Monday, October 17, 2016

Royal Guards - Page 49-50

“Aku sudah menghubungi kakakmu,” katanya. “Dia bilang pelindungnya akan datang ke sini menjemputmu.”
            “Pelindung boleh masuk ke hutan?” tanya Myana heran.
            “Dalam momen seperti ini, mereka diberikan izin khusus,”
            Ketika Myana memberikan kabar ini kepada Nartaria dan Viseris, mereka tidak sanggup menahan antusiasmenya yang meluap-luap.
            “Oh astaga astaga astaga,” pekik Viseris. Dia meloncat-loncat kecil dan tampak kesulitan bernafas. “Tidak kusangka aku akan bertemu dengan pelindung secepat ini! Oh, aku harus segera bersiap-siap!”
            Dan tanpa basa-basi lagi dia bergegas kembali ke rumah ibunya, bergumam-gumam kecil sepanjang perjalanan.
            “Rambut, kulit, wangi-wangian—oh, banyak sekali yang harus dilakukan!”
            Nartaria, meskipun tampak lebih sopan dan terkontrol tetap tidak bisa menyembunyikan semangatnya. Dia tersenyum-senyum kecil ketika berpikir Myana tidak melihat.
            “Viseris agak berlebihan ya?” katanya. “Maksudku, dia itu kan pelindung kakakmu!”
            Dia menatap Myana.
            “Kau tahu siapa namanya?”
“Harken,”
Nartaria mengangguk-angguk.
“Bagaimana rupanya? Apa kakakmu sering menceritakan bagaimana rupanya?”
            Myana berkata tidak dan tidak dan Nartaria tampak kecewa.
            “Aku..er.. kurasa aku juga sebaiknya bersiap-siap kau tahu?” katanya, berusaha bersikap datar. “Perjalanan panjang, kau tidak ingin melupakan segala sesuatu kan?”
            Tampak agak malu, dia bergegas pergi. Myana menyadari keinginannya untuk berlari seperti Viseris, namun Nartaria ternyata mampu mengendalikan dirinya.
            Kini, mereka bertiga, bersama ibu masing-masing sudah berada di depan lorong masuk yang tertutup sulur-sulur pohon, menunggu kehadiran si pelindung misterius itu. Ibunya menyadari genangan air mata Myana yang semakin banyak dan menghapusnya lembut.
            “Jangan sedih sayang,” katanya pelan. “Kau akan merasa senang di luar sana. Banyak hal yang bisa kau pelajari, banyak hal baru yang sangat indah. Kau harus percaya kata-kataku, aku juga pernah mengalami hal sepertimu, ingat?”
            Myana mengangguk. Dia sebenarnya bersemangat ingin pergi ke luar hutan. Namun, kerinduannya akan ibunya membuatnya muram.
            “Kemarilah,”
            Ibunya menarik dan memeluknya. Myana membiarkan dirinya terisak dalam dekapan ibunya.
            Di sebelahnya, Nartaria dan Viseris juga berpisah dengan cara masing-masing. Nartaria juga memeluk ibunya. Viseris, yang berpenampilan sangat total tampaknya tidak begitu sedih dengan prospek berpisah lagi dengan ibunya. Dia menatap lorong bersulur itu dengan semangat, jelas sekali tidak sabar untuk melihat kedatangan si penjemput. Rambut pendeknya dihiasi dengan bunga-bungaan yang sudah dia rangkai dengan rapi. Kain putihnya—kain yang digunakan semua bangsa Elrika sebagai pakaian—dibalut dalam posisi yang rumit dan terbuka, memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang indah. Kulitnya yang agak gelap mengilap. Dia tampak sangat cantik.
            Nartaria lain lagi. Dia berpenampilan seperti biasanya. Rambut panjangnya dikepang dan dibentuk dalam satu gulungan yang indah. Pakaian yang dipakainya tampak elegan dan menarik, meskipun tidak terbuka seperti milik Viseris. Tentu saja dia juga tampak sangat cantik.
            Myana, di satu sisi, tidak berminat memoles dirinya. Dia memakai kain putihnya dengan balutan yang tertutup, sederhana dan rapi. Toh, menurut ibunya, mereka nantinya akan berganti pakaian untuk berbaur. Rambut lurus perak panjangnya digerai begitu saja dalam model yang sederhana.
            Dia masih berpelukan ketika ibunya menoleh ke lorong itu.
            “Dia datang,” katanya, melepaskan Myana.
            Myana bisa mendengar pekikan tertahan Viseris dan suara tarikan nafas tegang Nartaria. Harus diakui, dia sendiri juga sangat penasaran ingin melihat rupa seorang laki-laki untuk pertama kalinya. Beragam gambaran berseliweran di pikirannya.
            Sebuah tangan yang besar muncul dari dalam lorong menyingkap sulur dan menyibak sebuah sosok di sana. Dia berjalan keluar dan memerlihatkan dirinya di bawah cahaya.
            “Wow,”

            Yang mengucapkan itu adalah Viseris. Mulutnya terbuka begitu saja sampai ibunya menyikut rusuknya mengingatkan. Hal lucu yang sama juga terjadi pada Nartaria. Dia tampak terperangah. Myana memeriksa ekspresinya sendiri dari dalam dan menyadari bahwa mulutnya juga terbuka seperti orang bodoh. Dengan susah payah dia menutup mulut.


No comments: