“Halo?” panggil pria itu. Matanya
menatap ke arah Heil, namun tetap kosong.
Heil
tidak berniat berbasa-basi. Biasanya dia tidak keberatan berinteraksi sebentar
dengan orang kota yang memasuki areanya, tetapi kali ini lain. Pria tua
lawannya itu sudah menghabisi banyak abdinya yang berharga. Heil mengamati para
rakhuna yang terkapar di
sekelilingnya. Beberapa di antara mereka masih bergerak dan saat itulah Heil
menyadari satu hal ganjil : ketiadaan bercak darah.
Akan tetapi itu
pertanyaan untuk lain hari. Tangannya sudah gatal. Pedangnya sudah berteriak
meminta mangsa. Dia turun dari kudanya. Tindakan ini mungkin akan dianggap aneh
mengingat lawannya menunggang kuda. Namun, Heil yang bertarung memijak tanah
jauh lebih berbahaya ketimbang Heil yang bertarung di atas kuda. Dia menghunus
pedang raksasanya, pedang sepanjang 2 meter dengan lebar 5 kali pedang ukuran
normal. Pedang kebanggaannya yang telah melewati macam-macam pertarungan. Hanya
dia yang mampu mengayunkan lento, dan
ayunan sekuat tenaga bahkan dapat membelah seekor kuda menjadi dua. Itulah
rencananya, membelah kuda beserta penunggang di hadapannya. Sederhana dan
mematikan. Dia baru akan menerjang ketika tanpa diduga si pria tua juga turun
dari kudanya.
“Menakjubkan,”
kata pria itu. Dia tersenyum. Ekspresi yang ganjil melintasi wajahnya, menyerupai
kekaguman. “Kau pria yang sangat besar.
Dan itu merupakan pilihan senjata
yang menarik.”
Pujian
yang tidak diduga, terlebih dari orang yang tampak buta, meskipun pernyataannya
barusan jelas menandakan bahwa dia bisa melihat. Pria tua itu membisikan
sesuatu ke kudanya. Ajaibnya, kuda itu menjauh, seakan-akan menuruti kemauan si
pria tua, mengambil jarak aman menjauhi koloni Heil sebelum akhirnya berbalik
dan menunggu. Berikutnya, si pria tua menyiapkan
perisainya. Perisai itu begitu besar sehingga mampu menutupi seluruh badannya,
diposisikan sedemikian rupa oleh si pria tua dalam postur bertahan. Sebuah
undangan untuk menyerang. Ini tindakan yang sangat bernyali, terutama setelah
Heil menghunuskan lento-nya. Ukuran dari
pedang itu saja sudah banyak membuat orang tunggang langgang, tetapi pria tua
itu justru menunggu Heil menyerang. Dalam hati Heil memuji keberanian lawannya
itu.
Keheningan yang
memekik membuat Heil nyaris bisa mendengar suara degup jantung para prajurit di
belakangnya. Tak satupun dari mereka yang sanggup untuk menggerakan satu ujung
jari pun.
Detik
berikutnya berlangsung terlalu cepat.
Heil
mengayun pedangnya dengan kecepatan yang menakjubkan, percaya diri dia telah
memenangkan pertarungan ini dengan mudah, hingga ketika lawannya membuat
gerakan tak terduga.
Momen
ketika pedangnya bertemu perisai lawannya, suara denting yang dihasilkan sangat
keras dan membuat para prajurit yang menonton menarik nafas tegang. Kepulan
asap seketika mengelilingi si pria tua, menandakan kuatnya tekanan serangan
Heil. Baru saja Heil mengayun pedangnya dari atas, berniat membelah vertikal
lawannya, namun tidak hanya lawannya mampu menahan serangan gila itu, kuatnya
pertahanannya bahkan membuat Heil kehilangan keseimbangan dan nyaris tumbang ke
belakang. Di detik kelengahan itu Heil melihat asap disusul kilatan logam yang
mengarah ke kaki kirinya. Spontan, Heil menggulingkan diri untuk menghindari
serangan itu.
Dia
beranjak berdiri, berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
Tidak
hanya lawannya berhasil menahan kekuatan penuh serangannya, sesuatu yang baru
pertama kali terjadi, dia bahkan menyerang balik dan membuat Heil berlutut!
Heil
mendengar suara yang asing, suara tawa riang seorang laki-laki. Butuh beberapa
saat sebelum menyadari bahwa sumber tawa itu adalah dirinya sendiri. Dia
bergairah dan gembira, rentetan perasaan yang belum pernah dia rasakan selama
pertarungan.
“Pengalaman
pertamamu ya?”
Si
pria buta—atau tidak buta—terkekeh. Gelagat yang aneh, seakan Heil adalah
seorang anak kecil dan dia adalah guru yang sedang mengajarinya. Herannya, Heil
merasa tidak keberatan diperlakukan seperti itu.
“Beritahu
namamu pak tua!”
Heil
merasa lebih heran lagi mendengar dirinya menanyakan hal itu, terlebih bukan
dengan bahasa nemurin. Sudah bertahun-tahun dia tidak menggunakan bahasa umum
Vierre.
Lawannya
bahkan tersenyum lebih lebar lagi.
“Mirian,”
katanya. “Mirian Tartorigal.”
*
And that's chapter 2.
Myana, my last POV for the first volume
will be in the next chapter :D
Stay tuned! ;)
Stay tuned! ;)
No comments:
Post a Comment