“Aku sudah menghubungi kakakmu,”
katanya. “Dia bilang pelindungnya akan datang ke sini menjemputmu.”
“Pelindung
boleh masuk ke hutan?” tanya Myana heran.
“Dalam
momen seperti ini, mereka diberikan izin khusus,”
Ketika
Myana memberikan kabar ini kepada Nartaria dan Viseris, mereka tidak sanggup
menahan antusiasmenya yang meluap-luap.
“Oh
astaga astaga astaga,” pekik Viseris. Dia meloncat-loncat kecil dan tampak
kesulitan bernafas. “Tidak kusangka aku akan bertemu dengan pelindung secepat
ini! Oh, aku harus segera bersiap-siap!”
Dan
tanpa basa-basi lagi dia bergegas kembali ke rumah ibunya, bergumam-gumam kecil
sepanjang perjalanan.
“Rambut,
kulit, wangi-wangian—oh, banyak sekali yang harus dilakukan!”
Nartaria,
meskipun tampak lebih sopan dan terkontrol tetap tidak bisa menyembunyikan
semangatnya. Dia tersenyum-senyum kecil ketika berpikir Myana tidak melihat.
“Viseris
agak berlebihan ya?” katanya. “Maksudku, dia itu kan pelindung kakakmu!”
Dia
menatap Myana.
“Kau
tahu siapa namanya?”
“Harken,”
Nartaria
mengangguk-angguk.
“Bagaimana
rupanya? Apa kakakmu sering menceritakan bagaimana rupanya?”
Myana
berkata tidak dan tidak dan Nartaria tampak kecewa.
“Aku..er..
kurasa aku juga sebaiknya bersiap-siap kau tahu?” katanya, berusaha bersikap
datar. “Perjalanan panjang, kau tidak ingin melupakan segala sesuatu kan?”
Tampak
agak malu, dia bergegas pergi. Myana menyadari keinginannya untuk berlari
seperti Viseris, namun Nartaria ternyata mampu mengendalikan dirinya.
Kini,
mereka bertiga, bersama ibu masing-masing sudah berada di depan lorong masuk
yang tertutup sulur-sulur pohon, menunggu kehadiran si pelindung misterius itu.
Ibunya menyadari genangan air mata Myana yang semakin banyak dan menghapusnya
lembut.
“Jangan
sedih sayang,” katanya pelan. “Kau akan merasa senang di luar sana. Banyak hal
yang bisa kau pelajari, banyak hal baru yang sangat indah. Kau harus percaya
kata-kataku, aku juga pernah mengalami hal sepertimu, ingat?”
Myana
mengangguk. Dia sebenarnya bersemangat ingin pergi ke luar hutan. Namun,
kerinduannya akan ibunya membuatnya muram.
“Kemarilah,”
Ibunya
menarik dan memeluknya. Myana membiarkan dirinya terisak dalam dekapan ibunya.
Di
sebelahnya, Nartaria dan Viseris juga berpisah dengan cara masing-masing.
Nartaria juga memeluk ibunya. Viseris, yang berpenampilan sangat total
tampaknya tidak begitu sedih dengan prospek berpisah lagi dengan ibunya. Dia
menatap lorong bersulur itu dengan semangat, jelas sekali tidak sabar untuk
melihat kedatangan si penjemput. Rambut pendeknya dihiasi dengan bunga-bungaan
yang sudah dia rangkai dengan rapi. Kain putihnya—kain yang digunakan semua
bangsa Elrika sebagai pakaian—dibalut dalam posisi yang rumit dan terbuka,
memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang indah. Kulitnya yang agak gelap
mengilap. Dia tampak sangat cantik.
Nartaria
lain lagi. Dia berpenampilan seperti biasanya. Rambut panjangnya dikepang dan
dibentuk dalam satu gulungan yang indah. Pakaian yang dipakainya tampak elegan
dan menarik, meskipun tidak terbuka seperti milik Viseris. Tentu saja dia juga
tampak sangat cantik.
Myana,
di satu sisi, tidak berminat memoles dirinya. Dia memakai kain putihnya dengan
balutan yang tertutup, sederhana dan rapi. Toh, menurut ibunya, mereka nantinya
akan berganti pakaian untuk berbaur. Rambut lurus perak panjangnya digerai
begitu saja dalam model yang sederhana.
Dia
masih berpelukan ketika ibunya menoleh ke lorong itu.
“Dia
datang,” katanya, melepaskan Myana.
Myana
bisa mendengar pekikan tertahan Viseris dan suara tarikan nafas tegang
Nartaria. Harus diakui, dia sendiri juga sangat penasaran ingin melihat rupa
seorang laki-laki untuk pertama kalinya. Beragam gambaran berseliweran di
pikirannya.
Sebuah
tangan yang besar muncul dari dalam lorong menyingkap sulur dan menyibak sebuah
sosok di sana. Dia berjalan keluar dan memerlihatkan dirinya di bawah cahaya.
“Wow,”
Yang
mengucapkan itu adalah Viseris. Mulutnya terbuka begitu saja sampai ibunya
menyikut rusuknya mengingatkan. Hal lucu yang sama juga terjadi pada Nartaria.
Dia tampak terperangah. Myana memeriksa ekspresinya sendiri dari dalam dan
menyadari bahwa mulutnya juga terbuka seperti orang bodoh. Dengan susah payah
dia menutup mulut.
No comments:
Post a Comment