“Duduklah,” pinta
Bern, mendapati suaranya sendiri letih dan serak. Saat itu sudah tengah malam
dan dia sama sekali belum tidur. Bern juga yakin, istrinya masih terjaga dan
menunggu dirinya dengan cemas.
Para prajurit di
seberangnya menurut, dengan sigap menduduki kursi masing-masing. Semua kursi
terisi kecuali satu.
“Mana Gareth?”
tanya Bern.
“Beliau menyusul,
tuanku,” jawab salah seorang. “Remia demam parah sekali dan berulang kali
meracau. Gareth bilang akan segera menyusul segera setelah Remia tidur.”
Informasi ini
sejenak menyita perhatian Bern. Remia adalah putri kebanggaan sahabatnya,
Gareth. Bern berharap semoga gadis itu baik-baik saja.
“Paduka,”
Pria yang memanggilnya
adalah pria yang pertama kali menyapa ketika masuk ruangan. Dia berambut hitam
legam, lurus sepanjang bahu. Wajahnya ganjil, perpaduan menarik antara maskulin
dan feminin. Dia tampak tampan, namun juga bisa dibilang tampak cantik. Ekspresi
khawatir tampak jelas di wajahnya.
“Anda pucat sekali
paduka,” katanya. “Apakah anda sakit?”
“Tidak, tidak, aku
baik-baik saja Levi,” cetus Bern asal, tidak sepenuhnya yakin jawabannya benar.
Secara fisik, tentu saja dia sangat sehat, namun prospek baru mengenai putra
dan putrinya membuatnya merasa remuk luar dalam.
Begini masalahnya.
Di satu sisi dia merasakan kelegaan yang luar biasa. Tanggung jawabnya yang
sudah melekat selama nyaris 35 tahun kini sudah berpindah ke tangan putrinya.
Namun di sisi lain itu tidak bisa dibilang kabar baik, karena dia tahu persis
apa yang akan dialami putrinya. Yang paling meresahkan adalah kehadiran mimpi
buruk yang akan terus menerus muncul sepanjang waktu. Itu salah satunya.
Dia menyingkirkan
ingatan tidak menyenangkan itu jauh-jauh dan menyadari lagi kehadiran orang-orang
setia yang menunggunya bicara. Jujur saja dia bingung harus memulai dari mana. Bern
memutuskan untuk menjelaskan dengan cepat. Dia membuka sarung tangan kirinya
dan memerlihatkan punggung tangannya.
Salah seorang dari
mereka terkesiap.
“Tanda—tandanya
hilang!”
Seakan-akan reaksi
naluriah, mereka membuka sarung tangan kiri dan mengecek punggung tangan
masing-masing. Reaksi mereka serupa. Mereka
semua tampak sangat pucat.
“Punyaku hilang,”
“Sama,”
“Aku juga,”
“Sama,”
Mendengar ini, Bern
diselimuti perasaan kecewa. Orang-orang ini adalah orang-orang kepercayaannya. Mereka
luar biasa tangguh dan menurut Bern sangat sulit untuk digantikan. Putrinya
seharusnya mendapatkan yang terbaik, sementara Bern percaya bahwa para
prajuritnya ini adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Misalnya saja Don,
pria berambut coklat pendek dengan wajah garang dan luka cakar panjang yang
tampak membelah mata kirinya yang tertutup. Penampilannya ini sesuai dengan
gaya pertarungannya yang liar. Dia adalah ksatria yang sangat menakutkan,
dengan kapak besar sebagai senjata favorit. Russel, pria berambut hitam dengan
jenggot yang lebat mengesankan, juga tidak kalah garang dari Don. Bern berulang
kali menyimak duel mereka berdua yang seringkali terlampau serius, belum lagi menyeramkan.
Dua identik yang
duduk di samping Don adalah Karl dan Bowen. Mereka juga unik, sama-sama berambut pirang dan sama-sama
menggunakan tombak sebagai pilihan senjatanya. Mereka adalah kembar yang sangat
kompak dan lihai dalam pertarungan. Bern teringat satu pengalaman pahitnya,
ketika nyawanya nyaris terenggut dalam perjalanan menuju kerajaan Galfaroa. Kala
itu dia menyaksikan dengan tegang pertempuran si kembar melawan 50 orang
sekaligus. Mereka menang dengan gemilang. Itu adalah salah satu pengalaman yang
tidak akan pernah bisa Bern lupakan.
“Bagaimana dengan
tandaku?” Pria di sebelah Russel bertanya. Dia menjulurkan tangannya untuk
dilihat Russel.
“Hilang Mirian!” Russel menyumpah. “Sial!”
Mirian lain lagi.
Pria berambut tipis putih ini bahkan lebih tangguh dari rekan-rekannya yang
lain. Pilihan senjatanya adalah pedang dan perisai. Sejauh ini, selain Gareth, belum
ada yang pernah berhasil menembus pertahanan pria itu. Satu hal lagi yang luar
biasa dari Mirian adalah kondisinya. Mirian ini buta. Matanya yang putih berkabut menerawang jauh, namun dia bergerak
dan bertarung selayaknya orang normal. Sampai sekarang Bern belum mengerti
bagaimana cara pria itu melakukannya.
Rasanya sulit bagi
Bern untuk bisa percaya bahwa ada orang-orang di luar sana—entah siapa pun itu—yang
memiliki atau paling tidak akan memiliki
kemampuan bertempur melebihi mereka berlima. Lebih sulit lagi untuk percaya
bahwa Elric, putranya sendiri ternyata memiliki potensi itu.
No comments:
Post a Comment