Monday, September 15, 2014

The Finder Apprentice - Chapter 1



Bianca Writel
Si Penemu

Hubungi nomor di bawah ini :
x245x245

Menemukan segala jenis barang, dengan imbalan tertentu!
Jaminan 100%


"Tidakkah pamflet ini kelewat sederhana?"

Yang mengutarakan itu ialah seorang laki-laki remaja.  Dia memegang sebundel penuh pamflet yang berisikan penjelasan aneh itu. Perasaannya geli saat memerhatikan tindak tanduk ayahnya dengan penuh minat, karena sang ayah saat itu tengah sibuk dengan baju wallot ungunya yang mencolok. Kenapa sih dia senang sekali dengan baju konyol itu?

"Yah, apa kau mendengarkan?" katanya lagi ketika si ayah sama sekali tidak menggubris. 

Ayahnya bernama Bianca. Dia adalah pria nyentrik yang berprofesi sebagai seorang finder, sebuah profesi yang sangat sangat tidak umum. Setiap harinya lelaki itu selalu pergi ke kantornya mengenakan busana wallot dengan aneka warna. Hari ini dia memakai yang berwarna ungu. 

Profesi finder itu sendiri bukan informasi yang bisa dibagi kepada orang lain secara sembarangan. Orang-orang yang berprofesi sebagai finder adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menyeberang ke dimensi lain. Tugasnya sederhana saja, yaitu menemukan barang sesuai permintaan klien. Klien itu sendiri adalah mereka yang kehilangan barang di dimensi selain dimensinya sendiri. Kedengarannya ajaib memang, tetapi percaya atau tidak, kejadian ini sering sekali terjadi.

"Rigar," terdengar suara panggilan. "Kau melamun?"

Rigar memfokuskan dirinya lagi.

"Tadi kau bilang apa?" tanya Bianca. Rupanya dia sudah berhasil mengancingkan seluruh kancing di wallotnya dan kini tengah mengoleskan mentega ke roti panggang.

"Ini," Rigar mengacungkan setumpuk pamflet yang telah dibuat ayahnya semalam. "kelewat sederhana."

"Itu sudah cukup menjelaskan," ujar Bianca mengangkat bahu. "huruf 'x' di nomor yang ayah cantumkan itu kan sudah menjadi penanda untuk menjelaskan kalau ayah ini adalah finder. Kalau terlalu detil nanti yang menghubungi ayah akan menjadi terlalu banyak."

"Bukankah itu tujuannya?"

"Kalau yang menghubungi tidak tahu apa itu finder kan percuma," Bianca berkata acuh tak acuh. "Lagipula kau santai sekali! Bukankah seharusnya kau berangkat sekarang?"

Rigar melirik jam tangannya dan benar saja, kalau dia tidak berangkat sekarang, Bisa-bisa dia terlambat sampai di sekolah. Dia melahap begitu saja telur dadarnya dan kemudian bergegas mengenakan jaket yang tersampir di sofa.

"Paling tidak pamit dulu yang benar!" Terdengar gerutu Bianca dari seberang ruangan.

"Sori, sampai ketemu nanti yah!" Rigar mengucapkan asal saja sebelum menutup pintu.

*

Sekolah tidak bisa lebih membosankan lagi. Rigar sudah terlalu sering melihat pemandangan yang menarik sepanjang membantu pekerjaan ayahnya jadi kejadian sehari-hari semisal bergaul bersama teman-teman ataupun kegiatan-kegiatan sekolah rasanya datar saja. Sayangnya belakangan ini Bianca belum mendapat banyak pekerjaan. Tumpukan pamflet yang tersimpan dengan rapi di tas Rigar merupakan bukti sepinya klien pada saat itu. Bagaimanapun Rigar harus menjalani kegiatan membosankan ini tanpa diselingi kejadian-kejadian yang menarik. Paling tidak dia tidak harus langsung pulang ke rumah seusai sekolah hari ini. Ada banyak pamlet yang harus dia tempel.

"Oi, Rig!"

Seseorang memanggilnya dalam perjalanan menuju kelas.

Seorang lelaki remaja dengan wajah penuh bintik dan rambut kecoklatan menghampirinya. Dia jangkung dan kurus, tampak tenggelam dalam sweater abu-abu kusamnya yang kebesaran. Tetapi terlepas dari penampilannya yang seperti itu, entah mengapa dia tampaknya populer di kalangan perempuan.

"Glen," Rigar mengangguk, menunggu sebentar sebelum si pemanggilnya itu berhasil menyusulnya.

Mereka berjalan bersama-sama menuju kelas.

"Kau naik apa kemari?" tanya Glen.

Dia selalu menanyakan pertanyaan ini setiap pagi. Rupanya dia merasa heran dengan Rigar yang nyaris tidak pernah terlambat padahal rumahnya terletak sangat jauh dari sekolah. Paling tidak jika kau berlari tanpa berhenti membutuhkan waktu sekitar satu jam.

"Lari," jawab Rigar otomatis.

"Suatu saat nanti, kau akan berhenti membohongiku seperti ini!" Glen memberengut. "Kenapa sih kau tidak pernah mau memberitahu rahasiamu? Tidak mungkin kau berlari satu jam penuh tetapi masih terlihat seperti sekarang! Tidak tahukah kau sudah berapa banyak gadis yang menanyaiku nomormu sepanjang pagi tadi?"

"Yah...tidak, tapi aku tidak bohong," Rigar berkata geli.

Dia memang tidak berbohong. Atau dia berkata setengah jujur paling tidak. Kenyataannya dia memang berlari, tetapi kan Glen tidak perlu tahu dia berlari di mana.

Kalimat 'Aku berlari melewati gerbang dimensi' tampaknya bukan kalimat yang bisa diungkapkan dalam pembicaraan sehari-hari.

"Oh, dengarkan Rig!" Glen tiba-tiba berseru dan nyengir. "Hari ini kita kedatangan murid baru! Dan kita sekelas!"

Terkadang Rigar bertanya-tanya, darimana sahabatnya itu bisa mendapatkan informasi semacam itu lebih cepat dari yang lain? Glen memang terkenal sangat cepat dalam mengumpulkan informasi dan gosip-gosip terbaru seputar sekolah.

Melihat perangainya yang senang itu, Rigar menduga kalau murid baru yang dimaksud pasti perempuan.

"Dan dari apa yang kudengar, dia cantik banget!" lanjut Glen, mengonfirmasi kecurigaannya. "Lebih cantik dari Eliza, kau bisa bayangkan itu?"

Rigar mengangkat bahunya acuh tak acuh. Cewek seperti Eliza atau sejenisnya itu biasanya hanya membawa masalah.

"Jangan cuek begitu!" gerutu Glen. "Aku sudah lihat fotonya tahu! Jadi semua info ini sudah pasti benar! Kau mau lihat penampilannya? Ada di hp ku nih..."

Dan Glen sempat berkutat dengan saku jeansnya sebelum Rigar berkata 'tidak'.

"Ah! Kau tidak asyik!" gerutu Glen, kini tengah memandangi foto si cewek di hp nya itu. Dia tersenyum-senyum tolol selagi melakukannya.

"Kau seperti penguntit Glen," komentar Rigar.

"Aku adalah laki-laki yang sehat, tidak seperti kau!" balas Glen sengit.

Rigar meninju pundak Glen.

"Aw! jangan main fisik!"

Mereka mencapai area kelas yang saat itu sudah penuh dengan para murid. Suasananya bising sekali. Di meja sudut, seperti biasa tampak seorang laki-laki agak gendut yang tengah menyalin PR. Mereka menghampiri meja itu.

"Astaga, kau masih saja mengerjakan ini?" Glen mencibir segera setelah mereka memasuki lingkup dengar si penyalin PR. "Aku selesai mengerjakan ini dalam waktu lima menit!"

"Pembual!"

Laki-laki agak gendut itu tidak melepaskan pandangannya dari buku yang tengah disalinnya.

Dia bernama Howd, berbadan lebih besar dibandingkan dengan Rigar dan Glen. Dia berambut pirang agak gondrong, dan sering sekali menjadi incaran para guru yang gemar membawa gunting. Untungnya, kontras dengan ukuran tubuhnya yang besar, dia gesit sekali. Larinya cepat.

Rigar mengambil tempat duduk kosong di sebelah Howd sementara Glen tengah beredar ke sekeliling kelas untuk mengabarkan kedatangan si murid baru. Melihat Howd yang tengah berusaha menyalin PR itu membuat perasaan Rigar terganggu. Dia mengecek isi tasnya...

 Dan serta merta bangkit.

"Oi Rig! Mau kemana!?" panggil Glen begitu melihat Rigar yang tergesa-gesa keluar kelas.

"Toilet!" sahut Rigar asal. Toh, memang dia akan ke toilet.

Seharusnya masih sempat kalau dia bergegas ke rumah sekarang. Pelajaran baru akan dimulai lima menit lagi. Siapa sih orang di usia sekarang yang lupa membawa PR!? Tolol sekali...

Rigar berlari di sepanjang lorong, mengacuhkan panggilan para guru yang mengomel. Dia sama sekali tidak sadar bahwa ada yang mengawasinya sedari tadi...

No comments: