Tuesday, June 28, 2016

Royal Guards - Page 30-31

Chapter 4
Si Dua Asap
            Sven menunggu semalaman. Beberapa orang yang mengenalnya memang mengakuinya sebagai orang yang sangat gigih, terutama jika menyangkut masalah uang. Baru ketika matahari terbit, dia melihat Elkal keluar dari gerbang selatan kota, berkuda, masih dengan jubah merahnya dan tongkatnya yang ganjil. Elkal menyadari kehadiran Sven dan tampak jengkel. Dia segera memacu kudanya kencang.  Sven bergegas menaiki kudanya dan menyusul.
            “Elkal!”
            “Pergilah!”
            Mereka bersahut-sahutan sambil mengendarai kuda.
            “Aku akan membagi imbalannya! 25 persen!”
            “Pergilah!”
            “30 persen!”
            “Tidak!”
            “Lima puluh—tidak, empat pul—tidak, 35 persen!”
            Tiba-tiba Elkal menghentikan kudanya. Gerakan itu membuat Sven kaget sesaat, namun dengan sigap dia menarik tali kekang miliknya. Kudanya berhenti persis di sebelah kuda milik Elkal.
            “35 persen? Ayolah! Cukup terjemahkan ini untukku!”
            Elkal mengamatinya dengan ekspresi yang sama seperti kemarin, penuh kecurigaan dan tidak ramah.
            “Benarkah kau seorang ranvel?” tiba-tiba dia berkata. “Kau tidak kelihatan seperti ranvel.”
            “Kau tidak kelihatan seperti ranvel,” Sven membalas.
            Elkal bahkan lebih kecil dari Sven.
            “Aku ingin tahu,” tukas Elkal. “Bagaimana kau bisa tahu tempatku menginap?”
            Sven mengangkat bahu.
            “Bradley memberitahuku,” katanya.
            Elkal tampak bingung.
            “Bradley? Bradley si agen?”
            Dia tampak gusar mendengar informasi ini. Selewat beberapa saat dia menggeleng.
            “Jadi?” tuntut Sven.
            “Biarkan aku memberimu saran,” tukas Elkal galak. “Carilah pekerjaan lain jika kau sayang nyawamu!”
            Dia kembali memacu kudanya kencang.
            “Hei!” panggil Sven.
            Dia sudah berniat menyusul lagi ketika sesuatu terjadi.
            Awan hitam bergulung secara tiba-tiba menyelimuti Sven dan kudanya. Sven menghentikan kudanya dan menghunus pedangnya. Dia memikirkan makhluk gaib di kawasan itu. Belum pernah dia menemukan makhluk gaib yang mampu membuat awan hitam dan menutupi pandangan. Dengan pedang siap di tangan dia menajamkan telinga, berusaha menangkap suara terkecil sekalipun. Namun, awan hitam itu lenyap sama cepatnya seperti dia datang, meninggalkan Sven yang terheran-heran. Elkal sudah menghilang dari pandangan. Sven menggeram.
            Suara angin terbelah. Sisi kanan.
            Dia menghindar tepat pada waktunya. Sebatang anak panah meluncur persis melewati letak kepalanya berada hanya sedetik yang lalu. Belum sempat dia pulih dari keterkejutannya, suara ledakan dari kejauhan menyita perhatiannya.
            DUAR!
            Apa lagi sekarang?
            Dia mencari-cari sekilas, berusaha menemukan pemanah yang jelas-jelas berusaha membunuhnya tadi. Di sisi kanan, arah panah tadi datang, hanya ada padang rumput dan bebatuan kecil, mustahil untuk bersembunyi di sana. Namun, dia tidak melihat satu makhluk hidup pun. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan fenomena aneh ini. Sven bergegas memacu kudanya menuju sumber suara ledakan, berharap ada penjelasan masuk akal atas kejadian-kejadian tadi.
            Asap hitam? Panah tapi tidak ada pemanah? Apa-apaan ini?
            Aku sering menjumpai hal-hal aneh, tapi yang tadi itu jelas memberikan definisi baru tentang kata aneh, haha
            Tunggu..
            Apa itu?
            Apakah itu api?
Kebakaran?
            Di kejauhan, sesuatu terbakar. Dia tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi Sven tidak mungkin salah mengenali jubah merah mencolok itu. Apa pun yang terjadi di sana, Elkal terlibat. Sven teringat pesan terakhir Bradley.
            “Jauhi orang itu.”
            Barangkali Bradley benar-benar serius ketika dia memberikan nasihat itu. Barangkali agen itu tahu identitas asli seorang Elkal, dan berbaik hati memeringatkan Sven untuk menjauhinya. Barangkali pria bernama Elkal itu bukan hanya seorang ranvel yang tampak berbeda secara fisik, tapi berbeda dari segala aspek. Apa pun itu, Sven bertekad mendapatkan jawaban.
*
To be honest, I think my beginning stories are kinda weird._.

No comments: