Bern mengalihkan
perhatiannya kepada Levi, baru menyadari kalau pria itu sedari tadi belum
bersuara lagi. Seakan membaca pikiran Bern, Levi menunjukkan punggung tangan
kirinya. Betapa leganya Bern melihat lambang yang menyerupai bulan sabit masih
terpeta di punggung tangannya. Terlepas dari wajahnya yang terlalu menarik
perhatian, Levi adalah prajurit tercerdas dan memiliki kemampuan yang sangat
Bern hargai.
Bagaimanapun, rasa
senang Bern hanya berlangsung singkat.
“Jadi, hanya
tersisa Levi?” katanya. “bagaimana dengan Gareth?”
Gareth merupakan
salah satu orang yang paling Bern percaya. Dia bijaksana dan merupakan prajurit
tangguh terkuat. Semua yang ada di ruangan ini mengakui itu. Akan menjadi
kehilangan besar jika tanda di tangannya juga menghilang seperti yang lain.
Seakan-akan
menjawab panggilan Bern, pintu terbuka sekali lagi, memunculkan seorang pria.
Pria itu melihat Bern dan segera membungkuk hormat.
“Gareth,” ujar Bern,
memberikan isyarat dengan tangannya ke arah kursi yang masih kosong.
“Duduklah.”
Gareth, seperti
rekan-rekannya yang lain, berbadan tegap dan besar. Seperti rekan-rekannya
juga, dia bergerak dengan aura angkuh yang hanya dimiliki petarung veteran. Jika
Levi adalah campuran ganjil antara maskulin dan feminin, Gareth lain lagi. Dia
berambut hitam tipis dan wajah persegi dengan lekuk yang tegas dan sangat
maskulin. Seperti halnya Don, Gareth juga memiliki bekas luka vertikal yang
menutupi sebelah matanya. Bedanya, luka itu disebabkan oleh sayatan pedang,
bukan luka cakar. Matanya yang terbuka berwarna coklat teduh dan menampilkan
karakteristik seorang yang keras. Kontras dengan penampilannya yang kasar,
Gareth sangat cerdas dan bijaksana dalam membuat keputusan. Tidak jarang Bern
meminta saran terkait kerajaan kepada sahabatnya itu.
“Bern—maaf—maksudku,
paduka,”
Di antara mereka,
hanya Gareth yang memanggil Bern dengan nama. Wajar, karena Gareth adalah
sahabatnya sedari kecil. Bern sendiri yang memaksa Gareth untuk tetap
memanggilnya demikian, namun rupanya Gareth bersikeras untuk memanggilnya
paduka di hadapan yang lain.
“Maaf terlambat,
tapi aku membawa kabar penting,” katanya, seraya menempati kursinya. “Kukira Anda
juga sama.”
Bahkan sebelum Bern
menjelaskan, dia sudah membuka sarung tangannya dan memerlihatkan punggung
tangan kirinya. Seketika itu juga Bern merasa jauh lebih baik. Tanda menyerupai
riak air masih ada di punggung tangan kiri Gareth.
Sudah menjadi khas
Gareth untuk tahu duduk perkara lebih dulu dibanding yang lain.
“Bagaimana kau
tahu?” terdengar gerutuan Russel yang anehnya tampak kesal. “Tapi tentu saja
kau sudah tahu! Kemampuanmu yang curang itu, eh?”
“Putriku,” jawab
Gareth, mengacuhkan Russel. Bern baru menyadari ekspresi letih sahabatnya itu.
Ekspresi yang jarang sekali muncul karena pembawaan Gareth yang tenang.
“Putrimu sehat?”
tanya Bern, menepiskan kemungkinan terburuk yang bisa membuat Gareth
menampilkan ekspresi suram itu.
Gareth tertawa
kecil.
“Tentu, tentu,”
katanya. “Terlepas dari tanda baru di tangan kirinya, Remia sehat-sehat saja.”
Jawaban ini
membuat semua yang hadir di ruangan itu duduk lebih tegak di kursinya.
Jadi itu yang membuatnya kelihatan suram.
Bern tentu saja mengerti, karena hal itu jugalah yang membuat dirinya sendiri
gelisah. Meskipun dia sulit percaya kalau putri kecil Gareth-lah yang mendapat salah
satu tanda penjaga berikutnya. Sama halnya dengan Elric.
Para prajurit di
sekelilingnya tampak terganggu.
“Putrimu memiliki lambang penjaga?” kata
Russel lagi, tidak repot-repot menyembunyikan nada shocknya. “Putrimu?”
Russel memelintir
janggutnya yang lebat, pertanda bahwa dia sangat gelisah. Bern sudah mengenal
Russel cukup lama untuk mengenali ekspresi itu, yang menunjukkan bahwa dia.. terhina?
“Gareth, kau pasti
bercanda!” serunya. “Seorang perempuan memiliki kemampuan bertarung lebih
dariku? Tidak, tidak! Bahkan melebihi Mirian?! Hah!”
“Perempuan yang
kau bicarakan adalah putri dari seorang Gareth, Russel,” kata Mirian pelan. “Dan
Gareth istimewa.”
“Tapi dia perempuan!” balas Russel sengit, sangat
menghina.
Gareth menggebrak
meja, membuat semuanya tersentak.
“Kita di hadapan
paduka Raja!” geramnya. Ekspresinya kini kembali dingin dan angkuh. “Russel,
simpan dulu protesmu untuk nanti! Aku yakin paduka memiliki hal lain untuk
disampaikan! Tanda yang menghilang dan muncul jelas menandakan bahwa ada
seorang pewaris!”
Bern tersenyum
kecil. Percayakan kepada Gareth untuk mencapai kesimpulan lebih dulu daripada yang
lain. Russel dan Don tampak terperanjat. Levi tampak tenang seperti biasa. Karl
dan Bowen saling pandang. Mirian...tetap duduk dengan tatapan kosong.
“Tetapi paduka,”
Russel berkata lambat-lambat. “Bukankah kalau tanda di tangan Anda menghilang
itu artinya ada pewarisnya yang baru lahir?”
No comments:
Post a Comment