Tuesday, May 24, 2016

Royal Guards - Page 21-22

“Halo?” panggil pria itu. Matanya menatap ke arah Heil, namun tetap kosong.
            Heil tidak berniat berbasa-basi. Biasanya dia tidak keberatan berinteraksi sebentar dengan orang kota yang memasuki areanya, tetapi kali ini lain. Pria tua lawannya itu sudah menghabisi banyak abdinya yang berharga. Heil mengamati para rakhuna yang terkapar di sekelilingnya. Beberapa di antara mereka masih bergerak dan saat itulah Heil menyadari satu hal ganjil : ketiadaan bercak darah.
Akan tetapi itu pertanyaan untuk lain hari. Tangannya sudah gatal. Pedangnya sudah berteriak meminta mangsa. Dia turun dari kudanya. Tindakan ini mungkin akan dianggap aneh mengingat lawannya menunggang kuda. Namun, Heil yang bertarung memijak tanah jauh lebih berbahaya ketimbang Heil yang bertarung di atas kuda. Dia menghunus pedang raksasanya, pedang sepanjang 2 meter dengan lebar 5 kali pedang ukuran normal. Pedang kebanggaannya yang telah melewati macam-macam pertarungan. Hanya dia yang mampu mengayunkan lento, dan ayunan sekuat tenaga bahkan dapat membelah seekor kuda menjadi dua. Itulah rencananya, membelah kuda beserta penunggang di hadapannya. Sederhana dan mematikan. Dia baru akan menerjang ketika tanpa diduga si pria tua  juga turun dari kudanya.  
            “Menakjubkan,” kata pria itu. Dia tersenyum. Ekspresi yang ganjil melintasi wajahnya, menyerupai kekaguman. “Kau pria yang sangat besar. Dan itu merupakan pilihan senjata yang menarik.”
            Pujian yang tidak diduga, terlebih dari orang yang tampak buta, meskipun pernyataannya barusan jelas menandakan bahwa dia bisa melihat. Pria tua itu membisikan sesuatu ke kudanya. Ajaibnya, kuda itu menjauh, seakan-akan menuruti kemauan si pria tua, mengambil jarak aman menjauhi koloni Heil sebelum akhirnya berbalik dan menunggu.  Berikutnya, si pria tua menyiapkan perisainya. Perisai itu begitu besar sehingga mampu menutupi seluruh badannya, diposisikan sedemikian rupa oleh si pria tua dalam postur bertahan. Sebuah undangan untuk menyerang. Ini tindakan yang sangat bernyali, terutama setelah Heil menghunuskan lento-nya. Ukuran dari pedang itu saja sudah banyak membuat orang tunggang langgang, tetapi pria tua itu justru menunggu Heil menyerang. Dalam hati Heil memuji keberanian lawannya itu.
Keheningan yang memekik membuat Heil nyaris bisa mendengar suara degup jantung para prajurit di belakangnya. Tak satupun dari mereka yang sanggup untuk menggerakan satu ujung jari pun.
            Detik berikutnya berlangsung terlalu cepat.
            Heil mengayun pedangnya dengan kecepatan yang menakjubkan, percaya diri dia telah memenangkan pertarungan ini dengan mudah, hingga ketika lawannya membuat gerakan tak terduga.
            Momen ketika pedangnya bertemu perisai lawannya, suara denting yang dihasilkan sangat keras dan membuat para prajurit yang menonton menarik nafas tegang. Kepulan asap seketika mengelilingi si pria tua, menandakan kuatnya tekanan serangan Heil. Baru saja Heil mengayun pedangnya dari atas, berniat membelah vertikal lawannya, namun tidak hanya lawannya mampu menahan serangan gila itu, kuatnya pertahanannya bahkan membuat Heil kehilangan keseimbangan dan nyaris tumbang ke belakang. Di detik kelengahan itu Heil melihat asap disusul kilatan logam yang mengarah ke kaki kirinya. Spontan, Heil menggulingkan diri untuk menghindari serangan itu.
            Dia beranjak berdiri, berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
            Tidak hanya lawannya berhasil menahan kekuatan penuh serangannya, sesuatu yang baru pertama kali terjadi, dia bahkan menyerang balik dan membuat Heil berlutut!
            Heil mendengar suara yang asing, suara tawa riang seorang laki-laki. Butuh beberapa saat sebelum menyadari bahwa sumber tawa itu adalah dirinya sendiri. Dia bergairah dan gembira, rentetan perasaan yang belum pernah dia rasakan selama pertarungan.
            “Pengalaman pertamamu ya?”
            Si pria buta—atau tidak buta—terkekeh. Gelagat yang aneh, seakan Heil adalah seorang anak kecil dan dia adalah guru yang sedang mengajarinya. Herannya, Heil merasa tidak keberatan diperlakukan seperti itu.
            “Beritahu namamu pak tua!”
            Heil merasa lebih heran lagi mendengar dirinya menanyakan hal itu, terlebih bukan dengan bahasa nemurin. Sudah bertahun-tahun dia tidak menggunakan bahasa umum Vierre.
            Lawannya bahkan tersenyum lebih lebar lagi.
            “Mirian,” katanya. “Mirian Tartorigal.”

*

And that's chapter 2.
Myana, my last POV for the first volume
will be in the next chapter :D
Stay tuned! ;)

No comments: