Mereka berkata rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau.
Tak pernah dalam mimpiku yang paling liar sekalipun menduga akan merasakan sensasi itu di lubang hitam ini...
Rasanya aneh ketika melihat para penghuni lain menerima pengunjung.
Rasanya... sakit...
Tapi, seharusnya aku tidak merasakan perasaan ini...
Aku sudah mati...
Aku 100% yakin itu...
Lagipula, siapa yang mau mengunjungi seorang pembunuh?
... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Untuk yang kesekian kalinya Pak Soni mengomentari ekspresi wajahku.
"Senanglah sedikit Jordi! Hari ini hari kebebasanmu!"
Aku mencoba untuk mengangkat sudut-sudut mulutku, tidak ingat kapan terakhir kali diriku tersenyum.
Sulit...
"Puluhan tahun satu sel sama kamu, belum pernah saya lihat kamu senyum!"
Puluhan tahun? Selama itu?
Pria tua di hadapanku ini bernama Soni. Perilakunya yang ramah dan santun seringkali membuatku bertanya-tanya heran, mengapa pria sepertinya bisa berada di tempat seperti ini? Dia sudah ada sebelum aku datang dan masih harus berada di tempat suram ini beberapa tahun lagi.
"Kita bakalan kangen Jor,"
Pernyataan ini membuatku heran lagi. Memangnya apa yang pernah kuperbuat sampai dia bisa membuat pernyataan semacam itu? Aku yakin aku bukan pribadi yang menyenangkan selama berada di sini.
"Kamu orang baik Jordi," kata pak Soni. Dia seakan mengetahui jalan pikiranku, sesuatu yang sering sekali terjadi. Aku bahkan curiga dia bisa membaca pikiran. "Berulang kali saya bilang, kamu itu orang baik!"
Dia menangkap sesuatu di ekspresiku dan mengernyit.
"Kamu itu orang baik! Semua penghuni disini setuju sama saya!"
"Bahkan Praja?" Ucapku asal.
Pak Soni terkekeh.
"Ah, dia memang sinting," katanya.
Seseorang berdeham di belakangku. Aku menoleh, melihat Roni, si penjaga yang sedari tadi menungguku. Dia membuat isyarat untuk menyuruhku bergegas.
"Kamu ga akan lupa saya kan Jor?" Ujar pak Soni. Suaranya memelan.
Aku menyadari ekspresi getir itu. Sama sepertiku, pak Soni juga tidak pernah menerima kunjungan.
"Kamu akan sering mampir kan?" tanyanya lagi.
Tanpa pikir panjang, aku membuat sebuah gerakan. Sedetik kemudian baru kusadari aku memeluk pria tua itu. Dari situ, baru kusadari juga betapa pria tua itu sangat kecil dan kurus.
"Pasti, pak," janjiku, dengan niat untuk menepati janji itu.
Aku bisa merasakan reaksi kaget Pak Soni dengan perlakuanku. Awalnya dia canggung dan hanya menegang kaku. Namun, hanya butuh beberapa detik baginya untuk pulih dari kekagetannya sebelum akhirnya membalas pelukanku dan menepuk-nepuk punggungku.
"Kamu orang baik Jordi," katanya lagi.
Aku ingin sekali percaya kata-kata itu.
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Tidak banyak yang bisa dilakukan karena memang aku tidak memiliki bawaan apa-apa. Hanya butuh sedikit remeh-temeh dengan beberapa orang dan aku sudah berdiri di depan gerbang penjara itu. Penjaga di sana menyalamiku dan melambai malas.
"Jangan balik lagi ke sini," katanya.
Hari itu matahari bersinar cerah. Aku menyipit. Sinar matahari rupanya membutakan mataku yang sudah bertahun-tahun terbiasa dengan gelap. Aku memejamkan mata, menyambut sensasi hangat cahaya matahari dan perasaan asing yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatiku.
Aku bebas...
Mungkin sudah menjadi naluriku untuk mengecek pergelangan tangan kiriku. Jam tanganku masih menempel di sana tentu saja. Sama sekali tidak berfungsi.
Aku bebas...
Ini bukan perasaan senang. Aku yakin aku tidak bisa merasakan perasaan itu lagi. Namun, prospek untuk akhirnya bisa menghidupkan kembali jam tanganku itu anehnya membuatku merasa...lapang?
Tetapi sebelum kulakukan itu, aku harus mengunjungi dirinya terlebih dahulu. Dia pasti sangat kesepian...
"Jangan balik lagi ke sini," katanya.
Hari itu matahari bersinar cerah. Aku menyipit. Sinar matahari rupanya membutakan mataku yang sudah bertahun-tahun terbiasa dengan gelap. Aku memejamkan mata, menyambut sensasi hangat cahaya matahari dan perasaan asing yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatiku.
Aku bebas...
Mungkin sudah menjadi naluriku untuk mengecek pergelangan tangan kiriku. Jam tanganku masih menempel di sana tentu saja. Sama sekali tidak berfungsi.
Aku bebas...
Ini bukan perasaan senang. Aku yakin aku tidak bisa merasakan perasaan itu lagi. Namun, prospek untuk akhirnya bisa menghidupkan kembali jam tanganku itu anehnya membuatku merasa...lapang?
Tetapi sebelum kulakukan itu, aku harus mengunjungi dirinya terlebih dahulu. Dia pasti sangat kesepian...

No comments:
Post a Comment