Saturday, July 2, 2016

Royal Guards - Page 37-39

Chapter 5
Penerus
            “Akan ada waktunya ketika dia mengharapkan penjelasan kedatanganmu, tuan Tartorigal,”
“Di balik perangai dan gaya bertarungnya yang kasar, dia adalah pendengar yang sangat baik,”
“Sesuatu dalam dirimu akan membuatnya mendengar, terutama karena kau sangat misterius,”
“Ceritakan dengan tenang, dan tidak perlu memaksa!”
“Berikan dia waktu untuk mencerna penjelasanmu.”
*
Sepanjang perjalanan ke tendanya, Heil berteriak dan memerintah. Siapapun yang cukup sial mendengar instruksinya, dengan segera dan terburu-buru berusaha memenuhi permintaannya, berlarian kalang kabut.
            “Kau pemimpin yang galak,” kata si pria tua, Mirian Tartorigal.
            Heil mengabaikannya.
            “Ukaro!” (Daging!) umpatnya. “Una teren ukaro!Dariat tuia ukaro!” (Aku ingin daging! Jangan lupakan daging!)
            Perempuan agak tua yang menerima instruksinya mengangguk-angguk kelewat semangat. Bergegas dia berlari dan meneriaki perempuan-perempuan lain yang lebih muda untuk segera memasak.
            Eral yang sedari tadi mengekor Heil—dan tampaknya ingin sekali mengutarakan sesuatu—akhirnya memberanikan diri untuk memprotes.
            “Aria una un rashtad,” katanya pelan. “Maafkan bila hamba terkesan lancang, tetapi tidakkah sambutan semacam ini berlebihan? Terlebih sambutan ini diperuntukkan seorang vorstar!”
            “Simpan pendapatmu Eral,” tukas Heil galak. “Kuingatkan kau siapa pemimpin di sini! Aku tidak butuh persetujuanmu! Bila aku ingin mengadakan pesta penyambutan, aku akan mengadakan pesta penyambutan!
            Eral memucat. Sesuatu dalam ekspresi Heil membuatnya urung berkomentar. Dia menunduk dan meminta maaf.
            “Tinggalkan aku dengan tamuku Eral,” ujar Heil begitu mereka mencapai tendanya. Dia duduk di tempatnya dengan malas.
            Eral membungkuk dan bergegas pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Heil mengalihkan perhatiannya ke tamunya, yang sedari tadi memerhatikannya dengan penuh minat. Meskipun sekali lagi, pria tua itu menatapnya dengan tatapan yang kosong.
            “Ada masalah?” tanya Heil akhirnya, ketika lawan bicaranya tidak berkata apa-apa.
            Dia menjawabnya dengan tertawa kecil, sekali lagi membuat Heil merasa dianggap seperti bocah.
            “Kau,” katanya. “Berbakat dalam mengintimidasi orang lain. Cukup dengan sedikit menaikkan nada suara, kau sudah membuat prajurit terkuatmu sekalipun mundur ketakutan.”
            “Begitu?” kata Heil acuh tak acuh. 
Orang ini tidak mungkin buta, pikir Heil, tetapi tatapan matanya yang menerawang membuatnya bingung. Terlebih, orang yang buta tidak mungkin bisa berduel dengan kemampuan sepertinya. Heil telah menebas, menusuk, dan mengeluarkan seluruh kemampuan berpedangnya melawan orang ini, dan betapa senangnya dia karena Mirian adalah orang pertama yang mampu membuatnya bertarung sungguh-sungguh. Lawannya selama ini sangat membosankan. Tidak banyak  dari mereka yang bahkan selamat dari serangan pertamanya.
Akan tetapi, pria tua ini lain. Tidak hanya semua serangan Heil dipatahkan—padahal dia bersungguh-sungguh—tetapi tidak jarang Heil juga harus bertahan menahan serangan lawannya itu. Setelah lewat setengah jam dalam duel yang menggairahkan itu, Heil akhirnya memutuskan bahwa dia harus mengenal Mirian. Kemampuan bertarungnya membuat Heil penasaran. Tak kurang, Mirian berhasil membuat pingsan, tanpa melukai satu pun di antara para prajuritnya dalam kondisi yang nyaris mustahil.
“Apa maumu vorstar?”  tanyanya waktu itu, di sela-sela pertarungan. Bahkan dia yakin bisa mendengar nada riang dalam suaranya, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Bicara,” dia menjawab.
“Dengan pedang?” tanya Heil lagi tidak percaya. “Kau membunuh para prajuritku vorstar. Kuragukan jawabanmu itu.”
“Mereka menyerang dan aku bertahan,” jawab Mirian. “Lagipula, aku tidak membunuh satu pun dari mereka. Mereka hanya pingsan.”
Setelah itu Heil dibuat takjub ketika menyaksikan para prajuritnya yang sudah roboh, yang dia kira sudah mati, satu per satu kembali sadar.
Heil baru menyadari kalau Mirian masih saja berdiri di tempatnya masuk tadi, jadi dia memberikan isyarat untuknya  agar duduk. Pria tua itu mengambil tempat si salah satu gundukan kulit di hadapan Heil. Meskipun terlihat kurang begitu nyaman, duduk bersilang dengan busana logam yang kaku, Mirian Tartorigal, orang tua yang terlihat seperti orang buta itu bergerak dengan keluwesan yang sama dengan orang dengan penglihatan normal.
            “Aku punya pertanyaan,” kata Mirian tiba-tiba, dengan nada campuran antara pertanyaan dan pernyataan, seolah meminta izin untuk bicara.
            Heil menunggu. Ketika Mirian tidak berkata apa-apa, dia mendecak.
            “Apa?”
            “Aku penasaran dengan satu kata dalam bahasa najril yang beberapa kali ditujukan padaku,” katanya, tersenyum. “Kalau tidak salah.. vor..vorstar? Boleh aku tahu apa artinya?”
            Sejenak Heil memertimbangkan untuk memberikan jawaban asal.
            “vorstar berarti ‘baju besi’,” jawabnya jujur. “Kami menyebut orang-orang yang memakai baju besi—seperti yang kau pakai itu—dengan julukan itu.”
            Mirian mengangguk-angguk paham.
            “Dan kau?” tanyanya lagi. “kuartikan rashtad itu berarti ketua atau sejenisnya?”
            Heil menjawabnya dengan gumaman setuju.
            “Rasanya aneh,” kata Mirian. “Tak satupun dari prajuritmu yang mengerti bahasa Vierre, tetapi kau yang seorang ketua, fasih berbahasa itu.”
            Heil mengabaikan pertanyaan tersirat itu.
            “Apa maumu pak tua?” tanyanya. “Kau mengatakan padaku ingin berbicara. Bicaralah.”
            “Kita sedang berbicara sekarang,” kata Mirian, terdengar geli. “Kau belum memberitahuku namamu anak muda.”
            “Heil,” jawab Heil. “Sekarang bicaralah. Katakan tujuanmu.”
            Mirian menangkupkan kedua tangannya, tampak berpikir. Dia terdiam beberapa saat sebelum bicara lagi.
            “Sebelumnya,” katanya pelan. “Aku ingin memastikan.”
            “Apa?”
            “Tangan kirimu,” Mirian mengarahkan tatapannya ke tangan kiri Heil. “Apakah di punggung tangan kirimu terdapat sebuah tanda?”
            Sedari tadi Heil sudah berusaha memerkirakan tujuan Mirian, namun pertanyaan ini melenceng jauh dari dugaannya. Dia  mengangkat tangan kirinya, memerlihatkan sebuah tanda aneh yang tidak pernah dia gubris, sampai hari ini.

            “Aku bisa tahu kau memerlihatkan punggung tangan kirimu padaku,” kata Mirian, tertawa kecil. “Tapi aku tidak bisa melihat, kau tahu?”


Ok, mungkin ada yang sadar kalau di chapter ini gw STOP membuat bahasa najril,
Ini semata-mata buat mempercepat proses pembuatan draft, tapi gw memang berencana membuat sekitar 17 bahasa di novel ini. Meskipun belum pasti juga jumlahnya segitu.

No comments: