Tuesday, April 26, 2016

Royal Guards - Page 3-4



“Duduklah,” pinta Bern, mendapati suaranya sendiri letih dan serak. Saat itu sudah tengah malam dan dia sama sekali belum tidur. Bern juga yakin, istrinya masih terjaga dan menunggu dirinya dengan cemas.
Para prajurit di seberangnya menurut, dengan sigap menduduki kursi masing-masing. Semua kursi terisi kecuali satu.
“Mana Gareth?” tanya Bern.
“Beliau menyusul, tuanku,” jawab salah seorang. “Remia demam parah sekali dan berulang kali meracau. Gareth bilang akan segera menyusul segera setelah Remia tidur.”
Informasi ini sejenak menyita perhatian Bern. Remia adalah putri kebanggaan sahabatnya, Gareth. Bern berharap semoga gadis itu baik-baik saja.
“Paduka,”
Pria yang memanggilnya adalah pria yang pertama kali menyapa ketika masuk ruangan. Dia berambut hitam legam, lurus sepanjang bahu. Wajahnya ganjil, perpaduan menarik antara maskulin dan feminin. Dia tampak tampan, namun juga bisa dibilang tampak cantik. Ekspresi khawatir tampak jelas di wajahnya.
“Anda pucat sekali paduka,” katanya. “Apakah anda sakit?”
“Tidak, tidak, aku baik-baik saja Levi,” cetus Bern asal, tidak sepenuhnya yakin jawabannya benar. Secara fisik, tentu saja dia sangat sehat, namun prospek baru mengenai putra dan putrinya membuatnya merasa remuk luar dalam.
Begini masalahnya. Di satu sisi dia merasakan kelegaan yang luar biasa. Tanggung jawabnya yang sudah melekat selama nyaris 35 tahun kini sudah berpindah ke tangan putrinya. Namun di sisi lain itu tidak bisa dibilang kabar baik, karena dia tahu persis apa yang akan dialami putrinya. Yang paling meresahkan adalah kehadiran mimpi buruk yang akan terus menerus muncul sepanjang waktu. Itu salah satunya.
Dia menyingkirkan ingatan tidak menyenangkan itu jauh-jauh dan menyadari lagi kehadiran orang-orang setia yang menunggunya bicara. Jujur saja dia bingung harus memulai dari mana. Bern memutuskan untuk menjelaskan dengan cepat. Dia membuka sarung tangan kirinya dan memerlihatkan punggung tangannya.
Salah seorang dari mereka terkesiap.
“Tanda—tandanya hilang!”
Seakan-akan reaksi naluriah, mereka membuka sarung tangan kiri dan mengecek punggung tangan masing-masing.  Reaksi mereka serupa. Mereka semua tampak sangat pucat.
“Punyaku hilang,”
“Sama,”
“Aku juga,”
“Sama,”
Mendengar ini, Bern diselimuti perasaan kecewa. Orang-orang ini adalah orang-orang kepercayaannya. Mereka luar biasa tangguh dan menurut Bern sangat sulit untuk digantikan. Putrinya seharusnya mendapatkan yang terbaik, sementara Bern percaya bahwa para prajuritnya ini adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Misalnya saja Don, pria berambut coklat pendek dengan wajah garang dan luka cakar panjang yang tampak membelah mata kirinya yang tertutup. Penampilannya ini sesuai dengan gaya pertarungannya yang liar. Dia adalah ksatria yang sangat menakutkan, dengan kapak besar sebagai senjata favorit. Russel, pria berambut hitam dengan jenggot yang lebat mengesankan, juga tidak kalah garang dari Don. Bern berulang kali menyimak duel mereka berdua yang seringkali terlampau serius, belum lagi menyeramkan.
Dua identik yang duduk di samping Don adalah Karl dan Bowen. Mereka juga unik,  sama-sama berambut pirang dan sama-sama menggunakan tombak sebagai pilihan senjatanya. Mereka adalah kembar yang sangat kompak dan lihai dalam pertarungan. Bern teringat satu pengalaman pahitnya, ketika nyawanya nyaris terenggut dalam perjalanan menuju kerajaan Galfaroa. Kala itu dia menyaksikan dengan tegang pertempuran si kembar melawan 50 orang sekaligus. Mereka menang dengan gemilang. Itu adalah salah satu pengalaman yang tidak akan pernah bisa Bern lupakan.
“Bagaimana dengan tandaku?” Pria di sebelah Russel bertanya. Dia menjulurkan tangannya untuk dilihat Russel.
“Hilang Mirian!”  Russel menyumpah. “Sial!”
Mirian lain lagi. Pria berambut tipis putih ini bahkan lebih tangguh dari rekan-rekannya yang lain. Pilihan senjatanya adalah pedang dan perisai. Sejauh ini, selain Gareth, belum ada yang pernah berhasil menembus pertahanan pria itu. Satu hal lagi yang luar biasa dari Mirian adalah kondisinya. Mirian ini buta. Matanya yang putih berkabut menerawang jauh, namun dia bergerak dan bertarung selayaknya orang normal. Sampai sekarang Bern belum mengerti bagaimana cara pria itu melakukannya.  
Rasanya sulit bagi Bern untuk bisa percaya bahwa ada orang-orang di luar sana—entah siapa pun itu—yang memiliki atau paling tidak akan memiliki kemampuan bertempur melebihi mereka berlima. Lebih sulit lagi untuk percaya bahwa Elric, putranya sendiri ternyata memiliki potensi itu. 

No comments: