Saturday, June 25, 2016

Royal Guards - Page 26-29

Selama perjalanan, mereka mendapati banyak gadis yang melambai dan tersenyum kepada mereka. Tidak jarang dari para gadis itu yang buru-buru menyambut mereka dalam pelukan cepat dan memberikan salam perpisahan. Nartaria yang paling banyak mendapatkan sambutan ini. Myana yang tergolong pemalu tidak memiliki banyak teman selain saudari-saudarinya di rumah.
“Jadi, apa rencanamu Myana?” tanya Nartaria suatu saat.
Myana mengangkat bahu.
“Kurasa sama seperti yang lain,” katanya. “Aku ingin mengunjungi ibuku dan mengobrol.”
            “Tentu,” kata Nartaria, memutar bola matanya, seolah-olah beranggapan jawaban Myana sangat konyol. “Maksudku, setelah itu.”
            “Mungkin mengunjungi kakakku di Kario. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.”
            Nartaria mengangguk-angguk pelan, sejenak tampak berpikir.
            “Boleh aku ikut?” tanyanya kemudian.
            Myana menatapnya kesal.
            “Jangan bodoh Tari,” tegurnya dengan nada tajam. “Kau tidak perlu mengajukan pertanyaan seperti itu! Tentu saja kau boleh ikut!”
            Nartaria tersenyum cerah. Ekspresi itu hanya singgah selama sedetik karena setelahnya dia mendesah.
            “Kalian curang,” katanya. “Kau dan Viseris memiliki kakak yang sudah berpengalaman di luar hutan.”
            “Kita akan menemui kakakku bersama-sama,” Myana meyakinkannya.
            Dia baru tahu kalau ternyata Viseris memiliki kakak. Biasanya, seorang Elrika hanya memiliki putri tunggal. Myana dan kakaknya adalah pengecualian yang jarang.
            “Jadi Viseris juga memiliki kakak?” tanya Myana. “Di mana kakaknya tinggal?”
            “Kario,”
            “Ah,”
            Myana menekan perasaan gelisahnya. Dia tidak begitu nyaman jika harus bepergian bersama-sama hingga ke Kario.
            Ini tidak luput dari perhatian Nartaria.
            “Kau tidak begitu menyukai Viseris ya?” tanyanya. Myana menggeleng.
            “Bukan begitu,” dia berkilah. “dia yang tidak menyukaiku, Tari.”
            Nartaria menatapnya tertegun.
            “Kau selalu beranggapan begitu Myana,” katanya mendengus. “Menurutmu, setiap orang tidak menyukaimu, dan untuk ke—aku tidak tahu ini yang keberapa kalinya—untuk kesekian kalinya kuyakinkan padamu, tidak ada yang tidak menyukaimu.”
            Myana terdiam.
            “Jangan keras kepala seperti itu!” lanjut Nartaria. “Aku tahu ekspresi itu. Kau sama sekali tidak percaya kata-kataku kan? Nah, itu bodoh! Semua orang yang mengenalmu tahu kau itu terlalu baik. Mereka semua sayang padamu. Tidak ada yang membenci dirimu kecuali dirimu sendiri.”
            Ketika Myana masih saja tidak membalas, Nartaria menutup ucapan panjangnya dengan nasihat favoritnya.
            “Berulangkali kukatakan kalau kau itu unik Myana. Tidak ada yang salah dengan unik.”
            Myana tidak sanggup membalas kata-kata itu. Nartaria tidak bisa lebih tepat lagi. Myana selalu merasa terasing di antara teman-temannya. Dia merasa minder, merasa cacat. Semua Elrika seharusnya memiliki rambut dan mata berwarna emas. Keberadaannya yang tidak sempurna selalu membuatnya bertanya-tanya, apa yang membuatnya terlahir dalam keadaan seperti itu? Mengapa dia berbeda dari yang lain? Adakah gadis yang bernasib sama sepertinya?
            “Sebenarnya,” katanya akhirnya, setelah terdiam cukup lama. “Salah satu bagian dari mimpiku pergi ke luar hutan adalah ini,”
            Dia bermain-main dengan rambut peraknya.
            “Aku ingin tahu apa yang membuatku berbeda, membuatku abnormal. Aku ingin tahu apakah ada yang lain yang bernasib sama sepertiku. Tidak ada yang bisa memberiku jawaban memuaskan di sini.”
            Myana tidak pernah mengutarakan ini kepada siapa pun dan mendapati dirinya agak kaget setelah membuat pengakuan itu. Dia melirik Nartaria yang menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak.
            “Myana,” dia memulai, tampak ingin mengucapkan sesuatu. Namun, alih-alih bersuara, dia menggeleng. “Kuanggap itu berarti kau sudah tahu akan ke mana setelah Kario?”
            Sekali lagi Myana mengangkat bahu, sebisa mungkin berusaha terdengar acuh tak acuh.
“Jauh di utara, ada entitas bernama Arlando yang tahu segala sesuatu, seorang demigod yang bersedia memberikan jawaban apa pun dengan imbalan emas yang cukup.”
            “Kau berniat bertransaksi dengan demigod?”   
            Nartaria berhenti berjalan dan menatapnya terpana.
            “Kau berniat bertransaksi dengan demigod?” ulangnya. Dia membuka mulutnya, kemudian  menutupnya lagi, tampak berpikir, menelaah kata-katanya.
            “Myana,” katanya akhirnya. “Aku bahkan tidak tahu harus bicara apa, tapi kau. Berniat. Bertransaksi. Dengan demigod!”
            Dia menekankan kata-katanya, memandang Myana dengan tatapan ‘apa kau sudah gila?’ miliknya.
            “Kau bersikap sangat konyol Myana,” dia mendesah. “”Lagipula darimana kau tahu informasi semacam ini? Kita tidak pernah keluar dari hutan Teresala!”
            Myana tersenyum kecil.
            “Kau mengenalku Tari,” katanya. “’konyol’ bisa dibilang adalah nama tengahku.”
            “Mengenai informasi ini,” lanjutnya. “kakakku Minasa membawa pulang banyak buku dari luar sewaktu dia kembali. Dan aku banyak membaca. Keberadaan demigod Arlando bukan hal yang rahasia Tari, dan banyak orang yang sudah bertransaksi dengannya. Dia hanya meminta imbalan emas—dalam jumlah yang sangat banyak—tapi tidak pernah disertai embel-embel. Ini seratus persen aman.”
            Nartaria masih menatapnya terpana.
            “Kau benar-benar serius ya?” ucapnya pelan. “Lalu darimana kau akan mendapatkan emas itu Myana? Emas tidak turun begitu saja dari langit, kau tahu?”
            Myana enggan menjawabnya. Dia tahu Nartaria akan kalap mendengar rencananya.
            “Myana!” Nartaria menegurnya keras. “Kau tidak merencanakan hal yang aneh-aneh bukan? Jangan jawab itu! Oh, kau membuatku gila Myana! Kita bahkan belum memulai perjalanan ini!”
            “Dan hapus seringaimu itu!” tambahnya ketika melihat ekspresi Myana.
            Myana geli melihat kekhawatiran sepupunya. Dia juga sedikit merasa bersalah telah membuatnya seperti itu. Sedikit.
            “Kita sebaiknya bergegas Tari,”
            Nartaria terkesiap, tampaknya baru menyadari kalau perjalanan mereka terhenti. Dia menarik nafas panjang dan menatap Myana sekali lagi. Tatapan matanya penuh janji, dan lagi-lagi Myana berhasil mendapatkan ketentraman di balik tatapan itu, meskipun saat itu dia tidak sedang mencarinya.
            “Aku ikut Myana,” katanya sungguh-sungguh. “Kemanapun kau pergi, aku ikut.”
            Myana merasakan sesuatu yang kasat mata menggenggam jantungnya. Dia kesulitan bernafas untuk beberapa saat. Matanya berair lagi. Dia tersadar dirinya merasa terharu mendengar kata-kata sederhana sepupunya itu.
            “Tari, aku—“
            “Tidak ada argumen Myana,” potong Nartaria. “Kau mau bersikap konyol dan bertransaksi dengan demigod itu, aku ikut. Kau mau mencari emas dengan cara-cara yang konyol, apa pun itu, aku ikut. Kau harus mengikatku dengan rantai jika kau tidak ingin aku mengikutimu Myana.”
            “Dan satu lagi Myana,” dia terdiam. Kilatan marah muncul di matanya. “Jika aku mendengar dirimu mengatai dirimu sendiri abnormal sekali lagi, kau akan berhadapan denganku.”

*

Now I notice Myana's story here is short! But I already write what I want, so...

No comments: