Wednesday, April 27, 2016

Royal Guards - Page 5-6



Bern mengalihkan perhatiannya kepada Levi, baru menyadari kalau pria itu sedari tadi belum bersuara lagi. Seakan membaca pikiran Bern, Levi menunjukkan punggung tangan kirinya. Betapa leganya Bern melihat lambang yang menyerupai bulan sabit masih terpeta di punggung tangannya. Terlepas dari wajahnya yang terlalu menarik perhatian, Levi adalah prajurit tercerdas dan memiliki kemampuan yang sangat Bern hargai.
Bagaimanapun, rasa senang Bern hanya berlangsung singkat.
“Jadi, hanya tersisa Levi?” katanya. “bagaimana dengan Gareth?”
Gareth merupakan salah satu orang yang paling Bern percaya. Dia bijaksana dan merupakan prajurit tangguh terkuat. Semua yang ada di ruangan ini mengakui itu. Akan menjadi kehilangan besar jika tanda di tangannya juga menghilang seperti yang lain.
Seakan-akan menjawab panggilan Bern, pintu terbuka sekali lagi, memunculkan seorang pria. Pria itu melihat Bern dan segera membungkuk hormat.
“Gareth,” ujar Bern, memberikan isyarat dengan tangannya ke arah kursi yang masih kosong. “Duduklah.”
Gareth, seperti rekan-rekannya yang lain, berbadan tegap dan besar. Seperti rekan-rekannya juga, dia bergerak dengan aura angkuh yang hanya dimiliki petarung veteran. Jika Levi adalah campuran ganjil antara maskulin dan feminin, Gareth lain lagi. Dia berambut hitam tipis dan wajah persegi dengan lekuk yang tegas dan sangat maskulin. Seperti halnya Don, Gareth juga memiliki bekas luka vertikal yang menutupi sebelah matanya. Bedanya, luka itu disebabkan oleh sayatan pedang, bukan luka cakar. Matanya yang terbuka berwarna coklat teduh dan menampilkan karakteristik seorang yang keras. Kontras dengan penampilannya yang kasar, Gareth sangat cerdas dan bijaksana dalam membuat keputusan. Tidak jarang Bern meminta saran terkait kerajaan kepada sahabatnya itu.  
“Bern—maaf—maksudku, paduka,”
Di antara mereka, hanya Gareth yang memanggil Bern dengan nama. Wajar, karena Gareth adalah sahabatnya sedari kecil. Bern sendiri yang memaksa Gareth untuk tetap memanggilnya demikian, namun rupanya Gareth bersikeras untuk memanggilnya paduka di hadapan yang lain.
“Maaf terlambat, tapi aku membawa kabar penting,” katanya, seraya menempati kursinya. “Kukira Anda juga sama.”
Bahkan sebelum Bern menjelaskan, dia sudah membuka sarung tangannya dan memerlihatkan punggung tangan kirinya. Seketika itu juga Bern merasa jauh lebih baik. Tanda menyerupai riak air masih ada di punggung tangan kiri Gareth.
Sudah menjadi khas Gareth untuk tahu duduk perkara lebih dulu dibanding yang lain.
“Bagaimana kau tahu?” terdengar gerutuan Russel yang anehnya tampak kesal. “Tapi tentu saja kau sudah tahu! Kemampuanmu yang curang itu, eh?”
“Putriku,” jawab Gareth, mengacuhkan Russel. Bern baru menyadari ekspresi letih sahabatnya itu. Ekspresi yang jarang sekali muncul karena pembawaan Gareth yang tenang.
“Putrimu sehat?” tanya Bern, menepiskan kemungkinan terburuk yang bisa membuat Gareth menampilkan ekspresi suram itu.
Gareth tertawa kecil.
“Tentu, tentu,” katanya. “Terlepas dari tanda baru di tangan kirinya, Remia sehat-sehat saja.”
Jawaban ini membuat semua yang hadir di ruangan itu duduk lebih tegak di kursinya.  
Jadi itu yang membuatnya kelihatan suram. Bern tentu saja mengerti, karena hal itu jugalah yang membuat dirinya sendiri gelisah. Meskipun dia sulit percaya kalau putri kecil Gareth-lah yang mendapat salah satu tanda penjaga berikutnya. Sama halnya dengan Elric.
Para prajurit di sekelilingnya tampak terganggu.
Putrimu memiliki lambang penjaga?” kata Russel lagi, tidak repot-repot menyembunyikan nada shocknya. “Putrimu?
Russel memelintir janggutnya yang lebat, pertanda bahwa dia sangat gelisah. Bern sudah mengenal Russel cukup lama untuk mengenali ekspresi itu, yang menunjukkan bahwa dia.. terhina?
“Gareth, kau pasti bercanda!” serunya. “Seorang perempuan memiliki kemampuan bertarung lebih dariku? Tidak, tidak! Bahkan melebihi Mirian?! Hah!”
“Perempuan yang kau bicarakan adalah putri dari seorang Gareth, Russel,” kata Mirian pelan. “Dan Gareth istimewa.”
“Tapi dia perempuan!” balas Russel sengit, sangat menghina.
Gareth menggebrak meja, membuat semuanya tersentak.
“Kita di hadapan paduka Raja!” geramnya. Ekspresinya kini kembali dingin dan angkuh. “Russel, simpan dulu protesmu untuk nanti! Aku yakin paduka memiliki hal lain untuk disampaikan! Tanda yang menghilang dan muncul jelas menandakan bahwa ada seorang pewaris!”
Bern tersenyum kecil. Percayakan kepada Gareth untuk mencapai kesimpulan lebih dulu daripada yang lain. Russel dan Don tampak terperanjat. Levi tampak tenang seperti biasa. Karl dan Bowen saling pandang. Mirian...tetap duduk dengan tatapan kosong.
“Tetapi paduka,” Russel berkata lambat-lambat. “Bukankah kalau tanda di tangan Anda menghilang itu artinya ada pewarisnya yang baru lahir?”


No comments: