdiri, memegang kedua tangan Myana dan membujuk.
            “Kita seharusnya ikut menari Myana,” katanya riang. “Ini adalah hari terakhir kita di hutan ini! Ayolah!”
            “Tari! Aku rasa lebih baik—“
            “Aku tidak akan melepaskanmu!” bujuk Nartaria. “Aku janji.”
            Myana menatap kedua mata emas itu, mencari ketentraman. Entah bagaimana tatapan itu membuatnya yakin. Dia berdiri, membiarkan Nartaria menuntunnya dan berbaur di tengah-tengah padang rumput, menari mengikuti irama musik.

*

Myana Alata'lain

Myana = Silver
Alata'lain = Full Moon
Lain = Moon

I got Myana's name from my friend, Alif Isla(Miyana)
Sorry dude

Tuesday, May 24, 2016

Royal Guards - Page 21-22

“Halo?” panggil pria itu. Matanya menatap ke arah Heil, namun tetap kosong.
            Heil tidak berniat berbasa-basi. Biasanya dia tidak keberatan berinteraksi sebentar dengan orang kota yang memasuki areanya, tetapi kali ini lain. Pria tua lawannya itu sudah menghabisi banyak abdinya yang berharga. Heil mengamati para rakhuna yang terkapar di sekelilingnya. Beberapa di antara mereka masih bergerak dan saat itulah Heil menyadari satu hal ganjil : ketiadaan bercak darah.
Akan tetapi itu pertanyaan untuk lain hari. Tangannya sudah gatal. Pedangnya sudah berteriak meminta mangsa. Dia turun dari kudanya. Tindakan ini mungkin akan dianggap aneh mengingat lawannya menunggang kuda. Namun, Heil yang bertarung memijak tanah jauh lebih berbahaya ketimbang Heil yang bertarung di atas kuda. Dia menghunus pedang raksasanya, pedang sepanjang 2 meter dengan lebar 5 kali pedang ukuran normal. Pedang kebanggaannya yang telah melewati macam-macam pertarungan. Hanya dia yang mampu mengayunkan lento, dan ayunan sekuat tenaga bahkan dapat membelah seekor kuda menjadi dua. Itulah rencananya, membelah kuda beserta penunggang di hadapannya. Sederhana dan mematikan. Dia baru akan menerjang ketika tanpa diduga si pria tua  juga turun dari kudanya.  
            “Menakjubkan,” kata pria itu. Dia tersenyum. Ekspresi yang ganjil melintasi wajahnya, menyerupai kekaguman. “Kau pria yang sangat besar. Dan itu merupakan pilihan senjata yang menarik.”
            Pujian yang tidak diduga, terlebih dari orang yang tampak buta, meskipun pernyataannya barusan jelas menandakan bahwa dia bisa melihat. Pria tua itu membisikan sesuatu ke kudanya. Ajaibnya, kuda itu menjauh, seakan-akan menuruti kemauan si pria tua, mengambil jarak aman menjauhi koloni Heil sebelum akhirnya berbalik dan menunggu.  Berikutnya, si pria tua menyiapkan perisainya. Perisai itu begitu besar sehingga mampu menutupi seluruh badannya, diposisikan sedemikian rupa oleh si pria tua dalam postur bertahan. Sebuah undangan untuk menyerang. Ini tindakan yang sangat bernyali, terutama setelah Heil menghunuskan lento-nya. Ukuran dari pedang itu saja sudah banyak membuat orang tunggang langgang, tetapi pria tua itu justru menunggu Heil menyerang. Dalam hati Heil memuji keberanian lawannya itu.
Keheningan yang memekik membuat Heil nyaris bisa mendengar suara degup jantung para prajurit di belakangnya. Tak satupun dari mereka yang sanggup untuk menggerakan satu ujung jari pun.
            Detik berikutnya berlangsung terlalu cepat.
            Heil mengayun pedangnya dengan kecepatan yang menakjubkan, percaya diri dia telah memenangkan pertarungan ini dengan mudah, hingga ketika lawannya membuat gerakan tak terduga.
            Momen ketika pedangnya bertemu perisai lawannya, suara denting yang dihasilkan sangat keras dan membuat para prajurit yang menonton menarik nafas tegang. Kepulan asap seketika mengelilingi si pria tua, menandakan kuatnya tekanan serangan Heil. Baru saja Heil mengayun pedangnya dari atas, berniat membelah vertikal lawannya, namun tidak hanya lawannya mampu menahan serangan gila itu, kuatnya pertahanannya bahkan membuat Heil kehilangan keseimbangan dan nyaris tumbang ke belakang. Di detik kelengahan itu Heil melihat asap disusul kilatan logam yang mengarah ke kaki kirinya. Spontan, Heil menggulingkan diri untuk menghindari serangan itu.
            Dia beranjak berdiri, berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
            Tidak hanya lawannya berhasil menahan kekuatan penuh serangannya, sesuatu yang baru pertama kali terjadi, dia bahkan menyerang balik dan membuat Heil berlutut!
            Heil mendengar suara yang asing, suara tawa riang seorang laki-laki. Butuh beberapa saat sebelum menyadari bahwa sumber tawa itu adalah dirinya sendiri. Dia bergairah dan gembira, rentetan perasaan yang belum pernah dia rasakan selama pertarungan.
            “Pengalaman pertamamu ya?”
            Si pria buta—atau tidak buta—terkekeh. Gelagat yang aneh, seakan Heil adalah seorang anak kecil dan dia adalah guru yang sedang mengajarinya. Herannya, Heil merasa tidak keberatan diperlakukan seperti itu.
            “Beritahu namamu pak tua!”
            Heil merasa lebih heran lagi mendengar dirinya menanyakan hal itu, terlebih bukan dengan bahasa nemurin. Sudah bertahun-tahun dia tidak menggunakan bahasa umum Vierre.
            Lawannya bahkan tersenyum lebih lebar lagi.
            “Mirian,” katanya. “Mirian Tartorigal.”

*

And that's chapter 2.
Myana, my last POV for the first volume
will be in the next chapter :D
Stay tuned! ;)

Monday, May 23, 2016

Royal Guards - Page 19-20

            Mawe seperti pria najril pada umumnya, memiliki kulit sewarna tembaga, rambut hitam berminyak panjang dan dada yang bidang dengan tubuh seorang petarung. Meski demikian, di hadapan Heil yang raksasa, dia terlihat seperti anak-anak.
            “Ena karayan Mawe,” (Kau menganggu Mawe)kata Heil acuh tak acuh.“Dela en taren? Razol del vorstar!” (Seorang katamu? Tangkap si vorstar!)
            Seharusnya para abdinya lebih tahu untuk tidak mengganggunya dengan informasi konyol semacam ini. Selemah apa pun mereka, menghadapi satu orang pendatang asing seharusnya bukan hal sulit. Namun, Mawe bergeming, masih menunduk, jelas sekali takut.
            “Aria una un rashtad,” (maafkan aku ketuaku) cicitnya. “Del vorstar, del vorstar ner razolin tur rakhuna!” (si vorstar, si vorstar sudah menghabisi sepuluh prajurit!)
            “Turi na ren rakhuna lakh aratorin un rashtad,” (Saat ini para prajurit sedang menahannya ketuaku) lanjutnya. “Aria una un rashtad! Ukana dirat erante varom un rashtad! Kalih alaneraz un rashtad!” (maafkan aku ketuaku! Kami tidak cukup kuat ketuaku! Mohon bantuannya ketuaku!)
            Rakhuna-nya tentu tidak selemah itu. Koloni yang dipimpin Heil tergolong kecil. Dia memimpin sekitar tiga ratus kaum najril dan hanya seratus di antaranya yang merupakan rakhuna. Dengan jumlah sekecil itu, Heil memastikan setiap rakhuna­-nya terlatih dengan sangat baik. Jadi, meskipun mereka tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi Heil, paling tidak kemampuan bertempur mereka sangat disegani, terutama oleh orang dari kota. Bisa menghabisi sepuluh orang rakhuna dan tetap bertarung setelahnya jelas menandakan bahwa si vorstar ini bukan orang sembarangan. Heil merasakan perasaan asing yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Gairah? Semangat? Dia berbalik, melempar busur dan panahnya, kemudian mengambil pedang raksasa favoritnya, lento.  Mawe masih menunduk di tempatnya berada ketika Heil sudah siap lagi.
            “Kiran aenatel, Mawe!” (Pimpin jalannya, Mawe!)
*
            Heil memacu kudanya mengikuti Mawe, melewati tenda-tenda yang berjajar rapi. Orang-orang yang melihatnya, para pria dan wanita berkulit tembaga, menunduk begitu dia lewat. Beberapa bahkan terang-terangan kembali ke tendanya, ketakutan akan keberadaannya. Mereka memakai baju yang terbuat dari kulit dan bulu, hanya menutupi sedikit bagian tubuh. Laki-laki najril memakai tourqui, gulungan kulit berbulu tebal yang terbuat dari kulit singa gurun. Tourqui para lelaki dibuat sedemikian rupa hingga menutupi area perut dan kemaluan. Para wanita najril juga memakai tourqui, hanya saja dengan desain yang berbeda berupa tambahan untuk menutupi payudaranya. Semuanya mengenakan sepatu panjang mencapai lutut yang juga terbuat dari kulit singa gurun. Heil tahu dari ibunya bahwa orang-orang kota seringkali menyebut penampilan orang-orang najril sebagai orang primitif dan barbar.
            Hampir semua dari sukunya memiliki rambut yang sangat panjang, tetapi Heil lain lagi. Rambutnya selalu pendek berantakan, karena setiap bulannya dia memotong rambutnya sendiri dengan pisau lengkung yang tajam. Banyak yang bilang dia sangat mirip ayahnya ketika berambut panjang, dan dia tidak suka mendengar kalimat semacam itu.   
            Tidak butuh waktu lama sebelum mereka meninggalkan area tenda, berkuda ke dataran gurun yang gersang. Heil bisa melihat kerumunan berkuda tidak jauh di depannya. Meski banyak asap, di tengah-tengah kerumunan itu Heil bisa melihatnya : seorang yang berpenampilan mencolok dibandingkan yang lain. Dia memakai baju logam dan sibuk dengan para rakhuna yang menyerang. Tanpa menunggu Mawe, Heil bergegas memacu kudanya. Semakin dekat dia bisa melihat para rakhuna yang tumbang. Hitungan singkat membuatnya yakin bahwa mereka yang tumbang itu lebih dari sepuluh orang. Ini membuatnya sangat geram.
            Dia sudah cukup dekat ketika pria berbaju logam itu melumpuhkan dua rakhuna lagi, menjatuhkan mereka dari kudanya. Para abdinya menyadari kehadirannya dan bergegas memberinya jalan. Heil menyadari kehadiran satu-satunya pria berambut coklat. Eral, tangan kanannya juga berada di antara para rakhuna.
            Eral turun tangan dan mereka masih belum berhasil melumpuhkan penyusup ini?
            Kembali Heil merasakan perasaan asing itu : semangat meletup yang sulit dijelaskan.
            “Karow!” (mundur!) perintahnya lantang. Para rakhuna yang masih mengelilingi si orang asing bergegas bubar mendengar suaranya. Eral sudah akan menghampirinya ketika Heil melambaikan tangannya dengan tegas, melarangnya mendekat.
            “Dariat enaras un kuriantel!”(jangan ganggu pertarunganku!)
            Instruksinya jelas. Dia akan bertarung dengan orang asing ini sendirian. Tak akan ada satu pun abdinya yang cukup lancang untuk mengganggu pertarungannya.
            Calon lawannya tampak tenang, tidak terlihat seperti baru saja dikerumuni para prajurit najril beberapa saat yang lalu. Dia memakai baju logam—yang beberapa kali disebut ‘baju zirah’ oleh orang kota yang memberi upeti—membaluti baju dan celana standar prajurit dari kota, lengkap dengan atribut sepatu dan sarung tangan, perpaduan serasi antara biru dan perak. Dia bersenjatakan pedang prajurit dan sebuah perisai yang cukup besar untuk melindungi dua orang sekaligus. Pria itu tampak cukup tua, barangkali berusia lebih dari lima puluh tahun. Rambut putihnya yang tipis menegaskan hal itu. Sikap dan perangainya yang terkesan angkuh menandakan kualitasnya sebagai seorang veteran petarung. Namun, bukan penampilannya, auranya ataupun perangainya yang membuat Heil terkesiap. Sepasang mata pria itu putih berkabut dan kosong menatap ke kejauhan. Namun, mustahil seorang yang buta bisa bergerak dan bertarung sepertinya.


Friday, May 20, 2016

Royal Guards - Page 17-18

Chapter 2
Si Penghancur

Asap terbang, debu terbang, suara raungan
Tunggangan yang liar dan tak bisa jinak
Kecuali oleh para pejuang padang pasir
Tinggal di sini suatu saat
Namun lebih banyak menghilang di kala lain
Liar, buas, membahana
            Tinggal di sini suatu saat
            Namun lebih banyak menghilang di kala lain
            Ditelan pasir dan badai
            Menelan musuh yang lengah
            Menghancurkan seteru padang pasir
            Liar, buas, membahana
           
Lagu tentang ras Najril, Grajham si Pemalu

“Di tengah-tengah gurun pasir Travia, arah selatan dari kota Kalen,”
“mereka mendirikan tenda dan kemah di padang pasir,”
“mereka tidak menerima pengunjung, terutama pengunjung yang memakai baju zirah,”
“mereka akan menyerangmu pertama kali, tidak repot-repot bertanya, terutama karena busanamu yang dianggap mengancam. Tidak perlu repot-repot menjelaskan, karena kau sendiri tidak akan mengerti bahasa najril,”
“jangan lukai mereka tuan Tartorigal! Ini agak sulit, karena mereka adalah prajurit-prajurit yang tangguh, tapi aku yakin kau lebih dari mampu untuk menangani mereka tanpa harus melukai,”
“salah seorang dari mereka akan mengerti bahasa Vierre, tunggulah sampai orang itu muncul,”
“orang itulah yang kita cari tuan, tetapi akan sulit untuk membuatnya berhenti. Dia tipikal pria yang menyerang dulu, bicara belakangan,”
“dan berhati-hatilah tuan, dia.. brutal.”
*
            Sepanjang pagi, dia mendengar gerutuan dan omelan. Sebenarnya gerutuan dan omelan itu berasal dari dirinya sendiri. Dia telah meminta, atau lebih tepatnya memerintah para pengikutnya untuk beradu pedang—pedang kayu untuk latihan—dengannya, tapi tak satupun dari mereka yang mampu mengimbangi dirinya, padahal dia belum sedikit pun mengerahkan seluruh kemampuannya. Pamannya, yang bisa mengimbanginya paling tidak beberapa menit, sedang pergi dan baru akan kembali dua atau tiga hari lagi. Alhasil, setelah menyumpah dan marah-marah kepada orang-orang yang tumbang olehnya, dia kembali lagi ke tendanya, mencoba mencari hiburan yang lain.
            Tenda tempatnya tinggal berantakan seperti biasa. Gulungan kain dan kulit bertumpuk di salah satu sisi tenda, di tempat dia biasa tidur. Sebuah meja rendah yang sederhana dari kulit hewan dan kayu di sisi lain, tempat dia menaruh hasil buruan dan makanan. Aneka macam senjata tertata dengan rapi di atas kulit singa gurun yang tergelar di sisi tersisa, dan dia biasa mengasah senjatanya di sana. Di tengah-tengah tenda masih tersisa kayu-kayu dan arang untuk api unggun dibatasi dengan batu-batu yang ditata sedemikian rupa agar api tidak menjalar ke bagian tenda yang lain. Tempatnya tinggal sebenarnya nyaman, namun baru beberapa menit dia di sana, dia sudah gatal untuk keluar lagi.
Heil teringat persediaan makanan koloni mereka yang menipis, terlebih selama dua bulan terakhir belum ada orang kota yang melewati gurun tempat mereka tinggal. Biasanya dia cukup bermurah hati dalam memberikan harga upeti kepada mereka yang ingin lewat dengan aman sehingga kalaupun mereka mendapatkan tambahan persediaan makanan, jumlahnya tidak pernah terlalu banyak. Cukup banyak ketua koloni lain yang mengkritik dirinya lembek karena hal ini, tetapi Heil tidak pernah peduli.  Dia lebih dari mampu untuk menyediakan persediaan makanan bagi koloninya sendiri, tanpa harus mengandalkan kehadiran orang luar. Pemikiran akan persediaan makanan itu membuatnya bangkit. Dia mengambil busur dan panah kemudian bersiap mengumumkan kepergiannya untuk berburu.
            Heil baru saja akan keluar dari tendanya ketika salah seorang abdinya, Mawe, berlari-lari menghampirinya. Mawe masih muda, namun memiliki kemampuan bertarung yang cukup baik menurut Heil. Sayangnya dia pengecut, terutama di hadapan Heil. Meskipun memang tidak banyak abdinya yang bisa bersikap berani di hadapannya.
            Mawe segera berlutut di hadapannya.
            “Un Rashtad! Dela vorstar nari ga enranei!” (ketua ku! Seorang vorstar datang dari utara!)
            Heil hanya melirik Mawe dengan malas. 

This is Heil.

I notice his proportion is so weird, but again, like I've mentioned, I cant draw very well.
Basically he's a brutal giant, but with unexpected soft side.
I love him the most, aside from Remia, who is only gonna show up on chapter 38.

Monday, May 16, 2016

Royal Guards - Page 15-16

 Tidak hanya gurun itu saja yang membuat orang enggan untuk ke area selatan. Lebih
ke selatan lagi adalah pegunungan cincin Arwen, tempat para tetua Erross tinggal, sementara bangsa itu tidak terkenal akan keramahannya.
            Agak sulit menemukan penginapan Go’iss Par’an karena letaknya yang agak tersembunyi dari jalan utama. Sven sendiri tidak pernah menginap di daerah semacam ini. Dia lebih menyukai penginapan di pusat kota yang bersih dan hangat. Benar saja, Go’iss Par’an tampak kumuh dan menyedihkan, tersembunyi di balik jalan-jalan yang sempit. 
            Lonceng berbunyi ketika Sven membuka pintu. Dia mengernyitkan hidung mencium aroma mirip muntahan. Tempat itu tidak begitu ramai. Hanya ada dua orang muram yang minum-minum di sudut dan seorang pria tua di balik meja panjang, mengelap gelas-gelas. Tempat ini lebih menyerupai kedai minum murahan daripada sebuah penginapan.
            “Penginapan di lantai dua, semalam 15 royn, tidak menyediakan sarapan dan makan malam,” kata si pria tua acuh tak acuh, segera setelah Sven menghampirinya.
            Sven menaruh beberapa kepingan nayn dan berhasil menarik perhatian lawan bicaranya.  Si pria tua memandang koin di meja hadapannya dengan ekspresi tamak.
            “Aku membutuhkan informasi,” kata Sven sambil memainkan keping-kepingan uangnya.
Si pria tua mengambil uang itu dengan sangat gesit.
            “Aku mendapat..kisikan,” kata Sven. “seseorang bernama Elkal menginap di sini.”
            Ekspresi menyerupai keraguan menghinggapi wajah pria tua itu. Namun, keraguannya tampak goyah begitu Sven mengeluarkan lagi beberapa keping uang. Kegelisahannya membuat Sven heran. Biasanya jumlah kepingan sebanyak ini mampu membuat bicara orang paling keras kepala sekalipun. Dikeluarkan lagi kepingan-kepingan yang lain.
            Melihat tumpukan uang di hadapannya, si pria tua menghela nafas. Dengan tamak dia mengambil uang-uang itu.
            “Lantai atas, kamar paling pojok sebelah kanan,” bisiknya. Dia segera masuk ke pintu di belakang seakan takut Sven akan meminta kembali uangnya.
            Tanpa berpanjang-panjang lagi, Sven segera menuju lantai atas. Dia baru akan mengetuk pintu yang dimaksud ketika tiba-tiba saja pintu itu menjeblak terbuka.
            Sven mendapati dirinya berhadapan dengan seorang pria yang menodongkan sesuatu ke dadanya. Hal paling pertama yang Sven sadari adalah rambutnya. Pria itu berambut jabrik dengan warna yang sangat tidak biasa. Perak. Tak hanya itu, warna matanya juga berwarna perak ganjil, menerawang dari balik googles yang dia kenakan. Selain goggles, yang membuat penampilannya tampak nyentrik adalah jubahnya yang berwarna merah mencolok. Dia memiliki rahang persegi dengan wajah pucat yang berbintik-bintik. Di luar itu dia tampak sangat galak.
            Sven tidak mengenali benda yang ditodongkan ke dadanya—yang menyerupai tongkat kayu berbonggol—namun firasatnya mengatakan bahwa benda itu berbahaya.
            “Elkal?” kata Sven ragu-ragu. Dia mengangkat kedua tangannya. “Aku tidak berbahaya, lihat?”
            “Pergi,” dia menggeram. “Kau salah orang!”
            “Namaku Sven. Hasven Leingord. Aku hanya ingin bicara.”
            “Kau salah orang!”
            Sven menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Sejenak dia mempertimbangkan untuk melawan tetapi mungkin itu tidak akan menimbulkan kesan pertama yang baik.
            “Aku ranvel,” katanya. “Aku butuh bantuanmu.”
            Si jabrik tampak berpikir sesaat. Selewat satu menit penuh dia akhirnya menarik kembali senjatanya, atau tongkat, atau galah, atau apa pun sebutannya.
            “Jangan melakukan hal aneh!” katanya tajam. “Jauhkan tanganmu dari pedang!”
            “Aku hanya ingin mengambil sesuatu,” kata Sven. “Ada di kantongku, sebuah kertas.”
            Butuh sebuah anggukan ragu-ragu sebelum Sven akhirnya mengeluarkan lembaran pekerjaan yang tidak bisa ia baca itu.
            “Kau Elkal kan?” tanyanya lagi sebelum menyerahkan lembaran itu.
            “Tergantung siapa yang bertanya,” jawab si jabrik, mengambil lembaran itu dengan kasar dan memeriksanya sejenak. Ekspresinya seketika itu juga tampak paham.
            “Tidak,” katanya, menjulurkan kembali lembaran itu, yang disambut Sven dengan tercengang.
            “Tidak? Apanya yang tidak? Kau bukan Elkal?”
            “Kau ingin aku menerjemahkan halaman ini, dan aku menolak.”
            Keakuratan tebakan ini membuat Sven cukup kagum. Sepertinya pria jabrik ini cukup cerdas, tidak seperti ranvel yang biasa Sven temui pada umumnya.
            “Ayolah, paling tidak biarkan aku masuk dan kita akan membicarakan hal ini dengan lebih santai.”
            “Tidak, pergilah!”
            “Aku akan membayarmu! Mahal!”
            “Pergilah!”

            Sven belum sempat berkata apa-apa lagi ketika si jabrik membanting pintunya.      
*

 chapter 1 is done!
Next chapter we'll go to Heil Story!
Kindly give your feedbacks all ;D


Friday, May 13, 2016

Royal Guards - Page 13-14

“Sudah puluhan orang kutawari pekerjaan ini dan tak satu pun dari mereka mengerti ini. Yah, beberapa dari mereka memang tidak bisa membaca.”
“Bagaimana bisa pekerjaan ini dilakukan?” tanya Sven keheranan.
“Entahlah. Kita tahu kan penyihir-penyihir memang sinting,” kata Bradley mencemooh. “Jadi, kau masih berminat?”
Meskipun ingin sekali menerima pekerjaan itu, Sven sama sekali tidak tahu harus memulai dari mana jika dia tidak bisa mengerti arti dari tugas itu. Dengan kecewa Sven memilih pekerjaan termahal berikutnya. Maka disinilah dia, menyelesaikan tugas itu, membawa utuh seekor singa gurun. Jumlah hadiahnya yang tidak sebesar tawaran pertama membuatnya murung.
Namun, Bradley membawa sebuah kabar kali ini.
“Seseorang mampu membacanya!” katanya riang, “Ini hari keberuntunganku!”
Sven segera duduk tegak dari posisi malasnya sedetik yang lalu.
“Apa!? Siapa!? Bagaimana!?”
            “Dia agak mirip kau kurasa,” kata Bradley menilai. “Tidak juga, tapi mirip.”
            Sven mengabaikan penyataan aneh ini.
            “Dia menerima pekerjaan itu kalau begitu?”
            “Tidak.”
            “Tidak?”
            “Tidak,” kata Bradley, terkekeh senang. Sven terheran-heran dengan sikap ini. Mengapa dia sesenang itu kalau pekerjaannya tidak diterima? Akan tetapi keanehan sikap Bradley tidak begitu penting. Sven mencerna informasi baru ini dengan hati-hati. Dia berusaha memilah kata-katanya. Ditaruhnya imbalan uang yang baru saja ia terima di meja hadapannya.  Sven menatap Bradley lekat-lekat.
            “Ini semua untukmu, tuan Bradley,” katanya pelan.
Bradley mengernyit.
            “Kapan dia datang kemari?” tanya Sven.
            Bradley tampak paham.
            “Ah,”
            Dia tertawa pelan, kemudian mengambil bungkusan uang di hadapannya.
            “Tadi pagi, dia bertanya, aku menjawab, kutawari pekerjaan itu. Dia bilang dia mengerti pekerjaan itu, namun menolak,”
            “dia tidak seperti ranvel pada umumnya, tidak besar, tidak seram dan kelewat rapi, makanya kubilang dia mirip kau, bukan wajahnya tentu saja,”
             “Dia menyebut dirinya, El—siapa namanya—El, Ya! Elkal! Terlalu sopan, repot-repot memerkenalkan diri, sama seperti kau juga. Agak nyentrik, maksudku, siapa yang mau memakai jubah berwarna merah mencolok?”
            Bradley mengaduk-aduk isi lacinya, kemudian menyerahkan selembar kertas.
            “Akhirnya dia mengambil pekerjaan ini, tetapi kurasa dia masih di kota. Pekerjaan ini juga sulit soalnya, membutuhkan waktu persiapan,”
            Sven mengamati kertas di tangannya. Kemungkinan orang yang dimaksud Bradley itu akan menginap di penginapan di bagian selatan kota, jika dia memang ingin berburu makhluk di deskripsi kertas itu.
            Bradley tampaknya bisa memahami arah pikiran Sven.
            “Aku tahu dia menginap di mana,” celetuknya.
            Sven kembali menatap Bradley. Dia cukup terkejut mendengar Bradley mengetahui informasi itu. Para agen biasanya tidak mau tahu menahu hal apa pun setelah ranvel menerima pekerjaannya.
            “Kenapa kau bisa tahu?” tanya Sven.
            “Cukup bahwa aku tahu,” Bradley berkilah. “Pertanyaan sebenarnya adalah apakah aku mau memberitahunya padamu atau tidak.”
            Sven sudah akan menyerang isi kantungnya lagi ketika Bradley tertawa kecil.
            “Kau sangat royal Sven,” katanya. “Ranvel tampaknya profesi yang menguntungkan bagimu. Tetapi tenanglah, aku sedang berbaik hati saat ini,”
            “Dia menginap di penginapan bernama Go’iss Par’an, di bagian selatan kota, bagian selatan ini sudah kau tebak kurasa.”
            Informasi ini membuat Sven sangat senang. Dia meminta lembaran pekerjaan tempo hari dan bergegas pergi.
            “Pesanku,” kata Bradley, ketika Sven sudah di ambang pintu untuk pergi. “Jauhi orang itu.”
*

            Bagian selatan kota Ilia tidak semakmur bagian barat dan utaranya. Rumah-rumahnya lebih kecil, jalan-jalannya lebih sempit dan tidak begitu banyak aktivitas. Bagian utara kota adalah pusat perdagangan, sementara bagian barat adalah tempat para agen ranvel. Gurun Travia yang maha luas di bagian selatan jarang dijamah, karena keberadaan bandit gurun dan makhluk-makhluk kurang menyenangkan yang biasanya adalah buruan para ranvel. Belum lagi di gurun itu terkadang kau menemukan koloni najril yang selalu meminta upeti kepada mereka yang kebetulan lewat.



Monday, May 2, 2016

Cowok Petakilan - Chapter 7



Kata orang-orang, omongan seorang anak kecil itu ga bisa dipegang.

Ngok!

Mana ada gitu!

Gue adalah salah satu saksi kalo omongan anak kecil itu justru malah kepegang banget!

Kisaran gue umur sembilan tahun, gue sering banget jadi korban bully di sekolah gue. Kalian tau kan bully itu apa? Mungkin ada yang pernah ngerasain dan pengen curhat ke gue dulu sini? Gue paham kok perasaan kalian :)

Sini papa peluk~

ehem

lanjut ke cerita gue, berhubung gue bapake bule, maka otomatis penampilan gue sangat jauh berbeda dengan manusia lain di sekolah.

Kulit gue yang pucet sering dikatain alien ataupun zombie sama anak-anak kelas. Gaya bicara gue yang belum terlalu fasih bahasa Indonesia suka ditiru-tiruin ga jelas. Badan gue yang relatif lebih tinggi juga sering dikatain jelangkung atau cengcorang, atau tiang listrik sama anak-anak kelas. Sekarang sih emang gue masih suka dipanggil tiang sama pano... tapi berhubung gue-nya juga seneng nge-bully dia, yaudalaya...

Intinya sih, gue sering banget dikatain semasa kecil. Ga sampe  nge-bully secara fisik memang, tapi gue kan laki-laki dengan perasaan sensitif dan pure white gitu, jadi tetep aja sedih kalo selalu jadi bahan hinaan. Sesekali gue kek yang menghina, biar adil gitu. Gue pernah mencoba 'membalas' ngejek tapi abis itu kapok. Masa gue ngejek satu yang bales sepuluh...

Anak kecil mah beraninya keroyokan :'3.

Di SD gue ada satu spot , pohon gede gitu di area belakang sekolah. Anak-anak pada ga suka main ke situ lantaran katanya suka ada kuntilan** di sana. Kondisi kaya gitu malah bikin gue seneng, coz I don't believe in ghost. Pada saat anak-anak yang lain pada melanglang kemana tau pas jam istirahat, gue malah maen kesini buat makan bekel. Gue males bareng anak-anak lain soalnya dikatain mulu. Mana menu bekel gue kan rada aneh gitu kan ya, jadinya dikatain lagi. Gue makan spageti dibilang makan cacing lah. Anak-anak mah emang kreatif deh pokoknya kalo soal ngatain. Contoh yang barusan gue kasih ga kreatif tapi ya? Bodo ah~~

Kembali ke cerita gue... Betewe gue kalo cerita suka merepet ke mana-mana yah? Maaf deh bapak ibu, akuh anaknya gampang teralihkan. Palagi kalau ada Clarin. Ups.

Inti dari inti cerita ini, pada saat gue makan siang itulah, gue melihat penampakan. Spot di bawah akar yang biasa gue pake ngumpet kan agak tersembunyi ya, jadi gue agak kaget begitu melihat ada anak-anak lagi jongkok di situ, membelakangi gue, menghadap si pohon. Pohon itu gue namain James ceritanya.

Mungkin kalau anak-anak yang lain ngeliat anak itu jongkok udah langsung horor dan kocar-kacir ya, tapi lagi-lagi, I don't believe in ghost, jadi reaksi gue adalah langsung naik pitam. Ngapain nih anak ngambil spot rahasia gue! Udah gitu sok akrab pula sama James! Gue kalau satu orang mah berani, jadi gue samperin deh.

"Woi!" Gue berseru, gagah berani, siap terjang. "Ngapain lo di tempat gue!"

Dan si bocah ngerespon. Palanya doang tapi yang noleh, kaya males-malesan gitu, bitch. Gue kenapa manggil dia bocah padahal gue juga kan bocah? Tapi ini kan ceritanya gue lagi cerita sebagai orang dewasa. Ngerti lah ya kalian. Good boy!

Inilah pertama kalinya gue ketemu dengan manusia absurd bernama Pongki. Dia yang otaknya udah gesrek dari jaman baheula, terbukti dari caranya dia menangkal gue.

"Ol atak eug apais? Ngame nohop ini anyup anyaman? akus akus eug olak uam kudud id inis!"

Gue ga tau respon persis gue gimana saat itu, tapi yang jelas dalem hati langsung dag dig dug. Nih, anak gila kali ya?

"Epang ol?" Dia ketawa sinting. "Ag itreng nangomo ueg?"

Belakangan gue baru tau kalo ternyata omongan manusia ini dibalik. Nah, silakan dibaca lagi ya biar ngerti dia ngomong apa. Hehehe.

Yang bikin gue takjub adalah kecepatan dia ngomong terbalik ini, lancar dan ga pake mikir. Ternyata oh ternyata, Si Pongki ini agak-agak jenius, tapi e'onya dia, kejeniusan itu dia pake untuk hal-hal yang ga guna. Ya contohnya ini.

Kembali ke statement  awal cerita ini : omongan anak kecil justru malah kepegang banget.

Omongan anak kecil yang gue maksud di sini adalah omongannya Pongki, ketika suatu saat dia ngomong :

"You are my brother, and I will always be there for you!"


Thoughts


Ngeliat ini di FB dan langsung keinget karakter Radit di Cowok Petakilan.

Ya kaya gini lah, suka excited berlebayhan sama satu hal yang ga begitu penting :'(

Royal Guards - Page 11-12



“Ini dia!” katanya, menjulurkan lembaran itu. “Pekerjaan dari asosiasi penyihir di Guffran, 350 keping emas magron! Tak ada yang lebih mahal!”
*
            Sudah tiga minggu sejak Sven meninggalkan kota Ilia dan mengambil pekerjaannya yang terakhir dari agen Bradley. Kota itu masih tetap sama. Rumah-rumah yang terbuat dari batu berjajar dengan apik dan rapi. Pedagang kain, makanan dan lain-lain berlalu lalang dan memenuhi selasar kota, masing-masing meneriakkan keunggulan barang dagangannya.
            “Kain sutra ulat ravina, kualitas tertinggi di dataran Vierr!”
            “Buah-buahan segar, daging olahan, aneka bumbu!”
            “Barang antik buatan kaum Fluffen! Emas, tembaga dan perak dengan harga murah!”
            “Ikan padang pasir dari gurun Travia! Lezat dan tiada banding!”
            Sebagian dari rumah-rumah itu adalah penginapan, karena Ilia adalah pusat perdagangan dan terletak sangat strategis—sungai tiga penjuru bermuara di sana—sehingga sangat banyak pendatang. Anak-anak berlalu lalang menawarkan dirinya untuk membawakan barang para pria dan wanita yang belanjaannya kelewat banyak. Namun, tak satu pun dari anak-anak itu mendekati Sven. Sebenarnya malah, semua orang berjalan menghindar ketika dia lewat.
            Sebenarnya mereka bukannya menjauhi Sven, tetapi menjauhi apa yang dia bawa di pundaknya.
Dia membawa seekor singa bertutul-tutul ungu ganjil—mati tentu saja—dan tidak perlu bersusah payah untuk membuat orang-orang mengosongkan jalan untuknya. Pemandangan semacam ini rupanya bukan hal yang baru. Ranvel terkenal dengan bawaannya yang tidak lazim. Di bagian barat kota, suasana berubah. Kali ini jalan dipenuhi laki-laki dengan penampilan yang garang. Mereka besar dan berotot, dengan baju yang kumal dan tercabik. Kontras dengan Sven yang—kendati bertubuh atletis—nampak sangat kecil di antara mereka. Beberapa membawa buruan seperti Sven. Hewan di punggung, atau di sangkar, kebanyakan mati.
“20 kepingan royn untuk seekor katak rawa putih? Dia pasti bercanda!”
“Yah, itu tidak terlalu sulit ditangkap.”
Tidak sedikit dari mereka yang melihat Sven dan menatapnya kagum.
“Bukankah itu singa gurun?”
“Gila! Dan penangkapnya tampak sangat kecil!”
“Bagaimana dia bisa menangkapnya?”
 Beberapa orang bersiul.
“Tangkapan yang hebat!” puji salah seorang.
Sven mengangguk dan tersenyum menerima pujian tersebut.
Reaksi Bradley tidak seantusias itu. Dia menatap singa mati yang tergeletak di pintu kantornya. Awalnya tentu saja dia sangat kagum, kelihatan sekali tidak menduga kalau Sven akan berhasil membawa buruannya tersebut.
“Permintaannya adalah kulit singa gurun bertotol ungu,” katanya. “Bukan singa utuh.”
“Bonus,” kata Sven riang. Ketika Bradley hanya menatapnya dia menambahkan. “Baiklah, jujur aku tidak begitu pandai menguliti binatang.”
Bradley menggeleng.
“Kau menipuku anak muda,” katanya. “Penampilanmu menipuku.”
Sven tersenyum. Kata-kata itu juga sudah sangat sering ia dengar.
“100 kepingan nayn,” kata Bradley, melempar sebungkus koin yang ditangkap Sven dengan cekatan. “Silakan hitung kembali.”
“Bukankah seharusnya 80?”
“Bonus,” gerutu Bradley. “Daging dan macam-macam dari singa ini tidak begitu murah, kau tahu?”
Selewat beberapa saat akhirnya Bradley meletakkan pena nya.
“Kerja bagus,” ucapnya, nampak seperti tersedak. Dia mengucapkan pujian itu dengan susah payah. Nampaknya dia tidak terbiasa memuji orang lain.
Sven duduk di hadapannya dan mulai menghitung kepingan-kepingan uang di tangannya. “Bagaimana dengan pekerjaan emas itu?” tanyanya.
Terakhir kali dia duduk di sana, Sven dibuat tertegun dengan jumlah hadiah pekerjaan yang disebutkan Bradley.
“350 keping emas magron?” tanyanya waktu itu.
Nada suaranya sebanding dengan gairahnya yang meletup.
Wajar, magron adalah kepingan uang bangsa Fluffen yang dibuat dari emas murni olahan mereka. 1 keping saja sudah cukup untuk membuat hidup berkecukupan selama 2 minggu. Ini pertama kalinya Sven mendengar imbalan sebanyak itu. Namun, semangatnya menguap begitu dia menyadari bahwa dia tidak bisa membaca lembaran di hadapannya satu huruf pun.
“Apa ini?”
Bradley menghela nafas.
“Kau juga tidak bisa membacanya?”
“Juga?”