Friday, December 5, 2014

The Finder Apprentice - Chapter 2



Toilet di sekolahnya tergolong bersih, terutama jika dibandingkan dengan toilet-toilet umum di area Ol'stur yang mencakup seluruh kawasan bernomor 57. Rigar bisa tahu hal ini karena dia sering sekali menggunakan toilet umum. Beberapa orang bahkan menjulukinya 'cowok toilet' karena kebiasaannya ini. Sama sekali bukan julukan yang dia inginkan.

Tentu saja dia bukan sakit perut atau semacamnya. Ayahnya selalu berkata sebelum membuka gerbang dimensi kau harus memastikan area sekelilingmu kosong. Toilet adalah tempat sempurna untuk memastikan hal itu.

Sesampainya di sana, Rigar segera menempati bilik tempat dia biasa 'berlalu lalang' dan mengunci pintu.

Dia berdiri menatap pintu di hadapannya selama beberapa saat, sebelum menutup mata dan berkonsentrasi membayangkan pintu di depan rumahnya. Tidak--langsung ke pintu kamar. Imajinasinya harus benar-benar jelas. Dia membayangkan bentuk pintu kamarnya dengan sangat detil : Sebingkai tulisan bertuliskan '1-8-2-1' menggantung di tengah, kenop pintu yang agak bengkok, poster tim supronde favoritnya yang sudah agak sobek, hingga ke detil warna cat pintu yang dia gunakan.

Terdengar bunyi 'klik' pelan, bunyi kunci pintu yang terbuka.

Rigar membuka mata dan tersenyum puas. Dia semakin mahir melakukan ini.

Dia membuka pintu dan alih-alih dihadapkan dengan ruangan toilet tempatnya tadi, kali ini dia berdiri di hadapan sebuah lorong panjang. Dinding pada lorong itu lebih menyerupai kabut tebal berwarna biru langit. Nuansa yang sama juga terjadi pada langit-langit, dengan tambahan titik-titik cahaya mungil yang menerangi sepanjang jalur. Di ujung sana, tampak sebuah pintu tertutup. Pintu itu sama persis dengan pintu kamar Rigar, yang baru saja dia bayangkan tadi.

Warna kebiruan semacam ini menunjukkan kalau area yang dia tuju aman dari masalah. Tetapi karena Rigar sudah nyaris terlambat, dia tetap berlari di sepanjang lorong itu. Lagipula ayahnya selalu bilang, warna lorong selalu bisa berubah dalam kondisi yang paling mustahil sekalipun. Jangan pernah bersantai selama kau berada di dalamnya. Meskipun Rigar tidak pernah menemui lorong berwarna selain biru--sesekali hijau--dia tetap memercayai peringatan ayahnya itu.

Dalam waktu singkat, Rigar sudah mencapai ujung lorong. Dia membuka pintu dan mendapati suasana familiar ruangan tempatnya tidur.Sebuah kasur yang acak-acakan berada di salah satu sudut. Majalah dan kaus kaki berserakan begitu saja di atasnya. Sarana di sini terbilang cukup lengkap, dengan adanya TV, komputer dan AC. Sebuah meja belajar dan lemari pakaian mengambil tempat di sudut-sudut yang lain. Dinding di kamar itu penuh sesak dengan beragam poster 'Jeras&Jerem', Selena, dan beragam pemain supronde idola Rigar. Dia bukan tergolong orang yang rapi, jadi kondisi di dalam kamarnya bisa dibilang kurang begitu bagus. Tetapi dia ingat dimana dia meletakkan segala sesuatu dan dalam hitungan detik dia berhasil menemukan buku yang ketinggalan tadi. Tepat di bawah setumpuk majalah olahraga di karpet tempat dia biasa menonton.

Rigar mengecek jamnya. Dia masih punya waktu cukup lama sebelum jam pertama pelajaran dimulai. Dia berlari kecil ke dapur untuk mengambil segelas air, sekilas melirik buku tugasnya dan mengecek. Gurunya, Mr. Trabas adalah orang yang sangat teliti dan dia tidak akan segan-segan memberimu nilai E seandainya kau salah mengeja satu istilah penting di dalam tulisanmu.

'Arter dan Arteer merupakan dua kata yang sangat berbeda artinya!' katanya suatu saat, sebelum membubuhkan nilai E kepada Jaisa yang nyaris menangis.

Setelah merasa semuanya sudah oke, Rigar bergegas kembali menghadap pintu, kali ini pintu depan.

Dia melakukan langkah sama persis seperti sebelumnya, mengunci pintu, kemudian memejamkan mata dan berkonsentrasi. Kali ini dia membayangkan bentuk pintu toilet tempatnya datang tadi. Yang ini lebih sulit, karena pintunya tidak jauh berbeda dengan banyak pintu toilet yang lain. Rigar teringat coretan 'Hewia seksi' di pojok kiri pintu tadi dan tersenyum. Tak lama, terdengar bunyi 'klik' yang familiar.

"Trims, Yona." Rigar tertawa kecil, teringat bahwa teman sekelasnyalah yang bertanggung jawab atas tulisan kecil itu.

Tawanya terhenti begitu dia membuka pintu.

Warna dinding di dalam lorong kali ini berwarna hitam pekat.




Thursday, December 4, 2014

Cowok Petakilan - Chapter 5



"Plis, jangan lompat!"

Apaan sih kata-kata gue! Ga bisa lebih cerdas apa!?

Dari tadi gue udah berusaha nginget-nginget film-film yang pernah gue tonton. Perasaan banyak gitu ada adegan orang mau bunuh diri terus ga jadi gara-gara dapet kata-kata bijak dari tokoh utama di film itu. Nah, gue stuck di bagian kata-kata bijak ini.

Naya kelihatannya kaget lagi denger ucapan panik gue. Kalo emang ini bener Naya yang tempo hari nelen sebotol obat tidur, gue curiga dia mau coba bunuh diri lagi sekarang! Mungkin kalo gue pergi, dia bakalan lompat dari atas sini. As a normal human being, udah jelas gue panik dan mencoba nyegah dia ngambil keputusan sembrono gitu. Tapi otak gue ga mau banget diajak kerja sama! Ayo dong, sekali ini aja kek otak gue bisa memunculkan kata-kata bijak!

Dan jantung gue tambah kedut-kedut karena si Naya noleh ke bawah lagi.

"Jangan lompat plis!"

Nah, keluar lagi tuh kalimat, cuman beda urutan 'plis'nya. Fix mulai hari ini gue bakal usaha ganti otak baru.

Naya noleh lagi ke gue. Gue semacam gagal paham sama ekspresi dia, coz di mata gue dia kelihatannya sih geli ngeliat kelakuan gue. Mungkin emang ekspresi orang yang mau bunuh diri kaya gitu? Atau mungkin emang ekspresi gue yang lagi dalam posisi konyol, makanya dia geli? Gue sendiri ga tau gue lagi nampilin ekspresi apa sekarang. Yang jelas gue panik.

Tiba-tiba Naya keliatan jutek. DID I DO SOMETHING WRONG HERE!?

"Emang kenapa gue ga boleh lompat!?"

Kenapa!? Dia pake nanya kenapa!?

Tapi bagus juga si pertanyaannya, coz gue ga bisa jawab.

"Ya, jangan aja," tuh, briliannya jawaban gue setelah lima puluh tahun mikir. "Kasian orang tua lo, kasian keluarga lo, kasian temen-temen lo--"

"Emang kenapa mereka kasian!?" dia motong kalimat gue.

Ya ampun ni cewek kecil-kecil galak ye? Badannya boleh kecil, suara membahana gela. Kontras abis.

"Nanti mereka sedih," gue terus aja ngomong, sambil pasang poker face gue. Jadi strategi gue gini : Gue bikin dia sibuk ngomong, trus gue diem-diem ngelangkah dikit-dikit, kaya siput. Ntar kalo gue udah agak deket, gue bakal tangkep dia pake refleks fantastis gue.

"Emang kenapa mereka sedih!?"

Kaya kuis ya. Coba kalo situasinya ga kaya gini, pasti asik. Gue geser kaki gue selangkah lagi, ga pake diangkat.

"Ya pastilah mereka sedih, kan mereka sayang."

"Tau darimana mereka sayang!?"

Keep talking, keep talking...

"Pastilah mereka sayang. Semua orang itu sayang lo kok."

Bodo amat, gue udah stuck.

Kaya mamah tiri, dia memicingkan mata galak ke arah kaki gue yang sedari tadi geser-geser kaya orang nahan sembelit.

"Maju lagi gue lompat nih!"

I'm busted!! WHY!!??? Ekspresi gue kurang datar apa gimana? Fix mulai hari ini bakalan ngelatih poker face gue sampe perfect.

"Jangan lompat dong!" gue kesel jadinya.

Dia kayanya kaget denger perubahan nada suara gue. Sejenak gue mikir ekspresinya balik ke ekspresi 'geli' lagi. Ini guenya yang sarap apa gimana ya? Tapi apa pun ekspresi yang gue pikir mampir ke muka dia, udah ilang lagi dan balik lagi ke ekspresi jutek.

"Kenapa gue ga boleh lompat!?"

Muter-muter aja ini mah! Tapi sumpah gue udah ga berani maju-maju lagi. Gimana nih! WHAT SHOULD I DO!!??

"Tadi kan gue udah nyebut kenapa!"

"Alasan itu ga gue terima! Cari alasan lain!"

Duh, gue jorokin juga nih cewe. Kezel.

Dan gue mikir lagi. C'mon otak, plis keluarkan kata-kata bijak yang bisa bikin ni cewek urung buat lompat! Blank parah.

Gue suka ge er karena kawan-kawan gue sering banget ngatain gue orang yang kreatif. Nah, ternyata mereka semua cuma fitnah waktu ngucapin itu. Mana ada orang kreatif yang ga bisa ngucapin kata-kata bijak buat nyelamatin cewek yang mau bunuh diri, mana ada!!

 "Gue lompat nih!"

"EHHHH, JANGAN!!!"

"Yaudah cepetan kasih tau kenapa gue ga boleh lompat!"

Ini kenapa posisi gue jadi kaya gini!? Gue kesini cuma mau nikmatin foto-foto sama ngutilin Clarin dikit dari jauh! Kenapa tiba-tiba gue jadi megang nyawa sejuta umat kaya gini!!! Jadi, kalo jawaban gue ga sesuai sama maunya dia, dia bakalan lompat gitu!? Omaygad, gue kurang amal ibadah!

"Emang kenapa sih lo mau lompat!?" Dengan idiotnya gue balik nanya. "Lo ga tau ya kalo jatoh tuh sakit! Banget!"

Kali ini gue ga denger jawaban apa-apa dari Naya.

"Udah sakit, terus lo bakalan langsung nembus ke neraka tau ga! NE-RA-KA! API itu panas! Panas sampe ke tulang-tulang!"

Lo tau orang-orang yang sering khotbah di tivi? Nah, nada bicara gue udah sama persis kaya manusia-manusia itu. Kurangin ayat-ayat suci plus jenggot.

"Ga percaya kalo api itu panas!? Sini gue bawa korek. Buktiin sendiri!"

Sebenernya sih gue ga bawa korek, secara gue ga ngerokok. Tapi kalo dia ketipu dan ngedeket ke gue, bakal gue tangkep dia dan gue masukin ke kandangnya lagi. Bisa ayan gue lama-lama kalo ngadepin si Naya ini. Eh, gue baru nyadar deh kalo Naya dibalik namanya kan jadi ayan ye? Pas!

"Mana koreknya?" Naya akhirnya nanya.

Fix gue akan mulai ngerokok biar bisa selalu bawa korek. Kenapa dari sekian banyak ocehan sinting gue, itu yang dia tanyain sih? WHY!!??

"Ada di kantong gue," gue ngibul. "Sini cepet!"

Ujug-ujug, gue denger dia ketawa cekikikan.

SINTING nih cewek!

Gue cuma bisa ngelongo ngeliatin dia ketawa ga jelas, ga yakin harus ngapain, gimana, mau apa. Dia kok malah jadi bahagia gitu sih? Boleh gue jorokin ga?

Detik berikutnya dia lompat...

*

"Lo ga tau neng?" Gue nanya skeptis. "Makanya lo juga ikutan kaget sekarang?"

Clarin ngangguk. Dia nutul-nutul tisu ke matanya yang sembab.

Sekarang, setelah flash mob nya udah kelar, para penari pe'a yang tadi udah pada balik ke dunianya masing-masing. Seisi kantin sempet ngucap-ngucapin selamat ke gue, foto-foto dan minta traktiran. Butuh waktu sebelum akhirnya gue bisa ngobrol leluasa sama temen-temen pe'a gue. Kita lagi di mobilnya Naya, ceritanya mau jemput Vino dari tempat kerjanya. Sebenernya gue masih ada jadwal kuliah siang nanti, tapi somehow  kawan-kawan pe'a gue berhasil ngebujuk gue buat nraktir mereka makan siang. Ga tau bakalan balik ke kampus atau ga, karena kalo gue jalan bareng mereka suka lupa waktu, identitas, dan lupa segala-galanya~ Tapi kalo solat sih ga lupa #kibasrambut.

Pongki, yang masih pake baju compang-campingnya (gue curiga dia bakalan tetep pake itu sampe akhir zaman) duduk di sebelah gue di bangku tengah. Eren di sampingnya, ngelus-ngelus gitar kesayangannya udah kaya ngelus-ngelus kucing. Pano yang jumbo di belakang ngabisin tiga tempat sekaligus. Clarin di depan, sementara Naya nyetir.

Identitas 6 

Nama : Brawinaya Suroso

Usia : Di bawah gue dua tahun

Tinggi : nyaris setengah gue (ga sih sebenernya, gue lebay)

Berat : mampu ditiup angin

Suara : Cempreng annoying minta ditabok

Moto hidup : Aku harus gendut!!! (Dia sama pano sering cekcok soal moto hidup ini)

Panggilan akrab dari gue : Naya, Ayan (dalem hati tapi). Sama gue suka mainin nama dia pake lagunya 'jablai' Titi Kamal. Naynaynaynaynay~ Panggil aku si Naya~~

Panggilan dia ke gue : Radit. Kalo dia lagi marah, manggilnya pake 'kak'.

Top 3 hobbies : Akting, mencibir/menghujat/menggunjing orang lewat, godain Vino.