Heil mencerna pernyataan ini. Jadi,
lawan bicaranya memang buta, tetapi
entah bagaimana, dia tetap dapat bergerak dan bertarung dengan leluasa. Heil
tidak bisa menahan keinginannya untuk bertanya.
“Bagaimana?”
tanyanya penasaran. “Bagaimana orang yang tidak bisa melihat bisa bertarung
sepertimu?”
Mirian
tertawa lagi.
“Bagaimana
kalau begini tuan Heil,”
“Jangan
panggil aku tuan,” tukas Heil.
“Heil,”
Mirian mengangguk setuju. “Bagaimana kalau kita mengajukan pertanyaan
bergantian? Dan sebelum mengajukan pertanyaan, kau harus menjawab terlebih
dahulu, demi memuaskan rasa ingin tahu kita semua, kau setuju?”
“Tentu,”
jawab Heil asal. “Jadi bagaimana orang yang tidak bisa melihat bisa bertarung
sepertimu?”
“Aku
yang bertanya duluan kau tahu?” kata Mirian geli. “Baiklah, untuk menjawab
pertanyaanmu. Aku bisa melihat, hanya
saja tidak dengan cara yang lazim. Mungkin bisa kau sebut aku memiliki…bakat?”
Mirian
mendengus seusai mengucapkan itu, seolah-olah ‘bakat’ adalah kata yang konyol.
“Aku bisa tahu kalau
kita berada di dalam tenda. Aku bisa tahu kau adalah pria yang sangat besar. Aku bisa melihat, tapi aku tidak bisa melihat bagaimana rupa wajahmu dan aku
tidak bisa melihat warna-warna di sekelilingku. Aku bisa melihat banyak hal, tetapi aku juga tidak bisa melihat banyak
hal. Aku melihat hal-hal yang tidak
bisa kau lihat, dan kau melihat hal-hal yang tidak bisa kulihat.”
“Yang membuatku
kembali ke pertanyaan awal, aku tidak
bisa melihat apakah kau memiliki tanda di tangan kirimu atau tidak.”
“Bagaimana kau
bisa memiliki… bakat itu?” tanya Heil. Dia menekuni jawaban Mirian, namun
jawaban itu ternyata hanya membuatnya semakin penasaran.
“Sekarang
giliranku anak muda,” gumam Mirian. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Ya, aku memiliki
tanda di tanganku,” jawab Heil tak sabar. “Bagaimana kau bisa memiliki bakat
itu?”
Mirian
mengangguk-angguk dan tampak puas sebelum menjawab.
“Setiap
orang memiliki bakat tertentu, Heil.” Katanya.
“Itu
tidak menjawab pertanyaanku.”
“Tidak,
tetapi aku sendiri juga tidak tahu mengapa
aku bisa memiliki.. bakat ini.”
Dia
mengucapkan kata itu dengan nada geli lagi.
“Giliranku,”
lanjut Mirian. “Tanda itu. Apakah itu sudah ada semenjak lahir atau muncul
begitu saja pada tangan kirimu?”
“Tanda
ini muncul ketika usiaku sembilan tahun,” jawab Heil. “Kenapa kau sangat
tertarik?”
“Bisa
dibilang tanda di tangan kirimu adalah tujuanku datang kemari,” jawab Mirian.
“Dan bisa dibilang kedatanganku kemari tidak sia-sia. Katakan, Heil, seberapa
banyak yang kau tahu mengenai royal guard?”
“Royal guard?”
Heil
berusaha mengingat-ingat. Dia pernah mendengar istilah itu dari ibunya, cerita-cerita
ketika dia kecil.
“Pengawal
kerajaan?” katanya akhirnya. “Apa kau bermaksud mengatakan kau ini pengawal
kerajaan?”
Ini
menjelaskan satu hal. Dari cerita ibunya, dia tahu bahwa pengawal kerajaan
adalah orang-orang dengan kemampuan bertarung yang hebat. Jika Mirian adalah
salah satunya, jelas cerita itu bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan.
“Ya
dan tidak,” jawab Mirian. “Saat ini aku memang
pengawal kerajaan, tetapi bukan seorang
royal guard.”
Heil
mengernyitkan alisnya.
“Bukankah
mereka sama saja?”
Mirian
menggeleng.
“Lalu
apa hubungannya antara royal itu
dengan ketertarikanmu dengan tanda di tanganku?” tanya Heil
“Sekarang
giliranku,” cetus Mirian.
“Oh
demi Ernost!” umpat Heil. “Lupakan permainan konyolmu itu! Apa hubungannya
antara royal guard dengan tanganku!?”
Mirian
tertawa.
“Kau
pria yang tidak sabaran,” katanya. “Hubungan antara kedua hal itu sangat erat. Dan tujuanku datang kemari
adalah untuk menjelaskan,”
“Heil,”
lanjutnya. “Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Kau mau mendengarkan?”
“Aku
sedang mendengarkan sekarang,” gerutu Heil. Dia agak bingung dengan sikapnya
sendiri. Biasanya dia tidak senang mengobrol dan beramah-tamah, tetapi lawan
bicaranya kali ini terlalu menarik. Selain itu, samar-samar dia juga penasaran
mengenai tanda di tangan kirinya dan sejauh ini Mirian membuatnya tetap tertarik
dengan topik ini.
No comments:
Post a Comment