Chapter
4
Si Dua
Asap
Sven
menunggu semalaman. Beberapa orang yang mengenalnya memang mengakuinya sebagai
orang yang sangat gigih, terutama jika menyangkut masalah uang. Baru ketika
matahari terbit, dia melihat Elkal keluar dari gerbang selatan kota, berkuda, masih
dengan jubah merahnya dan tongkatnya yang ganjil. Elkal menyadari kehadiran
Sven dan tampak jengkel. Dia segera memacu kudanya kencang. Sven bergegas menaiki kudanya dan menyusul.
“Elkal!”
“Pergilah!”
Mereka
bersahut-sahutan sambil mengendarai kuda.
“Aku
akan membagi imbalannya! 25 persen!”
“Pergilah!”
“30
persen!”
“Tidak!”
“Lima
puluh—tidak, empat pul—tidak, 35 persen!”
Tiba-tiba
Elkal menghentikan kudanya. Gerakan itu membuat Sven kaget sesaat, namun dengan
sigap dia menarik tali kekang miliknya. Kudanya berhenti persis di sebelah kuda
milik Elkal.
“35
persen? Ayolah! Cukup terjemahkan ini untukku!”
Elkal
mengamatinya dengan ekspresi yang sama seperti kemarin, penuh kecurigaan dan
tidak ramah.
“Benarkah
kau seorang ranvel?” tiba-tiba dia berkata. “Kau tidak kelihatan seperti
ranvel.”
“Kau tidak kelihatan seperti ranvel,”
Sven membalas.
Elkal
bahkan lebih kecil dari Sven.
“Aku
ingin tahu,” tukas Elkal. “Bagaimana kau bisa tahu tempatku menginap?”
Sven
mengangkat bahu.
“Bradley
memberitahuku,” katanya.
Elkal
tampak bingung.
“Bradley?
Bradley si agen?”
Dia
tampak gusar mendengar informasi ini. Selewat beberapa saat dia menggeleng.
“Jadi?”
tuntut Sven.
“Biarkan
aku memberimu saran,” tukas Elkal galak. “Carilah pekerjaan lain jika kau
sayang nyawamu!”
Dia
kembali memacu kudanya kencang.
“Hei!”
panggil Sven.
Dia
sudah berniat menyusul lagi ketika sesuatu terjadi.
Awan
hitam bergulung secara tiba-tiba menyelimuti Sven dan kudanya. Sven
menghentikan kudanya dan menghunus pedangnya. Dia memikirkan makhluk gaib di
kawasan itu. Belum pernah dia menemukan makhluk gaib yang mampu membuat awan
hitam dan menutupi pandangan. Dengan pedang siap di tangan dia menajamkan
telinga, berusaha menangkap suara terkecil sekalipun. Namun, awan hitam itu
lenyap sama cepatnya seperti dia datang, meninggalkan Sven yang terheran-heran.
Elkal sudah menghilang dari pandangan. Sven menggeram.
Suara
angin terbelah. Sisi kanan.
Dia
menghindar tepat pada waktunya. Sebatang anak panah meluncur persis melewati
letak kepalanya berada hanya sedetik yang lalu. Belum sempat dia pulih dari
keterkejutannya, suara ledakan dari kejauhan menyita perhatiannya.
DUAR!
Apa lagi sekarang?
Dia
mencari-cari sekilas, berusaha menemukan pemanah yang jelas-jelas berusaha
membunuhnya tadi. Di sisi kanan, arah panah tadi datang, hanya ada padang
rumput dan bebatuan kecil, mustahil untuk bersembunyi di sana. Namun, dia tidak
melihat satu makhluk hidup pun. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan fenomena
aneh ini. Sven bergegas memacu kudanya menuju sumber suara ledakan, berharap
ada penjelasan masuk akal atas kejadian-kejadian tadi.
Asap hitam? Panah tapi tidak ada pemanah?
Apa-apaan ini?
Aku sering menjumpai hal-hal aneh,
tapi yang tadi itu jelas memberikan definisi baru tentang kata aneh, haha
Tunggu..
Apa itu?
Apakah itu api?
Kebakaran?
Di kejauhan, sesuatu terbakar.
Dia tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi Sven tidak mungkin salah mengenali
jubah merah mencolok itu. Apa pun yang terjadi di sana, Elkal terlibat. Sven
teringat pesan terakhir Bradley.
“Jauhi orang itu.”
Barangkali Bradley benar-benar
serius ketika dia memberikan nasihat itu. Barangkali agen itu tahu identitas
asli seorang Elkal, dan berbaik hati memeringatkan Sven untuk menjauhinya.
Barangkali pria bernama Elkal itu bukan hanya seorang ranvel yang tampak
berbeda secara fisik, tapi berbeda dari
segala aspek. Apa pun itu, Sven bertekad mendapatkan jawaban.
*
No comments:
Post a Comment