Chapter
5
Penerus
“Akan ada waktunya ketika dia mengharapkan
penjelasan kedatanganmu, tuan Tartorigal,”
“Di balik perangai dan gaya bertarungnya
yang kasar, dia adalah pendengar yang sangat baik,”
“Sesuatu dalam dirimu akan membuatnya
mendengar, terutama karena kau sangat misterius,”
“Ceritakan dengan tenang, dan tidak perlu
memaksa!”
“Berikan dia waktu untuk mencerna
penjelasanmu.”
*
Sepanjang
perjalanan ke tendanya, Heil berteriak dan memerintah. Siapapun yang cukup sial
mendengar instruksinya, dengan segera dan terburu-buru berusaha memenuhi
permintaannya, berlarian kalang kabut.
“Kau
pemimpin yang galak,” kata si pria tua, Mirian Tartorigal.
Heil
mengabaikannya.
“Ukaro!” (Daging!) umpatnya. “Una teren ukaro!Dariat tuia ukaro!” (Aku
ingin daging! Jangan lupakan daging!)
Perempuan
agak tua yang menerima instruksinya mengangguk-angguk kelewat semangat.
Bergegas dia berlari dan meneriaki perempuan-perempuan lain yang lebih muda
untuk segera memasak.
Eral
yang sedari tadi mengekor Heil—dan tampaknya ingin sekali mengutarakan
sesuatu—akhirnya memberanikan diri untuk memprotes.
“Aria una un rashtad,” katanya pelan. “Maafkan bila hamba terkesan lancang, tetapi
tidakkah sambutan semacam ini berlebihan? Terlebih sambutan ini diperuntukkan
seorang vorstar!”
“Simpan pendapatmu Eral,” tukas Heil
galak. “Kuingatkan kau siapa pemimpin di
sini! Aku tidak butuh persetujuanmu! Bila aku ingin mengadakan pesta
penyambutan, aku akan mengadakan pesta penyambutan!”
Eral
memucat. Sesuatu dalam ekspresi Heil membuatnya urung berkomentar. Dia menunduk
dan meminta maaf.
“Tinggalkan aku dengan tamuku Eral,” ujar
Heil begitu mereka mencapai tendanya. Dia duduk di tempatnya dengan malas.
Eral
membungkuk dan bergegas pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Heil mengalihkan
perhatiannya ke tamunya, yang sedari
tadi memerhatikannya dengan penuh minat. Meskipun sekali lagi, pria tua itu
menatapnya dengan tatapan yang kosong.
“Ada
masalah?” tanya Heil akhirnya, ketika lawan bicaranya tidak berkata apa-apa.
Dia
menjawabnya dengan tertawa kecil, sekali lagi membuat Heil merasa dianggap
seperti bocah.
“Kau,”
katanya. “Berbakat dalam mengintimidasi orang lain. Cukup dengan sedikit
menaikkan nada suara, kau sudah membuat prajurit terkuatmu sekalipun mundur
ketakutan.”
“Begitu?”
kata Heil acuh tak acuh.
Orang ini tidak
mungkin buta, pikir Heil, tetapi tatapan matanya yang menerawang membuatnya
bingung. Terlebih, orang yang buta tidak mungkin bisa berduel dengan kemampuan
sepertinya. Heil telah menebas, menusuk, dan mengeluarkan seluruh kemampuan
berpedangnya melawan orang ini, dan betapa senangnya dia karena Mirian adalah
orang pertama yang mampu membuatnya bertarung sungguh-sungguh. Lawannya selama
ini sangat membosankan. Tidak banyak
dari mereka yang bahkan selamat dari serangan pertamanya.
Akan tetapi, pria
tua ini lain. Tidak hanya semua serangan Heil dipatahkan—padahal dia
bersungguh-sungguh—tetapi tidak jarang Heil juga harus bertahan menahan
serangan lawannya itu. Setelah lewat setengah jam dalam duel yang menggairahkan
itu, Heil akhirnya memutuskan bahwa dia harus mengenal Mirian. Kemampuan
bertarungnya membuat Heil penasaran. Tak kurang, Mirian berhasil membuat pingsan, tanpa melukai satu pun di
antara para prajuritnya dalam kondisi yang nyaris mustahil.
“Apa maumu vorstar?”
tanyanya waktu itu, di sela-sela pertarungan. Bahkan dia yakin bisa
mendengar nada riang dalam suaranya, sesuatu yang tidak pernah terjadi
sebelumnya.
“Bicara,” dia
menjawab.
“Dengan pedang?”
tanya Heil lagi tidak percaya. “Kau membunuh para prajuritku vorstar. Kuragukan jawabanmu itu.”
“Mereka menyerang
dan aku bertahan,” jawab Mirian. “Lagipula, aku tidak membunuh satu pun dari mereka. Mereka hanya pingsan.”
Setelah itu Heil dibuat
takjub ketika menyaksikan para prajuritnya yang sudah roboh, yang dia kira
sudah mati, satu per satu kembali sadar.
Heil baru
menyadari kalau Mirian masih saja berdiri di tempatnya masuk tadi, jadi dia
memberikan isyarat untuknya agar duduk.
Pria tua itu mengambil tempat si salah satu gundukan kulit di hadapan Heil. Meskipun
terlihat kurang begitu nyaman, duduk bersilang dengan busana logam yang kaku, Mirian
Tartorigal, orang tua yang terlihat seperti orang buta itu bergerak dengan
keluwesan yang sama dengan orang dengan penglihatan normal.
“Aku
punya pertanyaan,” kata Mirian tiba-tiba, dengan nada campuran antara
pertanyaan dan pernyataan, seolah meminta izin untuk bicara.
Heil
menunggu. Ketika Mirian tidak berkata apa-apa, dia mendecak.
“Apa?”
“Aku penasaran dengan satu kata dalam bahasa najril yang beberapa kali ditujukan padaku,” katanya, tersenyum. “Kalau tidak salah.. vor..vorstar? Boleh aku tahu apa artinya?”
“Aku penasaran dengan satu kata dalam bahasa najril yang beberapa kali ditujukan padaku,” katanya, tersenyum. “Kalau tidak salah.. vor..vorstar? Boleh aku tahu apa artinya?”
Sejenak
Heil memertimbangkan untuk memberikan jawaban asal.
“vorstar berarti ‘baju besi’,” jawabnya
jujur. “Kami menyebut orang-orang yang memakai baju besi—seperti yang kau pakai
itu—dengan julukan itu.”
Mirian
mengangguk-angguk paham.
“Dan
kau?” tanyanya lagi. “kuartikan rashtad itu
berarti ketua atau sejenisnya?”
Heil
menjawabnya dengan gumaman setuju.
“Rasanya
aneh,” kata Mirian. “Tak satupun dari prajuritmu yang mengerti bahasa Vierre,
tetapi kau yang seorang ketua, fasih berbahasa itu.”
Heil
mengabaikan pertanyaan tersirat itu.
“Apa
maumu pak tua?” tanyanya. “Kau mengatakan padaku ingin berbicara. Bicaralah.”
“Kita
sedang berbicara sekarang,” kata Mirian, terdengar geli. “Kau belum
memberitahuku namamu anak muda.”
“Heil,”
jawab Heil. “Sekarang bicaralah. Katakan tujuanmu.”
Mirian
menangkupkan kedua tangannya, tampak berpikir. Dia terdiam beberapa saat
sebelum bicara lagi.
“Sebelumnya,”
katanya pelan. “Aku ingin memastikan.”
“Apa?”
“Tangan
kirimu,” Mirian mengarahkan tatapannya ke tangan kiri Heil. “Apakah di punggung
tangan kirimu terdapat sebuah tanda?”
Sedari
tadi Heil sudah berusaha memerkirakan tujuan Mirian, namun pertanyaan ini
melenceng jauh dari dugaannya. Dia
mengangkat tangan kirinya, memerlihatkan sebuah tanda aneh yang tidak
pernah dia gubris, sampai hari ini.
“Aku
bisa tahu kau memerlihatkan punggung tangan kirimu padaku,” kata Mirian,
tertawa kecil. “Tapi aku tidak bisa melihat, kau tahu?”
Ok, mungkin ada yang sadar kalau di chapter ini gw STOP membuat bahasa najril,
Ini semata-mata buat mempercepat proses pembuatan draft, tapi gw memang berencana membuat sekitar 17 bahasa di novel ini. Meskipun belum pasti juga jumlahnya segitu.
No comments:
Post a Comment