Monday, August 1, 2016

Royal Guards - Page 40-41

Heil mencerna pernyataan ini. Jadi, lawan bicaranya memang buta, tetapi entah bagaimana, dia tetap dapat bergerak dan bertarung dengan leluasa. Heil tidak bisa menahan keinginannya untuk bertanya.
          “Bagaimana?” tanyanya penasaran. “Bagaimana orang yang tidak bisa melihat bisa bertarung sepertimu?”
            Mirian tertawa lagi.
            “Bagaimana kalau begini tuan Heil,” 
            “Jangan panggil aku tuan,” tukas Heil.
            “Heil,” Mirian mengangguk setuju. “Bagaimana kalau kita mengajukan pertanyaan bergantian? Dan sebelum mengajukan pertanyaan, kau harus menjawab terlebih dahulu, demi memuaskan rasa ingin tahu kita semua, kau setuju?”
            “Tentu,” jawab Heil asal. “Jadi bagaimana orang yang tidak bisa melihat bisa bertarung sepertimu?”
            “Aku yang bertanya duluan kau tahu?” kata Mirian geli. “Baiklah, untuk menjawab pertanyaanmu. Aku bisa melihat, hanya saja tidak dengan cara yang lazim. Mungkin bisa kau sebut aku memiliki…bakat?”
            Mirian mendengus seusai mengucapkan itu, seolah-olah ‘bakat’ adalah kata yang konyol.
“Aku bisa tahu kalau kita berada di dalam tenda. Aku bisa tahu kau adalah pria yang sangat besar. Aku bisa melihat, tapi aku tidak bisa melihat bagaimana rupa wajahmu dan aku tidak bisa melihat warna-warna di sekelilingku. Aku bisa melihat banyak hal, tetapi aku juga tidak bisa  melihat banyak hal. Aku melihat hal-hal yang tidak bisa kau lihat, dan kau melihat hal-hal yang tidak bisa kulihat.”
“Yang membuatku kembali ke pertanyaan awal, aku tidak bisa melihat apakah kau memiliki tanda di tangan kirimu atau tidak.”
“Bagaimana kau bisa memiliki… bakat itu?” tanya Heil. Dia menekuni jawaban Mirian, namun jawaban itu ternyata hanya membuatnya semakin penasaran.
“Sekarang giliranku anak muda,” gumam Mirian. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Ya, aku memiliki tanda di tanganku,” jawab Heil tak sabar. “Bagaimana kau bisa memiliki bakat itu?”
            Mirian mengangguk-angguk dan tampak puas sebelum menjawab.
            “Setiap orang memiliki bakat tertentu, Heil.” Katanya.
            “Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
            “Tidak, tetapi aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku bisa memiliki.. bakat ini.”
            Dia mengucapkan kata itu dengan nada geli lagi.
            “Giliranku,” lanjut Mirian. “Tanda itu. Apakah itu sudah ada semenjak lahir atau muncul begitu saja pada tangan kirimu?”
            “Tanda ini muncul ketika usiaku sembilan tahun,” jawab Heil. “Kenapa kau sangat tertarik?”
            “Bisa dibilang tanda di tangan kirimu adalah tujuanku datang kemari,” jawab Mirian. “Dan bisa dibilang kedatanganku kemari tidak sia-sia. Katakan, Heil, seberapa banyak yang kau tahu mengenai royal guard?”
            “Royal guard?
           Heil berusaha mengingat-ingat. Dia pernah mendengar istilah itu dari ibunya, cerita-cerita ketika dia kecil.
            “Pengawal kerajaan?” katanya akhirnya. “Apa kau bermaksud mengatakan kau ini pengawal kerajaan?”
            Ini menjelaskan satu hal. Dari cerita ibunya, dia tahu bahwa pengawal kerajaan adalah orang-orang dengan kemampuan bertarung yang hebat. Jika Mirian adalah salah satunya, jelas cerita itu bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan.
            “Ya dan tidak,” jawab Mirian. “Saat ini aku memang pengawal kerajaan, tetapi bukan seorang royal guard.”
            Heil mengernyitkan alisnya.
            “Bukankah mereka sama saja?”
            Mirian menggeleng.
            “Lalu apa hubungannya antara royal itu dengan ketertarikanmu dengan tanda di tanganku?” tanya Heil
            “Sekarang giliranku,” cetus Mirian.
            “Oh demi Ernost!” umpat Heil. “Lupakan permainan konyolmu itu! Apa hubungannya antara royal guard dengan tanganku!?”
            Mirian tertawa.
            “Kau pria yang tidak sabaran,” katanya. “Hubungan antara kedua hal itu sangat erat. Dan tujuanku datang kemari adalah untuk menjelaskan,”
            “Heil,” lanjutnya. “Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Kau mau mendengarkan?”

            “Aku sedang mendengarkan sekarang,” gerutu Heil. Dia agak bingung dengan sikapnya sendiri. Biasanya dia tidak senang mengobrol dan beramah-tamah, tetapi lawan bicaranya kali ini terlalu menarik. Selain itu, samar-samar dia juga penasaran mengenai tanda di tangan kirinya dan sejauh ini Mirian membuatnya tetap tertarik dengan topik ini. 


No comments: